Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kerajaan Sungai Bulan (Part 1)


__ADS_3

Wajah Bibi Rima pucat seputih kapas. Hatinya ingin mengungkap tabir tapi ia terbelenggu janji setia kepada Asmarini. Bagi seorang Shinayang, melanggar janji setia atau sumpah akan mengundang takdir buruk hingga akhir kehidupannya. Tapi demi keponakan-keponakan yang sangat ia cintai setulus hati, ia rela mengorbankan nyawanya untuk mereka.


"Ayo, Bi. Kita ke ruang kerja." Ray paham, ada yang ingin Bibi Rima sampaikan tapi entah apa yang membuat mulutnya berat mengatakannya.


.


.


.


"Apa yang ingin Bibi sampaikan?" Ray langsung menanyakan setelah mereka saling berhadapan duduk di sofa, "Disini aman, ruangan ini adalah ruangan teraman setelah ruangan kamar utama yang aku dan Litha tempati."


"Nak Rayyendra, jawablah dulu pertanyaan Bibi sebelum Bibi menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan asal usul keluarga istrimu."


Ray mengangguk, Bibi Rima menghela nafasnya dengan berat, "Sebesar apa cinta Nak Rayyendra pada Litha?"


"Sangat besar, saking besarnya sampai memenuhi mata, kemana mata memandang, cintaku ke Litha akan selalu di temukan."


Bibi Rima terkekeh, "Termasuk jika Litha mengancam Pradipta Corp.?"


Ray terperanjat, apa maksud Bibi ini? Alisnya mengkerut.


"Jawablah dulu."


Giliran Ray menghela nafasnya dengan berat, Pradipta Corp. adalah kehidupannya dan Litha juga kehidupannya. Bagaimana bisa ia memilih salah satu diantara mereka, bukankah sekarang mereka berdua dalam genggamannya dengan baik. Tapi kenapa Bibi Rima bertanya hal yang sulit ia jawab, apa seserius ini untuk mengungkap jati diri Litha yang sebenarnya.


"Bibi, keduanya sangat berharga bagiku. Aku akan dalam kesulitan jika memilih satu diantaranya, tetapi jika terpaksa aku harus melepas salah satu, maka tangan Litha tetap aku genggam sampai nafas terakhirku.


Wanita paruh baya itu terisak, bukan sedih tapi sangat bahagia. Litha menemukan belahan jiwa sejatinya, "Bolehkah aku memelukmu, Nak."


Ray tersenyum, ia berdiri dan merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan bibi istrinya.


"Terimakasih, terimakasih. Bibi dan Paman sudah tua, sudah tidak kuat menjaga keponakan-keponakan kami, setidaknya Litha telah berada di tangan yang tepat," ujar Bibi Rima menepuk bahu Ray di dalam pelukannya


"Bibi tidak perlu khawatir mengenai Kak Tisha dan Vania. Aku akan menjaga mereka sama seperti Litha, sampai aku yakin mereka berada di tangan yang tepat, seperti yang Bibi lakukan sekarang."


Bibi Rima makin terisak dan makin erat memeluk Ray.

__ADS_1


"Ma-- maaf, bajumu basah karena airmata Bibi. Airmata bahagia."


"Sekarang katakan apa yang ingin Bibi sampaikan padaku."


Bibi Rima tidak lagi berada berhadapan dengan Ray, sekarang ia duduk di sampingnya.


"Nama ibu Litha yang sebenarnya bukanlah Asmarini."


"Tuanku Putri, maafkan aku, maafkan aku ... Aku melanggar sumpahku. Aku memohon takdir baik selalu menyertaiku hingga akhir usia. Aku mohon, Ragnaya ... Tuanku Putri, maafkan aku, semua demi anak-anakmu ... "


Bibi Rima menguatkan hatinya, meneguhkan pilihannya untuk menceritakan semuanya pada Ray.


"Maksud Bibi?" tanya Ray bingung.


"Apa Nak Rayyendra pernah mendengar Kerajaan Ragnaya, atau lebih dikenal dengan sebutan Kerajaan Sungai Bulan di daerah BX?"


"Engg ... Ya, aku pernah membaca sejarah berdirinya PT. Pradipta Jaya Coal. Disana ada lembar persetujuan dari pihak kerajaan yang Bibi sebutkan tadi selain pihak pemerintah daerahnya. Mendiang Nenek yang membangunnya mengatakan bahwa banyak persyaratan yang diajukan pihak kerajaan dibandingkan dengan pihak pemerintah sebelum mendapat izin menambang."


"Meskipun BX memiliki pemerintahan daerah namun aturan daerahnya menyesuaikan dengan aturan Kerajaan Sungai Bulan dan Tuanku Raja memiliki kuasa dan kewenangan yang lebih tinggi dari Gubernur."


"Hah! Ternyata cerita kerajaan seperti itu masih ada sampai jaman sekarang ya, Bi?"


Ray agak bingung, mengapa Bibinya yang sebelumnya ia kenal sebagai wanita paruh baya yang lugu, emosian dan galak, kini terlihat sangat jauh berbeda. Cara Bibi Rima berbicara dan menjelaskan runut, rinci dan elegan, mirip istrinya.


"Kerajaan Sungai Bulan adalah kerajaan terbesar di pulau EX, tidak hanya melingkupi daerah BX tapi juga AX dan CX. Namun pusatnya ada di salah satu kota di daerah BX."


"Maaf, Bi. Kenapa Bibi sepertinya mengenal sekali tentang kerajaan ini? Dan apa hubungannya dengan Litha?"


"Nama ibu kandung Tisha, Litha dan Nia bukanlah Asmarini seperti yang dikenal selama ini. Dia adalah seorang Putri Mahkota dari Kerajaan Sungai Bulan yang identitasnya dimatikan."


"Hahhh!"


Ray terloncat dari duduknya mundur ke belakang mendengar fakta ibu mertuanya yang selama ini dicari-cari.


"Tuanku Agung Putri Mahkota Dewi Anjani Dirayya adalah nama dan gelar kerjaan yang dimiliki oleh ibu mertuamu."


Ray sulit menelan salivanya, terlintas dalam bayangannya saja pun tidak pernah. This is a big surprise ...

__ADS_1


"Bibi adalah Shinayang Tuanku Putri, ibu mertuamu. Shinayang adalah seorang abdi khusus keluarga kerajaan yang hanya diperuntukkan untuk Raja, Ratu dan anak-anak Raja dan Ratu. Seperti Nak Rayyendra memiliki Asisten Yan, kurang lebih seperti itu. Bedanya Shinayang bertugas menjaga, mendampingi dan memenuhi kebutuhan Tuanku hingga akhir hayatnya. Pemilihan Shinayang ini melalui kriteria, proses dan ritual tertentu. Saat dipilih disitulah hidup Shinayang terikat janji setia atau sumpah untuk melayani apapun perkataan Tuanku, baik atau buruk. Jika kami melanggar maka takdir buruk akan mengintai kami hingga akhir kehidupan. Bibi menjadi Shinayang Tuanku Putri saat Bibi berumur 10 tahun dan Tuanku Putri 8 tahun. Shinayang memang dipilih yang berumur sama atau sedikit lebih tua dari Tuanku."


"Jadi Bibi mengenal Ibunya Litha sejak umur 8 tahun?"


"Secara resmi iya, tetapi Bibi sudah mengenalnya sejak masih balita di dalam keluarga kerajaan, karena salah satu kriteria untuk menjadi Shinayang adalah anggota keluarga para penasehat kerajaan. Paman Bibi adalah penasehat Tuanku Raja yang menangani keuangan Kerajaan Sungai Bulan."


Ray masih mencerna semua cerita Bibi Rima, seperti drama kolosal yang ia tonton bersama istrinya tapi kali ini fakta yang langsung bersinggungan dengannya.


"Karena tugas Shinayang adalah mengabdi seumur hidup pada Tuanku, maka ia tidak diperkenankan menikah dan memiliki keluarga. Sebagai jaminan, Shinayang dikebiri sehari setelah mengucapakan sumpahnya."


"Eh, apa!! Itu melanggar HAM, Bi. Bisa dilaporkan itu."


Bibi Litha terkekeh, "Sistem kerajaan kami tertutup dan eksekusi kami underground. Jadi kami akan menyelesaikan masalah sebelum masalah itu mencuat keluar. Kejam memang, tapi itu diperlukan untuk mempertahankan tradisi. Anehnya semua rakyatnya tidak keberatan dengan aturan yang sudah ada sejak sebelum jaman penjajahan negara barat. Dan Shinayang adalah posisi prestisius karena menjadi orang terdekat Tuanku dan keluarganya akan menjadi keluarga yang dipandang dalam strata tinggi."


"Kenapa nama ibu mertuaku diganti?"


Bibi Rima diam sejenak, mengambil memori 30 tahun silam.


"Ibu mertuamu terlahir dari rahim Tuanku Ibunda Ratu. Sebagai anak pertama sekaligus satu-satunya, ia digelari Tuanku Agung Putri Mahkota, yang akan diangkat menjadi Baginda Ratu jika Raja wafat. Meski Raja memiliki anak lelaki dari istrinya yang lain, tetapi yang diakui dalam aturan Kerajaan Sungai Bulan adalah anak yang terlahir dari rahim Tuanku Ratu tanpa memandang gender. Disebutkan jika seorang Ratu tidak bisa memberikan anak dalam waktu 5 tahun untuk menjadi putri atau putra mahkota, maka gelar Ratu akan dicopot dan diberikan kepada istri lain Raja yang memiliki anak. Ratu yang dicopot ini tidak tinggal boleh tinggal di istana karena dianggap aib, ia akan berbaur dengan masyarakat biasa dengan tetap mendapat tunjangan dari kerajaan.


Tradisi umum kerajaan yang selalu berhubungan dengan politik biasanya dibungkus dengan pernikahan anggota keluarga kerajaan. Tuanku Putri Anjani, ibu Litha, dijodohkan dengan seorang Pangeran dari daerah CX, meski Tuanku Putri menolak, ia tetap diharuskan untuk menikah dengan Pangeran itu selepas kuliah di Kota Z.


Saat kuliah di Kota Z, Tuanku Putri bertemu dan jatuh cinta dengan kakak tingkat yang akhirnya menjadi ayah mertuamu. Perjuangan cinta mereka sangat berat, Lari meninggalkan kuliah mereka, padahal Aryasena tinggal menunggu jadwal maju untuk ujian skripsi. Berpindah dari satu kota ke kota lain menghilangkan jejak. Di kota A Tuanku Putri dan Aryasena menikah di bawah tangan. Suatu sore saat menunggu Aryasena di taman kota pulang dari bekerja kami tertangkap pasukan kerajaan dan dibawa ke hadapan Raja Pursawarman ke-14, kakek Litha.


Bibi dan Tuanku Putri mendapat hadiah cambukan langsung dari Raja, namun semua itu tidak melunturkan cinta Tuanku Putri, bahkan dengan lantang ia menyatakan telah menikah dengan seorang laki-laki anak petani. Akibat pernyataannya, Bibi dan ibu mertuamu diusir, sekaligus Ibunda Ratu dicopot gelarnya dan digantikan dengan Tuanku Putri Malina, istri kedua Tuanku Raja. Begitu juga dengan Tuanku Putri tidak lagi menjadi Putri Mahkota dan digantikan dengan Pangeran Drana sebagai Putra Mahkota.


Ketika kami ingin meninggalkan pulau EX, Shinayang ibu Tuanku Putri memberitahu kami, agar kami berhati-hati dan bersembunyi karena Pangeran Drana tidak akan pernah bisa tenang jika Tuanku Putri masih hidup. Ia tetap merasa terancam karena jika sewaktu-waktu Raja memaafkan kesalahan Tuanku Putri, maka gelar Putri Mahkota akan dikembalikan dan Ibunda Ratu juga kembali ke istana.


Benar saja, kami dikejar dan diburu. Bahkan kami pernah bersembunyi di dalam gorong-gorong jalanan sepanjang malam sebelum berhasil keluar dari pulau EX. Setelah kami sampai di Ibukota, Tuanku Putri meminta salah satu temannya untuk memalsukan kematian dan mengganti identitas kependudukan kami dengan imbalan semua tabungan pribadi Tuanku Putri yang setara dengan harga satu unit rumah mewah di Ibukota.


Dengan sisa uang receh yang kami miliki, kami ke Kota A, untuk menemui Aryasena dengan identitas baru. Tuanku Putri bernama Asmarini dan Bibi sendiri bernama Rima Wastini. Syukurlah, di saat kami menghilang tanpa kabar, Aryasena masih setia menanti Tuanku Putri untuk kembali di sisinya. Lalu kehidupan baru dimulai dengan menikahnya Aryasena dan Asmarini, dan Bibi akhirnya juga bertemu jodoh dengan adik Aryasena sendiri.


Bagi Kerajaan Sungai Bulan, Tuanku Putri dan Shinayangnya telah meninggal, namun Raja menganggap kami masih ada di dunia karena tidak ditemukannya jasad kami. Pangeran Drana kehilangan jejak dan tidak pernah memburu kami lagi. Tapi ... beberapa bulan belakangan ini, kami merasa ada yang mengintai. Untungnya anak-anak Tuanku Putri tidak bersama kami.


Kami tidak bisa menceritakan kepada siapapun karena titah Tuanku Putri untuk tidak pernah mengungkit apapun tentang Kerajaan Sungai Bulan. Semakin sedikit yang tahu, semakin aman Tisha, Litha dan Vania dari perburuan Pangeran Drana."


Ray melongo tidak percaya sama sekali, kisah yang baru saja diceritakan Bibi Rima seperti kisah yang ada di film-film.

__ADS_1


Sungai Bulan? Putri Mahkota? Shinayang?


- Bersambung -


__ADS_2