
Litha bingung dengan kemarahan wanita di depannya yang langsung menudingnya.
"Kau ... pencuri gaunku!!!"
"Maaf Nona, saya tidak mengerti maksud Nona." Litha bingung, pencuri gaun apa? gaun yang dia pakai? jelas-jelas Nyonya Besar yang memberikan padanya.
"Bukan saja pencuri gaunku tapi juga dansaku dengan Rayyendra! Apa selanjutnya kau mau merebutnya lagi hahh!!!"
"Nona, kalau kau ingin marah pada orang, orang yang kau marahi itu harus kau jelaskan dulu dimana letak kesalahannya Kalau tidak kau akan dianggap seperti nenek sihir, marah tanpa alasan jelas," sahut Litha cuek lalu melewati Mona yang berdiri dan masuk ke dalam bilik toilet, menuntaskan hajatnya yang dari tadi ia tahan.
"A-- A-- Apa yang dia katakan barusan. Hahhh brengsek!!! Aku tidak percaya dia berani padaku. Baiklah tunggu pembalasanku rubah licik! Kau akan menyesal berurusan dengan siapa!"
Mona keluar dari toilet dengan puncak kemarahan, otaknya berputar bagaimana agar ia bisa membalas gadis itu. Dia ambil segelas wine, diminumnya sekali tegak, melihat warnanya yang merah pekat muncullah ide, diambilnya lagi segelas penuh wine dan ia kembali ke arah toilet. Ketika Litha baru saja beberapa langkah dari pintu toilet, Ramona menyiram wine tepat di gaun peach Litha.
Byarrrrrr...
Litha tercengang melihat noda wine membayangi hampir setengah dari gaun Litha, karena Mona tepat menyiramnya di bagian tengah.
"Siapa suruh kau berulah. Gaun itu awalnya milikku jadi aku berhak melakukan apapun pada gaun itu."
"Hei Nona! sudah kubilang kalau kau marah beritahu siapa yang kau marahi dengan jelas dimana salahnya. Sekarang kau malah menyiram gaunku dengan wine." seru Litha masih mengontrol emosinya.
"Apa?!?! Masih bertanya salahmu dimana? Di gaun ini. Ini gaunku yang sudah kupersiapkan untuk acara ini tapi sekarang melekat di tubuhmu" Mona menarik kasar rok gaun Litha yang terkena noda
"Haaaa?!? Ini gaun yang diberikan Nyonya Besar untukku, bagaimana mungkin kau mengklaim sebagai milikmu?"
"Tapi aku sudah memilihnya duluan."
"Mana kutahu gaun itu sudah kau pilih atau tidak, lagipula gaun itu masih terpajang di etalase dan tidak diberi label khusus kalau sudah ada pemiliknya," suara Litha mulai meninggi, ia merasa sama sekali tidak salah, dia menarik rok gaunnya yang berada dalam genggaman Mona.
"Kau..... berani denganku ya?!? Kau tidak tahu siapa aku hah?!?" bentak Mona kasar.
"Tahu, aku tahu, Nona adalah kekasih Tuan Rayyendra. Lantas, apa itu penting?" suara Litha kembali normal, ia sadari barusan ia sedikit terpancing.
"Hahhhhh dasar ******!!!! Kau mau tahu seberapa pentingnya kan?"
Mona sudah mengambil ancang-ancang menjambak rambut Litha. Amarahnya yang ditahannya dari tadi kini ia tumpahkan.
"Kau memang sama sekali tidak penting!" Suara tegas menghentikan gerakan Mona yang hampir saja menyentuh rambut Litha.
Nyonya Besar menghampiri mereka diikuti Rayyendra, Abyan dan Bona. Rupanya adu mulut dari Litha dan Ramona menarik perhatian orang-orang yang ada di ballrom, semua mata memandang mereka, bertanya-tanya ada apa.
"Nyo-- nya--" Mona terbata.
"Sayang ...."
Sorot matanya memohon melihat Ray, tapi Ray sungkan untuk mendahului neneknya.
"Ada apa ini? Litha kenapa kau sangat berantakan?"
Nyonya Besar terkejut melihat gaun Litha terkena banyak noda wine. Mona yang mendengarnya refleks menyembunyikan barang bukti gelas ke belakang badannya.
Pak Sas membisikkan sesuatu ke Nyonya Besar kemudian matanya menuntun ke tangan yang disembunyikan Mona.
"Maaf Nek, sudah membuat keributan." Litha menyadari situasi yang kini berpusat pada mereka dan noda ddi gaunnya.
"Mona, ada apa?" tanya Ray pada kekasihnya itu.
__ADS_1
"Di-- dia .... " Mona ingin melimpahkan semua kesalahan ke Litha tapi ia tidak bisa berkata apapun.
"Kenapa gaunmu terkena noda, Litha?"
Kali ini suara Nyonya Besar meninggi, semua tegang, kesenangan yang baru saja Nyonya Besar dapatkan sebelumnya kini terusik.
Litha bingung tidak tahu berkata apa, ia ingin mengatakan bahwa Mona yang melakukannya tapi ia tidak ingin menimbulkan kekisruhan lagi.
"Ramona, tunjukkan tanganmu!"
Mona mengeluarkan tangannya dari persembunyiannya, masih memegang gelas kosong.
"Kau yang melakukannya?"
Tuduhan menuntut penjelasan yang tidak bisa dibantah. Mona tergugu, keringatnya sudah menjalar di pelipisnya, bingung, takut dan malu jadi satu, namun tidak ada satupun jawaban yang keluar dari mulutnya.
"Kalau kau tidak bisa membela diri berarti kaulah yang menyebabkan kekacauan ini."
"Nyo-- nya--"
"Ray, kau antar Litha pulang, pastikan dia sampai di rumahnya dalam keadaan baik." titah Nyonya Besar.
"Apa...!!?!" Ray dan Mona serempak mengucapkannya.
"Nek, Nenek tidak bisa menyuruhku mengantarnya. Pak Sas bisa mengantarnya pulang, atau kalau memang Pak Sas tidak bisa, biar Asisten Yan yang mengantarnya."
"Eh, kenapa namaku disebut-sebut? itu urusan anda Tuan, jangan melibatkanku." Abyan memprotesnya dalam hati.
"Sas tidak bisa mengantar Litha, karena Nenek mau pulang, situasinya sudah tidak menyenangkan seperti sebelumnya."
"Asisten Yan yang akan mengantarnya." Cepat-cepat Ray bernegoisasi dengan neneknya.
Nyonya Besar sungguh tidak bisa dibantah perkataannya.
"Litha, pulanglah, tidak usah kau pikirkan kejadian ini. Ray sendiri yang akan mengantarmu, jika dia melakukan sesuatu terhadapmu, katakan padaku besok di rumah." ujarnya lagi dengan memegang kedua bahu Litha sebelum dia beranjak pulang.
"Ayo Sas, aku sudah lelah hari ini."
"Baik, Nyonya."
Sepeninggal Nyonya Besar, Mona menggigit bibir dalamnya kuat-kuat hingga terasa amis di mulutnya. diremasnya gelas wine yang masih ada di tangan, untunglah tidak pecah. Ditahannya air mata yang mau keluar, ia sudah tidak ada muka lagi untuk tampil di depan Nyonya Besar.
"Mona, tunggulah, aku akan mengantarmu pulang setelahnya." Ray menenangkan kekasihnya, mengusap bahunya pelan.
Mona tak bisa menahan pertahanan di pelupuk matanya, ia berjalan cepat meninggalkan tempat kejadian. Disaat air matanya turun dengan deras, tangannya ditarik kasar.
"Mona, ada apa?" tanya ayahnya tidak suka.
"Huhuhuhuhu...... Ayah, aku menyiram gadis itu dengan segelas wine, karena aku kesal dia mencuri gaunku dan dansaku dengan Ray huhuhuhuhuhuhu..... sekarang malah nenek tua itu menyuruh Ray mengantarnya pulang sebagai bentuk tanggungjawab karena ulahku huhuhuhuhuhu......"
Mona mengadu di ayahnya layaknya anak kecil yang habis kalah berkelahi. Namun bukan pelukan hangat yang diterima Mona melainkan bentakan.
"Dungu !!! pantas saja Nyonya Besar merendahkanmu!" maki Sebastian, kemudian ia berlalu meninggal Mona sendirian sambil mengambil ponselnya yang ada di saku jasnya.
Huhuhuhuhuhuhuhuhuhu.......
Ramona makin terisak, saat ia terluka tidak ada yang peduli padanya, bahkan ayahnya yang menjadi tumpuan harapan pun mencela dan meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
Litha kini sudah berada di dalam mobil, duduk di kursi sebelah kemudi, di samping Tuan Muda. Mobil mewah keluaran terbaru dan edisi terbatas memang terasa berbeda, dari empuknya kursi sudah terlihat.
"Kampungan." desis Rayyendra melirik Litha yang sedang mengagumi kursi mobilnya.
"Ya, memang saya dari kampung Tuan."
"Cih."
Mobil melaju membelah malam, kerlap-kerlip lampu jalanan bagaikan mengucapkan selamat jalan. Litha terbius aroma maskulin Rayyendra, aroma yang sama ia cium sewaktu dansa dengan Tuan Muda dan menarik pinggangnya. Entah kenapa aroma ini sedikit menenangkan, membawanya hampir terlelap.
"Hei!!! Enak saja kau tidur. Kau pikir aku supirmu hah!" Ray menggoncang-goncangkan bahu Litha dengan satu tangannya.
"Eh ... eh ... maaf Tuan, saya hampir ketiduran ini. Mobilnya nyaman sekali Tuan hehehehehe ...." Litha salah tingkah.
"Kau tidak boleh tidur. Aku tidak suka dengan orang yang tidur kalau aku sedang mengendarai mobil."
"Iya Tuan."
"Kan juga tidak pernah Tuan membawa mobil sendiri, ini saja dipaksa nenek." bathin Litha.
Untuk sesaat tercipta suasana canggung. Ray hanya diam menatap lurus jalan raya ibukota.
"Emmmm....." suara Ray dan Litha bersamaan. Keduanya kaget dan diam kembali.
Suasana canggung tercipta lagi.
"Setelah perempatan lampu hijau belok kanan Tuan" sahut Litha.
Ray tidak bersuara, hanya diam saja. Tidak lama mobil berhenti di perempatan, lampu lalu lintas tengah merah.
"Kau belum menjawab pertanyaanku?" tanya Ray membuka percakapan.
"Pertanyaan yang mana?"
"Apa kau menerima tawaran Nenek untuk memakai nama Pradipta?"
"Tidak." jawab Litha singkat dan jelas.
Mendengar jawaban Litha, Ray refleks menoleh ke arah Litha, dilihatnya gadis itu dia menatap lurus ke jalan raya. Wajahnya tanpa ekspresi, sangat tenang untuk menjawab pertanyaannya.
Tiiin!!! Tiiiinn!!!!!!
Suara klakson dari mobil di belakang memaksa Ray menghentikan tatapannya ke Litha.
"Tatapan seperti apa itu? dan kenapa dia menolak tawaran nenek?" ucap Ray penasaran dalam hati setelah membelokkan mobilnya ke arah rumah kost Litha.
- Bersambung -
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hai......
Apa readers penasaran juga?
Tetap lanjut di chapter berikutnya ya...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya, like dan komentar sangat ditunggu untuk booster semangat.
Salam sehat semua.....