Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Adu Strategi


__ADS_3

"Kau akan kalah, Tuan. Tangan bangsawanmu itu tidak terbiasa menyentuh kulit telur hahahahahaha....." Litha mengejek dan tertawa dalam hati.


"Bersiaplah dengan satu permintaanku! Kau kira aku tidak tahu apa yang ada di otakmu itu hah!!!"


"Tidak seru kalau hanya mengupas telur saja," sahut Ray.


"Maksud Tuan?"


"Selama mengupas telur masing-masing dari kita akan bergantian bertanya tentang apapun dan wajib dijawab dengan jujur, kalau tidak dijawab maka lawan akan mengambil satu telur yang sudah dikupas dan dua telur untuk jawaban yang diketahui bohong. Bagaimana?"


Giliran Ray yang tersenyum, licik. Litha yang mendengar aturan tambahan dari Ray melongo bingung.


"Hahahahahaha.... Ayo kita mulai sekarang. Aku tidak sabar meminta sesuatu darimu hahahahahaha....."


Rayyendra mengambil satu telur duluan tanpa persetujuan Litha dan Litha pun hanya bisa pasrah, ia juga mengambil satu telur untuk dikupas.


"Hahahahaha... Lihat tangan besarmu itu! Bukan mengupas tapi meremukkan telur." Litha hanya berani mengejek Rayyendra dalam hatinya.


Tidak menunggu lama, Litha dengan lihainya sudah mengupas lima telur, sebaliknya Rayyendra baru mau mengupas telur yang kedua.


"Nama lengkapmu siapa?"


"Hah?!?"


"Kau tidak mau menjawabnya, kuambil telurmu!"


"Jangan, Tuan. Saya akan menjawabnya. Nama lengkap saya Navia Litha Sarasvati."


Ray mengangguk-angguk, perhatiannya masih terpusat pada telur ditangannya.


"Giliranmu!"


"Ah iya ... Hmmmm ... Kenapa Tuan tidak tinggal di rumah utama menemani Nenek?"


Ray menghentikan gerakannya mengupas telur. Diangkat wajahnya menatap Litha, cukup berani ia menanyakannya, bahkan Abyan, orang terdekatnya pun tidak berani menyinggung hubungan Nenek dan Cucu Pradipta.


Berbeda dengan Litha, ia sangat santai menanyakannya, baginya ini kesempatan yang tepat mengulik sosok Tuan Muda dan akan jadi bahan gosipnya dengan Ninda.


"Ambillah telurku!" seru Ray.


Ia tidak berkenan menjawabnya. Telur satu-satunya yang dikupasnya diserahkan ke dalam mangkuk Litha.


"Eh ... Tuan, biar ku ganti pertanyaannya."


Litha tak enak hati, dilihatnya mangkuk Tuan Mudanya kosong.


"Tidak apa, memang begitu aturannya, kan. Sekarang giliranku. Siapa sahabatmu?"


"Ninda."


"Teman sekamarmu itu?"


Litha mengangguk dan bertanya, "Kalau Tuan, siapa sahabat Tuan?"


"Asisten Yan dan Bona."


"Lah, Asisten Yan kan memang dekat denganmu, tapi dia bukan sahabatmu, mungkin nama yang satunya tadi dia sebutkan itu sahabatnya." bathin Litha.


"Siapa pacarmu sekarang?"


"Hei... Tuan Muda, pertanyaan macam apa ini!!!" protes Litha dalam hati.


"Bisa jawab tidak?"


"Eng.... eng.. eng... Evan, namanya Evan."


"Maaf Evan, aku memakai namamu, jangan salah paham ya."


Litha berbicara dalam hati seakan-akan ada Evan disana.

__ADS_1


"Kau bohong! Matamu tidak bisa berbohong. Dua telur untukku."


Litha tergugu. Rayyendra langsung mengambil telur dari mangkuk Litha ke mangkuknya.


"Kalau Tuan sendiri, siapa?"


"Ramona. Giliranku lagi. Siapa yang mengambil ciuman pertamamu?"


"Tuan ... Tidak sopan bertanya seperti itu!"


"Hahahaha.... kuanggap kau tidak mau memberi jawaban." Ray mengambil satu telur lagi dari mangkuk Litha.


"Kalau Tuan sendiri?"


"Ramona," jawab Rayyendra santai.


"Pernahkah kau disentuh pria?"


Litha benar-benar jengkel dengan Tuan Muda yang duduk di depannya, pertanyaannya semua menyerang ranah pribadinya. Ditatap lekat netra Rayyendra dan berkata, "Pernah."


"Seperti ini?"


Rayyendra mengelus pelan lengan bagian dalam milik Litha. Gadis itu terkesiap, seperti ada getaran listrik yang menjalar di lengannya.


"Huahahahahaha..... Kau bohong lagi! Dua telur untukku. Hahahahahahahaha.... " Rayyendra terbahak melihat rekasi Litha.


Ada sepasang mata tua yang memperhatikan keduanya. Ia heran, gadis muda itu bagaikan punya segudang humor untuk membuat manusia-manusia dingin rumah ini bisa tertawa.


"Tuan ... Tuan curang! pertanyaan yang Tuan ajukan aneh."


"Apa yang aneh? Kau saja yang tidak kreatif memilih pertanyaan, selalu mengikuti pertanyaanku. 'Kalau Tuan?' hahahahaha...."


"Sekatang giliranku. Apa Nona Ramona cinta pertama Tuan?"


"Hmmm entahlah, aku tidak tahu dengan persis apa itu cinta, jatuh cinta, dan sebagainya."


"Giliranku, menurutmu aku pria seperti apa?" sambung Ray.


Pertanyaan Rayyendra sungguh menjebak, tidak dijawab telurnya diambil, dijawab juga serba salah.


Litha diam...


"Kau tidak menjawabnya. Satu lagi telurmu untukku hehehehehe.... "


"Rasakan ... Kau terjebak dalam permainanmu sendiri bukan? Jangan anggap aku tidak bisa mengupas telur, aku akan kalah. Tidak ada kalah dalam kamus Rayyendra Pradipta hahahahaha ...."


"Dasar licik!!! Dia sengaja buat aturan tanya jawab seperti ini karena tahu aku tidak akan berani menjawab macam-macam."


Litha geram, Ray sudah memanipulasi permainan yang ia ciptakan. Sayangnya, Litha terlambat menyadari untuk mengatur strategi kembali, telur puyuh yang telah ia kupasi hampir setengah berpindah ke mangkuk Ray.


"Hahahahahahaha.... Hei Nona ... !!! Lihat aku pemenangnya hahahahaha....."


Pada akhirnya telur di mangkuk Ray lebih banyak daripada telur yang di mangkuk Litha. Tawa Ray membahana ke seluruh ruangan dapur, bahkan hingga ke ruangan lainnya, para pelayan pun keheranan, siapa pemilik tawa besar itu.


Muka Litha tertekuk, dia telah jatuh dalam lubang yang sebenarnya ia siapkan buat lawannya.


"Baik. Tuan pemenangnya. Selamat, Tuan," kata Litha menggabungkan semua telur yang telah dikupas, kulit-kulit telur yang berserakan ia kumpulkan.


"Ini salahnya dimana? Aku yang mengupas paling banyak tapi aku yang kalah," kata Litha bingung.


"Hahahahahahaha... Akui sajalah kalau kau kalah cerdik dariku."


Wajah Tuan Muda memerah karena banyak tertawa, bahkan di sudut matanya berair. Dia sangat menikmati permainan kupas telur ini.


"Aku menang berarti aku berhak mengajukan permintaan padamu, kan?"


Suara Ray tiba-tiba serius, ia melihat wajah Litha yang masih berpikir kenapa ia sampai kalah.


"Iya Tuan. Tuan pemenangnya, apa ada yang Tuan inginkan dariku?"

__ADS_1


"Mendekatlah, aku akan memberitahumu."


Litha berdiri dari kursinya, mendekati Ray yang juga mulai berdiri.


Ada rasa canggung bagi Litha berdiri dekat seperti ini. Tingginya yang hanya sedagu Tuan Muda mengharuskannya mendongak ke atas saat Rayyendra mengucapkan permintaannya.


"Cium aku!"


Dhuaaarrrr......


Bagai disambar petir, tubuh Litha menegang kaku dan ia membelalakkan matanya sebesar-besarnya. Jantungnya serasa jatuh ke lantai.


"A-- a-- pa?"


Litha berharap ia salah mendengar atau paling tidak Tuan Muda di depannya hanya menggodanya.


"Cium aku."


Rayyendra membisikkannya ke telinga Litha dengan jelas, sangat jelas, hingga sensor pada indra perabanya ikut beraksi.


"Kau yang membuat aturannya sendiri, kan?"


Ray masih saja mengatakannya dengan bisikan. Rambut halus di sekitar leher Litha meremang, ia masih diam kaku.


"Tu-- Tuan, karena hanya satu permintaan jadi pikirkanlah dulu dengan baik. Jangan terburu-buru." Litha berusaha membujuk, kesadarannya yang sedikit lenyap kini sudah kembali.


"Tidak. Aku tidak perlu memikirkan apapun."


Wajah Ray menjauh dari telinga Litha.


"Aku bisa meminta apapun darimu dan kapanpun, kan? Kau ingin mengingkarinya, Navia Litha Sarasvati."


"Tidak Tuan. Aku tidak mengingkarinya tapi kumohon buatlah permintaan lain, jangan kau ambil ciuman pertamaku. Ohhh.... membayangkannya pun aku tak mau." jerit Litha di hatinya.


"Mati kau, rubah kecil! Kau kira kau bermain dengan siapa huh!" Ray mengumpat puas dalam bathinnya.


Litha menggigit bibirnya, ia takut, matanya melirik mencari-cari pertolongan, mungkin saja Nyonya Besar telah kembali.


Ray duduk di meja, di sebelah mangkuk telur, menunggu reaksi Litha selanjutnya, kini netranya sudah sejajar dengan gadis didepannya.


"Tutuplah matamu, Tuan Muda."


Akhirnya Litha meladeni permintaan aneh Rayyendra.


"Kenapa? Kau tidak bisa melakukannya jika orang yang kau cium melihatmu ya? Ah ..., kau kan belum pernah berciuman. Apa artinya aku adalah pemilik ciuman pertamamu? Hahahahaha...."


Ray mengejek Litha, tapi Litha tidak peduli dengan apa yang barusan Ray katakan, dia sibuk mengatur degup jantungnya yang seperti balapan motor. Tangannya dingin, gugup. Lebih gugup lagi ketika Litha menatap bibir Tuan Mudanya yang akan diciumnya.


"Kau harusnya bersyukur. Banyak wanita yang menginginkanku dan rela melakukan apapun demi mendapatkan ciumanku, bahkan Ramona pun harus merengek-rengek hahahahaha.... "


Betapa angkuh dan bangganya Ray saat menyebutkan dirinya diidam-idamkan oleh kaum hawa.


"Tuhan ... apa ini? Aku mohon tolong aku, Ya ... Tuhan."


Namun, sepertinya Tuhan tidak memihak Litha. Tidak ada siapapun yang bisa dijadikan Litha penolong saat ini. Hanya wajah tampan Rayyendra dengan mata tertutup.


"Ayo Litha, lakukan dengan cepat dan segera selesaikan!" Hatinya berteriak pada dirinya sendiri.


Litha perlahan mendaratkan bibirnya di bibir Rayyendra. Seketika alis Rayyendra mengkerut, ada rasa dingin menjumpai bibirnya.


Dua detik Litha rasa cukup untuk mendaratkan ciumannya ke bibir Rayyendra, ia ingin melepaskannya. Namun tak dinyana, mata Rayyendra terbuka menatap dalam maniknya.


Litha kaget bukan kepalang, refleks ia menarik mundur dirinya. Tapi Rayyendra lebih sigap. Ia langsung menangkap leher belakang Litha, dicengkramnya kuat, dilumatnya bibir Litha semakin dalam, sedangkan tangan satunya mengikat pinggang Litha.


Tangan Litha memukul-mukul pundak Rayyendra, meminta dilepaskan. Bola mata Litha seperti mau meloncat keluar dengan apa yang ia rasakan dalam mulutnya, sesuatu yang asing tengah asyik mengajak main dengan lidahnya. Litha berusaha melepas pagutan Rayyendra, namun Rayyendra terbuai dengan bibir Litha, tidak peduli dengannya yang hampir kehabisan nafas. Tangannya sudah menjalar ke daun telinga, diremasnya pelan.


"Ray....!!!"


Muncul sebuah suara nyaring mengagetkan mereka berdua.

__ADS_1


- Bersambung -


__ADS_2