Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Penyesalan Yang Terlambat


__ADS_3

Bu Reisa terlihat sangat khawatir menunggui putrinya. Kemungkinan-kemungkinan buruk begitu menghantui benaknya. Yang pertama dia takutkan adalah nanti ketika Rena sadar, akankah putrinya bisa menerima kenyataan yang terjadi ?


Bu Reisa menatap sedih wajah Rena yang berbalut perban. Bayangan masa lalu kembali menghantuinya.


" Mama... Lihat, aku makin cantik kan ? Nanti kalau Rena sudah besar, Rena ingin masuk TV seperti kakak-kakak cantik itu..!" Kata Rena kecil yang tengah mencoba gaun baru pemberian papanya yang baru datang dari luar negeri.


" Tentu saja sayang, kamu kan cantik dan pintar, apapun yang ingin kamu inginkan pasti akan terwujud. Tapi sekarang Rena sama bibi dulu ya, mama sedang ada telpon penting dari teman arisan mama." Balas Bu Reisa.


" Huh, selalu saja...! Mama lebih mentingin teman-teman mama dari pada Rena !" Protes Rena.


Bu Reisa tidak memperdulikannya kemudian dengan menggunakan isyarat tangan, menyuruh ART nya untuk membawa Rena pergi dari hadapannya.


" Ayuk non, kita mainan di kamar saja ya ? Nona Rena cantik sekali memakai gaun itu. " Puji sang bibi yang tahu jika anak majikannya itu kecewa.


" Diam bik ! Aku sudah tahu kalau aku ini memang cantik !" Hardik Rena kecil.


Tak lama kemudian, bukanya kembali ke kamar... Rena justru mencari papanya di ruang kerjanya.


" Papa ! Lihat,, aku cantik kan ?" Tanya Rena dengan suara manja khas anak-anak.


" Iya sayang. Kamu yang paling cantik." Jawab Papa Rena yang hanya melihatnya sekilas kemudian kembali sibuk dengan pekerjaannya.


Rena kecil kecewa untuk kedua kalinya. Papa dan mamanya sibuk dengan hidupnya masing-masing tanpa memperdulikan dirinya yang ingin sekali di perhatikan dan bermain bersama seperti teman-temannya saat orang tua mereka ada di rumah.


" Ayuk non, jangan ganggu papa... Papa sedang sibuk bekerja. Nanti kalau papa nona sudah selesai, barulah papa nona akan bermain dengan nona." Bujuk bibi.


Rena menunduk dengan kesal kemudian berlari tanpa menghiraukan teriakan bibi yang memanggil-manggil namanya. Karena tidak berhati-hati, Rena terpeleset saat menuruni tangga sehingga membuatnya jatuh berguling-guling dari tangga yang sangat tinggi.


" RENA !!" Teriak Bu Reisa yang melihat kejadian itu di depan matanya.


Setelah kejadian itu, Rena kecil di rawat di rumah sakit sampai berbulan-bulan karena cidera di kepalanya begitu parah. Sejak saat itulah, Bu Reisa berjanji pada dirinya sendiri, jika Rena sembuh beliau akan selalu ada untuk putrinya, akan lebih memperhatikannya, dan akan selalu mendukung setiap keputusannya. Hal itulah yang membuatnya selalu memanjakan Rena hingga putrinya tumbuh besar dengan sifat sombong dan susah di atur.


" Semua salah mama nak... Semuanya salah mama... Mama yang gagal menjadi seorang ibu yang baik untukmu. Mama yang menyebabkan kamu seperti ini karena didikan mama yang salah." Tangis Bu Reisa menyesal.

__ADS_1


" Jika saja mama tidak terlalu memanjakan mu, jika saja mama bisa mendidik mu dengan benar dan tidak terlalu membebaskan diri mu, jika sajak mama bisa menjadi tempat bersandar di saat kamu butuh.... Semua hal buruk yang terjadi kepada mu tidak akan pernah terjadi. Kamu tidak akan pernah menjadi gadis yang ambisius hingga menghalalkan segala cara. Kamu tidak akan jatuh ke dalam pelukan pria satu ke pria yang lain demi mewujudkan cita-cita mu. Bahkan kamu sampai rela menjadi simpanan suami orang dan meninggalkan Alfian yang dulu sangat mencintaimu. Maafkan mama nak... Maafkan mama... Karena cara mama menyayangi mu yang salah, hal itu justru akhirnya membuatmu jatuh terpuruk dan merasakan semua sakit dan derita ini. Maafkan mama... Maafkan mama..." Bu Reisa terisak menangis sendu.


Mendengar Isak tangis yang begitu pilu, membuat Rena terbangun dari tidurnya.


" Di mana ini ?" Batin Rena yang belum ingat tentang kejadian yang menimpanya.


" Mama ? Mama kenapa nangis ?" Ucap Rena setelah menoleh melihat mamanya berlinang air mata.


" Rena... Kamu sudah sadar nak ?" Tanya Bu Reisa.


" Sadar ? Emang apa yang sebenarnya sudah terjadi ma... Di mana kita sekarang ?" Tanya Rena .


" Kita ada di klinik rutan sayang..."Balas Bu Reina memberi tahu.


Bagaikan di sambar petir di siang bolong, barulah kepingan-kepingan ingatan kembali muncul dan bercampur menjadi satu kenyataan yang membuatnya kembali histeris.


" Mama !!! Ini hanya mimpi buruk kan ma !! " Rena mulai berteriak lagi setelah mengingat nasib sial yang menimpanya.


" Enggak ma !! Gimana Rena bisa sabar ? Aah, sakit !!" Teriak Rena setelah air matanya membasahi luka di wajahnya.


" Rena .... Dokter... Dokter !! Tolong anak saya dok !" Teriak Bu Reisa panik.


Tidak begitu lama, para perawat dan seorang dokter menghampiri mereka. Setelah hampir setengah jam, akhirnya mereka berhasil menenangkan Rena yang kini terisak kecil menangisi nasibnya.


" Mbak, jangan menangis terus, atau luka di wajah mbak akan semakin perih dan bisa bisa menyebabkan infeksi. Hal itu hanya akan memperparah kondisi mbak sendiri." Ucap seorang perawat yang masih tinggal.


" Iya sayang... Mama yakin wajah kamu tidak akan kenapa-kenapa. Mama yakin wajah kamu bisa sembuh." Ucap Bu Reisa dengan lembut.


" Tapi bagaimana jika tidak sembuh ma... Bagaimana kalau wajah Rena cacat ! Rena gak mau jadi jelek ma.. Rena gak mau !" Bentak Rena.


Melihat Rena yang keras kepala, perawat itu kemudian ikut meninggalkan Rena dan ibunya sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya sayang,mama ngerti bagaimana perasaan mu sekarang. Mama ngerti..." Ucap Bu Reisa sedih.

__ADS_1


" Kalau seperti ini, bagaimana Al mau kembali sama Rena ma... Al pasti jijik lihat wajah Rena yang sekarang !" Imbuh Rena.


" Jangan bicara seperti itu nak, wajah kamu belum tentu seperti itu. Kalaupun iya, mama akan cari solusinya sayang. Tenang saja, apapun akan mama lakukan demi kamu. Bahkan kalau perlu, mama akan jual rumah kita agar kamu bisa operasi plastik !" Ucap Bu Reisa menenangkan.


" Kalau mama jual rumah, kita mau tinggal di mana nanti ma !" Sahut Rena yang justru kesal mendengar kata-kata ibunya.


" Nanti kita bisa ngontrak atau menyewa rumah kecil Ren, yang penting kamu sembuh." Janji Bu Reisa.


" Mama yakin ?" Tanya Rena kemudian. Karena sejak lahir dia dan mamanya sama-sama hidup mewah bergelimang harta dan tinggal di rumah yang sangat besar.


" Mama sangat yakin... Tapi setelah itu, kita mulai hidup baru ya nak ? Kita tinggalkan semua ini, dan kamu lupain Alfian. Kita buka lembaran baru." Lanjut Bu Reisa.


" Nggak ! Nggak ma ! Mama gila ya ?! Dengan cepat mama bisa berubah pikiran seperti ini. Apa mama gak mau Rena balik sama Al ?" Tanya Rena terkejut.


" Bukan begitu sayang... Tapi coba kamu pikir, Al sangat membenci kita sekarang. Dan dia sudah sangat bahagia hidup bersama istrinya. Dia juga mempunyai kekuasaan yang sangat besar sedangkan kita tak punya apa-apa. Jika kita terus menerus berusaha mengusiknya, mama takut Alfian akan berbuat hal yang tidak bisa kita bayangkan sebelumnya. Mama khawatir dengan mu Ren, Al juga bisa berbuat sama nekatnya dengan mu !" Ucap Bu Reisa memperingatkan.


" Masa bodoh ma ! Aku gak perduli ! Aku mau Al jadi milikku bagaimanapun caranya. Jika dia tidak mau kembali sama Rena , maka tidak ada yang boleh memilikinya termasuk gadis kampung itu !" Ucap Rena berapi-api.


" Tapi kita bisa apa nak ? Mama sudah mencoba berbagai cara namun selalu gagal. Bahkan mama sudah tidak bisa datang ke kantor Alfian. Melihat mama dari kejauhan saja ,para security di sana sudah bersiap mengusir mama !"


" Gak mau tahu ma ! Pokoknya Rena harus bisa dapetin Al kembali..!"


Bu Reisa tertunduk sedih. Namun dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika putrinya sudah berkehendak seperti itu.


" Ya sudah, kita bahas itu nanti lagi. Sekarang istirahatlah agar cepat sembuh." Tutur Bu Reisa.


"Ck... Iya ma. Tapi mama ingat, mama harus segera bertindak agar Rena bisa segera keluar dari sini. Apa mama mau melihatku terus di amuk oleh teman-teman satu sel ku ?!" Ancam Rena.


" Iya... Iya sayang ,, mama juga sedang berpikir ini !" Balas Bu Reisa dengan segala kepusingan nya.


Bu Reisa semakin menyesal, sangat-sangat menyesal dengan dirinya sendiri yang gagal mendidik putri semata wayangnya sehingga tidak bisa di beri tahu maupun mendengarkan nasehatnya. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kini Rena semakin bertekad dan berambisi. Membuatnya pusing tujuh keliling harus berbuat bagaimana.


Setelah berhasil membujuk putrinya tidur, bu Reisa meninggalkan Rena sebentar. Dirinya hendak pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti, karena selama Rena di rawat di klinik , Bu Reisa akan menemaninya. Tentu saja dengan di jaga ketat oleh petugas kepolisian.

__ADS_1


__ADS_2