
Kepala Ray mulai berdenyut hebat. Istrinya tahu benar bagian tubuh mana yang harus ia tunjukkan di depan suaminya. Dadanya yang menyembul tanpa menggunakan bra, hanya ditutupi kain tipis yang sedikit menerawang membuat suaminya menelan saliva berkali-kali. Tongkat saktinya kian melesak, lebih-lebih Litha sengaja membuat gerakan erotis yang samar.
"Hah. Kenapa? Masih mau kau memeluk wanita lain di luar sana, padahal ada istrimu yang tidak pernah menolakmu."
Ray langsung menuju kamar mandi, ia berendam cukup lama dengan air dingin, sengaja biar ada bagian tubuhnya yang mengkerut. Sayangnya bukannya turun tapi bagian tubuh itu tetap konstan dengan ukuran yang siap beraksi karena dalam pikirannya, hanya ada bayangan istrinya dengan lingerie baru.
Haaattchhhiii ...
Ray mulai bersin-bersin dan masuk angin.
"Sial, dia sengaja membalasku. Aarrgghhh ..." umpat Ray bangkit dari bath up.
Ia berpakaian dengan kondisi juniornya yang masih menjulang. Matanya turun melihat ke arah bagian vitalnya, berkata sendiri, "Turunlah, malam ini kau tidak bisa menjelajahi gua sempit sampai aku mendapatkan maaf darinya."
Ray masuk ke kamar dan melirik Litha yang telah tertidur tanpa selimut, sengaja memperlihatkan kemolekan tubuhnya pada suaminya.
"Dasar Penggoda! Rela menahan dinginnya AC agar menyiksaku, ck," ujar Ray berjalan mendekati ranjang.
Diselimuti istrinya dengan tersenyum, "Sebuah pelukan tidak akan bisa menghapus kutukanmu, Sayang."
"Ehmm ... Mmmm ... Iya, kutukanku ... iya ... " Litha mulai ngelantur di alam bawah sadarnya.
Ray tergelak, lalu ia mencuri cium kening istrinya.
"Oh, shitt ! Aku hanya menciumnya saja, kenapa kau malah meminta lebih," desis Ray tertahan pada juniornya.
"Mmmm ... mmm ... cucumu nakal Nek, mmm ..."
Litha membalikkan badannya, dan yang nampak di depan mata Ray sebuah pundak putih mulus dan wangi. Ia sudah tidak tahan, daripada ia merudapaksa istrinya lagi, lebih baik ia keluar mencari angin dengan merokok, menghilangkan kepenatan dan menurunkan sesuatu yang susah turun kalau tetap berada di kamar.
Ray berjalan ke sisi timur rumah utama yang terdapat kolam renang, sudah lama ia tidak berenang. Matanya menangkap sesosok pria paruh baya tengah duduk di bangku sambil merokok.
"Pak Sas belum tidur?"
"Eh, Tuan," kata Pak Sas mematikan rokoknya, lalu berdiri dari duduknya memberi hormat.
Ray menyalakan rokok, lalu menyesap perlahan, dihembuskan asap ke udara malam.
"Terimakasih Pak Sas, sudah menemani istriku. Hari ini pasti berat buatnya," kata Ray tanpa melihat Pak Sas yang diam saja.
"Apa dia menangis?" tanya Ray.
jangan ceritakan pada Suamiku kalau aku meratapinya di makam Nenek ya, harga diriku bisa jatuh kalau dia tahu
"Tidak, Tuan. Nyonya meminta saya untuk mengantarnya belanja ke Luxury Boutique, disana Nyonya bertemu lagi dengan Nona Ramona."
Ray kaget, ia hadapkan badannya ke Pak Sas, raut wajahnya meminta diceritakan lebih.
"Nyonya dengan elegan mematahkan serangan Nona Ramona tanpa menyentuhnya," ujar Pak Sas sedikit tersenyum mengingat bagaimana Litha kembali memukul telak Ramona hanya dengan kata-kata.
Pak Sas menghela nafasnya, "Tuan Muda, cinta Nyonya untuk Tuan sangat besar, begitu juga harapan dan rasa kepemilikannya juga besar. Saya pun bisa memahami bagaimana hati beliau hari ini walaupun Nyonya terlihat baik-baik saja."
Sepinya gelap semakin membuat Ray merasa bersalah pada istrinya. Ingin direngkuh dan memohon maaf atas kesalahannya yang tidak bisa menjaga diri.
Cahaya bulan terpantul di air kolam, Ray ingat istrinya lebih menyukai bulan di malam hari ketimbang matahari saat senja.
"Pak Sas, aku bersalah padanya dan aku menyakiti hatinya. Tapi Litha tidak memberiku kesempatan untuk aku meminta maaf. Apa dia begitu terluka?"
Lelaki paruh baya yang tahu sejarah kehidupan Tuan Muda Pradipta hanya tersenyum, tidak menjawab apapun.
"Temani aku disini Pak Sas sampai aku benar-benar mengantuk. Kalau aku kembali sekarang ke kamar, aku bakalan sakit kepala sampai besok."
"Baik, Tuan." Pak Sas menahan senyumnya, ia tahu maksud Tuan Muda adalah untuk menghindari istrinya yang tidur dengan pakaian seksi.
...***...
Paginya Ray bangun sedikit terlambat. Jam 3 lewat baru ia masuk kamar dan langsung tidur tanpa melihat istrinya. Sekarang ia bangun, istrinya sudah tidak ada. Ray segera mandi dan bersiap ke kantor.
.
.
.
"Lithaaa ... benar-benar kau ya...!!!" pekik Ray dengan suara tertahan ketika melihat lingerie hitam tadi malam Litha jejerkan di depan setelan kantornya hari ini. Otak Ray sudah travelling entah kemana. Dengan nafas memburu ia singkirkan lingerie penyiksa itu untuk mengambil setelan kantornya, tapi ... aroma khas badan yang ia candui bercampur aroma parfum wanita favoritnya melambungkan hasrat yang kian menjadi.
Membutuhkan waktu beberapa saat bagi Ray untuk mengusir bayangan istrinya tadi malam dan menormalkan pikiran yang sudah kemana-mana, ia kesal tapi maklum.
Saatnya ia sarapan dan menuju meja makan, tapi pemandangan yang ia temui sungguh membuat hatinya panas di pagi hari. Litha yang mengerjainya tadi malam kini malah bercengkrama akrab dengan Firza di dapur.
"Litha!!!" teriak Ray, wajahnya memerah karena cemburu.
"Ya, Mas. Sarapanmu sudah di meja. Kenapa tidak memberitahuku kalau Kak Firza ikut sarapan pagi ini? Untung saja Pak Is tidak keberatan jatah sarapannya yang aku buat diberikan ke Kak Firza," kata Litha santai.
"Litha, duduk!" perintah Ray, lalu ia menatap tajam Firza, "Ngapain ikut sarapan disini?"
"Sepertinya kemarin aku sudah bilang, kalau pagi ini aku akan ikut sarapan untuk memastikan."
"Memastikan apa Kak?" tanya Litha yang duduk dengan patuhnya sesuai perintah suaminya.
__ADS_1
"Memastikan kalau kau baik-baik saja setelah suamimu memeluk mantan kekasihnya," jawab Firza dan langsung duduk berhadapan dengan Litha.
"Breng*sek! Kenapa kau membahasnya lagi," umpat Ray kesal.
"Heheh ... tidak mungkin aku baik-baik saja. Jelas sakit hati lah, Kak."
Jleb.
Ulu hati Ray seperti tertusuk tombak panjang. Kalimat lugas Litha membuat jantungnya berdegup kencang. Begitupun Firza yang kaget dengan pernyataan Litha, ia pikir Litha akan berusaha menutupinya dengan mengatakan baik-baik saja.
"Karena aku mencintai Suamiku, makanya aku sakit hati. Istri dalam keadaan hamil besar begini, eh, sang suami di belakang main peluk-peluk wanita lain. Sudah begitu tidak ada rasa bersalahnya lagi, tidak ada permintaan maaf sampai sekarang. Dianggapnya aku mesin produksi kali, hanya untuk meneruskan keturunannya."
Toengggg.
Firza tercengang, apalagi Ray yang hatinya sudah tertusuk kini remuk hancur tidak berbentuk.
"Kalian berdua kenapa diam? Makanlah selagi hangat," ujar Litha tersenyum sambil menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.
Suasana seketika canggung, baik Ray maupun Firza sungkan mengeluarkan suaranya.
Tidak berapa lama Abyan datang, "Maaf terlambat. Tadi aku harus menjemput Ibuku di stasiun."
"Ibu Asisten Yan ke Ibukota?" tanya Litha.
"Ya, Nyonya, beliau memutuskan untuk tinggal bersamaku daripada sendirian disana, ia akan teringat Dinda terus."
"Aih, kenapa tidak tinggal disini saja menemaniku?" gumam Litha pelan dengan mata tertuju pada nasi gorengnya tapi bisa didengar oleh tiga lelaki di meja makan.
"Silahkan sarapan, Asisten Yan," ucap Litha mempersilakan.
"Baik, terimakasih Nyonya." Abyan langsung mengambil kursi di sebelah kanan Firza.
"Maaf Ray, malam ini setelah jam kantor, akan ada rapat terbatas. Kemarin malam sahammu terjun bebas, ini harga terendah selama kau memimpin Pradipta Corp."
"Ck."
Ray berdecak kesal, Firza menghela nafas panjang dan berat. Litha mengamati mereka bertiga.
"Lalu kau sudah temukan siapa yang diam-diam mengambil fotoku dan memostingnya?" tanya Ray dengan raut wajah sangat kesal.
"Nama akun yang pertama kali memostingnya adalah Thanos01, tapi dia sudah menutup akunnya dan IP ponselnya sudah tidak terlacak karena nomornya non aktif."
Tringgg !!!
Raya membanting sendok dan garpunya di piring. Litha masih mengamati.
"Kalau kutemukan orangnya, akan kubuat dia menyesal seumur hidup!"
Meski dalam keadaan sangat kesal, ia menuruti apa yang istrinya katakan, meminum air putih hangat yang dicampur sesendok madu murni sampai habis.
"Asisten Yan, tidak usah mencari orang itu, siapa tadi nama akunnya, Thanos01 ya? Tidak usah dicari. Biarkan saja," kata Litha lagi.
"Apa!?! Tidak bisa! Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya, dia sudah membuatku dibully satu negeri ini, membuat sahamku anjlok dan tersiksa di malam ha--" Ray menghentikan ocehannya begitu sadar ia telah membuka aibnya sendiri.
Pppfffttt ...
Abyan dan Firza menahan tawanya, sedangkan Litha hanya tersenyum sini melirik tajam suaminya yang salah tingkah, menyuapkan nasi goreng lagi ke mulutnya.
"Kukira Mas sudah selesai makan?"
Ray tidak menjawab, ia malah menyendok semakin banyak sampai mulutnya penuh.
"Sebenarnya Si Thanos01 itu adalah cara Tuhan menyelamatkanmu, Mas. Seandainya saja foto itu tidak ada dan perbuatan Mas tidak diketahui, bisa saja suatu saat akan lebih dari sebuah pelukan, ciuman perpisahan misalnya, atau bisa juga lebih dari itu."
Uhukkk ..
Ray hampir saja menyemburkan kunyahan di mulutnya, istrinya pagi ini membabat habis harga dirinya di depan Abyan dan Firza.
Litha berdiri, lalu mengambil gelas kosong punya suaminya dan berjalan ke dapur, "Dia memang salah mengambil foto orang lain tanpa izin lalu menyebarkannya, tapi kenapa hanya dia yang harus bertanggungjawab?"
"Sedangkan pelakunya sudah seperti korban yang sangat dirugikan, padahal itu hanya konsekuensi dari sebuah perbuatan yang juga harus dipertanggungjawabkan," ujar Litha masih melanjutkan kalimatnya sambil menuangkan air putih hangat ke dalam gelas kosong ditambah sesendok madu murni, lalu mengaduknya. Setelah itu berjalan kembali ke meja makan.
"Mas mau tahu siapa korban yang sesungguhnya?-- Aku."
Litha meletakkan kembali gelas kosong yang sudah terisi dan menatap netra suaminya dengan senyuman yang membuat Ray terbatuk-batuk.
Masih tersenyum, Litha kembali ke tempat duduknya dan berujar, "Jadi sebagai korban, aku telah memaafkan mereka semua tanpa diminta."
Matanya ke arah Abyan, "Asisten Yan, hentikan mencari siapa Thanos01 itu, aku yakin bathinnya akan dihantui rasa bersalah dan bagiku itu sudah cukup." Lalu beralih ke Ray, "Dan buat Suamiku, hadapi saja dengan gentle konsekuensi dari perbuatanmu dan jadikan pelajaran di masa depan."
Hening.
Tiga lelaki yang memiliki pengaruh itu takluk di hadapan seorang ibu hamil. Nada bicara Litha yang tenang namun menusuk membuat ketiganya tidak berkutik.
...***...
# Ruang Presdir #
Ray benar-benar kacau. Perkataan Litha sangat membekas dihatinya.
__ADS_1
"Kau belum minta maaf!?! parah kau, Ray. Bagaimana istrimu tidak murka! Lihat bagaimana dia mengulitimu habis-habisan tadi saat sarapan. Whoaahhh ... sepertinya Litha bukan wanita biasa. Seumur-umur aku tidak pernah melihatmu segugup tadi," kata Abyan menyandarkan punggungnya ke sofa. Meski tadi pagi aura intimidasi Litha tujukan buat suaminya tapi Abyan dan Firza juga serasa ikut terintimidasi.
"Ah, wanita suku Ragnaya ini membuatku gila! Taringku tidak berguna di depannya!" kata Ray dalam hati, mengumpat dirinya sendiri.
Ray memijit keningnya keras-keras, apa yang harus ia katakan di rapat terbatas nanti. Rapat tersebut akan dihadiri para pemegang saham di Pradipta Corp. Rayyendra memang pemilik 80% saham, tapi ia tidak bisa mengabaikan suara dari 20% sisanya.
"Ray, lihat!" seru Abyan mengeraskan volume TV.
Saya, Andika Kusuma, akan menyatakan secara resmi mengenai operasi penggeledahan di Amore Club&Party atas laporan seseorang yang kami rahasiakan identitasnya.
Selasa, 09 September 2012, pukul 23.00 waktu setempat, telah dilakukan penggeledahan sesuai surat dengan Nomor Polisi : SPRIN-DAH/317/IX/2018/RESKRIM yang mana dalam operasi tersebut telah tertangkap tangan tiga orang saat sedang melakukan transaksi jual beli narkoba jenis sabu-sabu. Tiga orang tersebut adalah Saudara LR, Saudara EK dan Saudari RS.
Ketiganya terkonfirmasi positif pengguna sabu-sabu. Menurut hasil pemeriksaan sementara Saudara EK hanya sebagai pemakai, sedangkan Saudari RS dan Saudara LR juga mengarah sebagai pengedar di tempat terjadinya penggeledahan.
Adapun selain itu, untuk Saudari RS juga dikenakan laporan atas perbuatan tidak menyenangkan yang membully seorang gadis hingga menimbulkan trauma mendalam dan butuh pengobatan intensif dalam penyembuhannya. Sedangkan untuk Saudara LR dikenakan laporan atas dibukanya kembali kasus tindak pidana pemerkosaan yang dilakukannya 5 tahun lalu dengan merujuk pada bukti-bukti baru.
Demikian, dan terima kasih.
.
.
.
Litha terpana menonton berita TV. Tidak menyangka ternyata Si Pengedar itu adalah mantan pacar Tisha yang menghancurkan kehidupan keluarganya.
"Apa penggeledahan itu ada kaitannya dengan pelaku pemerkosaan Kak Tisha? Apa mungkin Mas Rayyendra yang melaporkan klub Bona? Tidak. Tidak mungkin! Dia juga kaget saat menerima berita itu. Tapi kenapa waktunya bisa pas sekali?"
Litha menelepon Ninda, ingin menanyakan kabarnya. Kemarin pikirannya tersita dengan sejumlah foto dan ponselnya ia matikan seharian untuk menghindari telepon dari Ray.
"Nin, gimana kabarmu? Sudah baikan?"
"Ya, Tha. Kemarin aku meneleponmu tapi tidak aktif. Padahal aku sangat khawatir karena--" Ninda tidak enak melanjutkan kalimatnya, ia tidak ingin Litha teringat kembali akan foto mesra Ray dengan Ramona.
"Iya, Nin, sengaja aku matikan, aku ingin sendiri dulu. Tapi kau bisa menghubungi Pak Sas, Suamiku saja menanyakan kabarku melaluinya."
"Mana aku tahu nomornya, Tha. Aku kan, selama ini selalu menghubungi nomormu langsung."
"Eh, iya, hehehe ..."
"Tha, kamu masih sakit hati?" Ninda tahu apa yang dirasakan sahabatnya.
"Sudah tidak. Aku percaya bahwa aku masih menjadi wanita satu-satunya di hati Mas Rayyendra. Entah apa alasannya dia memeluk Ramona, tapi aku tidak terlalu memikirkannya, yang terpenting Suamiku masih mencintaiku."
"Syukurlah, Tha, cinta kalian begitu kuat, meski ada badai kalian bisa bertahan. Tidak seperti aku dan Bona."
"Bona sudah menemuimu di rumah sakit, kan?"
"Belum. Kemarin dia hanya sampai di parkiran, dia takut bertemu dengan Bang Dika."
"Hah! Apa!?! Astagaaa ... Lelaki itu-- ah, gemas sekali aku mendengarnya Nin. Bagaimana caranya dia akan memperjuangkanmu? Memperjuangkan cinta kalian, kalau tidak punya nyali muncul di depan Bang Dika."
"Ck. Sudahlah, Tha, Aku fokus ke penyembuhanku dulu sambil melihat perkembangannya, apa dia memang serius denganku atau tidak."
"Oh ya, Nin. Kamu sudah liat pernyataan resmi polisi? Disitu Bang Dika bilang RS dikenakan laporan karena membully seseorang. Apa maksudnya itu kamu?"
"Iya. Itu aku. Bang Dika melaporkannya, dia sangat marah dan tidak terima aku dibully. Dia ingin membuat perhitungan dengan Renata."
"Baguslah, biar dijadikan pelajaran buat yang lain bahwa perbuatan bully juga bisa dilaporkan. Tapi aku kasihan sama Evan ... Aku merasa tidak enak sama Om Danu."
"Itu resikonya dia. Kamu jangan merasa bersalah, Tha. Cinta kan, gak bisa dipaksa. Harusnya dia bisa belajar dari Bang Dika, bisa mengikhlaskanmu saat menikah, bukan malah menunggu jandamu."
Litha agak merasa janggal dengan apa yang dikatakan Ninda.
"Mengikhlaskanku saat menikah, apa maksudnya?"
Ninda keceplosan bicara, tapi sudah terlanjur terucap dan tidak bisa ditarik kembali.
"Enggg ... hehehe ..."
.
.
.
Suasana sebuah rumah di pinggiran Ibukota sedang mencekam. Setelah sebelumnya mendapati kabar Ramona dipecat oleh Tuan Muda, sekarang ia mendengar pernyataan resmi di TV bahwa kasus 5 tahun yang lalu akan dikuak kembali.
"Si-- siapa yang membukanya?" tanya Winda, mukanya pucat.
"Akan aku cari tahu siapa yang membuka kasusnya kembali dan bukti apa yang ada di tangannya," kata Sebastian geram, tangannya terkepal kuat hingga urat-urat di tangannya mengencang.
"Mona, berapa kompensasi yang kau dapat dari pemecatanmu? Berikan pada Ayah semuanya dan sakit hatimu pada wanita itu akan Ayah balas,"
"Tapi-- Ayah, itu untuk berjaga-jaga jika aku belum mendapat pekerjaan baru. Aku tidak punya apa-apa lagi selain kompensasi itu. Bagaimana nanti kita hidup? karena Ayah juga tidak bekerja."
"Mencari informasi itu tidak murah, Mona. Dan nanti setelah kita singkirkan wanita itu, kau bisa mendekati Tuan Muda kembali, pastikan kali ini kau tidak gagal lagi. Setelah itu kita tidak perlu mengkhawatirkan kehidupan dan masa depan kita akan terjamin, selain itu dengan dukungannya, kita bisa mengeluarkan Lucas dari hukuman," kata Sebastian licik.
Ramona diam, ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa kata ayahnya.
__ADS_1
- Bersambung -