
Anak muda itu sebenarnya mengantuk karena dari dini hari ia harus bersiaga dengan kamera warisan ayahnya di kantor polisi mengikuti Si Senior. Tapi ia tidak bisa memejamkan matanya, dirinya dikejar rasa bersalah yang teramat sangat. Menyebarkan sebuah foto yang bisa menimbulkan fitnah dan merusak hubungan harmonis sebuah rumah tangga.
"Ya Tuhan, dosa besar aku kalau sampai Tuan Muda dan istrinya bercerai. Bagaimana ini?!? Oh, tidaaakkk ... Padahal Nyonya begitu baik dan aku menyakitinya, bagaimana kalau terjadi apa-apa, aku bisa terkena sial ..." Nezar mengutuk dirinya sendiri di kamar kost, menyesali perbuatannya.
.
.
.
Sementara itu, tidak dipungkiri walaupun Litha melakukan penyangkalan dalam hatinya bahwa suaminya khilaf ia tetap merasa sakit, hingga terbersit kembali keraguan dalam hatinya seperti saat awal ia menjalani rumah tangga sesungguhnya dengan Ray.
"Nyonya, saya ijin ingin membawa Nyonya ke suatu tempat, maaf jika Nyonya tidak bersedia," sahut Pak Sas dari balik kemudinya.
"Kemana Pak?"
"Ke makam Nyonya Besar, disana Anda bisa mengadu padanya biar nanti malam saat tidur, Nyonya Besar akan mendatangi cucunya untuk memberi pelajaran karena nakal."
Litha tergelak sampai perutnya bergoyang, "Pak! Memangnya aku anak kecil yang sedang menangis apa? Lalu diceritakan hal seperti itu supaya berhenti tangisannya."
"Dalam diri kita yang dewasa, sebenarnya masih ada sifat anak-anak, jadi perlakuan seperti anak kecil kadang menjadi cara ampuh untuk menghibur diri meski kita tahu itu hal yang konyol."
Litha terdiam, ia membenarkan apa yang dikatakan asisten pribadinya. Ia tersenyum, "Sebelum kita ke makan Nenek, singgah sebentar di toko bunga, aku ingin membeli bunga segar."
Tibalah Litha dengan Pak Sas yang berkacamata hitam berada di belakang Nyonya Mudanya. Usianya sudah tidak muda lagi tapi sikap dan kompetensinya sebagai pengawal pribadi boleh diadu dengan usia yang lebih muda.
Litha meletakkan sebuket bunga Lily putih kesukaan Nenek dan juga dirinya di dekat nisan.
"Nek, ini pertama kalinya aku mengunjungi Nenek setelah menikah dengan cucu kesayanganmu. Entah apa alasannya sampai Nenek mewasiatkan pernikahan kami sebagai permintaan terakhir. Dan lihat sekarang hasil perbuatan cucumu itu yang membuat perutku berisi bayi, penerus keluarga Pradipta. Apa ini yang Nenek inginkan?"
Awalnya Pak Sas tersenyum mendengarnya, tapi diujung kalimat Pak Sas mendengar ada getaran samar dalam suara Litha.
"Mengapa Nenek menginginkan aku yang mengandung penerus keluarga Pradipta? Padahal saat itu ada wanita yang lebih siap, kenapa Nenek tidak memilihnya saja? Toh dia yang mencintai lebih dulu cucu kesayangan Nenek yang congkak itu. Dengan begitu, tidak akan ada yang tersakiti, baik cucumu, aku dan Ramona, semua akan berjalan pada relnya. Rel ku bukan di kelas Keluarga Pradipta, rel ku hanya berada pada kehidupan sederhana di Kota A."
Suara Litha perlahan terdengar pelan, Pak Sas bisa merasakan sakitnya hati calon ibu di depannya. Ia berusaha tidak menangis, ia berusaha menahan itu semua.
"Tapi aku sangat bersyukur, Nek. Cucumu bisa membuatku jatuh cinta pertama kali pada seorang laki-laki selain ayahku. Aku bisa merasakan cinta dalam kehidupanku, bahkan aku dengan sukarela memanggil cucumu itu Mas, sebutan yang sangat sakral dalam hubungan pria wanita buatku. Mas Rayyendra memperlakukanku seperti seorang ratu, membahagiakanku sepenuhnya sampai aku takut kalau dia sudah menghabiskan jatah kebahagiaanku di dunia ini. Dia membuatku yakin bahwa aku satu-satunya wanita dalam kehidupannya yang tidak bisa ditukar apapun. Makanya hatiku sangat sakit melihatnya memeluk Ramona. Aku tidak rela Nek, aku tidak ikhlas kalau wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu suami yang sangat aku cintai karena bahu itu sandaranku."
Sampai disini airmata Litha luruh, sedari tadi ia menutupi perasaannya, ingin tetap terlihat tegar, tapi pada akhirnya ia harus mengakui kalau perbuatan suaminya mengiris-iris hatinya. Pak Sas yang dikenal manusia tanpa ekspresi pun sampai menyeka sudut matanya yang berair, beruntung ia menutupinya dengan kacamata hitam.
Litha menangis sesenggukan, Pak Sas dengan sigap memberikan saputangannya untuk dipakai mengusap airmata.
"Apapun alasannya aku tetap tidak bisa terima, Nek, karena Mas Rayyendra hanya milikku. Hehehe ... aku egois ya, Nek."
Getir suara Litha menyayat hati Pak Sas.
"Apa mungkin di dalam hatinya masih ada sisa cinta untuk Ramona? Kalau benar, itu tidak adil buatku. Aku memberinya seluruh cintaku padanya hingga tak bersisa, seharusnya dia juga seperti itu, tidak boleh menyisakan sedikitpun cintanya pada yang lain meski hanya seujung kuku. Aku bisa menjaga rasa cintaku sampai aku mati Nek, apa salah kalau aku juga berharap seperti itu padanya?"
Pak Sas terhenyak dengan penuturan Litha.
"Nenek ... aku mau Nenek menghukumnya karena dia nakal, dia telah menyakiti perasaanku. Datanglah ke mimpinya malam ini Nek, marahi dia dan pukul lah tangannya agar tak sembarangan memeluk wanita selain istrinya."
Pak Sas terkekeh mendengar permintaan konyol Nyonya Mudanya, tapi ia biarkan karena dengan begitu Litha bisa membebaskan hatinya dari rasa sakit, ia tidak ingin rasa sakit itu bertumpuk dan menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Aku pamit dulu ya, Nek. Berikutnya akan ku seret Suamiku untuk kesini bersamaku mengunjungi Nenek. Dia tidak pernah mengajakku karena dia takut aku mengadu perbuatan nakalnya pada Nenek."
Litha berbalik, dan menundukkan kepalanya pada Pak Sas. Pria itu kaget diberi hormat dari majikannya.
"Terimakasih Pak Sas, sudah membawaku kesini, hatiku jadi lebih lega. Ternyata rasa sakit itu sebaiknya memang harus dikeluarkan ya, hhhmmppffhh ... Lihat saja, akan kuberikan pelajaran buat Tuan Muda Congkak itu supaya tidak mengulangi kesalahannya."
Pak Sas kembali terkekeh, mood Litha sudah kembali normal, itu nampak jelas terlihat karena matanya tidak bisa berbohong. Mata itulah yang menjadi alasan Nyonya Besar memilih Litha menjadi cucu menantunya, karena mata Litha selalu tulus.
"Ayo Pak Sas, kita pulang tapi sebelumnya singgah dulu ke Luxury Boutique. Oh ya, jangan ceritakan pada Suamiku kalau aku meratapinya di makam Nenek ya, harga diriku bisa jatuh kalau dia tahu. Iiihhh, besar kepala sekali dia nanti."
"Hahahaha ... tenang saja Nyonya. Tuanku adalah Nyonya, bukan Tuan Muda." gelak Pak Sas.
"Waaahhh baru kali ini kulihat Pak Sas tertawa sekeras itu. Hahahahaha ..."
Pak Sas kembali tertawa, mereka pun tertawa bersama saat keluar dari area pemakaman.
...***...
Hari sudah lewat petang namun Ray gelisah bukan kepalang, jadwal hari ini berantakan. Ia tidak bisa bekerja, pertemuan dan rapat yang terjadwal hari ini semua digantikan oleh Firza, tentunya disertai umpatan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hari ini aku menjadi orang paling bodoh sedunia, damn ...!!!" Ray memaki dirinya sendiri setelah Bona pamit pulang.
"Kapan kau bisa mandiri, Ray? Baru aku tinggal sebentar saja kau sudah melakukan hal bodoh. Heh, kau lihat! Tuan Muda Pradipta sudah kehilangan citranya, sekarang semua orang berempati pada istrimu. Kau berani lihat harga sahammu besok? Kalau turun melebihi ambang batas, rapat terbatas akan segera diadakan dan kau harus mempertanggungjawabkannya karena semua ini ulahmu," kata Abyan santai, memainkan ponselnya, membaca komentar-komentar negatif yang ditujukan pada Tuan Muda Pradipta dan Ramona.
Ray tidak bisa membantah asistennya, karena semua yang dikatakannya 100% benar. Tapi yang membuatnya pusing adalah bagaimana ia bakal menunjukkan muka di hadapan istrinya, ia sangat malu, apalagi dipukul telak sebelum Litha melangkahkan kaki menuju lift.
kalian adalah dua orang dewasa yang bisa membedakan hitam dan putih, hal baik dan buruk
Kalimat itu terngiang-ngiang menyentil harga dirinya. Ketika lagi melamun, tiba-tiba masuk nomor telepon yang tidak dikenal di ponselnya. Ray mengernyit heran, tidak ada yang tahu nomor telepon pribadinya kecuali orang-orang terdekatnya. Tapi ia angkat saja.
"Ha--"
"Kakak Ipar, apa benar foto-foto itu, ha?!?"
Ray terlonjak kaget di kursinya, Tawon ini tanpa tedeng aling-aling langsung mencecarnya.
"Heh, Nia. Sopan sedikit sama Kakak Iparmu! Ini nomor siapa?"
Abyan yang duduk di sofa mengernyitkan kening, "Kakak Ipar? Vania yang menelepon? Wah, kok bisa? Padahal dia di asrama, berani juga dia memakai telepon di sekolah."
"Ini nomor sekolahku. Aku meminta ijin menelepon Kakak Ipar untuk menanyakan kebenaran foto itu. Apa benar?"
"Emmm ... Ya."
"Wah ... Kakak Ipar cari mati rupanya, aku akan izin pada wali kelas untuk ke Ibukota menghajar Kakak Ipar."
"Hah, kau tidak akan diizinkan tanpa alasan jelas?" Ray tertawa mencibir.
"Kakakku sakit dan dia perlu aku di sana."
"Hah. Jangan mengada-ada, Litha tidak sakit."
"Secara fisik memang tidak. Tapi hati jelas berdarah-darah, dan kutebak Kakak Ipar belum membalut luka hati Kak Litha, kan?"
"Sialan! Jaga ucapanmu, Nia!" Suara Ray meninggi.
"Kakak Ipar yang harusnya menjaga sikap! Sekali lagi Kak Litha pergi dari rumah Kakak Ipar, aku pastikan Kakak Ipar tidak akan pernah bertemu lagi dengan Kak Litha." Vania tidak kalah melantangkan suaranya hingga Abyan yang berjalan mendekati meja kerja Presdir bisa ikut mendengar. Untuk seterusnya ia mendekatkan telinganya ke arah ponsel Ray.
Tangan Ray mengepal, adik iparnya ini berani sekali melawannya, sama sekali tidak ada rasa takut pada suaranya.
"Apa cinta Kak Litha kurang besar? Apa dia tidak cukup baik melayani Kakak Ipar sebagai suami? Kenapa Kakak Ipar menyakiti hatinya?" Suara Vania tidak sekeras tadi tapi sangat terasa getaran pada kalimatnya.
"Nia, Ini tidak seperti yang kau kira. Aku mencintai kakakmu dengan seluruh hidupku."
"Lantas kenapa Kakak Ipar memeluk mantan pacar Kakak Ipar?"
"Agar dia bisa melepasku, agar dia berhenti berharap padaku, Nia. Aku melakukannya justru supaya dia tidak mengganggu rumah tangga kami."
"Kata siapa memeluk bisa melepas perasaan?"
"Ramona yang memintanya."
"Kakak Ipar bodoh!"
Pppfffttt ...
Abyan menahan tawanya, pria yang disegani oleh seantero pebisnis di negeri ini dikatai bodoh oleh seorang remaja perempuan.
"Kau bilang aku bodoh, ha!?!"
"Iya. Kakak Ipar memang bodoh! Memeluk untuk melepaskan, rumus dari mana itu? Yang ada akan semakin sulit lepas."
Ray terhenyak, menusuk tenggorokannya tidak bisa membalas karena kata-kata adik iparnya itu fakta. Abyan hanya menundukkan kepalanya menahan tawa menertawai kebodohan seorang Presdir.
"Aku mengenal Kak Litha dengan baik. Dia pasti menangis di suatu tempat, dia tidak akan menunjukkan kesedihannya di depan orang yang membuatnya sedih. Makanya aku mau ijin ke Ibukota, jemput aku Kakak Ipar!"
"Apa!?! Setelah kau mengataiku bodoh, kau suruh aku menjemputmu, dasar Ipar aneh! Tapi-- apa benar yang kau katakan? Sepertinya Litha baik-baik saja, dia masih bisa makan banyak tadi."
"Aku satu kamar dengannya sejak pisah tidur dari kamar Ayah dan Ibu. Aku sering memergokinya menangis di kamar kalau dimarahi Ayah atau Ibu, atau sesuatu terjadi di sekolah. Ia sangat pandai memanipulasi perasaannya."
Ray terdiam, ia tahu istrinya seperti itu.
"Ya sudah lah kalau Kakak Ipar tidak mau menjemputku. Selesaikan sendiri, bujuk dan dapatkan maaf darinya, karena kalau Kak Litha sampai naik kereta sendirian pulang ke Kota A, aku yang Kakak Ipar hadapi. Daaahhh."
__ADS_1
Tiiiittt.
"Apa!?! Dia seenaknya menutup teleponku sebelum aku mengizinkannya," kata Ray kaget menatap ponselnya, dan akhirnya Abyan meledakkan tawanya.
"Adik Iparmu memang juara, Ray! Dia tidak takut apapun, hahahaha ... Kau bukan saja takluk dengan Litha, tapi dengan adiknya juga, hahahaha ... Ayo kita pulang, dapatkan maaf dari istrimu kalau tidak, bukan Vania saja yang kau hadapi, tapi Firza juga. Dan ingat besok dia akan datang memastikannya, hahahaha ..."
.
.
.
Beberapa jam yang lalu di Luxury Boutique, Litha memilih dress yang muat dengan tubuhnya namun agak sedikit ketat dengan potongan leher sabrina dan satu set lingerie berwarna hitam yang seksi.
"Kubuat kau tersiksa, Rayyendra Putra Pradipta."
Saat Litha ingin membayarnya di kasir, ia bertemu Ramona lagi.
Ramona baru saja akan pulang setelah membereskan barang-barangnya setelah dipecat. Boutique ini terletak di lantai dasar gedung Prad's Fashion&Style milik suaminya. Tiga lantai diatasnya digunakan sebagai gudang dan kantor. Ruang kerja Ramona yang sebelumnya menjabat Direktur perusahaan di sektor fashion Pradipta Corp. berada di lantai paling atas.
Pak Sas di belakang Nyonya Mudanya bersiaga karena baru saja ia diberi tahu Abyan melalui pesan teks bahwa hari ini, hari terakhir Ramona bekerja.
"Kau puas kalau kau pemenangnya?" Ramona mulai mengkonfrontir Litha, ia tidak peduli dengan sekitar, dimana para karyawan diam-diam menontonnya, bahkan ada yang merekam.
"Pemenang? Memangnya kita sedang dalam pertarungan? Kau yang salah tempat, Nona Ramona, jika kau ingin bertarung pilihlah medan perang, bukan sebuah taman bunga yang indah, yang kau masuki lalu kau ingin menghancurkannya. Ketika gagal, kau marah dan mengatakan padaku aku pemenangnya. Kita tidak pernah bertarung karena sejak awal tidak ada yang diperebutkan," jawab Litha tenang, meski di dalam hatinya sangat bergemuruh. Ia sadar, dirinya menjadi pusat perhatian dan ia harus menjaga sikapnya.
"KAU!!! Yang merebut taman bunga itu!" tukas Ramona nyaring.
Ia maju tapi Pak Sas langsung mengambil posisi tepat di depan Litha untuk melindungi dan Ramona pun menjadi geram karena tidak bisa menyerang Litha.
"Sekali lagi aku katakan pada Anda, Nona Ramona Riguna. Aku tidak merebut taman bungamu, tapi taman bungamu yang memilihku sebagai pemiliknya. Aku harap Anda paham perbedaannya," sahut Litha dari balik punggung Pak Sas.
Ucapan tegas Litha menunjukkan kelasnya, bahwa ia diam bukan berarti mengalah, dia justru semakin mempertahankan apa yang menjadi haknya.
"Nona Ramona, silahkan tinggalkan tempat ini, Anda sudah tidak punya kepentingan apapun disini kecuali Anda ingin berbelanja," tandas Pak Sas, tetap berdiri di posisinya.
"Kau boleh menang kali ini. Tapi, jangan harap kau akan selalu bahagia, kau sudah banyak mendapatkan kebahagiaan, mulai sekarang bersiaplah untuk jalani kemalanganmu," ucap Ramona, kemudian ia berlalu dengan menyeret barang-barangnya.
Litha tersentak, kata-kata Ramona yang terakhir mengobrak-abrik hatinya, seketika ia berpusara dalam kegamangan.
"Nyonya sudah membayarnya? Kalau sudah mari kita pulang. Jangan biarkan kata-katanya memengaruhi Anda, Nyonya. Saya yang akan menjaga kebahagiaan Nyonya."
"Ah, iya Pak Sas. Siapa bilang aku terpengaruh kata-katanya, aku hanya memikirkan cara bagaimana memberi pelajaran pada Mas Rayyendra kok," kata Litha sambil bergegas keluar.
"Mata Anda tidak pernah berbohong, Nyonya." bathin Pak Sas mengikuti langkah Litha.
...***...
Malam terus merayap, Ray berkali-kali salah tingkah melihat istrinya yang menemaninya makan malam. Dress baru yang dibeli Litha menampakkan aura menantang untuk didekati, sayangnya istrinya sangat menjaga jarak.
"Sayang, ma--"
"Pak Is, seladanya layu, aku tidak suka." Litha langsung memotong ucapan suaminya.
"Baik, Nyonya. Apa perlu saya menggantinya?" Pak Is mengerti Nyonya Mudanya ini hanya beralasan saja karena faktanya selada di piringnya masih segar.
"Tidak perlu Pak Is. Aku lelah, aku ingin istirahat. Mas, apa makanmu sudah selesai? Kalau belum, aku izin ke kamar duluan."
"Ah, i-- iya. Si-- lahkan, Lith."
Ray terbata dan bersusah payah mengendalikan matanya yang tertuju pada leher istrinya yang mulus. litha berdiri dan berjalan ke kamar utama.
Glek.
Ray menelan salivanya, tubuh indah istrinya yang terlihat dari belakang menggugah hasratnya. Dress itu berhasil membuatnya kelimpungan. Ray segera menghabiskan makanannya, ia ingin segera ke kamar dan meminta maaf dan ...
Ray berjalan ke kamar dengan melepaskan dua kancing kemejanya bagian atas, ia merasa gerah. Begitu ia masuk ke kamar dan mengunci pintu, pandangannya tertuju pada sosok wanita di depan meja rias dengan lingerie seksi berwarna hitam, warna yang sangat kontras dengan kulit wanita itu. Belum lagi wangi favoritnya menyeruak di hidungnya menambah intensitas kerasnya suatu benda di dalam celana.
Litha berdiri menghadapnya, "Jangan mendekatiku, Mas. Foto-foto itu masih bersliweran di kepalaku. Aku ingin istirahat. Aku cukup baik tidak mengunci kamar, tapi tolong hormati keinginanku untuk tidak mendekatiku."
"Oh, shitt !!! Kau bilang tidak ingin di dekati tapi kau sengaja berpakaian seperti itu. Apa maumu sebenarnya, Litha?"
- Bersambung -
__ADS_1