
Embun pagi berjejer rapi di dedaunan tanaman yang terletak sepanjang gerbang utama sampai pintu rumah utama. Dua malam Ray meninggalkan istrinya di rumah, ia sudah sangat rindu ingin segera memeluk dan menenggelamkan wajahnya di lembah empuk dan hangat seraya mendengarkan detak jantung istrinya yang menenangkan.
"Tuan, Nona Vania masih tidur bersama Nyonya di kamar utama. Apa saya bangunkan Nona Vania?"
"Tidak perlu Pak Is. Aku akan melihatnya sendiri," ujar Rayendra lalu berjalan ke kamar.
Rayyendra menemukan dua saudari yang tengah tertidur di bawah selimut, Tangan istrinya masih, memeluk punggung adiknya, sedangkan tangan Vania masih berada di telinga istrinya.
Ray perlahan duduk di sisi istrinya, menepikan rambut di pipi Litha agar bisa melihat wajah wanita yang sangat ia cintai itu.
"Kenapa kalian berdua sangat manis begini? Adikmu itu meski terlihat lebih kuat darimu, sebetulnya dia hanya anak perempuan yang manja. Semoga Vania bisa menjaga dirinya karena dia punya sesuatu yang bisa mengikat kuat kaum lelaki. Ah, kenapa aku khawatir begini, padahal dia bisa menjaga dirinya sendiri, dia pemegang sabuk hitam taekwondo. Duh, bagaimana nanti kalau bayi dalam perut Litha berjenis kelamin perempuan? Bisa gila aku menjaganya."
"Hai Tawon! Kau terlihat nyenyak sekali tidur di tempatku," sapa Ray begitu Vania membuka matanya
"Kakak Ipar! Kakak sudah pulang?" pekik Vania kaget.
"Pssttt ... " Ray menempelkan telunjuknya di bibir, "Jangan terlalu berisik, kau bisa membangunkan Kakakmu."
"Biar bangun saja sekalian, kan matahari juga sudah naik. Tidak baik buat ibu hamil, anaknya nanti jadi pemalas, tukang tidur," Vania mengoceh sambil memindahkan tangan Litha yang melingkupinya. Semalam memang ia minta dipeluk kakaknya.
"Kau ini! Berani-beraninya mengatai anakku pemalas."
"Aku tidak mengatainya. Aku bilang tidak baik buat ibu hamil, anaknya nan--ti ja--di pemalas, tukang tidur. Nan-ti ja--di itu bukan mengatai, justru himbauan, saran atau nasehat kalau yang mengatakannya umurnya lebih tua."
"Dasar! Pintar ngeles."
Vania tertawa, ia sudah duduk di tepian ranjang, hendak berdiri dan segera keluar dari kamar.
"Kenapa tanganmu ada di telinga istriku?" tanya Ray.
"Hanya kebiasaan dari kecil. Kak Litha punya tulang telinga yang lunak, aku suka memainkannya, apalagi sebelum tidur bisa membuat tidurku lebih nyenyak. Apa Kakak Ipar belum pernah memegang telinga Kak Litha?" Vania sudah berdiri mengambil bantal dan gulingnya.
"Tentu saja sudah. Bagian tubuh mana yang belum kusentuh? Semua sudah kujelajahi. Tapi aku lebih suka bagian dadanya."
"Haiiisshhh ... Tentu saja, tidak ada lelaki yang tidak menyukai bagian itu. Bahkan itu tempat ternyamannya di dunia, apalagi dengan wanita yang dicintai, detak jantungnya bisa menjadi terapi suara."
Ray terperanjat, gadis remaja yang baru saja memiliki KTP ini mengapa begitu fasih membahas tentang hubungan intim dua orang manusia. Bahkan istrinya yang dikenal pandai, untuk wawasan hubungan secara intim benar-benar polos dan tidak tahu apapun kecuali rasa geli-geli yang menyenangkan.
"Nia, bagaimana bisa kau berkata demikian? Apa kau pernah melaku--"
"Hahahaha ... Kakak Ipar jangan memandang rendah diriku begitu. Aku masih perawan, belum pernah melakukan hubungan se*x dengan siapapun. Ayah kami sangat menjaga kehormatan kami, jadi meski Ayah sudah tidak ada, kami akan menjaganya sendiri sekuat tenaga. Dan aku juga tidak berniat melakukan kontak fisik yang intim dengan lelaki manapun karena berbahaya buat mereka, hahahaha ..." kata Nia terang-terangan sambil berlalu dan tertawa, tidak ada rasa sungkan sama sekali pada suaranya.
Ray diam mencerna kalimat terakhir adik iparnya yang mengatakan berbahaya kalau ia melakukan kontak fisik dengan pria.
"Kak, aku mengerti. Di pagi hari, secara biologis kaum lelaki menginginkannya, hehehe ..."
Ray kaget, adik iparnya ini berani menggodanya tanpa ragu. Sebelum Vania benar-benar menutup pintu kamar, ia berkata sambil menunjuk ke suatu benda di kamar, "Kak kalau aku menikah nanti, aku mau hadiah pernikahannya sofa seperti itu."
"Nia!!!" teriak Ray nyaring, yang membuat Vania langsung menutup pintu dan berlari ke kamarnya sambil terkekeh.
"Mas-- Mas sudah pulang?" suara parau Litha menyahut teriakan Ray.
"Ah, maaf, Sayang. Apa aku mengagetkanmu?" tanya Ray agak khawatir.
"Tidak apa-apa. Apa Si Tawon itu membuatmu kesal?"
"Si Tawon?" tanya Ray tergelak mendengar istrinya menyebut Vania julukan yang ia berikan.
__ADS_1
"Ya, dia berisik sekali soalnya. Terus mendengung seperti tawon. Apa di membuatmu kesal? Maafkan dia, Mas, bicaranya kadang tidak sopan."
Ray terbahak, "Iya, memang dia tidak sopan dengan mengatakan di pagi hari, secara biologis, kaum lelaki menginginkannya."
"Astaga !!! Anak itu memang harus diajari kesopanan dalam berbicara!" Litha benar-benar jengkel dan malu sebagai kakaknya.
"Sudah. Dia hanya begitu sama orang yang sudah akrab. Biarkan saja, lagipula apa yang dikatakannya memang benar kok. Aku menginginkanmu pagi ini. Aku rindu sekali, Lith ... Rindu pada anakku, aku ingin menengoknya."
"Haiissshhh ... alasan yang bagus sekali. Kalau begitu kunci pintunya karena aku juga merindukanmu, Mas."
...***...
Seminggu telah berlalu sejak hari ulangtahun Litha, saatnya Bibi, Paman dan Vania kembali ke Kota A.
"Mas, kenapa Bibi dan Paman tidak tinggal bersama kita di Ibukota atau setidaknya di rumah kita di Kota A?" tanya Litha di mobil setelah mengantar kepulangan keluarganya dari lapangan lepas landas.
"Aku sudah pernah menyampaikan begitu, tapi mereka tidak bersedia. Kita tidak bisa memaksanya, Lith."
Ray melihat istrinya menghela nafasnya dengan berat. Ia ingat malam sebelumnya, ia sudah bicara dengan Paman dan Bibi seperti yang dimaksud istrinya. Tapi keduanya menolak dengan alasan agar anak-anak Tuanku Putri tidak diketahui oleh pihak Kerajaan Sungai Bulan. Saat ini Pangeran Drana mulai mencari informasi kembali setelah kabar Tuanku Putri meninggal dimunculkan oleh seorang ahli nujum kerajaan yang ditandai dengan kondisi langit di atas istana saat Ibu Litha meenghembuskan nafas terakhir.
Raja Kerajaan Sungai Bulan yang sedari awal tidak mempercayai bahwa kabar kematian Anjani dan Shira 27 tahun lalu, baru membuka hatinya untuk putrinya ketika si ahli nujum dengan sangat yakin menyatakan Kerajaan Sungai Bulan telah kehilangan putri mahkotanya, tapi tidak dengan Shinanyang-nya. Kini Pangeran Drana harus lebih dahulu mendapatkan jejak kehidupan saudarinya sebelum Raja, karena jika Anjani memiliki anak, posisinya sebagai Putra Mahkota terancam.
Kepekaan Bibi Rima sebagai mantan Shinayang putri mahkota bisa dibilang tajam, berpuluh tahun ia tidak merasakan apapun, namun sejak Tuanku Putri meninggal ia merasa tidak aman dan seakan berada dalam arena perburuan. Demi alasan itulah Bibi Rima sebisa mungkin tidak berdekatan dengan ketiga keponakannya agar tetap bisa melindungi mereka.
Permintaan Rayyendra agar Paman Tino dan Bibi Rima ikut hadir saat ulang tahun istrinya adalah hal yang tidak bisa mereka tolak, karena suami keponakannya itu akan merasa sangat aneh jika tiba-tiba mereka menolak dengan alasan sebenarnya tanpa Ray tahu sejarahnya.
"Berjanjilah Nak Rayyendra, lindungi mereka apapun yang terjadi. Bibi dan Paman akan menjadi benteng terakhir yang bisa ditembus oleh pihak kerajaan. Selama tidak ada yang membocorkan rahasia ini, mereka akan aman." Bibi Rima dan Paman Tino memohon perlindungan untuk keponakan-keponakan mereka dengan berurai airmata di malam sebelum mereka kembali ke Kota A.
"Bibi dan Paman tidak perlu khawatir, aku akan menjaga dan melindungi mereka, bahkan Paman dan Bibi juga. Tinggal lah disini. Disini aman, banyak penjaga di rumah utama."
"Kalau itu kami lakukan. maka Nak Rayyendra akan terikut dalam arus perburuan. Biar berhenti di kami saja. Sampai mati kami akan menjaga identitas anak-anak Tuanku Putri. Mungkin setelah ini kami akan mengganti nomor telepon. Tolong titip Vania dan Tisha karena sementara waktu kami akan berpindah-pindah untuk mengelabui Pangeran Drana dan Baginda Raja. Sebisa mungkin kami yang akan menghubungi kalian,"ujar Bibi Rima bergetar. Hatinya sakit harus berpisah sementara dan memutus komunikasi dengan ketiga keponakannya.
Takdir ini sangat aneh dan ia ingin tertawa, bagaimana mungkin, bahkan terlintas dalam bayangannya saja tidak bahwa ia akan bersinggungan dengan sebuah kerajaan yang menguasai wilayah dimana bisnis utama keluarganya berdiri.
"Mas ... Kok melamun?" tanya Litha menyentuh lengan suaminya. Abyan melirik lewat kaca spion depan, ia mengernyit heran, pasalnya Ray sangat jarang melamun, jika ia sampai melamun itu adalah hal yang sangat serius.
"Ah, tidak ada, Sayang. Aku hanya sedang memikirkan Bona dan klubnya. Pak Bagas tadi malam memberitahu akan ada penggeledahan di Amore Club, ada terduga pengedar yang sudah menjadi target polisi melakukan transaksi disana." Ray sengaja mengalihkan perhatiannya ke klubnya Bona.
"Apa Bona tidak pernah cerita padamu, Yan?" tanya Ray pada Abyan.
"Tidak. Ia tidak pernah menyinggungnya." jawab Abyan.
"Apa dia terlalu sibuk pacaran jadi tidak tahu kabar klubnya. Ck, nama perusahaan akan jadi taruhannya kalau kabar burung itu benar," ujar Ray gusar, belum selesai dengan urusan kerajaan ditambah urusan Amore Club.
"Memangnya ada apa di klubnya Bona, Mas? Setahuku Ninda bertengkar dengan Bona sejak malam ulang tahunku. Ia kecewa Bona tidak peduli padanya. Akupun juga akan demikian jika orang yang aku cintai tidak hadir di hari bahagiaku."
"Berarti aku memang lelaki sejati, yang mampu membahagiakan wanitanya lahir bathin," ucap Ray narsis.
"Tentu saja, Suamiku ini lelaki terbaik setelah Ayah. Sampai-sampai Nia meracau ingin punya suami seperti Kakak Iparnya, anehnya dalam keadaan setengah sadar menjelang tidur, dia bilang, dia menginginkan Asisten Yan dalam versi muda dan akan dijerat dengan kutukannya. Hahahahaha ... dia sama sepertimu, Mas, mengoceh-ngoceh kutukan. Apa kalian hidup di jaman kerajaan?"
Glek.
Air muka Ray langsung berubah, wajahnya sedikit tegang mendengar apa yang baru saja istrinya katakan.
"Nia mengoceh kutukan? Waktu itu juga dia bilang dia bisa membahayakan lelaki jika terjadi kontak fisik yang intim. Apa dia tahu tentang rahasia ibunya? Darimana? Aku yakin Paman dan Bibi tidak akan menceritakannya pada anak berisik itu. Tapi, aarrgghh ... Kenapa Litha baru mengatakannya setelah dia pulang. Aku jadi tidak bisa menginterogasinya."
Ray memijat kening, adik iparnya ini suka membuatnya pusing.
__ADS_1
...***...
# Amore Club&Party #
"JANGAN BERGERAK!!!"
"Semuanya diam ditempat!"
Malam, sekitar pukul 23.00 waktu setempat, Satuan Reserse Narkoba dari kepolisian setempat menggeledah klub terbesar di Ibukota karena adanya laporan dari seseorang yang menyatakan bahwa tempat tersebut kini menjadi sarang beredarnya berbagai jenis narkoba, dan yang banyak diminati adalah shabu-shabu.
"Ada apa ini?!? Mana surat perintahnya?" seru pemilik klub dari belakang.
"Ini klub bersih dan taat pajak. Jangan macam-macam, klub ini dibawah naungan Pradipta Corp. nama besar Presdirnya sendiri yang menjadikannya jaminan bahwa tidak ada transaksi narkoba atau sejenisnya disini. Ini murni tempat hiburan malam," sambung Bona lantang, meski hatinya ketar-ketir.
"Maaf, Tuan. Siapapun pemiliknya tetapi sebagai warga negara yang baik, sebaiknya ikuti saja prosedur kami. Bahkan kalau tidak salah Presdir Pradipta Corp. dalam sambutan peresmian klub ini menyatakan siap jika suatu saat akan di geledah demi sebuah proses hukum," sahut seorang anggota polisi memberikan salinan surat izin penggeledahan. Bona membaca nama di dada kiri, ANDIKA.
"Atas dasar apa Anda mencurigai klub ini?"
"Kami mendapat laporan bahwa disini sering terjadi transaksi pembelian shabu-shabu. Kami sudah mengikuti target sejak beberapa hari yang lalu. Mohon kooperatif Anda, Tuan,"
"Laporan yang sangat tidak berdasar! Hanya dengan sebuah laporan kalian main geledah-geledah saja seenaknya. Tamu-tamu disini saya jamin bukan pemakai apalagi pengedar!" seru Bona berusaha agar klubnya tidak digeledah.
"Kami tidak sembarangan menggeledah suatu tempat. Anda bisa lihat sendiri kami membawa surat perintahnya. Jika Anda masih mendebat, maka kami anggap Anda menghalang-halangi tugas kami."
"Shitt!!" maki Bona dalam hatinya. Ia sangat kesal karena ia belum menemukan siapa pengedar yang dimaksud tapi sudah didahului oleh polisi.
"Baiklah kalau begitu, saya akan menghormati proses hukum. Tapi kalau tidak ditemukan sama sekali, maka saya harap pihak kepolisian memberi tahu identitas Si Pelapor. Saya akan menuntut balik sebagai pencemaran nama baik," tukas Bona kesal.
Polisi berbadan tegap dan tinggi itu menatap tajam Bona dengan pandangan tidak suka. Tiba-tiba ada suara gemuruh dari arah letak gudang di belakang.
Dorrr ...
Suara tembakan menggema di udara, "Semua harap diam. Jangan bergerak kemanapun," ujar Andika seraya berlari ke arah sumber suara tembakan di luar gedung Amore Club&Party yang diikuti beberapa personil polisi lainya dan Bona.
"Lapor Pak, kita mendapatkan Si Pengedar dan barang buktinya, tapi terpaksa kami tembak betisnya karena berusaha kabur." salah seorang anak buahnya melaporkan kejadian di TKP.
Bona bisa mendengar laporan itu, hatinya gelisah tidak karuan karena membayangkan murkanya Ray jika tahu tempat klub dibawah naungan perusahaannya menjadi sarang peredaran narkoba.
"Dia sendirian?" tanya Andika sambil berjalan cepat menuju Tempat Kejadian Perkara.
"Tidak Pak. Dia tertangkap basah saat melakukan transaksi dengan dua orang pemakai, salah satunya artis terkenal yang saat ini menjadi sorotan masyarakat karena ia membully dua orang wanita di toilet bioskop."
Bona terkesiap, ia tahu siapa wanita itu, trigger terbesar atas panic attack kekasihnya. Begitu sampai di tempat yang dituju, Bona kaget bukan kepalang. Selain Renata yang sudah ia duga sebelumnya, disampingnya ada Evan, dan yang satu betisnya terluka karena ditembak, itu adalah Lucas Riguna, adik laki-laki Ramona.
"Lapor Pak, barang bukti sudah kami amankan."
"Baik. Terimakasih."
Andika berbalik ingin melihat target yang mereka sudah bidik selama ini. Ada dua orang pria muda dan seorang wanita yang dimaksud anak buahnya tadi.
Tapi ...
Andika terdiam sambil saat melihat sosok kurus berwajah kuyu yang berlutut dan menundukkan kepalanya.
"Evan ...?!?"
Bukan hanya Si Pemiliki Nama yang terkejut, namun semua yang ada disitu juga sama terkejutnya, terutama Bona.
__ADS_1
- Bersambung -