
Warning : Dilarang Baper di akhir tulisan, karena ini hanya Bonus Chapter, tidak ada kelanjutannya 😁
...***...
Ray menghela nafas panjang duduk di kursi Presdir. Sudah enam bulan dirinya tidak menyentuh Litha sejak melahirkan putranya. Ia heran apakah masa nifas selama itu? Terkadang ia memang melihat istrinya mengenakan pembalut. Saking penasaran, ia bahkan menanyakan langsung pada dr. Lena.
"Masa nifas seorang ibu yang baru saja melahirkan berbeda-beda Tuan. Tergantung hormon dan kondisi tubuhnya," jelasnya di telepon.
Namun, bisikan adik iparnya kemarin pagi saat Litha menyusui Zean di kamar membuatnya terkejut.
"Kakak, aku kini berada di pihakmu karena kau sangat baik padaku. Maka dari itu, aku akan memberitahumu sebuah rahasia besar Kak Litha."
"Rahasia apa? Aku dan Litha tidak pernah menyimpan rahasia diantara kami."
"Cih. Tentang Keraja--"
Ray menutup mulut Nia dengan tangannya, "Kecuali itu. Awas saja kalau kakakmu sampai tahu, itu artinya kau dalam masalah besar."
Vania terbahak, wajah Tuan Muda yang ditakuti banyak orang terlihat sangat lucu ketika ia takut kalau istrinya mengetahui siapa dirinya sebenarnya lalu meninggalkan rumah Keluarga Pradipta ke istana Kerajaan Sungai Bulan karena posisinya sebagai calon pemimpin kerajaan itu.
"Tidak usah khawatir, Kak. Aku juga tidak tertarik dengan kerajaan antah berantah itu yang entah ada dimana."
"Lalu rahasia apa yang mau kau katakan?" tanya Ray.
"Apa masa nifas Kak Litha sudah selesai?"
"Kenapa kau bertanya?" Ray malah balik bertanya heran.
"Jawab saja."
"Belum."
"Lama ya."
"Entahlah. Aku juga tidak begitu paham mengenai keadaan biologis seorang perempuan. Berapa lama masa nifas dan menstruasi, dan setelah aku tanyakan ke dr. Lena ternyata tiap perempuan beda-beda ."
Lagi-lagi Vania terbahak. "Kak Litha membohongi Kakak."
"Apa maksudmu?"
"Kak Litha sudah lama selesai masa nifasnya, kira-kira dua minggu setelah hari kelulusanku."
Ray terdiam, berusaha mencerna kalimat adik iparnya.
"Kak Litha membohongi Kakak kalau dia masih dalam masa nifas, hahahahaha ..." Vania mengulang kalimatnya dengan lebih jelas hingga akhirnya Ray memahami maksudnya.
"Apa maksudmu? Kadang aku melihatnya masih mengenakan pembalut--"
"Itu Kak Litha lagi menstruasi, Kakak, bukan nifas. Dia mengatakan masih nifas karena takut didekati Kakak."
"Ta-- tapi kenapa? Apa yang dia takutkan? Bukankah sebelumnya juga kami melakukannya, kenapa dia mesti takut?"
"Kalau itu jangan tanya padaku, Kak. Tanyakan sendiri ke orangnya."
Ray kembali terdiam, mereka-reka segala kemungkinan yang membuat istrinya takut untuk ia dekati.
"Sudah ya Kak, aku mau ke kampus. Jangan lupa sebuah rahasia yang berharga itu tidak gratis."
"Isshh ... kau ini mata duitan sekali!"
Vania segera berlalu dengan tertawa keras dan meninggalkan Ray diantara spekulasi dalam otaknya.
Kini meski raganya di kantor, tapi pikirannya entah terbang kemana. Ia menatap sebungkus bubuk yang didapatnya dari Bona kemarin malam. Bubuk yang sama sewaktu Pak Sas mencampurkan ke dalam whisky sebelum dirinya kehilangan kendali.
"Apa aku harus menggunakannya? Litha tidak bersedia aku dekati, tapi kenapa? Apa dia tidak tahu betapa tersiksa suaminya selama 6 bulan menahan hasrat?" gumam Ray bermonolog.
Tok. Tok.
Pintu dibuka, Litha masuk dengan gaun terusan selutut warna merah.
"Sial! Kenapa dia memakai warna merah? Seperti sengaja menantang kejantananku," bathin Ray gelisah.
"Mas ..."
"Ah ya. Kenapa?"
"Lah, kok malah nanya ... Mas kenapa? Apa ada yang dipikirkan sampai melamun seperti itu?"
"Tidak-- tidak ada."
"Asisten Yan mana?"
"Dia menggantikan aku rapat hari ini. Aku ingin membawamu ke suatu tempat."
"Wah, dalam rangka apa?"
"Tidak-- A-- aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat saja. Sudah lama kita tidak pergi berdua. Aku sibuk bekerja, kau sibuk mengurus Zean," ujar Ray memberi alasan semasuk akal mungkin.
"Begitu rupanya. Baiklah. Zean sudah aku titipi di Bibi Lidya, dia tidak akan kekurangan ASI karena stoknya banyak di freezer. Ayo kita pergi!"
Ray segera menyimpan bubuk itu dalam saku celana dan menggandeng tangan istrinya keluar. Mereka akan ke Grey Savanna Restaurant untuk makan siang terlebih dahulu. Sebenarnya ia ingin menanyakan alasan Litha membohonginya, namun bagai terhipnotis dengan mata dan senyuman milik istrinya, mulutnya kaku hingga tidak mampu mengucap pertanyaan.
"Kenapa kau magis sekali, Litha? Padahal aku tidak pernah sebelumnya mentolerir siapapun yang membohongiku. Aku akan sangat marah sekali dibohongi, tapi kenapa aku bisa memakluminya untuk dirimu, aaarrgghhh ...," sengit Ray dalam hatinya
"Mas kenapa? Lagi-lagi melamun, kalau ada yang mau disampaikan, sampaikan saja, jangan jadi batu di dalam hati," kata Litha mengiris steaknya.
"Setelah ini, aku mau mampir ke apartemen. Temani aku disana ya,"
__ADS_1
"Tumben. Ada apa?" Litha menghentikan makannya.
"Aku hanya ingin istirahat. Aku lelah."
"Kalau begitu kita pulang saja. Aku akan memijat Mas."
"Pijat aku di apartemen."
" ... "
Litha diam, meragu.
"Kenapa tiba-tiba dia mau istirahat ke apartemen?" bathin Litha sedikit kalut.
"Tidak keberatan, kan?"
"Enggg ... sebenarnya tidak, hanya saja kasihan Zean--"
"Apa tidak ada alasan selain Zean? Sudah ikuti perintahku! Temani dan pijat aku di apartemen sepulang dari sini. Aku lelah sekali."
"Mas tidak makan dulu sebelum beristirahat?"
Ray menggeleng, "Kau saja yang makan."
"Aku tidak berselera selain ingin memakan tubuh dibalik baju merahmu itu, Lith."
.
.
.
"Mas, apa ini tidak berlebihan?" tanya Litha melihat Ray mengunci pintu apartemennya setelah mereka masuk.
"Berlebihan bagaimana maksudmu?"
"Mmm ... maksudku hanya ada kita berdua disini."
"Lalu? Digrebek pun juga tidak masalah, kita kan suami istri."
"Ahhhh ... ya... "
Litha baru menyadari ketakutannya disadari oleh suaminya sendiri, ia harus memutar otak untuk segera keluar dari apartemen. Kalau di rumah utama ada banyak alasan yang ia gunakan, dan alasan putranya adalah alasan yang paling tidak bisa ditolak suaminya jika muncul gelagat aneh seperti ini.
"Lith, kenapa kau membohongiku?"
Akhirnya terucap juga pertanyaan itu. Litha gelagapan pura-pura tidak mengerti.
"Sudahlah, kau tidak usah menghindar lagi. Aku ingin bertanya padamu, jawab dengan jujur. Apa kau masih dalam masa nifas?"
" ... "
"Mas, a-- aku--"
"Sudahlah. Aku tahu kau bohong, kau akan segera menjawabnya jika merasa benar. Tapi ini tidak, artinya kau sudah membohongiku. Aku tidak memaksamu untuk mengatakan alasannya tapi aku akan memaksamu jika menolak melayaniku."
"Aku tidak berbohong, Mas."
"Masih mengelak, ha?!? Nia mengatakan masa nifasmu selesai 2 minggu setelah kita pulang dari Kota A."
"Dasar Tawon! Katanya kau akan selalu mendukungku, tapi apa sekarang? Mentang-mentang kau dihadiahi mobil saat ulangtahun, jadi kau ada di pihaknya." bathin Litha kesal.
"Mas-- Tunggu-- Ini sudah waktunya aku menyusui Zean, kasihan dia nanti menangis terus, ingin minum susu." Litha sibuk mencari alasan.
"Bukankah kau bilang tadi stok ASI mu banyak di freezer. Kurasa Bibi Lidya bisa mengatasinya. Lagian kau bisa memompanya disini, aku sudah menyiapkan alatnya. Aku akan cuti dua hari, kau akan menemaniku disini selama aku cuti."
"Tapi-- bukannya tadi Mas bilang lelah. Apa sebaiknya istirahat dulu? "
Ray menghela nafas, "Aku lelah kau membohongiku dan membiarkanku puasa setengah tahun. Kau bersiaplah di kamar, aku ingin minum dulu."
Litha tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia juga tidak bisa menolak kewajibannya, istri macam apa yang tidak mau memenuhi kebutuhan biologis suaminya. Tentu ia tidak mau melihat suaminya memenuhi kebutuhan itu di wanita lain.
Perasaan gamang menyergapnya saat masuk ke dalam kamar. Berjalan mondar-mandir seperti setrikaan, Litha kesal sekali pada adiknya, dengan menggeram tertahan ia mengirim pesan chat.
Nia, tanggungjawab! Kenapa kau memberitahu Kakakmu kalau nifasku sudah selesai. Sekarang dia mengurungku di apartemennya. Aku tidak mau tahu! Cepat cari alasan dan segera keluarkan aku dari sini! SEKARANG!!!
Di dapur, Ray mengambil air dingin dari kulkas, ia menuang air sebanyak tiga perempat dari ukuran gelas, lalu dikeluarkannya sebungkus bubuk putih dari saku celana. Sempat ragu tapi refleks motorik tangannya tanpa sadar bergerak mencampuri segelas air putih dengan bubuk itu. Belum sempat mengaduk ponselnya berdering, ternyata Abyan yang meneleponnya untuk urusan pekerjaan yang ia gantikan.
"Ya, halo Yan, apa ada masalah?"
Ray mengangkat telepon dari Abyan dan berjalan ke balkon, di depan pintu kamar ia berpapasan dengan istrinya yang sudah berganti lingerie, ia lalu mengisyaratkan untuk menunggu karena ada hal yang harus ia selesaikan dulu dengan Abyan di telepon. Litha mengangguk mengerti dan berjalan ke dapur.
"Aku tahu aku istrinya yang berkewajiban melayaninya di atas ranjang, tapi ya aku takut saja. Takut dia akan melakukannya dengan kasar karena sudah tidak ada Zean dalam perutku." kata Litha dalam hatinya dengan gusar.
Ia merasakan jantungnya berdetak lebih cepat, hatinya tidak menentu dan tangannya dingin, ia merasa sangat gugup membayangkan apa yang akan dilakukan suaminya setelah menutup telepon dari Abyan,
"Semoga Asisten Yan meneleponnya lebih lama," gumam Litha yang tanpa ia sadari sudah menenggak habis air putih di gelas yang sudah dicampur dengan obat perang*sang oleh suaminya.
Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit berlalu. Harapan Litha terkabul Abyan menelepon Ray lebih lama dari biasanya.
"Maaf Lith, aku membuatmu menunggu la--"
Demi apapun, Ray terperanjat melihat isi gelas di meja dapur tandas, "Lith, jangan bilang kau meminumnya."
"Aku-- tadi aku gugup sekali jadi tidak sengaja meminum airmu. Maaf-- tapi kenapa setelah meminumnya aku merasa panas padahal lingerie ini sangat tipis."
Ray menepuk dahi, ia ceroboh sampai membuat Litha yang meminumnya.
__ADS_1
"Mas, maafkan aku-- sudah membohongimu. Tidak seharusnya aku-- sebagai istri selalu menghindarimu. Tapi sekarang aku akan melayanimu."
Ray memperhatikan tubuh Litha sudah bereaksi karena obat itu. Matanya sayu, mimik wajahnya yang penuh damba membuat tongkat sakti milik Ray memberontak lepas dari celana kantor yang masih ia kenakan.
Tapi ...
"Heh, kenapa tidak terpikirkan olehku. Dari kemarin aku ragu mengkonsumsinya karena aku takut diluar kendali dan menyakiti tubuhnya. Ya ... seharusnya kuberikan saja padanya, hahahaha ... jadi dia tidak akan menyalahkan aku karena dia yang ingin sendiri hahahahahaha ...." Ray tertawa senang.
"Mas--"
Geliat Litha tidak karuan, ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba tubuhnya sangat menginginkan suaminya.
"Apa?" tanya Ray sok jual mahal, padahal bagian tubuh di antara selang*kanganya juga menuntut lebih.
"Apa Mas menginginkanku?"
Litha sudah tidak bisa menguasai hasratnya lebih lama, ia berjalan perlahan mendekati suaminya, dengan langkah dan gerakan erotis nan menggoda membuat Ray harus mengatur nafasnya yang sudah mulai memburu.
"Kenapa kau membohongiku?" tanya Ray masih sok jual mahal.
Litha diam, dia tidak ingin memberitahukan ketakutannya karena ia pernah mengatakan sudah melupakan dan menguburkan kejadian dimana ia dirudapaksa suaminya. Inginnya seperti demikian, tapi kenyatannya, bayangan kejadian itu kadang mengikuti jika Ray mulai menyentuhnya. Dan jika hal ini diketahui suaminya, Litha takut Ray akan merasa bersalah lagi padanya. Tapi, sekarang ia tidak bisa membohonginya lagi, ada desakan dari dalam tubuh yang mengatakan kalau ia tidak jujur maka tubuhnya akan tersiksa.
"Aku-- takut-- Mas melakukannya seperti pertama kali saat memaksaku."
Ray terhenyak, seketika rasa bersalah menderanya, "Kenapa kau berpikir seperti itu? Bukankah setelah itu aku melakukannya dengan baik?"
"Kupikir karena-- ada Zean di perutku, jadi-- kau melakukannya dengan perlahan."
Ray tersenyum, kepolosan istrinya soal hal-hal intim kadang membuatnya semakin menggemaskan,
"Bagaimana bisa kau berpikir kalau aku melakukannya dengan perlahan karena ada Zean di perutmu, padahal nyatanya kau yang lebih agresif di atas ranjang, hahahahaha ...."
Ray tertawa terbahak-bahak, terlebih melihat muka istrinya semerah tomat matang. Litha tidak menyangkal karena selama hamil memang hormon esterogennya meningkat pesat sehingga menjadi lebih agresif.
"Aku akan melakukannya dengan penuh perasaan, hanya saja aku akan mengimbangimu hasratmu kali ini," kata Ray, ia membuka kancing kemejanya satu persatu dengan pelan, sengaja.
"Maksudmu?" Litha mulai terengah-engah mengatur nafasnya, setengah mati menahan gejolak hasrat yang kian meninggi
Ray menjawab pertanyaan istrinya dengan membalikkan tubuhnya dan menggigit lembut daun telinga, lalu turun menyesap area sensitif di belakang telinga hingga tengkuk seraya kedua telapak tangannya yang besar mere*mas gudang susu putranya. Litha sudah tidak tahan lagi, tubuhnya semakin bergelinjang mendamba suaminya. Ray hanya tersenyum ketika istrinya menatapnya dengan tatapan sayu.
"Aku tahu kau juga merindukannya, kan? Zean hanya pengalihanmu saja," gumam Ray yang makin terbakar hasratnya.
Suara desa*han dan erangan mereka saling beradu hingga terdengar di telinga seseorang yang baru saja tiba di pintu. Ketukannya berhenti setelah orang itu menempelkan telinganya di pintu.
"Astagaaa ... Kenapa suara mereka bisa kedengaran? Apa apartemen ini tidak kedap suara? Atau mereka melakukannya di ruang tamu? Apa mereka pikir sedang di atas gunung yang bisa berteriak bebas, hah! Dasar!" gerutunya kesal sambil merogoh ponsel di dalam saku jaketnya. Ia membuka aplikasi chat dan mengetik di nomor kakaknya.
Yaelah Kak, bikin repot saja. Dibela-belain pinjam motor teman supaya cepat sampai, eh begitu sampai, kalian lupa diri sampai suaranya kedengaran keluar. Untung satu lantai ini hanya ada unit Kakak saja. Aiisshhhh ... sangat tidak sopan membuatku mendengar desa*han kalian.
Setelah mengirimkannya, ia tertawa dan bergumam, "Jebol juga, kan akhirnya? Gak mau, gak mau, takut ... tapi akhirnya mau juga, kan, malah ketagihan hahahahaha..."
"Apanya yang ketagihan?"
Sebuah suara dari lift mengagetkannya.
"Asisten Yan kenapa datang kemari?" tanya Vania panik.
"Ada berkas yang harus di tandatangani Ray. Kau sendiri ngapain kesini?"
Abyan balik bertanya dengan melangkah maju menuju pintu apartemen, tapi langkahnya terhenti mendengar suara yang seharusnya tidak terdengar.
"****! Apa mereka harus seperti itu. Memalukan! Ra--"
Vania langsung membekap mulut Abyan dengan meloncat dan menunggangi punggung lelaki itu karena tubuhnya yang tinggi besar.
"Jangan teriak dan mengganggu kesenangan orang. Ayo kita pulang saja!"
"Turun!" Abyan berusaha melepaskan tangan Vania dari mulutnya dan membebaskan diri dari tunggangan Vania.
"Aku akan turun jika kau membawaku ke lift!"
Abyan terpaksa berbalik arah ke lift dengan posisi Vania yang nemplok di punggungnya. Setelah pintu lift baru Vania menurunkan dirinya.
"Maaf. Aku melakukannya agar kau tidak mengganggu Kakak," kata Vania canggung.
"Kenapa kau sekarang terlihat menjauhiku?" Abyan mengalihkan topik pembicaraan.
"Aku hanya tidak ingin membuang waktuku."
"Membuang waktu katamu?" suara Abyan meninggi, herannya Vania tidak terpancing.
"Aku tidak ingin berdebat denganmu. Kita hanya memperdebatkan hal yang tidak jelas. Aku lebih senang berdebat dengan teman-temanku di kampus, lebih berisi."
"APA?!? Setelah mendapat teman baru dengan angkuhnya kau berkata berdebat denganku hanya omong kosong."
Abyan yang emosi mengungkung Vania hingga wajah mereka hanya berjarak 5 centimeter, mereka bisa saling merasakan hembusan hangat nafas masing-masing.
"Mungkin bagimu tidak, tapi masalah hatimu dengan dokter itu bagiku sama sekali tidak ada artinya."
"Please ... jangan cium aku lagi! Kau akan menanggung akibatnya," pekik Vania dalam hati dengan mata terpejam.
"Bulan ini tak lagi kesiangan ... Cantik." gumam Abyan dalam hati semakin mendekatkan wajahnya.
Ting.
Pintu lift terbuka, dengan tangkas Vania melepaskan diri dari kungkungan Abyan dan berlari menuju motor yang ia pinjam dari kawannya, Nezar.
...***...
__ADS_1