
Tidak lama kemudian wajah Sandra memerah. Dirinya mulai merasakan panas dan gelenyar aneh di sekujur tubuhnya.
" Sudah mulai bereaksi ?" Ucap Dokter Tian tersenyum.
" Berengsek... Jangan dekati aku ! " Umpat Sandra kesal.
" Berteriak lah selagi masih bisa.." Ejek Dokter Tian.
" Aku tidak percaya.. Ternyata kamu dokter cabul yang jahat !" Teriak Sandra mulai panik. Karena sedikit demi sedikit kesadarannya mulai terganggu.
Dokter Tian mengangkat bahunya mengejek, kemudian mulai membuka kancing kemejanya.
" Pergi ... Menjauh dari ku !" Teriak Sandra ketakutan.
" Kenapa aku harus menurutimu ? Sudahlah, menyerah saja... Toh yang akan kulakukan bukanlah penyiksaan... Justru sebaliknya, kamu akan merasakan kenikmatan yang berbeda dari biasanya.Hahaha..."
Sandra menggelengkan kepalanya. Tidak boleh, dia tidak boleh membiarkan hal buruk itu terjadi.
" Mas Al .... Tolong aku...." Batin Sandra panik dan ketakutan.
" Dokter Tian kemudian membuka kancing kemejanya satu persatu lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Sandra semakin bergerak tidak tenang. Ada hasrat yang membuatnya tertarik ketika melihat tubuh Dokter Tian yang terekspos putih mulus. Namun, sebisa mungkin Sandra tetap harus bisa menahannya meski gairah di tubuhnya semakin menjadi.
" Jangan... Jangan mendekat !!" Teriak Sandra ketika Dokter Tian menghampirinya ke tempat tidur.
" Kenapa ? Aku sudah tidak sabar melakukannya." Ucap Dokter Tian penuh senyum. Dirinya menyentuh wajah Sandra perlahan. Sandra berusaha mengelak dari sentuhan itu. Tapi karena kedua tangannya di ikat, dia tidak bisa melakukan apapun selain berpaling.
" Aku suka perempuan yang sok jual mahal sepertimu. Lihatlah... Apa yang kamu lakukan berbanding terbalik dengan kenyataannya... Bukankah saat ini kamu menginginkan sentuhan ini ?" Bisik Tian parau. Dia mulai menyentuh dan menelusuri wajah Sandra.
Sandra menangis karena tidak bisa melawannya sama sekali. Ada sensasi aneh yang dia rasakan saat Dokter Tian menyentuh wajah dan bibirnya. Entah mengapa tubuhnya tidak bisa menolaknya dan justru menginginkan hal lebih ...
" Tidak... Aku mohon..." Rintih Sandra . Buliran bening air mata terus mengalir dari kedua sudut matanya.
Dias tersenyum kecil mendengar rintihan itu.
" Tenanglah, tidak usah takut.... Sebentar lagi rintihan mu ini akan berubah menjadi ******* yang nikmat." Lanjut Dokter Tian yang sudah tidak sabar... Kedua matanya menatap penuh nafsu ke arah tubuh Sandra yang molek.
Dokter Tian mendekatkan wajahnya ke arah bibir saja. Saat hampir saja bibir mereka bersentuhan, suara dobrakan pintu tiba-tiba mengagetkan keduanya.
BRAAKK !!!
Alfian dan Dias berhasil mendobrak pintu kamar itu dengan satu kali tendangan.
Alfian terlihat murka melihat apa yang terlihat di depannya.
" Berengsek !!! Kurang ajar !!!"
Alfian kemudian memukul dan meninju Dokter Tian yang masih terkejut melihat kedatangan mereka. Dokter Tian yang belum siap menangkis serangan dari Alfian yang membabi buta, terhuyung-huyung sambil berusaha menghindar. Darah segar keluar dari sudut bibir dan matanya.
" Stop Tuan... Biar aku yang melanjutkan sisanya. Tuan segera bantu saja Nona Sandra. Sepertinya Nona Sandra dalam pengaruh obat." Ucap Dias memberi tahu.
" Awas kau !! " Bentak Alfian kemudian melangkah cepat mendekati Sandra.
Alfian segera melepaskan ikatan tali yang melilit di kedua pergelangan tangan istrinya.
__ADS_1
" Mas ..." Ucap Sandra lirih.
" Iya sayang... Ini aku... Ayo kita keluar dari rumah ini." Ucap Alfian lembut.
" Panas mas...." Ucap Sandra. Kedua tangannya segera ingin melepas kancing bajunya.
" Sial ! Dia memberi mu obat perangsang." Umpat Alfian marah. Dia mencegah Sandra yang ingin membuka kancing bajunya di tempat itu.
" Tenang Sandra,ayo kita pergi terlebih dahulu." Alfian kemudian membopong tubuh Sandra dan membawanya keluar tanpa menghiraukan Dias dan anak buahnya yang memukul Dokter Tian bergantian.
" Jangan sampai dia mati ! Dia harus merasakan sakit yang lebih sakit dari pada sebuah kematian !" Ucap Alfian sebelum melangkah keluar dari pintu.
" Baik tuan !" Sahut anak buahnya.
Alfian segera melajukan mobilnya dan pergi dari perkampungan itu. Di perjalanan... Sandra benar-benar membuatnya tidak bisa berkonsentrasi dalam menyetir mobil. Sandra terus saja berteriak kepanasan dan bergelayut manja di lengannya.
" Sadar Sandra... Jangan lakukan itu di sini..." Ucap Alfian saat Sandra menyentuh pipinya dan mengecup daun telinganya.
" Mas....Panas .. Seluruh tubuhku rasanya panas... Akuu....aku ingin..."
Tanpa sadar Sandra mencium bibir Alfian secara paksa. Terpaksa Alfian menghentikan mobilnya di pinggir jalan agar tidak membahayakan nyawa mereka berdua.
Alfian kemudian membalas ciuman dari Sandra. Semakin lama ciuman itu semakin dalam dan panas. Alfian yang masih sadar sepenuhnya menjadi ikut bergairah dan hanyut dalam suasana.
" Sebentar Sandra... Kita cari hotel atau motel terdekat dari sini." Ucap Alfian kemudian. Tidak mungkin mereka akan melakukannya di dalam mobil di pinggir jalan. Jika ada yang melihat bisa panjang urusannya.
Wajah Sandra sudah memerah seperti kepiting rebus dan terus tetap berusaha mencium dan menyentuh Alfian.
Untungnya, tidak jauh dari sana ada sebuah motel. Alfian segera membopong tubuh Sandra yang sudah tidak terkendali.
Setelah memesan dan mendapatkan kunci kamar. Alfian segera membawa Sandra ke kamar mereka.
Alfian membaringkan tubuh Sandra di atas tempat tidur. Alfian menatapnya dengan lekat.
Dia bingung antara akan melakukannya atau tidak. Di takut jika setelah sadar besok, Sandra akan marah kepadanya karena melakukannya saat Sandra tidak sadarkan diri.
Namun Sandra yang terus menerus meracau, mendekat dan menatapnya dengan mata sayu dan penuh gairah, membuatnya tidak tega membiarkan Sandra tersiksa seperti itu.
" Apa aku boleh melakukannya ?" Tanya Alfian sambil menatap wajah Sandra dalam-dalam.
Sandra mengangguk pasrah mengiyakan.
Setelah mendapatkan persetujuan dari Sandra, entah besok dia akan mengingatnya atau tidak Alfian segera merengkuh tubuh Sandra dan mencium bibir ranum milik istrinya itu.
Malam semakin larut dan semakin panas.
Sandra menjerit kesakitan saat penyatuan itu hampir terjadi.
" Sakit mas !" Ucap Sandra spontan. Alfian yang lupa jika ini adalah kali pertama bagi Sandra segera mencium kening Sandra untuk menenangkannya.
" Satu hentakan lagi..., Tahan sebentar..." Balas Alfian yang sudah berkabut nafsu.
Akhirnya penyatuan itu benar-benar terjadi. Mereka menghabiskan malam panjang bersama hingga melakukannya berkali-kali sampai pagi menjelang. Tidak perduli jika suara eksotis dari keduanya akan terdengar dari luar atau tidak. Mereka tertidur setelah sama-sama lemas tak bertenaga lagi.
Pukul dua belas siang, Sandra menggeliat dan terbangun dari tidurnya. Betapa terkejutnya Sandra saat melihat Alfian tertidur pulas di sampingnya tanpa mengenakan pakaian. Seketika dia memeriksa dirinya sendiri. Sandra terbengong saat melihat tubuhnya juga polos tanpa mengenakan pakaian sehelai benang pun.
__ADS_1
" Apa yang terjadi ?" Tanya Sandra. Kepalanya berdenyut sakit saat mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Serangkaian kejadian pun kemudian muncul di ingatannya.
" Apakah dia menolong ku ? Ya aku masih ingat saat Dokter Tian memaksaku memakan pil itu. Hmmp ! Jadi apakah semalam aku dan Mas Alfian melakukan hal itu ?" Tanya Sandra sambil membekap mulutnya sendiri.
Rasanya malu bukan main. Sandra berusaha beranjak dari tempat tidur dengan hati-hati. Tapi ketika ingin melangkah, Sandra merasakan sakit dan ngilu di inti perutnya.
" Aahh... Perih.." Ucap Sandra spontan.
" Biar aku bantu." Ucap Alfian tiba-tiba.
" Mas sudah bangun ?" Tanya Sandra yang kemudian cepat-cepat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
" Sejak kamu bergumam. Sini aku bantu ke kamar mandi." Ucap Alfian bangkit.
Sandra melotot tidak percaya melihat Alfian yang dengan percaya diri mendekati dirinya tanpa mengenakan apapun di tubuhnya.
" Kenapa bengong ? Kan semalam kamu juga sudah melihatnya." Ucap Alfian santai.
" Iiih... Mas !! Teriak Sandra.
Alfian terkekeh mendengarnya kemudian mengecup kening Sandra dan membopong tubuh istrinya itu ke kamar mandi.
Sandra tersipu malu di perlakukan lembut seperti itu oleh Alfian. Baru kali ini dia merasa jika suaminya sangat manis.
" Mas tunggu di luar saja." Ucap Sandra malu.
" Tidak mandi bersama saja ?" Tawar Alfian.
Sandra melotot marah lagi kepada Alfian.
" Iya-iya... Lihatlah, kedua pipimu sudah memerah lagi." Gurau Alfian lalu kembali ke tempat tidur.
Alfian duduk di pinggir tempat tidur lalu melihat beberapa bercak darah di atas sprei putih. Adegan demi adegan dengan Sandra kembali terlintas di benaknya. Alfian tersenyum senang. Dia tidak percaya jika kini Sandra benar-benar sudah menjadi miliknya seutuhnya. Bahkan melakukannya dengan Sandra bisa membuatnya kecanduan dan ingin terus melakukannya lagi.
Alfian jadi teringat jika dulu dia juga pernah melakukannya dengan Rena beberapa kali, tapi dia sudah mendapati Rena yang sudah tidak perawan saat pertama kali melakukan dengan dirinya. Entah dengan siapa Rena melakukannya pertama kali. Tapi saat itu yang Alfian pedulikan hanyalah perasaannya, jadi dia menerima Rena apa adanya tanpa peduli dengan masa lalunya. Berbeda dengan Sandra sekarang. Ada kepuasan tersendiri mengetahui jika dirinya lah yang pertama kali melakukan itu kepada Sandra.
Tiba-tiba suara dering telepon mengangetkan dirinya.
" Ya ?" Jawab Alfian datar.
" Tuan tidak berangkat ke kantor ?" Tanya Dias lewat sambungan telepon.
" Hari ini aku cuti. Semalam ada hal urgent yang terjadi. Lakukan saja yang bisa kamu lakukan. Jika ada hal yang mendesak baru hubungi saya." Jawab Alfian.
" Hal urgent apa itu tuan ?" Tanya Dias pura-pura tidak tahu.
" Berani bertanya ? " Balas Alfian dingin.
"Maaf Tuan. Oya ... Tentang Tian, anak buah kita masih mengurungnya di tempat biasa." Sambung Dias.
" Bagus... Biarkan saja merekam menyiksanya. Sekarang aku sedang tidak ingin diganggu !" Ucap Alfian tegas.
" Oke... Selamat bersenang-senang... Hehehe" Ucap Dias menimpali.
__ADS_1
" Sial !! " Rutuk Alfian yang mendengar Dias tertawa senang.