Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Lembar Kehidupan Litha


__ADS_3

Ramona melamun di kamar apartemennya. Apartemen yang diberikan Ray setelah seminggu menjadi kekasihnya. Tak ada yang tak dikabulkan jika ia meminta, dari apartemen, mobil, pekerjaan, uang saku bulanan dan setiap barang yang menempel di tubuhnya adalah pemberian Rayyendra.


Gadis cantik itu berpikir, dengan memberikan semua yang ia pinta, maka ia sudah memiliki hati Ray, sampai suatu ketika Bona menyadarkannya bahwa kata cinta diantara mereka hanya terucap dari mulutnya saja. Bagi Ray yang workaholic tidak akan pernah menaruh prioritas diatas pekerjaan kantornya demi apapun. Namun, prioritas itu telah berubah karena ia baru saja mendengar bahwa sudah satu bulan Ray tinggal di Kota A demi istri yang tengah hamil anaknya.


Ramona merasa kecolongan, selama ini ia begitu percaya diri karena tidak ada satu pun wanita yang bisa menarik perhatiannya, baik rasa kagum, suka, benci, marah atau apapun bentuk emosinya. Ray tidak pernah bereaksi dengan wanita kecuali dirinya. Ramona semakin percaya diri lagi ketika ia dipublikasikan sebagai kekasihnya di depan kolega kerja mereka hingga ayahnya pun bersikap manis padanya.


Ramona abai pada peringatan ayahnya tentang pengaruh Nyonya Besar dalam hidup Ray. Ia lupa ada seseorang yang sangat berarti bagi Ray melebihi dirinya sendiri. Pernikahan yang diwasiatkan untuknya akhirnya dilakoni dengan terpaksa. Namun, mengapa sekarang cinta hadir diantara mereka? Padahal tidak dari satupun diantara mereka yang menginginkannya.


Matanya menerawang ke langit-langit kamar, dadanya sesak, ia ingin menangis tapi rasa sesak di dadanya itu menghimpitnya hingga tidak bisa menangis. Sakit hatinya kian menjadi ketika mendengar bahwa mereka kini saling mencinta. Muak! Ramona muak dengan Litha. Mengapa gadis pencuri itu harus ada dalam kehidupannya.


Ia belum akan menyerah sampai Ray sendiri yang mengatakannya, walaupun Ray nanti akan mengatakannya ia juga tetap tidak akan menyerah. Berbagai cara akan ia coba untuk mendapatkan apa yang seharusnya ia miliki. Cintanya sudah terpaut pada Rayyendra dan ia tidak bisa melepaskannya begitu saja, kemudian menautkan pada lelaki lain, ia bukan wanita seperti itu. Ramona hanya mencintai satu pria dalam hidupnya dan itu adalah Rayyendra Putra Pradipta.


Sementara itu di Kota A, di ruang kerja, Ray baru saja selesai memeriksa berkas yang baru saja dibawa Abyan dari Ibukota.


"Ray, ini informasi yang pernah kau minta."


Abyan menunjukkan sebuah map berisi lembar kehidupan Litha. Atas perintah Nyonya Muda, selama di Kota A, Abyan tidak memanggil Ray dengan sebutan Tuan kecuali di depan para pelayan dan satpam. Sebenarnya Litha juga menyuruhnya memanggil namanya daripada sebutan Nyonya Muda kalau dalam situasi santai, tapi Abyan tidak bisa, ia justru merasa sungkan menyebut nama Litha langsung di depan si pemilik nama.


"Ah, ternyata Keluarga Riguna keluarga ban*sat!" maki Ray.


"Iya Ray. Kau bayangkan saja kronologisnya, Tisha diperkosa Lucas sampai depresi, ayahnya yang mencari keadilan pun dibuat meninggal dan kasus yang dilaporkan akhirnya ditutup karena tidak bisa dibuktikan. Sebastian memang iblis, dia juga dalang dari kejadian yang hampir merenggut kehormatan istrimu, kalau saja kau tidak menolongnya mungkin nasibnya akan sama dengan Tisha."


Ray mengepalkan tangan, rahangnya mengeras hingga urat-urat dilehernya kian nampak. Ia sangat marah, apalagi mengingat ekspresi Litha yang ketakutan malam itu, hebatnya keesokan hari ia masih bisa tersenyum saat ke rumah utama dan tidak mengadukan apapun pada Nenek. Kalau saja ia mengadu, Nenek pasti akan mengusut dan mencari tahu hingga pelakunya ditemukan dan jika diketahui bahwa Sebastian adalah orangnya, sudah bisa dipastikan saat itu juga ia ditendang dari Pradipta Corp.


"Apa Ramona mengetahui semua ini?"


"Tidak, Ray. Ramona sama sekali tidak tahu kelakuan ayah dan adiknya itu."


Ray menghela panjang nafasnya. Ramona .... Ia mengingat gadis itu, gadis pertama yang ia kenal dan sangat mencintai dirinya, sayangnya ia tidak bisa merasakan dengan perasaan yang sama meski ia sudah pernah mencobanya.


"Bagaimana kabarnya? Apa ia tahu aku sekarang disini menjaga Litha yang sedang hamil?"


Abyan tidak menjawab, tadi malam ia baru memarahi Bona yang sudah sok tahu menasehati Ramona untuk berhenti mencintai Ray.

__ADS_1


"Sudahlah. Buat apa aku memikirkannya lagi, ada istriku yang lebih harus kuperhatikan, salah sedikit bisa-bisa ia menangis lagi. Apa semua ibu hamil seperti itu, Yan?"


"Mana kutahu, memangnya aku pernah hamil atau suami dari wanita hamil apa!" sahut Abyan kesal, selama ini ia merasa yang menjadi suami Nyonya Mudanya adalah dirinya tapi kenapa Ray yang merasa direpotkan, padahal yang dia lakukan hanya menahan na*sunya saja.


"Kenapa kau sama sensitifnya dengan Litha, aku kan cuma bertanya."


"Ray, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" tanya Abyan.


"Aku sudah konsultasi dengan Pak Prasojo kalau aku ingin membuka kasus kembali kasus Tisha, aku harus menemukan novum. Sekarang bagaimanapun caranya tugasmu cari novum itu secepatnya."


Abyan menarik nafas panjang, mengatur emosi yang makin kesal.


"Kau kira mencari novum kejadian 5 tahun lalu perkara mudah apa?" umpat Abyan dalam hatinya.


"Lalu bagaimana keadaan Tisha sekarang?"


"Masih dalam tahap pengobatan dan terapi insentif. Perkembangannya baik."


"Pindahkan saja dia ke Pradipta Hospital, biar dia ditangani oleh dokter spesialis kita."


"Ya sudah kalau begitu, perhatikan mereka. Apa yang kau dapat mengenai kehidupan kampusnya Litha?"


"Secara akademik, istrimu ini berotak encer. Dia tidak punya teman dekat kecuali Ninda tapi banyak mahasiswa laki-laki yang menyukainya."


"Apa!" sela Ray tiba-tiba dengan suara yang memekakkan telinga.


"Bisa tidak aku selesaikan dulu kalimatku?"


"Ya, ya silahkan." Hati Ray panas mendengar istrinya disukai banyak mahasiswa dikampusnya.


"Itu dulu sebelum adanya rumor."


"Rumor apa?" Lagi-lagi Ray menyela Abyan.

__ADS_1


"Istrimu digosipkan menjadi baby sugar dari om-om hidung belang berduit."


Mata Ray terbelalak kaget, "Siapa yang membuat rumor itu?"


"Entah siapa yang pertama kali membuatnya, yang jelas rumor itu masih terdengar sampai sekarang. Kalau kau dengar di kampus Z ada mahasiswi cerdas tapi menjadi simpanan om-om untuk uang, istrimulah yang dimaksud."


"Brengsek!" maki Ray marah. Dadanya bergemuruh mendengarnya, "Apa yang membuatnya sampai digosipkan seperti itu? Itu hanya rumor kan, Yan?"


"Hah! Kau kira Nenek mau menikahkan cucu kesayangannya dengan wanita seperti itu. Tentu saja tidak benar, Ray! Rumor itu muncul karena Pak Sas tiap hari menjemputnya pulang kuliah untuk langsung menuju ke rumah utama menemani Nenek tiap hari."


"Jadi, yang dimaksud om-om itu Pak Sas. Ha .... ?!? Hahahahahahahaha .... "


"Meski begitu, hal itu membuat mental Litha yang awalnya cuek jadi down juga."


"Ray, tapi aku akui bahwa istrimu adalah sosok wanita pemberani, ia berani menantangmu dengan pertanyaan menjebak saat kuliah umum tempo lalu," kenang Abyan.


Ray tertawa mengingatnya, saat itu ia kesal sekali, ia seperti ditel*n*angi di depan orang banyak. Tidak disangka justru si penanya itulah jodohnya.


"Akan kutunjukkan nanti pada mereka, siapa sesungguhnya orang mereka rumorkan itu. Terus apa yang kau dapat informasi tentang keluarga ibu mertuaku?"


"Untuk yang ini, tidak ada sama sekali, Ray. Tidak ada informasi sedikitpun, sepertinya kehidupan ibu mertuamu ada dibalik tabir yang tertutup, bahkan Paman Tino pun tidak bisa memberikan informasi apapun. Satu-satunya yang bisa dimintai adalah Bibi Rima, tapi ia mengunci mulutnya rapat-rapat. Meski ia tidak mengatakan sesuatu selain tidak tahu, aku yakin ada yang ia sembunyikan."


Ray agak terdiam mendengarnya, ia pernah bertanya pada Litha dan Vania perihal keluarga ibunya tapi jawaban mereka sama, tidak tahu.


"Tetap cari tahu, Yan. Aku penasaran, tidak mungkin kan ibunya Litha ada begitu saja di dunia ini. Oh ya, terima kasih kau sudah mengurus semuanya berkaitan dengan syukuran kehamilan Litha kemarin. Feedback-nya bagus, Pradipta diterima di Kota A, bagus untuk ekspansi perusahaan disini meski skala kecil dan yang terpenting Litha bisa mengangkat wajahnya di depan keluarga besar ayahnya."


Abyan tersenyum, ia senang dipuji hasil pekerjaannya oleh Ray, seketika kekesalan sebelumnya yang ia rasakan pada Tuan Muda ini hilang.


Kemarin Litha juga secara pribadi mengucapkan terima kasih banyak karena menjadikan acara yang diperuntukkan untuknya dan bayi yang berada di dalam kandungannya itu terselenggara dengan sangat baik, bahkan Litha sampai menitikkan airmata haru buat Abyan dan berkata pada perutnya, "Besok-besok kalau kau sudah besar, tidak boleh melawan Paman Abyan ya, karena dia sudah menyayangimu sebelum kau lahir di dunia ini."


- Bersambung -


Keterangan

__ADS_1


Novum adalah fakta atau bukti baru yang sebelumnya tidak ada, karena untuk membuka kembali suatu kasus pidana yang sudah dihentikan penyidikannya harus memiliki bukti baru.


__ADS_2