Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Sensitif


__ADS_3

Ninda senyum-senyum sendiri, ia dan Bona telah 'berteman' berkat campur tangan Evan, si sepupu rese.


"Kenapa kau tidak mau bertemu denganku?"


Pertanyaan Bona yang ditujukan ke Ninda membuat gadis itu gelagapan, keringat dingin membasahi tangannya.


Sejujurnya dia menghindari Bona karena selama ia menjadi calon istri palsunya, Airin, mantan Bona tidak berhenti meneror bahkan pernah sekali ia datang ke kampus hanya untuk memperingatkan Ninda agar tidak berhubungan dengan Bona.


Airin ingin kembali pada Bona, dan mengira Ninda adalah calon istri sungguhan Bona. Begitu ia memberi tahu bahwa ia hanya bermain sandiwara dengan Bona, Airin malah semakin gila untuk meneror agar segera menjauhi Bona sebelum waktu kesepakatan mereka berakhir.


Ninda yang punya pengalaman traumatis mengenai perundungan, tentu sangat terganggu. Ia kadang ketakutan sendiri di kamar hanya dengan mendengar bunyi ponsel berdering, Untungnya ada Litha yang mampu mengatasi jika serangan paniknya muncul. Sekarang saat Litha sudah menikah, ia tinggal sendiri di kost, ia tidak berani mengambil resiko dengan menerima tawaran untuk melanjutkan permainan sandiwara calon istri.


Setelah Evan tahu alasan sebenarnya mengapa Ninda tidak mau bertemu Bona, ia sangat geram, rasanya saat itu juga ia ingin mencari yang namanya Airin dan memberinya pelajaran.


Tidak ada jalan lain, karena ia sangat penasaran dengan Airin, maka Evan mengatakan pada Bona alasan Ninda tidak mau bertemu dengannya. Tidak disangka, Bona datang ke kost sore itu dan meluluhkan hati Ninda dengan segera memeluk Ninda yang gemetar menatapnya.


"Aku minta maaf, Ninda. Kenapa kau tidak bilang kalau Airin membuatmu takut. Aku akan mengatasinya. Aku jamin, dia tidak akan mengganggumu lagi, aku melindungimu mulai sekarang," bisik Bona di telinga Ninda.


Badan Ninda yang mungil mengharuskan Bona untuk menundukkan kepalanya untuk berbisik di telinganya. Pemandangan seperti itu tentu menjadi gosip hangat di antara penghuni kost.


Airmata Ninda luruh mendengar kata-kata Bona. Dia tidak pernah kekurangan perlindungan. Ayah, Paman, kedua abangnya, dan sepupu-sepupunya sangat melindungi Ninda, sedikit saja Ninda menangis maka orang yang membuat Ninda menangis harus menghadapi mereka semua. Namun, justru itu juga yang membuat Ninda tidak memiliki banyak teman karena mereka takut berurusan dengan para pelindung Ninda. Akhirnya Ninda perlahan lari dari penjagaan mereka dengan tidak bercerita apapun sejak remaja.


Hanya Evan, tempatnya berbagi, sayangnya Evan adalah anak tunggal yang manja dan penakut, berbanding terbalik dengan tampilannya. Mau tidak mau Ninda yang harus menjaga dan melindunginya.


Namun, dengan pelukan dan kata-kata Bona barusan ia merasa seperti terlindungi seutuhnya tanpa harus takut berbagi cerita. Bona seperti Litha, yang bisa menenangkan dirinya ketika ia ketakutan.


Akhirnya Bona dan Ninda mulai berteman. Hang out ke mall dan nonton film bersama di bioskop merupakan langkah awal untuk mengambil hati Ninda. Ia suka dengan kepolosan Ninda, ceplas-ceplosnya dan sifatnya yang apa adanya, tidak jaim. Hanya satu yang ia tidak sukai, wajahnya yang terlalu imut. Ia selalu disangka seorang kakak yang menjaga adiknya.


"Kak, salam buat adiknya ya."


"Kak, adiknya sekolah dimana?"


"Boleh kenalan sama adiknya, Kak?"


Aaaaaarrrrggghhhh .....


Bona benci sekali mendengarnya, wajahnya ditekuk dan dilipat-lipat. Ninda yang melihatnya terbahak dan malah membalas, "Awas, kakakku galak lho."


"Hahahahahaha .... " Ninda tertawa mengingatnya.


Tok ... Tok ... Tok ....


Pintu kost Ninda diketuk, dibukanya pintu dan betapa terkejutnya ia melihat Litha dengan mata sembab membawa koper.


Ninda langsung menarik Litha masuk, "Tha, kamu kenapa?"


"Aku sudah pisah dengan Ray. Aku tinggal menunggu akta cerainya. Aku juga tidak tinggal di rumah Pradipta lagi," sahut Litha terisak.


Ninda langsung memeluknya, ia heran bukannya ini waktu yang sudah Litha tunggu-tunggu, pergi dari rumah itu dan melanjutkan hidupnya kembali, tapi kenapa sekarang Litha malah menangis.


"Tapi kok, kamu nangis?"

__ADS_1


"Gak tahu, Nin. Kok aku jadi sensitif gini ya? Kayaknya aku sedih banget."


"Akhir-akhir ini kamu emang lebih sensitif deh. Ya udah, kamu istirahat saja dulu. Aku senang kamu balik kesini lagi, jadi aku punya teman hehehehe ...."


Ninda memeluk Litha lagi. "Ah, akhirnya kau bisa hidup normal lagi, Tha." bisiknya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Litha menjalani kembali kesehariannya sama seperi sebelum bertemu Keluarga Pradipta. Bedanya aktivitas kuliahnya tidak banyak, hanya bolak-balik konsultasi skripsinya, jadi ia mencoba bekerja di sebuah restoran yang baru dibuka. Berbekal ijazah SMA ia bisa bekerja dengan menjadi pelayan disana.


Setelah tiga minggu ia bekerja, di suatu malam, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya, Rayyendra. Tidak dipungkiri terdapat kerinduan di mata Litha. Hanya bisa melihat dari balik dinding sudah cukup buatnya. Tapi siapa yang duduk di hadapannya?


"Ramona?" pekiknya dalam hati.


"Dimana Asisten Yan?" Litha sibuk mengelilingkan matanya mencari asisten suaminya.


"Litha, antarkan ini ke meja 12."


Litha dikagetkan kepala pelayan untuk mengantarkan menu pembuka ke meja 12, meja milik Rayyendra dan Ramona.


"Tapi Pak, boleh saya mengantar ke meja yang lain saja?"


"Tidak ada pelayan yang bisa menggantikanmu. Ayo, lekaslah! Mereka tamu VIP disini. Apa kau tidak tahu? Dia Tuan Muda Pradipta."


Litha didorong untuk segera mengantarkan menu ke meja mereka. Terpaksa dengan langkah berat ia kesana dengan menundukkan kepala, sebisa mungkin agar tak terlihat wajahnya.


Namun, Ray sangat paham tiap garis wajah istrinya, ia dapat mengenali Litha dengan cepat meski badannya sekarang makin kurus dan kulitnya memucat.


Ray seperti menemukan kembali hatinya yang hilang. Tapi tidak dengan Ramona, matanya tajam memandang Litha.


"Hahahaha .... jadi waktu dongengmu sudah habis ya? Sekarang kau kembali ke habitatmu! Ray, kenapa kau tidak mengatakannya kalau perjanjian kalian telah selesai? Atau sebenarnya kau tahu dia bekerja disini dan sengaja memberiku kejutan padaku dengan menunjukkan dia sebagai pelayan, hahahahaha ..."


Ramona bahagia tiada terkira, Ray sudah menceraikan Litha.


"Nyonya Pradipta yang garang itu sekarang sudah tak bergigi alias ompong hahahahaha .... Memang semua harus kembali ke tempatnya."


Ramona sangat puas menyatakan kemenangannya dengan menghina Litha. Tidak seperti biasanya, kali ini Litha hanya meneteskan airmata tanpa mengatakan apapun. Ray menyadarinya, hatinya sakit melihat istrinya diperlakukan seperti itu.


Belum sempat ia membela istrinya, Litha sudah berlari meninggalkan mereka. Litha tidak peduli dengan teriakan kepala pelayan restoran yang memanggil namanya. Ia terus lari keluar restoran.


Bruuukh ....


Litha menabrak seorang pria yang tengah membawa berkas dokumen. Karenanya beberapa dari dokumen itu jatuh ke lantai. Namun Litha tak peduli, ia tetap berlari pergi sejauh mungkin dari suaminya. Ia juga sudah tidak peduli dengan pekerjaannya, mau dipecat atau tidak. Langkahnya baru terhenti ketika ponselnya berdering meminta diangkat.


Litha menarik nafas, tersengal-sengal, melihat siapa yang menelepon, ternyata Paman Tino.


Tidak berapa lama, tubuh Litha lunglai ke tanah. Sakit hatinya yang disebabkan Ramona tidak seberapa dibandingkan mendengar kabar ibunya kritis. Litha bingung harus berbuat apa. Diteleponnya Ninda untuk minta dijemput.


Di malam tanpa bintang, ia duduk di tanah memeluk lututnya dan terisak lirih, "Ibuuuuuuuuuuu .... "


......-------......

__ADS_1


Sisipan


"Nyonya Pradipta yang garang itu sekarang sudah tak bergigi alias ompong hahahahaha .... Memang semua harus kembali ke tempatnya."


Ramona terang-terangan mencela Litha. Belum sempat Ray membela istrinya, Litha sudah lari keluar restoran. Ray mau mengejarnya, tapi lengannya ditahan Ramona.


"Ray, Waktumu sudah habis dengannya, buat apa kau mengejarnya?"


Ray melepaskan tangan Ramona dari lengannya. "Dia istriku."


Kemudian Ray tetap mengejar Litha yang sudah menghilang dari pandangannya.


"Apa?!? Istri? Bukannya seharusnya kalian sudah bercerai. Mengapa Ray masih menyebutnya istri? Aaarrrggghhh ... kenapa jadi kacau begini sih!" umpat Mona kesal.


Tidak jauh dari pintu depan restoran, Abyan tengah memunguti berkas dari lantai sejumlah dokumen laporan yang ia kerjakan dari perusahaan yang ditangani Ramona.


"Tuan ... " Abyan kaget melihat Ray terengah-engah berlari mengejar sesuatu.


"Yan, kau bertemu Litha tidak?"


Abyan menggeleng, "Ada apa, Tuan?" tanyanya.


"Ramona mengkonfrontasi Litha hingga ia pergi dengan menangis, tadi kulihat ia keluar ke arah sini. Benar kau tidak melihatnya?" tanya Ray lagi.


Abyan menggeleng lagi.


"Sejak kapan Nyonya Muda menangis jika diserang? Dan aku memang tidak melihatnya. Tadi ada yang keluar dari pintu dan menabrakku, tapi dia seorang pelayan." Abyan bergumam dalam hati.


"Aaaarrrrgggghhh ... "


Ray mengerang kesal kehilangan jejak Litha. Ia tidak suka melihat istrinya menangis. Itu akan menjadi beban pikirannya, sama seperti hampir satu bulan ini, ia tidak bisa tidur dengan baik karena terakhir kalinya ia melihat Litha pergi dari rumah dengan linangan air mata.


"Yan, sudahi pertemuanku dengan Ramona. Besok saja kita bahas laporanmu tanpanya di kantor. Kalau dia menanyakan alasannya, katakan saja dia sudah membuatku kesal karena menyerang Litha. Aku tunggu di sini sambil mencari Litha."


"Baik, Tuan."


Abyan menghela nafasnya, "Ray, kau juga sih mau saja mengikuti Ramona minta membahas laporan di restoran. Dimana-mana itu bahas laporan di kantor. Ini juga si Mona sudah berapa lama dia jadi direktur, masih saja aku yang mengerjakan laporannya. Keduanya sama-sama merepotkan!"


"Lho Yan, mana Ray?" tanya Mona melihat Abyan satang sendirian.


"Ray kesal dengan tingkahmu. Makan malam dibatalkan. Pembahasan laporan akan dibahas besok di kantor, kau tidak perlu datang. Sekarang pulanglah, Mona."


"Haaaa??? Aku susah payah mengajaknya makan malam sampai laporan pun kupakai alasan, eh dia malah membatalkan seenaknya hanya karena kesal dengan tingkahku? Padahal aku hanya mengatakan fakta. Apa yang salah dengan itu, haaaa ...?" sungut Mona sangat kesal.


"Terserah kau Mon, aku pamit. Ray sudah menungguku di mobil."


Abyan berlalu meninggalkan Ramona yang masih dengan amarah di kepalanya.


...-------...


- Bersambung -

__ADS_1


__ADS_2