
Sasmita mengepalkan tangannya dengan wajah yang memerah.
"Sebastian bang*sat!" maki Sasmita setelah ia mendengar kabar Ramona, putri Sebastian juga ikut sekolah di negara yang sama dengan Rayyendra, bahkan tinggal di satu gedung apartemen yang sama, meski berbeda universitas.
"Sas, kita harus lebih waspada setelah ini, karena posisi kita sekarang jauh dari Tuan Muda. Kita tidak bisa menjaganya seperti ia tinggal disini," bisik Iskhak, takut ada yang mendengar percakapannya di dapur rumah utama.
Para pelayan di rumah Keluarga Pradipta tidak diberikan izin untuk berkeliaran di dalam rumah utama kecuali pelayan yang ditunjuk untuk melakukan suatu perintah. Tempat mereka adalah suatu bangunan besar yang terdiri dari banyak kamar dan bersebelahan dengan dapur juga gudang yang digunakan sesuai fungsinya. Rumah berlantai dua tempat kediaman Keluarga Pradipta jadinya terkesan sepi karena dengan luas yang hampir menyamai lapangan sepakbola hanya dihuni oleh beberapa orang saja, apalagi setelah Rayyendra dan Firza berada di luar negeri.
"Aku akan meminta Abyan lebih mengawasi mereka."
"Ya, untung Nyonya Besar sangat jauh berpikir. Ia menaruh Abyan disana," ujar Iskhak menghela nafasnya.
"Nyonya Besar pernah mengatakan padaku, tidak ada yang ia percaya selain aku, kau, Lydia, dan Prasojo. Ia memilih Abyan karena ia keponakanku. Nyonya Besar sangat menyayangi dan menjaga cucunya, satu-satunya penerus di Kelurga Pradipta. Ia juga sangat sedih karena anggota Keluarga Pradipta hanya akan tersisa Tuan Muda sampai ia berharap cucunya akan memiliki banyak anak."
Hampir setiap hari Abyan diwajibkan untuk melaporkan keadaan Rayyendra di sana. Apa saja yang dilakukannya dan bagaimana pergaulannya, terutama dengan Ramona tanpa Rayyendra ketahui.
"Paman, aku tidak bisa memaksa untuk melarang Ray bergaul dengan Ramona," ujar Abyan di telepon.
Ia memanggil nama Tuan Muda dengan namanya langsung karena dia dan Rayyendra adalah teman akrab, ditambah Bona Santoso, mahasiswa dengan asal negara yang sama, belajar di universitas yang sama dan juga tinggal di satu gedung apartemen yang sama, bedanya ia berada disana dengan biaya sendiri karena keluarganya memiliki perbelanjaan ritel terbesar di negerinya dan pasti selalu ada di setiap kota besar.
"Baiklah, tetap awasi dia."
"Paman, kurasa Mona gadis yang baik. Rayyendra juga terlihat nyaman berada di dekatnya."
"Jangan terlalu cepat menilai seseorang. Aku sangat mengenal ayahnya, sedikit banyak didikan orangtuanya akan mempengaruhi karakternya. Jangan gegabah, Yan. Jalani harimu dengan biasa, tetap berada di samping Tuan Muda dan tetaplah sadar jika ia meminum alkohol."
"Baik, Paman. Hahahhahaha...... sampai kapanpun saya tidak akan meminum minuman keras, Paman. Ray sudah sangat mewanti-wantiku sejak aku memuntahinya hahahaha ...." gelak Abyan.
Ramona dikenal oleh Rayyendra, Abyan dan Bona sebagai gadis yang baik dan manis. Ia sering bercerita pada mereka bahwa ia kerapkali dipaksa ayahnya untuk melakukan apa yang ayahnya perintahkan termasuk dimana ia berada sekarang, sama sekali bukan keinginannya, namun bagian misinya untuk menjerat Tuan Muda Pradipta tentu ia tidak sampaikan.
"Mengapa ayahmu jahat sekali? Bagaimanapun kau putrinya, Mon. Tidak seharusnya dia memperlakukanmu seperti itu," sahut Rayyendra ketika Mona mengatakan perangai ayahnya sangat buruk ketika marah, ia bisa saja melukai fisiknya, sangat berbeda jika itu adiknya, meski jelas-jelas salah tetap dilindungi.
Mereka sedang berkumpul saat musim dingin di tahun ketiganya di suatu kafetaria. Mona mencoba menarik perhatian dan iba dari sosok Rayyendra. Bukan karena perintah ayahnya yang menyuruhnya untuk mendekati Rayyendra tapi karena ia merasa telah jatuh cinta pada lelaki itu. Mona bisa merasakan ketulusan yang diberikan padanya, walau hanya sekedar perhatian. Diluar sifat Rayyendra yang angkuh dan arogan juga pemaksa, ia bisa membuat seorang wanita tersanjung. Ia memang dididik Nyonya Besar untuk menghargai dan menghormati wanita, tidak heran hampir semua teman wanitanya yang mengenal sosok Tuan Muda Pradipta akan menyukainya termasuk Ramona.
"Dia mau kau bagaimana dan seperti apa?" selidik Abyan.
"Engg ... entahlah. Aku juga bingung ayahku mau aku seperti apa."
"Ini pesanan Anda, Nona. Silahkan menikmati."
Seorang gadis muda berambut coklat membawa nampan yang berisikan dua kaleng softdrink, dua gelas susu coklat hangat dan sepiring kentang goreng. Ramona langsung berdiri setelah mengucapkan terima kasih pada pelayan itu lalu meletakkan sepiring kentang goreng di tengah meja, softdrink untuk Abyan dan Bona, sedangkan susu coklat hangat untuknya dan Rayyendra.
__ADS_1
Air muka Rayyendra berubah, alisnya menaut melihat gelas di depannya.
"Mon, bukannya kau tahu kalau Ray tidak suka minum susu coklat hangat," ujar Bona pada Mona tapi matanya melirik ke arah Ray.
"Aku tahu, tapi kan, sekarang udara sangat dingin, dia butuh sesuatu yang hangat," balas Mona tersenyum ke arah Ray, ia mencoba memberi perhatian lebih dari sekedar kawan, sayangnya Ray justru menunjukkan wajah marahnya.
"Lalu kenapa kau memberi kita softdrink? Pesankan saja semua minuman yang sama kalau begitu," timpal Abyan yang membuat Mona kesal.
"Kalian sudah tahu apa yang aku suka dan tidak suka. Jangan sekalipun memberiku bahkan memaksaku untuk menyukai apa yang tidak aku suka apalagi dengan sengaja. Aku menahan marahku padamu Mona, karena kau teman baikku tapi kuharap kau tidak mengulanginya lagi." Ray menunjuk jarinya dengan arogan di depan muka Ramona yang pias.
"Ma-- maaf, Ray. Aku-- aku hanya-- " sahut Mona terbata-bata tapi ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya, bibirnya kelu, matanya sudah memerah.
"Hanya apa?!?" Suara Ray meninggi.
"Hanya ingin memberimu perhatian, Ray. Ahh... kau pasti akan semakin marah kalau aku mengucapkannya dan akan menghindariku. Aku tidak mau, tidak mau .... Aku akan menuruti apa yang kau mau, Ray. Apapun itu."
Air mata Ramona berhasil lolos dari salah satu matanya jatuh ke pipi.
"Sudahlah, Ray. Susu coklat saja jadi masalah," seloroh Bona mencoba mencairkan suasana yang tegang di meja mereka.
Ray mendelik ke arah Bona dengan mata yang memperingatkan, Bona langsung menutup mulutnya, lalu mengusap-usap bahu Mona untuk menabahkan hatinya.
"Yan, kita cabut. Moodku sudah tidak ada di meja ini " kata Ray beringsut berdiri, meraih jaket dan tasnya diikuti Abyan.
Bona menggelang-gelengkan kepalanya, "Tuan Muda itu arogan sekali kalau hatinya tersentil, padahal hanya masalah sepele."
"Maka biasakanlah dirimu seperti itu kalau masih ingin berada di dekatnya. Kita semua tahu sifatnya, bisa berubah 180 derajat jika suasana hatinya berubah. Susu coklat hangat kita melihatnya sepele, tapi tidak bagi Ray," sahut Abyan kemudian menyusul langkah Rayyendra.
"Lihat, si jongos itu sok tahu! Dia seperti asisten pribadinya saja, huh! Sudahlah Mona, kau juga, sudah tahu dia tidak suka susu coklat hangat, karena itu akan mengingatkannya pada ayahnya yang tiap malam selalu memberikan Ray segelas susu coklat hangat. Kau membawa kenangan pahit padanya, beda hal kalau yang kau berikan itu susu vanilla, strawberry atau rasa apapun selain coklat," ujar Bona menghela nafas panjang.
Ramona mengerti, sejak saat itu ia bertindak sesuai apa yang disukai Ray dan meniadakan apa yang Ray tidak sukai sampai ketika Ramona meminta Ray untuk menjadi kekasihnya, Rayyendra tidak keberatan karena tidak ada kata penolakan pada sosok Ramona untuknya.
"Abyan, bagaimana bisa Ramona dan Tuan Muda menjadi sepasang kekasih?" gusar Sasmita.
"Entahlah Paman, selama ini yang ada dalam otak Ray hanya Pradipta Corp. Apa yang membuatnya tiba-tiba menyatakan Ramona sebagai kekasihnya di rapat evaluasi tadi, saya juga tidak tahu, yang saya tahu Ramona pandai merengek padanya. Bahkan parahnya saya yang harus mengerjakan semua tugas direktur di Prad's Fashion & Style karena Ramona tidak bisa melakukannya, huuffffttt ... "
Jawaban Abyan tidak memuaskan pamannya. Sasmita yakin Sebastian merencanakan sesuatu dengan memperalat putri angkatnya, tapi ia masih samar melihat apa tujuan Sebastian sesungguhnya.
Ingin rasanya ia mengenalkan Rayyendra ke banyak wanita untuk mengalihkannya dari Ramona, tapi seperti yang Abyan katakan, dalam pikirannya hanya ada Pradipta Corp., tidak ada wanita yang bisa menarik perhatiannya kecuali berhubungan dengan urusan pekerjaan.
Hanya Ramona, wanita satu-satunya yang Rayyendra anggap 'ada' diluar urusan pekerjaan karena ia sudah mengenal terlebih dahulu sebelum memimpin Pradipta Corp. Perhatian Rayyendra tidak teralihkan sampai ada seorang mahasiswi yang berani bertanya padanya di kuliah umum, bukan bertanya sebenarnya, lebih tepatnya menyindir Tuan Muda Pradipta di depan umum.
__ADS_1
🍀 flashback off 🍀
Abyan terperangah mendengar bahwa Ramona adalah putri angkat Sebastian.
"Pantas saja dia memperlakukan Mona sangat berbeda dengan adiknya. Sebastian sangat licik! Dia memperalat Ramona untuk kebenciannya sendiri, heh-- tapi perasaan Mona ke Ray tulus, Paman. Dia pernah mengatakan bahwa dia menemukan sosok yang melindunginya yang tidak ia dapatkan dari lelaki manapun termasuk ayahnya."
"Apa kau yakin?"
Abyan mengangguk, "Untuk satu ini aku sangat yakin. Aku melihatnya sendiri, matanya selalu berbinar jika berada di dekat Ray, meski Ray sering mengacuhkannya," jawab Abyan.
"Tapi sekarang, Ramona harus menguburkan harapannya. Binar mata seperti yang ada di matanya, sekarang aku melihatnya di mata Ray ketika melihat Litha," sambungnya lagi.
Sasmita menepuk pundak keponakannya beberapa kali, "Harus diakui Nyonya Muda adalah penolong Keluarga Pradipta. Sifatnya mirip dengan Nyonya Besar yang juga menyelamatkan Pradipta Corp. waktu itu."
"Bukan mirip, Paman, tapi Litha memang titisan Nyonya Besar, hahahahahaha ..."
"Sebutlah Nyonya Muda, jangan namanya meski Nyonya memintamu demikian."
"Hehehe iya, Paman, maaf." Abyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sebastian tidak akan menyerah, dia akan memikirkan cara lain untuk menghancurkan keluarga yang pernah menyelamatkan nyawanya. Jika Ramona mengadukan hal kemarin, maka bisa dipastikan bahwa Nyonya Muda dalam keadaan tidak aman. Aku akan menjaganya, tapi di saat aku tidak ada, kau yang harus menjaganya. Letakkan prioritas Nyonya Muda di atas Tuan Muda, karena setidaknya Tuan Muda cukup kuat untuk melindungi dirinya sendiri."
Abyan mengangguk mengerti, lalu mereka segera menghentikan pembicaraan setelah mendengar suara Ray memanggil namanya.
"Yan, siapkan segalanya, lusa kita kembali ke Ibukota. Litha sudah diizinkan dokter untuk naik pesawat," titah Ray sambil berlalu menuju kamar tidurnya, tangannya menggenggam erat jemari istrinya dengan senyuman. Litha hanya membalas dengan tersenyum malu.
"Baik, Tuan."
"Ambillah semua yang dibeli istriku selama kami pacaran tadi di alun-alun. Bagikan pada siapa saja yang mau," katanya lagi sambil berjalan sambil menciumi punggung tangan Litha yang masih tersenyum malu.
"Hah?!? Alun-alun? Apa yang dibeli dan kenapa dibeli kalau tidak menginginkannya?" tanya Abyan keheranan.
"Ya karena istriku maunya seperti itu," sahut Ray sebelum ia dan Litha menghilang di balik pintu, lalu terdengar bunyi pintu kamar mereka dikunci dari dalam disertai suara tawa dan teriakan-teriakan kecil milik Litha.
Abyan penasaran apa yang dibeli Litha tapi tidak menginginkannya. Ia segera ke depan rumah melihatnya, dan apa yang dilihatnya membuatnya menghela nafas panjang.
"Berapa banyak pedagang yang Nyonya borong habis dagangannya?" gumam Abyan melihat Bu Saroh yang kebingungan menghadapi bungkusan minuman jahe hangat dengan isian khas Kota A yang memenuhi seluruh bagian dalam mobil kecuali bagian pengemudi dan penumpang di samping pengemudi.
Bu Saroh hanya menggeleng, "Lalu ini semua mau diapakan, Tuan?"
"Bagikan ke siapa saja lah, Bu. Kepalaku tiba-tiba pusing," jawab Abyan dan meninggalkan Bu Saroh sambil memijit dahinya sendiri.
__ADS_1
- Bersambung -