Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Hang Out ke Mall (Part 2)


__ADS_3

Mereka telah sampai di mall milik Keluarga Pradipta, maka sejatinya mereka tidak kemana-mana.


"Perasaan aku sama Litha yang mau hang out, kenapa sekarang aku seperti yang menemani Litha sama suaminya hang out, aihhh ... " ujar Ninda dalam hati.


Ray mengenakan outfit casual dengan topi untuk menyamarkan dirinya sebagai Tuan Muda. Tampilannya jauh lebih segar dari keseharian formal di kantor. Ia sangat menjaga Litha yang mengenakan dress berwarna kuning cerah bermotif bunga-bunga kecil. Kesegaran Litha mengimbangi suaminya dan terus menggandeng tangan suaminya yang mengikuti kemana kakinya melangkah.


Bona terus saja memandang Ninda yang berjalan selangkah di depannya dengan gusar. "Kenapa aku jadi pecundang begini? Banyak kesempatan di mobil dan aku menyia-nyiakannya. Tapi nanti kalau aku mengatakannya lagi, dia akan bilang nembak sambil nyetir lalu marah dan minta turun di tengah jalan. Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini?"


Abyan yang melihat mereka dari belakang hanya tersenyum kecut, "Aku seperti orangtua yang mengawasi mereka pacaran saja. Benar-benar obat nyamuk, ckckckck ... "


Tiba-tiba Litha berbalik dan berteriak pada Ninda sambil menunjuk banner iklan promo sebuah film romansa anak muda. "Nin, film yang kita tunggu-tunggu sudah tayang hari ini rupanya. Kita nonton yuk!"


"Eh, benar Tha. Ayo kita nonton."


.


.


.


Suasana bioskop XXX di mall lumayan ramai karena film yang dimaksud Litha juga dinanti banyak orang khususnya kaum wanita. Ray yang tidak pernah menonton bioskop di negerinya sendiri hanya diam mengamati, "Ramai sekali, apa tidak ada tempat yang lebih privat untuk menonton?"


"Ada. Memang tidak privat menurut standartmu, tapi lumayan terbatas orang yang menonton di bagian itu karena harganya dua kali lipat dan cukup nyaman buat istrimu yang sedang hamil," jawab Bona.


"Yan." titah Ray.


"Oke, aku pesankan tiketnya." Abyan paham perintah yang diberikan padanya.


"Kalau begitu aku pesan makanan sama minumannya ya, ayo Nin!" Litha mengajak Ninda ke counter food and drink.


"Kau sudah menembaknya lagi, Bon?" tanya Ray sambil duduk di meja bulat, hanya ada Bona bersamanya.


Bona menggeleng lesu, Ray tertawa tanpa suara, "Mana Donjuan-mu? Sepanjang kalian bersama di dalam mobil kalian bicara apa?" tanya Ray lagi.


"Diam saja."


"Bodoh! Aku sudah memberimu kesempatan dan membujuk Litha agar mendukungmu, kau malah melempem begini. Jangan-jangan kau sendiri tidak yakin dengan perasaanmu."


"Tidak yakin apa?" tanya Abyan, ia baru saja selesai membeli tiket satu deret berjumlah 12 kursi yang bisa diatur sandaran punggung dan kakinya, padahal mereka hanya berlima.


"Dari semalam dia merengek meminta bantuan, sudah diberi jalan, masih jalan ditempat," jawab Ray yang melihat istrinya dan Ninda menuju ke arah mereka setelah selesai memesan.


"Tidak bersyukur itu namanya," celetuk Abyan yang dibalas Bona dengan dengusan sebal.


"Siapa yang tidak bersyukur, Asisten Yan?" tanya Litha duduk disamping Ray


"Seseorang yang sudah dibantu tapi malah menyia-nyiakan bantuan itu," Ray menyindir Bona, semua paham kecuali Ninda.


"Katakan pada orang itu, Asisten Yan, kalau dia harus belajar pada Suamiku bagaimana cara meyakinkan hati seorang wanita hingga tidak bisa berpaling pada yang lainnya," sahut Litha yang membuat Ray tersenyum bangga sambil mengusap-usap punggung istrinya.


Ninda diam saja, ia merasa topik yang dibahas oleh mereka tidak ada sangkut paut dengan dirinya, Ninda hanya merasa canggung Bona mencuri-curi pandang melihat ke arahnya.


"Hahahahahaha ... ternyata kau pandai menasehati orang Bon, tapi tidak berlaku untuk diri sendiri, menyedihkan sekali ... " ledek Abyan.


"Sialan kau, Yan! Kau sendiri bagaimana? Setidaknya aku memiliki harapan, sedangkan kau, tidak ada harapan lagi karena dia akan menikah. Hahah ... sekarang katakan padaku, lebih menyedihkan siapa?"


Ray kaget mendengarnya apalagi Litha, matanya membulat sempurna, ia tidak tahan, langsung dicecarnya Abyan tanpa henti.


"Dia siapa Asisten Yan? Sejak Kapan? Akan menikah? Kau menyukai wanita yang akan menikah? Ah, Mas kenapa kau tidak pernah cerita padaku?" sesalnya pada Ray.


"Bagaimana aku mau cerita padamu kalau aku sendiri baru tahu sekarang. Yan, katakan yang sebenarnya!" Ray juga sangat terkejut karena selama ia mengenal Abyan, tidak pernah sekalipun ia membahas tentang seorang wanita untuknya.


"Jangan sembarang bicara, Bon," sanggah Abyan berusaha santai menutupi debaran jantungnya.


"Aku tidak sembarang bicara, kau sendiri yang bilang bagaimana rasanya menyukai seseorang yang sudah bertunangan dan akan menikah." Bona merasa menang karena sasaran telah berpindah ke Abyan.


"Aaaaaaaa ... Aku tidak terima!!! Siapa wanita itu, Asisten Yan? Katakan!" pekik Litha melotot ke arah Abyan.


"Sayang, kenapa kau excited sekali padanya?" protes Ray tidak suka.


"Bukan, bukan begitu. Aku senang sekali akhirnya hati Asisten Yan bisa tersentuh juga dengan wanita, artinya dia normal."


"Haaahh ... " Semua terheran-heran dengan pikiran polos Litha.


"Pokoknya Mas ... Siapapun wanita itu, mau sudah tunangan atau tidak, Mas harus upayakan agar dia bersatu dengan Asisten Yan. Selama belum menikah, harapan masih ada. Jangan khawatir, Asisten Yan, aku mendukungmu."


Semua memandang takjub Litha, wajah Abyan bersemu kemerahan, sedangkan Ray ingin tertawa tapi diurungkan karena pesanan istrinya telah diantarkan pelayan ke atas meja mereka.

__ADS_1


"Sayang, ini semua pesananmu? Kita mau makan apa nonton?" tanya Ray bingung. Istrinya hanya cengengesan menyeruput minuman coklatnya.


.


.


.


Saat menonton hanya Ray dan Litha yang menikmati filmnya. Bona, Ninda dan Abyan larut dalam pikirannya masing-masing.


"Kau senang?" bisik Ray di telinga Litha, istrinya hanya mengangguk sambil mulutnya terus mengunyah, matanya tetap ke layar besar. Ray terkekeh lalu mengusap pucuk kepala istrinya.


"Nin, lain kali kita nonton berdua saja. Nonton dengan mereka serasa jadi obat nyamuk," kata Bona berbisik melihat Ray mengusap kepala Litha, ia coba mencairkan suasana canggungnya dengan Ninda.


"Harusnya hari ini hari yang menyenangkan buatku, hang out berdua dengan Litha, tapi dasar suami posesifnya itu bikin semua rencana ambyar. Kau juga kenapa ikutan?"


"Karena kau menghilang tanpa kabar. Kenapa kau memblokir nomorku?"


"Karena kau terus meracau yang tidak aku suka!"


"Apa yang tidak kau sukai?"


"Kau selalu memintaku jadi pacarmu. Kau kira itu lucu untuk dijadikan bahan lelucon?"


Bona terhenyak, "Apa Ninda memang tidak menyukaiku?"


"Aku tidak bercanda. Aku serius dengan apa yang kukatakan."


Jawaban singkat Bona membuat Ninda terdiam. Alur cerita film yang ditontonnya sama sekali tidak bisa ia nikmati karena pikirannya penuh dengan lelaki di sampingnya ini.


Setelah kalimat terakhir tadi yang ia katakan, Bona kehilangan moodnya. Perasaan gugup dan tegang yang dibawanya sejak dari rumah utama tiba-tiba menguap entah kemana. Bona merilekskan diri, menyandarkan badannya di sandaran kursi yang ia rebahkan sedikit ke belakang dan menaikkan sandaran kakinya ke atas. Film yang diputar bukan genre favoritnya, ia memejamkan mata dan melipat kedua tangan di dadanya.


"Apa kau marah, Bon? Kalau kau memang menyukaiku, setidaknya berusahalah lebih keras untuk meyakinkanku akan perasaanmu, bukan malah menyerah begini. Heheh, benar kata Litha sebaiknya kau belajar dulu pada Tuan Muda sebelum menyatakan perasaanmu. Payah!" bathin Ninda tersenyum sinis melirik Bona.


"Mas ... " Litha menepuk lengan suaminya, membangunkan Ray yang hampir terlelap karena film drama yang ditonton mereka menerbitkan rasa kantuknya.


"Lihat ... " Litha menunjuk Bona dengan sikap tidur dan Ninda yang menatap kosong ke layar depan.


"Apa begini rencananya? Bona tidur," bisik Litha.


"Ck. Biarkan saja. Kenapa hari ini kau memikirkan banyak orang. Hentikan itu! Pikirkan suamimu saja."


Film pun berakhir, mereka keluar dari ruang theater. Di pintu keluar Litha melihat petugas pembersih lengkap dengan peralatan di tangannya, siap membersihkan ruangan sebelum pengunjung berikutnya masuk.


"Mbak, ini, maaf ya kursi deretan F penuh dengan sampah." Litha menyelipkan beberapa pecahan kertas nominal terbesar.


"Jangan Bu, ini memang sudah tugas saya." Si Mbak menolak dengan halus.


"Ada apa, Sayang?" tanya Ray.


Litha langsung menarik tangan Si Mbak, memasukkan paksa uang ke dalam telapak tangannya, "Jangan menolak. Suamiku akan marah kalau pemberiannya ditolak," bisik Litha.


"Te-- terimakasih, Bu. Semoga Ibu diberikan kesehatan dan kelancaran sampai adek bayi lahir," ucap Si Mbak berkaca-kaca menatap haru ke perut Litha. Ia tersenyum karena pulang nanti ia bisa membeli susu untuk balita yang dititipkan pada ibunya.


"Amin."


Ray tersenyum melihat kebaikan hati istrinya, dirangkul erat pinggang Litha untuk keluar studio, namun Litha menolak, ia ingin ke toilet.


"Mas tunggu dulu ya, aku mau ke toilet. Ayo Nin, temani aku."


"Ya. Cepat ya."


Litha mengangguk lalu menggandeng Ninda berjalan ke toilet sambil bertanya, "Nin, apa Bona mengatakan sesuatu padamu?"


"A-- Apa maksudmu? Ti-- Tidak. Tidak ada."


"Oh, soalnya kulihat kau tidak menikmati filmnya, padahal film ini sudah kita tunggu dari tahun kemarin."


"Engg ... Tha, bagaimana dulu kau bisa mengetahui keseriusan suamimu saat dia berkata ingin kembali padamu?" tanya Ninda ketika mereka masuk ke dalam toilet.


"Emmm ... feeling saja. Aku selalu percaya kata hatiku, bahwa dia benar-benar ingin membangun rumah tangga bersamaku, meski tetap ada keraguan dia kembali hanya karena aku mengandung anaknya, tapi sekali lagi aku lebih mempercayai feeling ku."


"Caranya?"


Litha tersenyum, "Tanya pada hatimu sendiri. Aku masuk dulu ya, udah gak tahan nih."


Ninda menghela nafas, bingung bagaimana cara bertanya pada hati sendiri, kali ini jawaban Litha tidak membantunya.

__ADS_1


"Tuh, kan benar, Ren. Aku pikir mataku yang salah, ternyata benar."


Sekonyong-konyong dua wanita cantik masuk ke dalam toilet, langsung berdiri di hadapan Ninda.


"Ninda!"


"Re-- Renata-- a--"


Ninda tidak bisa berkata apa-apa. Jantungnya berdetak sangat cepat, nafasnya menjadi pendek dan di kening juga tangannya sudah mulai berkeringat.


"Jadi ternyata dia gadis yang kau khawatirkan untuk menaut hati Bona? Tidak salah, Rin? Apa matamu buta atau Bona yang buta?" Renata menudingnya dengan kasar.


Ninda makin tersudut, lidahnya kelu dan kakinya gemetar. Memorinya kembali ke masa SMA, masa terburuk dalam hidupnya.


Litha yang merapikan dressnya di dalam bilik menajamkan pendengarannya karena ada nama sahabatnya disebut, namun suara Ninda hilang bagai ditelan bumi. Litha mengambil ponsel dalam tas tangannya, dipanggilnya nomor Ray.


"Ya, Sayang." Suara Ray menjawab dari seberang, namun belum sempat Litha membalas suara suaminya, ia mendengar pekikan Ninda. Ia langsung memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu membuka bilik toilet untuk mendekati sahabatnya.


"Hentikan!" pekik Litha keras hingga mengagetkan Ray, Abyan dan Bona di seberang telepon dan mereka bertiga langsung bergegas mencari toilet wanita.


Ninda sudah bersandar pada tembok dekat wastafel, wajahnya pucat, bibirnya kering dan nampak jelas keringat di wajahnya.


"Litha ... " sahutnya lirih menghiba pada Litha.


"Nin, kamu kenapa?" tanya Litha sedikit panik sambil mengelap keringat di dahi Ninda dengan tissue yang ada di ada wastafel.


"Litha?!? Kau Litha temannya Ninda?" Renata mencoba mengingat sesuatu.


Litha berbalik dan memperhatikan wanita yang menyebut namanya barusan, "Dia Renata, artis norak itu kan?"


"Kamu kenal dia?" tanya Airin.


"Jadi kamu yang namanya Litha." Renata menjawab sendiri pertanyaannya. Ia tidak menghiraukan pertanyaan Airin. Dijelajahinya sosok Litha dari atas sampai bawah.


"Cih. Ternyata wanita hamil yang membuat Evan patah hati ini biasa saja. Masih cantikan aku ... tapi bajunya-- itu kan, koleksi terbaru di Luxury Boutique. Lalu kalung berliannya kecil tapi kilaunya menampakkan kadar karatnya. Dan ... Iyyyuuuhhh lehernya penuh dengan bekas hi*sapan. Dengan siapa dia menikah? Apa dia simpanan pria hidung belang? Hahahahaha ... Tentu saja."


Litha bisa melihat tatapan remeh untuknya, tapi ia tidak peduli. Saat ini ia hanya peduli pada Ninda yang sudah menunjukkan gejala panic attack, biasanya ia akan langsung memeluk sahabatnya dan membantu Ninda menstimulasi pikirannya yang diajarkan dr. Siska, tapi gejala kali ini tidak biasa. Ia berbalik menghadap Ninda dan membelakangi dua ular betina di depannya tadi.


"Nin, Ninda ... bernafaslah." Litha mengangkat kedua lengan Ninda ke atas, membantunya melakukan stretching atau peregangan, "Tutup matamu lalu tarik nafas yang dalam, 1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... tahan Nin, 1 ... 2 ... 3 ... hembuskan sekarang 1 ... 2 ... 3 ... 4 ... 5 ... Everything it's okay ... This too shall pass, Nin ... Don't be afraid, ada aku Nin, Litha ... Litha-mu."


Litha mengulang-ulang membantunya melakukan slow breathing. Disaat Litha sibuk membantu Ninda melawan ketakutan terbesarnya, muncul suara tawa melengking membahana memenuhi toilet wanita.


"Hahahahahaha ... Kau tahu Rin, ternyata Ninda yang kau cemaskan tidak berubah sama sekali. Masih suka kejang-kejang kalau melihatku hahahahahaha ... Kau tidak perlu takut Bona jatuh hati padanya, dia hanya kerupuk yang kau injak langsung hancur tak bersisa."


Litha mendidih mendengar hinaan Renata untuk Ninda, Dengan geram ia berbalik dan menatap tajam manik Renata. "Ternyata kaulah pemicunya selama ini! Akhirnya aku bertemu juga denganmu! Aku mau lihat sampai dimana kau bertingkah jumawa, dasar rambut orange norak!"


"Apaaa!!! Kau menyebutku rambut orange norak? Kau tahu tidak aku artis terkenal yang semua orang memandangku hebat. Semuanya mengikuti apa yang aku pakai. Aku menjadi trendsetter di negeri ini!"


Renata sangat marah dikatai Litha "Orange Norak" yang merujuk rambutnya berwarna pirang kemerahan. Ia maju satu langkah ke muka Litha, namun Litha tidak mundur sejengkal pun. Saat ini Ninda membutuhkannya, ia harus melindungi Ninda seperti waktu itu Ninda melindunginya dari Ramona. Tapi ia juga dalam keadaan hamil, ia harus memikirkan bayi dalam perutnya kalau-kalau Renata nekat.


Ah, seketika Litha mengingat suaminya. Ia merogoh tas mencari-cari ponsel. Begitu ponsel sudah dalam genggamannya, Renata menepis tangan Litha hingga ponselnya terpental. Tanpa mereka sadari, ponsel itu masih terhubung ke nomor Ray.


"Kau mau menelepon siapa? Dasar pengadu!"


Hati Litha kacau setelah ponselnya terlempar jauh dari jangkauannya. Harapannya untuk meminta tolong musnah sudah. Dengan spontan ia memeluk perutnya dan berdiri di depan Ninda yang kondisinya semakin tidak terkendali.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Keterangan :


Serangan panik (panic attack) adalah munculnya rasa takut atau gelisah berlebihan secara tiba-tiba. Kondisi yang juga disebut dengan serangan kegelisahan ini ditandai dengan ciri fisik : detak jantung yang bertambah cepat, napas menjadi pendek, gemetaran, kram perut, menegangnya otot, nyeri dada, mual, mata berkunang, pusing, dan pingsan.


Serangan panik yang biasanya terjadi berulang-ulang berarti ada pemicunya (trigger) yang mana itu adalah salah satu kondisi merasa terancam bahaya dan tidak dapat melarikan diri, pada kasus Ninda, pemicunya adalah perlakuan bullying lebih-lebih pelaku yang membully-nya di masa SMA.


Cara menstimulasi seseorang yang terkena serangan panik :


- Mengatur nafas dengan teknik slow breathing yaitu bernafas secara perlahan dan teratur melalui hidung. Jika tidak memungkinkan, pernapasan bisa dilakukan dengan mengerutkan mulut seperti bersiul.


- Merelaksasi otot


- Fokus kegiatan sederhana


- Berbicara dengan kalimat-kalimat pendek positif


Jadi, stimulan yang dilakukan Litha pada Ninda adalah fakta yang Author rangkum dari berbagai sumber di Google dan dituangkan dalam suatu part di novel ini.

__ADS_1


Semoga bermanfaat, dan jelas perlakuan bullying sangat mengintimidasi hidup seseorang. Tetaplah kuat dan Say NO To Bullying, jangan sampai menjadi pelaku dan korban.


Kalau Kakak-Kakak suka jangan lupa dukungan like, komentar, hadiah dan vote. Difavoritin juga atuh Kak ... biar Authornya senang ☺️☺️☺️


__ADS_2