
Abyan menggeleng-gelengkan kepalanya menatap pintu kamar utama, sudah jam 9, Ray dan Litha masih betah di dalam kamar.
"Sudah kubilang, carilah pasangan," celetuk Pak Sas menepuk pundak Abyan sambil berlalu.
Abyan mendengus sebal digoda pamannya, berbeda dengan Ray yang selalu melingkarkan tangannya ke perut Litha seakan tidak mau berpisah, sesekali ia mengusap-usap perut istrinya.
"Ishh, Mas, gerah ih... " Litha menggeliat melepaskan tangan suaminya tapi Ray malah makin mengeratkan pelukannya.
"Tidak mau," sahut Ray, suaranya parau, dagunya menempel di pundak Litha yang menatap ke arah jendela yang tirainya belum sempat dibuka. Sedari malam masih saja bergumul di bawah selimut.
"Mas, ini sudah siang banget, gak enak." Litha memejamkan matanya, menikmati sentuhan Ray di bagian dadanya, kata hatinya tidak sesuai mulutnya.
"Gak enak sama siapa, ehmmm ..." bibir Rayyendra menelusuri leher dan belakang telinga istrinya.
"Ngghh ... sama ... ngghh ... Mas ... Ssshhh ... "
Litha tidak bisa meneruskan kalimatnya karena Ray sudah menarik dagunya dan melu*mat tanpa jeda. Lenguhan Litha membuat junior Ray bangkit kembali dan menegang sempurna. Litha terengah-engah mengikuti tempo ciuman Ray, belum mengatur normal nafasnya Litha kembali mendesah dengan mata terpejam karena Ray menjelajahi leher tanpa melewatkan se-inchi pun menuruni ke bagian dada yang sudah ia tangkup dalam genggaman besar tangannya, meng*hisap dan mengulum pu*ting payu*dara Litha dengan lembut.
Tok ... Tok ... Tok ...
Litha membuka matanya dan refleks mendorong badan Ray sehasta dengan kedua tangannya.
"Shitt !!! Abyaaaan!" umpat Ray kesal dengan suara tertahan.
"Memangnya itu Asisten Yan, Mas?"
"Siapa lagi yang berani mengetuk pintu kamarku, bahkan kalau tidak ku kunci, dia bisa langsung masuk begitu saja."
Litha terkekeh mengelus perutnya melihat kekesalan suaminya. Ray bangkit dan mengenakan bajunya, sementara Litha menarik selimutnya sampai leher. Dicium kening istrinya sebelum membuka pintu.
Ray membuka pintu kamar sedikit hanya untuk menampakkan dirinya yang hanya mengenakan celana pendek tanpa baju atasan.
"Sudah siang, Ray. Ingat Litha punya riwayat nyaris keguguran, jangan kebanyakan," kata Abyan sengaja mengeraskan suaranya dari balik pintu agar di dengar Litha.
"Brengsek!"
"Asisten Yaaaaan, terima kasih sudah menyelamatkan aku!" teriak Litha.
Ray kontan saja membanting pintunya diiringi gelak tawa Litha dan Abyan.
"Cih, hanya dia Asisten yang berani sama Tuan Mudanya," sungut Ray mendekati Litha yang masih tertawa.
"Kau juga berani menertawakanku, hah! Baiklah, kau terima saja hukumanmu." Ray langsung menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Aaaaaaaaa ...... Mas! Aku lapar, mau sarapan!"
"Kau lapar?"
Ray menghentikan tangannya yang sudah merayap di pangkal paha Litha, ia merasa bersalah membuat istrinya kelaparan. Litha mengangguk menahan senyumnya.
"Maaf, Lith, aku membuatmu kelaparan. Mandi dulu baru kita sarapan, atau kau mau sarapan di kamar?"
"Aih ... tidak. Kalau sarapan di kamar bakal seharian aku tidak keluar kamar," tolak Litha.
"Ya sudah, ayo mandi ... " ajak Ray menyodorkan tangannya sebagai tumpuan Litha bangun dari tidurnya.
Litha menyambutnya, setelah ia berdiri tanpa diduga ia mendorong tubuh suaminya jatuh ke kasur dengan posisi terlentang. Mata Ray membulat kaget, ini kali pertama Litha menunjukkan keagresifannya di ranjang.
"Hanya aku, si 'pesakitan' yang mengambil hukumannya sendiri," ujar Litha dengan menggigit bibirnya dan menyampingkan rambutnya yang panjang hitamnya ke satu sisi lehernya. Ray menatap istrinya tanpa berkedip, ia tersihir dengan pesona Litha yang sudah berada di atas perutnya dan memainkan 'milik'nya tanpa malu-malu lagi.
"Oh, shitt ... Litha, you're so sexy, babe... "
..............
..............
..............
__ADS_1
"Apa ini masih termasuk waktu sarapan?" sindir Abyan ketika menemani Ray dan Litha di meja makan. Ia duduk di samping Ray yang berhadapan dengan Litha.
Abyan melihat Litha makan dengan begitu lahap, tapi begitu mendengar Abyan menyindir, entah untuk siapa sindiran itu, Litha mendelik tajam sambil mengunyah dengan mulut yang masih penuh.
"Eh, tentu saja ini termasuk sarapan."
Abyan langsung meralat ucapannya, ia ngeri melihat ekor mata Litha yang bagaikan ujung pedang di depan matanya. Ray terbahak melihat Abyan tak berkutik.
"Rasakan kau, Yan, ahahahahahahaha .... "
"Mas juga! Harusnya jangan sampai membuat istrimu kelaparan karena istrimu ini lagi hamil," sungut Litha pada suaminya.
Ray terkesiap, "Lah, tadi kan aku sudah berhenti pas kau bilang lapar, salah sendiri kau malah menantangku."
"Harusnya kau beri makan aku dulu, kan bisa perintahkan siapa saja untuk membawa sarapan ke kamar, anakmu kelaparan di perutku."
"Bukannya aku sudah menawarkan untuk--"
Kalimat Ray terhenti karena Abyan membisikkan sesuatu, "Jangan membantah istrimu jika sedang sentimen begini, habis kau nantinya. Iyakan saja perkataannya, wanita selalu benar."
"What...!?!"
Ray yang tidak pernah menerima penolakan dan bantahan meski itu hanya sebuah kata tidak yang tersamarkan, kini sepertinya ia harus mulai terbiasa mengalah, mengalah hanya untuk istrinya sendiri.
"Apa yang kalian bicarakan bisik-bisik? Apa kalian tidak diajarkan sopan santun bahwa berbisik di depan orang lain itu sangat tidak sopan?"
"Tidak Nyonya, saya hanya mengatakan pada Tuan--"
"Panggil saja namanya, Asisten Yan, kecuali di kantor dengan urusan pekerjaan baru panggil suamiku dengan Tuan. Kalian itu kan, sesungguhnya berkawan bukan majikan dan anak buah."
"Ba-- baik, Nyonya."
"Tapi kenapa dia memanggil namaku sedangkan kau Nyonya?" tanya Ray tidak terima, Abyan sudah mere*mas bahunya tanda agar Ray diam saja dan jangan membantah.
Benar saja, Litha dengan ketus menjawab, "Aku sudah memintanya, tapi Asisten Yan yang bersikeras memanggilku Nyonya, jadi aku tak bisa memaksanya."
"Kubilang diam saja, Ray ...." Abyan bicara tanpa membuka mulutnya karena pandangan mata Litha sudah menikam mereka berdua.
"Pak Sas kemana, Asisten Yan?" tanya Litha kemudian tiba-tiba mengganti topik.
"Menjemput paman dan bibi Nyonya lalu menjemput Vania, minta izin 2 hari pada gurunya untuk mengantar Nyonya besok kembali ke Ibukota."
"Benarkah?"
Litha meletakkan sendoknya di piring, matanya membulat senang mendengar Paman, Bibi dan adiknya akan menemani dirinya menjelang keberangkatannya. Abyan hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Terima kasih, Asisten Yan, sebenarnya aku mau mengatakannya kemarin tapi belum sempat, karena suamiku mengurungku terus di kamar dan menjauhkan aku dari ponsel sampai kami keluar untuk sarapan siang. Bahkan dia berniat membawa sarapan ke kamar, aku tidak mau, bisa-bisa sampai sore aku akan dikurungnya."
Uhukkk ...
Abyan tiba-tiba tersedak. Ia langsung menyambar segelas air di hadapannya, seketika wajah Ray memerah.
Kau gila, Ray .... (Abyan)
Litha, kau ini ... Rasanya aku ingin membungkam mulutmu yang cerewet itu dengan menciummu. Astaga ... kenapa kau terlihat sangat menggemaskan saat kau menggerutu? (Ray)
"Tadi malam Ray yang memerintahkan Pak Sas, Nyonya," sahut Abyan.
Ray tersenyum, ia bergumam dalam hati, "Untung kau mengatakannya, kalau tidak awas saja!"
Mata Litha membulat kembali dengan lebih bersinar, ia tidak menyangka suaminya memperhatikannya sampai tahu apa yang ia inginkan tanpa mengucapkannya terlebih dahulu.
"Aku tahu, kalau mereka sangat berarti bagimu, Sayang. Jadi tanpa kau ucapkan aku sudah mengerti. Tapi sebelum mereka datang dan menyita waktumu, kau masih dalam genggamanku."
"Aihhh, kau memang Alien, Mas. Tahu apa yang kupikirkan dalam hati. Baik, baik, aku memang akan selalu dalam genggamanmu, tapi aku mau ke Rumah Makan Gubuk Ikan hari ini, soalnya kemarin tutup."
"Terserah kau saja, Ratuku."
__ADS_1
Ratuku ... ishhh....
Pipi Litha merona malu mendengar suaminya memanggilnya dengan sebutan 'Ratuku'.
"Tapi pakai sepeda motor ya?"
"Hah?!?"
Ray mengerutkan keningnya, demikian juga Abyan.
"Mas gak bisa mengendarai sepeda motor?" Litha masih melanjutkan makannya.
Abyan menggeleng-gelengkan kepalanya samar melihat selera makan Litha yang semakin hari semakin meningkat tapi yang membesar hanya di bagian perutnya saja.
"Siapa bilang, semua kendaraan aku bisa mengendarainya, motor, mobil, truk, excavator bahkan pesawat."
"Pesawat?" tanya Litha tidak percaya suaminya bisa membawa pesawat terbang.
"Simulasi, simulasi pesawat maksudnya. Tapi nilai simulasiku sangat baik dan jika aku meneruskan serius ke pendidikan resminya, aku bisa saja menerbangkan pesawat sungguhan."
"Waaaahhhhh, ternyata suamiku hebat!!! Anakmu nanti pasti bangga mendengarnya."
Ray dan Abyan saling berpandangan, reaksi Litha di luar dugaan, tapi justru reaksi Litha ini menerbangkan hati suaminya ke awan tanpa harus menggunakan pesawat.
Abyan menghela nafas, mood dan emosi Nyonya Mudanya memang naik turun secara drastis, pengaruh hormon ibu hamil memang sangat dahsyat yang harus dipahami oleh setiap suami bahwa mereka sebenarnya tidak ingin seperti itu tapi tubuh dan hati mereka tidak bisa mengontrolnya.
"Tapi apa nanti tidak masalah karena Nyonya sedang hamil?"
"Ah, kenapa tidak terpikirkan olehku ... Shitt!" Ray menepuk dahinya dengan menutup matanya, kesal.
"Tidak ... Justru sebelum perutku makin membesar banget aku mau naik motor dengan suamiku, biar aku bisa memeluknya dari belakang. Motor bebek, Asisten Yan."
Abyan menghela nafasnya panjang, ia melirik Ray di sampingnya, eh, bukannya mengkhawatirkan keadaan istrinya malah senyum-senyum sendiri mendengar kata pelukan.
Ck,ck,ck, dua-duanya bucin .... Serasa dunia milik berdua.
............
............
............
Ray tidak pernah berhenti mengembangkan senyumnya selama di atas motor, Litha memeluknya dari belakang dengan erat. Tapi gerutunya selalu terdengar karena helm yang dikenakan membuatnya tak nyaman untuk bersandar di punggung suaminya.
"Mas, leherku pegel ih, nyender pake helm, ntar pulang gak pake helm ya ..." Litha masih menggerutu sebal melepaskan helm ketika Ray memakirkan motornya.
"Tidak mau pake helm, ku telepon Pak Sas menjemputmu."
Litha tidak bisa berkutik. Suaminya sangat mudah ia bujuk untuk menuruti semua keinginannya, tapi jika ia sudah memutuskan sesuatu yang dianggap final, apapun itu tidak bisa mengubahnya kecuali ada alasan yang masuk di logikanya. Dan Litha bisa mengetahuinya dari nada Ray ketika mengatakannya.
Muka Litha merenggut kesal, meski begitu, dimata Ray Litha terlihat sangat menggemaskan. Diusap pucuk kepalanya dengan lembut, "Kau tidak mau kan, anak kita jadi pembangkang?"
Litha tidak menjawab, hanya bibirnya saja yang mengerucut. Ray tergelak melihatnya.
Sekilas Ray dan Litha nampak seperti orang kebanyakan, baju kaos tanpa kerah dan celana yang Litha kemarin belikan di pasar dengan penawaran sengit tapi ujung-ujungnya malah dibayar tiga kali lipat dari harga awal, ditambah sandal jepit dengan merek sejuta umat. Pun demikian Ray tetap punya aura berbeda, aura Tuan Muda.
Sedangkan Litha, mengenakan tunik batik khusus ibu hamil dan celana 3/4 warna gelap, sandal dan tas etnik yang kesemuanya dibeli di pasar kemarin. Ya, kemarin mereka menghabiskan waktu berkeliling pasar, tempat dimana Ray tidak pernah menyentuhnya dalam hidupnya selama ini. Panas, berdesakan, bising, sempit dan hal-hal yang sangat tidak disukainya. Tapi anehnya, ia malah merasa menemukan keseruan disana, walaupun ia harus selalu mengingatkan Litha untuk belanja pada pedagang yang berjenis kelamin perempuan. Ia tidak rela istrinya berinteraksi dengan laki-laki lain selain dirinya. Litha juga tidak mempermasalahkannya, ia turuti saja titah suaminya karena ia anggap itu sebagai bentuk rasa cinta dan perlindungan yang diberikan buatnya.
Ray merapikan anak rambut yang ditiup semilir angin dengan lembut, "So beautiful ... "
Meski pendek, Litha bisa merasakan ucapan yang tulus dari hati suaminya, ia langsung menautkan lengannya melingkupi perut suaminya.
"Lith, jangan disini, ini parkiran motor."
Ray kelabakan melihat ke kanan kiri, ada beberapa orang yang menatap mereka dengan tatapan risih, tapi Litha tidak peduli justru ia mendongakkan kepalanya tersenyum memandang wajah tampan milik suaminya.
Tanpa sadar Ray mengikuti nalurinya untuk mengecup singkat bibir istrinya dan segera ia susul dengan mencium kening istrinya, lalu diuraikan pelukan tangan Litha dari perutnya. Litha terlihat bahagia, banyak bintang di matanya, sudut bibirnya selalu terangkat ke atas. Ia berjalan menggandeng lengan suaminya menuju rumah makan yang memiliki kenangan mendalam antara ia dan ayahnya.
__ADS_1
- Bersambung -