Istri Wasiat Tuan Muda

Istri Wasiat Tuan Muda
Kehancuran Tisha (Part 1)


__ADS_3

Ray membawa semua pesanan istrinya dibantu Abyan. Litha memesan sup bola jamur, udang dan cumi goreng tepung, dan ikan gurame bakar plus lalapan dengan terong bakar. Selera makan Ray kini banyak dipengaruhi istrinya, tidak lagi menyantap makanan mewah ala Grey Savanna Restaurant tapi makanan merakyat yang sering dijumpai di tenda-tenda kaki lima bahkan sekarang ia sudah bisa makan tanpa menggunakan sendok garpu. Hanya saja Ray sangat cerewet dengan kebersihan tempat jualan makanan yang dibelinya.


"Untuk pak satpam dibawah sudah di beri, Mas?" tanya Litha begitu Ray menyodorkan kantong plastik berisi makanan.


"Sudah. Sejak kau tinggal di apartemen ini mereka mengalami perbaikan gizi."


Litha terkekeh sembari menata meja makan. Ray hanya tersenyum melihat istrinya, makin dilihatnya istrinya makin ia cinta. Kehangatan di meja ini begitu terasa dengan cerita masa lalu Rayyendra yang diselingi senda gurau.


Abyan banyak bercerita semasa Ray kuliah hingga menduduki jabatan Presdir. Segala aktivitasnya, prestasinya hingga pergaulan sosialnya semuanya diungkap gamblang oleh Abyan. Terang saja ia tahu banyak, dia adalah asisten pribadi rahasia yang ditugaskan Nyonya Besar untuk mengawasi Sang Pewaris tanpa sepengetahuannya, bahkan sampai sekarang.


"Waktu itu, aku, Ray, Bona dan Ramona tengah liburan musim panas di-- "


"Skip! Lewatkan yang itu! Cari cerita yang lain!" teriak Litha sampai tidak sadar makanan yang belum dikunyah sempurna tersembur kemana-mana dengan muka yang tertekuk.


Ray dan Abyan yang duduk berhadapan saling pandang, mereka menyadari ada nama Ramona disebutkan barusan dan mereka hanya bisa menahan tawa, tidak berani berkomentar menghadapi galaknya ibu hamil.


"Hahahahahaha .... Are you jealous, honey? .... Oh My Queen, I Love you more and more .... " (Ray)


"Huahahahahaha .... ternyata cemburunya Litha lebih parah dari Ray. Ah, tidak, tidak, mereka berdua sama, bucin dan cemburu akut hahahahahaha .... " (Abyan)


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Di ruangan Presdir, Ray kedatangan tamu, lebih tepatnya ia yang memerintahkan untuk datang, dr. Vivian Handoko, dokter umum yang baru bergabung satu setengah tahun di Pradipta Hospital.


Perawakannya tinggi sedang, kulit kuning langsat, rambutnya lurus pendek sebahu yang di blow kedalam, berkacamata dan memiliki lesung pipit di kedua pipinya, cukup mendesirkan hati Abyan yang berdiri di belakang kursi tuannya.


"Selamat Sore, Tuan Pradipta. Maaf saya baru bisa menemui Anda di sore hari setelah jam praktek saya selesai," sapa dr. Vivian.


"Tidak masalah. Utamakan pasien, itu motto Pradipta Hospital. Silahkan duduk. Ada yang ingin saya bicarakan." Ray menyilakan dokter itu duduk di sofa.


Ray berpindah dari kursi kerjanya ke arah sofa sambil berkata pada Abyan, "Pastikan aku tidak menerima tamu dan jangan mengganggu selama dr. Vivian ada disini."


"Baik, Tuan."


Vivian terhenyak, tidak menyangka pembicaraannya dengan orang nomor satu di Pradipta Corp. seserius ini.


"Apa yang ingin ia bicarakan. Kok aku jadi takut ya," bathin Vivian.


Tidak lama Abyan kembali masuk setelah meneruskan titah Ray pada Sasha dengan membawa secangkir teh chamomile.


"Minumlah dulu. Tenangkan perasaan Anda," sahut Abyan meletakkan cangkir teh di hadapan Vivian.


Abyan tidak memberikan minum pada Ray, karena kebiasaan Ray jika sedang membicarakan sesuatu yang ia anggap serius dan penting ia tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu fokusnya termasuk minuman yang justru bagi orang lain akan merilekskan.


Mata Vivian tidak sengaja bertabrakan dengan mata coklat Abyan. Ada ketenangan disana, lalu ia berdehem dan menuruti kata Abyan dengan meminum teh.


"Yang kau minum teh chamomile, baik untuk meredam gejolak suasana hatimu yang pasti sedang bingung kenapa Tuan Muda memanggilmu."


Vivian hanya tersenyum kaku. Abyan menatapnya fokus membuat ia seperti murid nakal yang diawasi guru di dalam kelas, sedangkan Ray lebih santai.


"Te-- Terima kasih. Ya, saya bingung ada apa saya dipanggil Tuan Muda. A-- Apa saya berbuat kesalahan?"


"Tidak. Tidak sama sekali."


Suara Ray yang berat memberi penekanan bahwa ia dalam pembicaraan serius. Abyan di posisi berdiri di belakangnya.


"Apa kau mengenal Tisha Listyana Maharani?"


Glek ...

__ADS_1


Vivian sangat terkejut mendengar sebuah nama yang sudah lama tidak berdengung di telinganya. Darahnya seakan berhenti mengalir ke jantung hingga memucatkan wajahnya.


"Di-- Dia-- "


Vivian tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tenggorokannya tercekat, matanya panas dan mulai memerah. Ia tak sanggup menyebut nama temannya yang cukup dekat kala mereka kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas XYXY.


"Kau mengenalnya?"


Ray yang semula santai, mulai menunjukkan siapa dirinya, perlahan namun pasti ia mengintimidasi lawan bicaranya dengan tatapan yang terkenal tajam menusuk lidah hingga kelu. Ia menegakkan tubuhnya dari posisi bersandar, itu cukup menandakan bahwa Rayyendra menuntut jawaban pasti.


Ia tidak pernah peduli lawan bicaranya, pria ataupun wanita, baginya tujuan yang ingin ia dapatkan berhasil itu yang utama. Kecuali ... ya kecuali sekarang, lawan bicaranya adalah istrinya, ia akan sangat peduli melebihi apapun di dunia ini.


Vivian tertunduk, tertunduk dalam dengan isakannya yang samar tapi terdengar jelas di sepinya ruangan Presdir.


"Ceritakan padaku, apa yang kau ketahui. Semuanya." katanya dengan menyandarkan kembali badannya di sofa.


🍀 flashback on 🍀


"Vi, jam berapa kau pulang?" tanya Tisha pada Vivian saat tengah menyelesaikan praktikum anatomi di labaratorium biomedik di kampusnya.


Mereka berdua terlambat mengerjakan laporan praktikum dan harus segera mengumpulkannya sebelum deadline esok hari. Karena itulah Tisha dan Vivian berjibaku dengan cadaver - mayat/jenazah yang digunakan untuk bahan pembelajaran mahasiswa kedokteran - wanita korban tabrak lari.


"Dikit lagi, kau sudah?"


"Sudah. Apa aku bisa pulang duluan?" tanya Tisha, ia merasa lelah sekali hari ini, kepalanya pun sakit. Ia ingin cepat pulang dan beristirahat di kostnya.


"Tunggu aku sedikit lagi. Tega banget ninggalin aku sendirian dengan cadaver, Tish!"


"Kepalaku beneran pening banget, Vi. Lagian kan habis ini aku langsung ke kost, sedangkan kau ke bazaar."


"Apa Lucas menguntitmu lagi?" tanya Vivian sambil menelisik lagi salah satu bagian tubuh cadaver.


"Track Record Lucas dikenal tidak baik. Don Juan sepertinya tidak cocok denganmu yang kolot."


Seki.lagi tisha mengehela nafasnya., " Ya sudah, aku cabut duluan ya, Vi?"


"Ya, hati-hati"


"Kau juga hati-hati, sapatau cadaver yang kau pegang bisa bergerak lagi."


"Sialan kau, Tish!"


Siapa yang tidak mengenal Lucas, mahasiswa tampan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tidak hanya tampan, tapi ia sangat lihai menawan hati perempuan, termasuk Tisha. Dengan gelimpangan kemewahan yang diberikan ayahnya semakin menjadikan ia sebagai lelaki dambaan bagi setiap mahasiswi. Meski banyak perempuan dengan berbagai macam genre, hatinya hanya terusik pada sosok gadis cantik, kalem dan sederhana di Fakultas Kedokteran.


Jika biasanya dia menawan hati seorang gadis, kali ini hatinya yang tertawan, tapi bukan hal yang sulit baginya untuk menaklukan hati Tisha. Perlahan namun pasti akhirnya Tisha pun luluh menjadi kekasihnya, diam-diam, tanpa diketahui keluarganya di Kota A. Ia lupa pada pesan ayahnya yang harus menjaga diri dari laki-laki dan tetap fokus pada tujuan awal yang utama, mengejar impian dokternya.


Tisha adalah perempuan biasa yang bisa tersanjung karena puja puji, perhatian, kepedulian dan sentuhan-sentuhan yang ia tidak pernah rasakan sebelumnya karena selama di Kota A, ia dan kedua adiknya dijaga bak pualam oleh sang ayah.


Setelah 5 bulan menjadi sepasang kekasih, Lucas menuntut lebih, tidak hanya sekedar pegangan tangan dan ciuman. Ia meminta sesuatu yang sangat dijaga Tisha, mahkotanya. Tentu Tisha menolak, ia menolak dengan tegas bahwa mahkotanya hanya akan ia berikan pada suaminya kelak.


Sulung dari tiga bersaudara itu merasa hubungannya dengan Lucas hanya didasari naf*su bukan cinta yang selama ini ia kira. Sedangkan bagi Lucas berhubungan badan adalah tanda bukti saling mencintai.


Tisha tetap berkeras pada prinsipnya, Lucas marah dan melakukan kekerasan pada fisik Tisha, apalagi setelah Tisha meminta putus, Lucas merasa harga dirinya terinjak karena selama ia menjalin hubungan dengan seorang perempuan dialah pemegang keputusan untuk putus atau tidak.


Lucas tidak terima mereka putus dan selalu mengejar bahkan menguntit Tisha kemanapun. Berkali-kali ia memohon pada Tisha untuk kembali seperti dulu, tapi Tisha terlanjur kecewa, ia selalu menghindari keberadaan Lucas.


Setelahnya kemampuan belajar Tisha menurun, ia tak lagi bisa konsentrasi mengikuti perkuliahannya, tugas-tugas dikerjakan dengan berantakan dan sering terlambat, seperti saat malam itu ia harus segera menyelesaikan laporan praktikumnya karena esok batas terakhir pengumpulan.


"Tish, Tisha ... Please! aku mohon ... " rengek Lucas mengejar langkah Tisha yang baru saja keluar dari gedung kampusnya.

__ADS_1


Malam belum larut tapi saat itu bertepatan dengan pembukaan Bazaar Wirausaha Muda yang dipusatkan di auditorium universitas dan sekitarnya, menjadikan tiap kampus apalagi laboratorium menjadi sepi karena semua berpusat pada stand-stand pengisi bazaar, bahkan hiruk pikuk suara musik dan kemeriahan terdengar sampai di tempat yang ia jejaki.


Tangan Tisha ditangkap dan dicengkram begitu kuat, meski ia meringis tangannya tidak juga dilepas.


"Tish, aku masih mencintaimu." Lucas menatap manik Tisha.


"Kita tidak lagi memiliki hubungan apapun, Lucas. Kita tidak sepaham, sebaiknya kita jalan masing-masing mencari apa yang kita anggap baik."


Mata Lucas seketika menyalang, lagi-lagi ia ditolak.


"Kau tidak bisa menolakku, kau milikku," sahutnya dengan suara parau.


"Ayolah ... Aku lelah sekali dan kepalaku pusing. Aku ingin pulang, jangan menggangguku lagi." Tisha benar-benar merasakan pusing di kepalanya.


"Tidak. Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah aku 'mendapatkanmu'."


Pikiran Tisha kacau, ia tahu maksud 'mendapatkanmu' Lucas. Ia berusaha melepas cengkraman Lucas sekuat tenaga tapi tidak berhasil. Tenaganya kalah kuat dan kondisi fisiknya juga sedang lemah.


Lucas menyeret paksa Tisha ke samping ruangan kuliah yang kurang mendapat cahaya, cahaya malam itu hanya mengandalkan lampu - lampu yang menyala. Tisha meronta-ronta dengan berteriak memohon dan menangis,


"Jangan .... Jangaaaaannnn .... Lucas kumohon, huhuhuhuhuhu ... Kalau kau memang mencintaiku tidak begini caranya, kau hanya naf*su padaku."


"Kau ini polos sekali. Kuberitahu, di dalam cinta ada naf*su. Kau tidak bisa menyangkalnya, jika kita saling menatap akan ada keinginan untuk menyentuh, setelah itu muncul keinginan untuk mencium, bercum*bu dan bercinta."


"Tidaaaaaakkk. Tidak Lucas, itu naf*su, kalau kau cinta kau akan menjagaku. Bukan merusakku. Lepaskan!!! Aku membencimu!!! Aku tidak akan pernah mau kembali bersamamu! Aku membencimuuu!!! Benciiiii!!!"


Lucas gelap mata mendengar raungan Tisha yang tenggelam dalam kehingar-bingaran suara musik yang mengudara. Ia menampar, mencengkram dengan kasar tubuh Tisha dan melucuti semua pakaian yang dikenakan hingga tertinggal underwear di tubuhnya. Melihat tubuh Tisha yang putih mulus tanpa cacat makin menggairahkan bira*hinya. Tidak peduli teriakan dan tangisan Tisha, Lucas melepas semua pakaiannya dan melakukan hal keji pada gadis itu.


Di malam tanpa cahaya bulan, keperawanan Tisha direnggut paksa dengan tidak manusiawi oleh seroang lelaki tidak bermoral.


"Ternyata benar dugaanku, kau masih virgin, Tisha. Ahhh, seandainya kau juga bisa menikmatinya .... " kata Lucas puas mengenakan lagi pakaiannya.


Tisha tidak berdaya meski hanya untuk memaki bahkan bersuara. Badannya sakit, kepalanya masih pusing, dan bagian intimnya juga terasa sangat perih. Ia hanya bisa menangis dengan perasaan takut dan menyesal bercampur jadi satu.


"Kau mau aku tidak mengganggumu lagi, kan? Baik akan kulakukan. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Pilihlah jalan yang menurutmu baik, kita tidak pernah sepaham," tukas Lucas sudah lengkap berpakaian.


"Brengsekkkk kau Lucas!!! Kau menghancurkan hidupku!" teriak Tisha menangis dan menjerit, namun lagi-lagi di telan kemeriahan musik.


Lucas mendecih dan tersenyum sinis, "Aku benar-benar mencintaimu, Tisha. Tapi kau sendiri yang menyadarkanku barusan bahwa kita tidak sepaham."


Ia lalu berjongkok dan meraup rambut Tisha yang terburai, menengadahkan kepalanya hingga mereka saling menatap lekat. Mata Tisha yang penuh dengan air beradu dengan mata penuh emosi milik Lucas.


"Tapi setidaknya aku sudah memberimu kenang-kenangan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidup. Kau akan terus mengingat namaku sampai kau mati."


"Cuuiihhhh ... Aku tidak sudi mengingat namamu."


Tisha meludahi wajah Lucas dan menekankan suaranya. Lucas naik pitam,


Plaakkkk ....


Lucas menampar keras hingga badan Tisha tersungkur ke lantai. Tangisan Tisha tidak terbendung lagi, ia menangis pilu tanpa ada sehelai benangpun menutupi tubuh indahnya.


Lucas segera beranjak meninggalkan Tisha begitu saja tanpa ada penyesalan.


- Bersambung -


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️😘


Aissshhh .... diantara semua part, part flashback kejadian Tisha ini yang paling males buat Author tulis 😑😑

__ADS_1


__ADS_2