
Matahari mencari jalan masuk di balik tirai yang menutupi jendela untuk membangunkan dua anak manusia yang sembunyi di bawah selimut.
"Nnngghhhhhhh ..... "
Litha menggeliatkan badannya yang tanpa busana dan menelusupkan kepala ke dada bidang hingga ke bagian ketiak suaminya. Tangannya semakin mengerat ketika Ray menggerakkan tubuhnya.
Rayyendra membuka matanya, dilihat wajah istrinya lekat-lekat, tidak ada rasa bosan selama apapun ia menatapnya. Disingkirkan sebagian anak rambut yang menutupi kening Litha, ia ingin melihat dengan jelas garis dan lekuk wajah belahan jiwanya.
Ray ingat bagaimana sulitnya tadi malam ia membujuk istrinya untuk meluruskan siapa Voldemort. Intinya ia tidak ingin melukai hati Litha sedikitpun dan ia harus pandai-pandai menghadapi emosi Litha yang tidak stabil karena hamil.
Aku memang tidak ingin mendengar ataupun melihatnya lagi. Tapi kalaupun terpaksa, tidak terlalu masalah bagiku selama Mas dan yang lainnya tidak menutupinya meski dengan dalih tidak ingin menyakitiku, karena jika seperti itu justru lebih menyakiti hatiku.
Sangat jelas terekam dalam ingatannya ucapan Litha padanya sebelum ia menikmati dessert miliknya.
"Apa Mas harus kerja hari ini?" Litha bertanya dengan suara parau, menghirup aroma tubuh suaminya.
Ray terkekeh melihat istrinya yang senang sekali mencium badannya di pagi hari.
"Kau senang sekali mencium badanku saat bangun tidur, apa karena ini bawaan bayi, hem ... " Ray menyampingkan badannya dan memeluk erat Litha.
Litha menggeleng dalam dekapannya, "Tidak tahu, yang jelas aroma ini menyenangkan sekali, hhhmmmmm ... "
"Tapi aku harus ke kantor, Yan sudah mengagendakan banyak pertemuan hari ini. Selama aku di Kota A pertemuan yang tidak bisa diwakili tertunda semua."
"Hhhhmmmmmm ... " Litha menghirup aroma tubuh suaminya lagi dalam-dalam.
"Ya sudah kalau begitu. Bekerjalah dengan keras agar bisa menghidupi kami," sambung Litha lagi.
Ray tergelak, ia semakin mengeratkan pelukannya hingga Litha mengaduh karena perutnya terhimpit.
"Ma-- maaf, Sayang. Habisnya kau menggemaskan sekali, menyuruhku bekerja keras untuk menghidupimu. Aku tidak bekerja pun, kau dan anak kita tidak akan kekurangan. Kau lihat sendiri di almari kaca di dekat sofa, banyak penghargaan yang aku terima selama aku bekerja. Itu artinya aku memang pekerja keras tanpa kau minta, apalagi sekarang kau memintanya, double booster buatku."
Ray menciumi wajah Litha bertubi-tubi dengan gemas.
"Mas, bauuuuuuu ... " teriak Litha menjauhkan wajahnya dari mulut suaminya.
"Hahahaha ... biarin!!!" Ray tidak mudah melepas begitu saja sebelum wajah, leher dan dada puas di jelajahinya dan menandainya dengan gigitan lembut yang membekas.
...------------...
Pria bertinggi 186 cm itu tengah mengenakan setelan kantornya yang sudah disiapkan istrinya. Hidupnya sangat sempurna kini, pekerjaannya pun semakin terfokus.
"Lithaaaa.... "
Suara Rayyendra tertahan di tenggorokan melihat istrinya sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Mas, kau sudah bersiap? Aku hanya membuatkan pancake banana oatmeal dengan segelas susu, tidak apa-apa kan?" sahut Litha meletakkan sarapan di meja tanpa melihat suaminya.
Ray mengendorkan darinya yang sudah rapi, dilepasnya jas yang sudah dikenakannya sebab melihat Litha mengenakan lingerie tipis berwarna hitam tanpa underwear membuatnya gerah.
"Kau menggodaku?"
Tangan Ray sudah meraih pinggang Litha, memeluk dan langsung mema*gut bibir polos tanpa lipstik itu dengan ganas. Litha awalnya memberontak tapi ia tidak bisa menolak hasrat tubuhnya begitu mencium aroma parfum di tubuh suaminya. Begitu memabukkan, sama dengan pagu*tan Ray yang semakin menghanyutkan. Litha bisa merasakan junior milik suaminya menggeliat mendesak sempitnya ruangan di dalam celana bahan yang ia kenakan.
"Hahahaha.... apa aku terlihat menggodamu?"
"Kau pikir apa menyiapkan sarapan dengan lingerie kalau tidak ingin menggodaku, hah?"
Litha terkekeh, "Tidak mungkin kan aku menyiapkan sarapan di rumah pake lingerie, hanya di apartemenmu saja aku bisa melakukannya."
"Kau nakal sekali."
Ray kembali melu*mat bibir Litha lebih dalam, tidak peduli istrinya belum menggosok giginya, ia hanya mencium semburat wangi buah strawberry yang dimakan istrinya disela-sela saat membuat pancake. Ia menyesap lebih dalam lagi, memainkan lidahnya lebih liar di dalam rongga mulut Litha yang juga tidak kalah beringas, melahap bibir Ray. Disusuri leher kokoh itu dengan berjinjit sedikit, menghisap kuat di kulit tipis bagian leher dengan tujuan memberi tanda kepemilikannya.
Pekikan diiringi desa*han dari mulut Ray karena keliaran Litha di pagi hari. Tangannya sudah mere*mas bulatnya buah dada yang menggantung indah.
"Aku sengaja memberikan tanda di tempat yang terlihat, agar semua orang di kantormu tahu kalau kau sekarang ada pemiliknya," ujar Litha tersenyum.
"Terserah apa yang kau mau lakukan padaku. Kau mau memberi tanda dimanapun aku tidak peduli, karena aku juga sudah menandaimu di mana-mana," sahut Ray terkekeh.
"Mas, tidak apa kan kalau perutku besar? Apa aku masih menarik di matamu?" tanya Litha dengan matanya yang sayu.
"Entahlah, bagiku kau justru kelihatan semakin menggairahkan dengan perutmu yang buncit. Aku mencintai dengan segala keadaan fisikmu. Mataku sudah tertutup untuk melihat wanita lain. Jika dulu di mataku hanya tertuju pada berkas di meja kerja, sekarang bertambah satu, tertuju pada tubuhmu di ranjang yang menantiku."
Pipi Litha kembali merona merah. Ia merasa sanjungan suaminya ini adalah pujian tertinggi untuknya selama ia mengenal Rayyendra. Bunga-bunga dihatinya bermekaran tiada henti menandakan betapa bahagia hatinya.
"Cium aku," pinta Litha manja mengalungkan kedua tangannya di leher Ray.
"Aku sudah bersiap kerja, Lith. Jangan membangkitkan tongkat saktiku."
__ADS_1
"Tongkat saktimu sudah ingin keluar dari celanamu dari tadi, Mas. Beri aku ciuman penuh cinta sebelum Asisten Yan datang. Orang itu rese kalau melihat kita berduaan."
Ray tergelak, "Sebaiknya kita carikan dia jodoh biar tidak iri melihat kita, hahahahaha .... "
Litha mendongakkan kepalanya meminta ciuman, Ray menyesap bibirnya perlahan, tidak seganas sebelumnya, Ray melakukannya dengan lembut dan penuh perasaan, Litha pun membalasnya dengan hangat, tidak terburu-buru seperti kedua tangannya yang perlahan mere*mas pelan rambut di bagian belakang kepala suaminya. Sudut matanya terasa basah.
Aku mencintaimu, Litha dengan seluruh jiwaku, kau jangan pernah pergi lagi dariku. (Ray)
Aku mencintaimu, Suamiku. Segalanya sudah kuberikan padamu hingga harapanku tiada bersisa hanya untukmu. Jangan pernah tinggalkan aku. (Litha)
Ting ... Tong ....
Mereka sontak melepas ciuman penuh perasaan itu. Sekilas bersamaan memandang pintu, lalu mereka saling melempar pandangan satu sama lain.
Ting ... Tong ...
Abyan menekan bel sekali lagi tidak sabaran, sengaja.
"Aku berganti pakaian. Mas yang bukakan pintu," ujar Litha melepas kungkungan di leher suaminya.
"Jangan lari!!" pekik Ray melihat Litha berlari menuju kamar mereka.
"Mulai hari ini aku berharap kau terlambat menjemputku, Yan. Ck, Litha juga kenapa dia suka sekali menantangku. Aku tidak kuasa menolaknya."
Ray berjalan menuju pintu, ia lupa membenarkan posisi dasi, merapikan rambut yang diacak-acak istrinya dan menurunkan dulu tongkat saktinya yang terlihat sesak.
Ceklek.
Abyan langsung saja melengos masuk tanpa permisi, "Lama sekali kau membukanya, Ray."
"Tuan, mana mode asistenmu?"
"Sesuai perintah Nyonya itu hanya berlaku di kantor, ini kan masih di apartemenmu. Lihat dirimu! Apa kau sudah siap ke kantor atau kau masih harus menyelesaikan urusanmu dengan Litha."
Ray menatap Abyan heran, tidak mengerti dengan perkataannya.
"Dasi yang longgar, rambut yang tidak rapi, leher yang memerah habis digigit dan lihat, turunkan juniormu itu. Kau tidak mau terlihat seperti bos mesum kan?"
"Kurang ajar kau, Yan. Berani sekali kau berkata begitu dengan Tuan Mudamu, hah!" marah Ray yang sebenarnya untuk menutupi rasa malunya.
Ia langsung melangkahkan kaki ke kamar untuk memperbaiki tampilannya. Baru tiga langkah beranjak, Litha sudah keluar kamar dengan daster model rok payung bermotif batik, rambutnya di cepol dan bibirnya diberi pelembab.
"Lith, jangan genit!" teriak Ray dari dalam kamar.
Abyan dan Litha saling berpandangan, tidak mengerti dengan teriakan Ray.
"Sudahlah, Asisten Yan. Suamiku kadang-kadang random orangnya, tapi justru kerandomannya yang membuatku jatuh cinta. Ayo, kita sarapan bersama, tapi hanya ini saja, tidak apa-apa kan, Asisten Yan?"
Abyan tersenyum dan mengangguk, dalam hatinya ia mengaggumi Litha, bukan mengaggumi untuk menyukainya, ia hanya mengagumi attitude Litha yang dinilainya sangat baik.
"Pantas saja Nyonya Besar berkeras dan memaksa Ray menikah dengannya. Sifat Ray dan Litha yang sangat berbeda justru saling melengkapi sampai-sampai tidak bisa terpisahkan. Apa kalian tidak sadar, tanda kalian ada dimana-mana, huh."
"Apa senyum-senyum sendiri. Kau mengagumi Litha-ku?"
Mata Ray melotot ke arah asistennya. Abyan terbahak mendengarnya.
"Laki-laki ini benar-benar alien seperti yang Litha bilang, tahu saja apa yang ada dalam pikiran orang, hahahaha ...."
"Eh, Bocah Egois! Kalau aku mengagumi istrimu memangnya kenapa? Istrimu memang layak untuk dikagumi."
Abyan malah sengaja menyulut emosi Ray, benar saja Ray langsung mencekik Abyan dengan mencengkram kerah bajunya.
"Katakan sekali lagi!"
Mata Ray sudah memerah, tapi Abyan malah terbahak. Litha segera menarik tangan suaminya dari kerah baju Abyan, tapi tak jua Ray lepaskan. Tak menunggu lama, Litha langsung memeluk suaminya.
"Mas, kendalikan emosimu. Asisten Yan hanya menggodamu. Lihat saja dia tertawa melihatmu seperti ini."
Ray melepas kasar cengkramannya, "Walaupun bercanda aku tidak suka mendengarnya. Tidak ada yang boleh mengagumi istriku selain aku."
Abyan tetap saja terbahak, "Oke, oke, aku hanya melatihmu saja kalau ada pria lain yang melakukannya, kau harus bisa mengontrol emosimu."
"Siapa yang berani melakukannya, hah?!?"
"Ya, mungkin saja. Sudahlah, aku mau sarapan."
"Belum tahu saja nanti kau yang akan pusing antara perasaanmu sendiri atau profesionalisme-mu."
Abyan berhenti tertawa dan segera memperbaiki kerahnya lalu mengambil tempat di meja makan untuk sarapan. Litha memberikan menu sarapan yang sama dengan suaminya untuk Abyan dan meletakkan segelas air putih hangat dicampur sesendok makan madu murni hanya untuk Ray.
__ADS_1
"Apa aku tidak mendapat yang itu?" tunjuk Abyan ke gelas air putih di depan Ray.
Litha sudah melihat amarah suaminya di matanya, dengan cepat ia menjawab, "Itu hanya diberikan untuk suami dari istrinya. Kalau kau mau, menikahlah dulu, nanti akan kukatakan pada istrimu agar memberikannya padamu setiap pagi."
Sekali lagi Litha yang duduk di samping Ray berhasil meredam emosi suaminya yang gampang meledak-ledak.
"Mas, hari ini aku mau ke Rumah Utama, boleh ya? Bosan jika sendirian disini, soalnya Ninda belakangan ini sibuk dengan skripsinya."
"Lakukan apa yang kau mau. Teleponlah Pak Sas kalau ingin kesana."
"Terima kasih, Mas. Kalau boleh lagi dan sempat, siang ini Mas makan siang bersamaku di Rumah Utama ya?"
"Kenapa? Kau sudah merindukanku?" tanya Ray sambil mengusap lembut pipinya, Litha hanya menjawab dengan senyuman malu-malu.
"Ray, ayo kita berangkat sekarang," sahut Abyan tiba-tiba, rasanya ia ingin gumoh dengan sarapannya sendiri melihat kemesraan Tuan dan Nyonyanya di depan mata.
"Tidak dihabiskan dulu sarapannya, Asisten Yan?" tanya Litha yang bangkit mengikuti suaminya bersiap, memang sudah waktunya mereka harus berangkat.
"Aku sudah kenyang melihat kalian."
Hahahahahahahaha ......
Ray dan Litha tertawa bersama, mereka sudah membuat Abyan kesal dan bertambah kesal karena harus menunggu lagi, mereka kembali berciuman di ambang pintu masuk.
...---------------...
# Ruang Presiden Direktur Kantor Pradipta Corp."
Ray gelisah, sedikit-sedikit melihat jarum jam di arloji merk brand kenamaan dunia. Tidak ada perbedaan jalannya jarum jam miliknya dengan jam tangan merk lain yang jauh lebih murah, semua berdetak dengan rentang waktu yang sama.
"Sabar, Tuan Muda. Masih ada 15 menit lagi untuk menyelesaikan berkas di meja Tuan," celetuk Abyan yang melihat kegelisahan Ray terhadap jarum jam.
Ray tidak menggubrisnya, 15 menit lagi, ia akan pulang ke Rumah Utama untuk makan siang dengan kekasih halalnya. Tuan Muda itu sudah sangat merindukan jantung hatinya padahal baru saja beberapa saat yang lalu ia melakukan panggilan video dengan istrinya yang sedang asyik bercengkrama dengan Bik Tati di dapur belakang.
Tringggg ....
Notifikasi pesan teks masuk ke ponsel Ray, dari Firza.
Ray, apa aku mengganggumu? Kalau tidak aku akan ke ruanganmu untuk menyapamu.
Ray langsung membalasnya,
Jangan sekarang. Nanti saja dua jam lagi, aku ada janji makan siang dengan Litha.
Ray tidak perlu membaca pesan teks balasan dari Firza, setuju atau tidak, bukan urusannya, karena ia sudah menunggu jam istirahat dari tadi.
Tok ... Tok ...
Pintu dibuka oleh Sasha dan nampak seorang wanita cantik tinggi semampai di belakangnya tersenyum. Ia melangkah masuk dengan percaya diri dan langsung menuju meja kerja Presdir.
"Selamat siang, Ray."
Si pemilik nama yang disapa dan Abyan sedikit terkejut atas kedatangan wanita tersebut. Dengan senyuman manis ia mendekati Tuan Presdir seraya duduk di hadapannya. Ray membalas senyuman wanita itu dengan canggung.
"Maaf, Ray, kalau sebelumnya aku tidak memberitahukanmu kedatanganku dan tidak membuat janji dulu denganmu. Kudengar kemarin kau kembali ke Ibukota. Ada yang ingin kubicarakan denganmu."
Ray melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian melihat Abyan yang duduk di sofa yang juga sedang menatap dirinya. Dia menghela nafasnya, berat.
"Mona, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Bukannya sudah jelas yang kukatakan waktu itu. Aku menganggapmu teman seperti Abyan dan Bona karena kita pernah bersama di Amerika, dan sekarang hubungan kita tidak lebih dari rekan kerja."
Ray menatap mata Mona tajam, ada ketegasan falam kalimatnya dan itu membuat hati Mona tersakiti.
"A-- Aku mengerti, Ray. A-- Aku hanya-- "
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan tentang pekerjaan, sudahi saja pembicaraan kita. Aku tidak punya waktu banyak dan ini sudah masuk jam istrirahat, aku ada janji makan siang," kata Ray seraya bangun dari duduknya dan mengenakan jasnya yang disampirkan di kursi kerjanya.
Lagi-lagi Ramona mencelos, terang-terangan ia ditolak, bukan hanya perasaannya bahkan untuk sekedar berbincang, Ray tak menginginkannya, tapi ia menahan airmata dengan menggenggam kuat jemari tangan kanannya.
"Janji dengan Litha?"
Ramona menanyakannya dengan bergetar, meski ia sudah tahu jawabannya tapi ia tidak tahan untuk tidak menanyakannya. Fokus matanya tertuju pada leher Ray yang jelas nampak bekas cum*buan Litha tadi pagi sebelum berangkat kerja. Hatinya makin bergemuruh menghantam rapuh akan cintanya.
"Tentu saja, siapa lagi. Aku permisi, Mon. Yan, ayo kita berangkat," ujar Ray pamit sekalian memerintah asistennya.
"Baik, Tuan," respon Abyan dengan mengangguk kemudian mengekor di belakang tuannya.
Ramona masih berdiri di tempatnya, mematung dan sekuat mungkin menahan air matanya. Ia tidak sanggup berada dalam situasi seperti ini, ia ingin segera berlari dan menghilang dari muka lelaki yang ia cintai, tapi ia harus bertahan. Ayahnya mengatakan Rayyendra tidak sepenuhnya menolaknya karena mereka memiliki kenangan yang historis sebagai wanita pertama yang ia kenal dalam pergaulannya.
- Bersambung -
__ADS_1