
Sandra masuk ke dalam apartemennya dengan gontai. Tubuhnya terasa sangat lelah dan letih, untuk itu dia segera membaringkan tubuhnya ke atas kasur setelah masuk ke dalam. Sandra kemudian memeriksa ponselnya lagi, masih berharap jika Alfian memberinya kabar. Tapi tidak ada pesan dari siapapun, Sandra semakin kecewa dan bertanya-tanya kenapa Alfian tidak memberi kabar atau membalas pesannya.
" Sebenarnya dia kenapa??" Tanya Sandra pusing sendiri. Dia tidak menyangka jika di abaikan oleh Alfian bisa membuatnya kebingungan seperti itu.
Sandra mencoba menelponnya. Siapa tahu jika ditelpon Alfian akan mengangkatnya.
Saat ini Alfian tengah berada di restoran untuk memeriksa laporan kemajuan bulanan dari Bu Henny.
Meski sangat sibuk Alfian tetap selalu meluangkan waktu untuk mengunjungi dan memantau restoran yang dulu di bangun oleh ibunya itu.
Tiba-tiba ponselnya berdering, ada panggilan telepon dari Sandra, Alfian lalu mengerutkan keningnya sambil melirik Dias yang tengah mengerjakan pekerjaan di sampingnya. Dia bimbang untuk mengangkat telepon dari Sandra atau tidak.
" Abaikan jika kamu ingin segera memiliki Sandra sepenuhnya. Jangan biarkan rencana hari ini gagal karena ketidak sabaran mu. " Ucap Dias tanpa menoleh kepada Alfian.
" Bagaimana dia bisa tahu ? Dia bahkan belum memberitahunya jika Sandra yang menelponnya." Batin Alfian.
" Bagaimana kamu bisa tahu jika ini telepon dari Sandra ? Apakah kamu punya ilmu sebagai cenayang?" Tanya Alfian dari pada penasaran.
" Astaghfirullah... Jangan su'uzon dulu Al. Jika menurut logika, saat ini Sandra pasti sedang pusing memikirkan dirimu yang mengabaikannya seharian ini. Maka dari itu...., dia pasti penasaran dan sangat ingin mendapatkan penjelasan dari mu. Apalagi kamu malah menyuruh Gilang untuk menjemputnya."Ucap Dias yang tidak terima di bilang cenayang oleh Alfian.
" Lalu ? Kenapa kamu melarang ku mengangkat teleponnya ? Bagaimana jika aku pulang nanti dia sangat marah kepadaku ?!"
" Justru itu kesempatanmu untuk menanyakan alasannya mengapa dia sampai marah seperti itu. Aku harap dia bisa segera menyadari perasaannya juga !" Ucap Dias menjelaskan.
" Kau yakin ?" Tanya Alfian ragu.
" Awas aja jika dia justru bertingkah seperti kemarin. Kamu yang harus bertanggung jawab ! Kami baru saja berbaikan.. Aku tidak mau sampai di diamkan lagi olehnya." Imbuh Alfian sambil mengancamnya.
" Aduh Al... Kamu harus berani menanggung resiko. Tapi aku yakin kok dia tidak akan seperti kemarin lagi."
" Gak mau tahu , pokoknya jika dia sangat marah kamu yang tanggung jawab karena semua ini adalah ide dari mu !" Ucap Alfian.
" Oke, baiklah.... Selalu aku yang jadi tumbal kisah cinta kalian. Ku harap kalian segera mengakui perasaan masing-masing sehingga tidak menyeret ku lagi ke dalam drama rumah tangga kalian !" Omel Dias kesal.
Alfian menatap Dias dengan tajam. Dari ekspresi wajahnya yang dingin terbaca jelas jika dirinya tidak menyukai apa yang baru saja dia dengar.
" Ups... Sorry, maksud ku kamu tenang saja Al. Aku yakin rencana kita ini akan berhasil." Ucap Dias ketakutan melihat wajah Alfian yang seperti singa yang siap menerkam mangsanya.
" Biasa saja kali menatapnya ! Bukanya terimakasih sudah di bantu ... Hm,, malah mengancam ! Dasar manusia tidak punya akhlak !!!" Batin Dias kesal.
Barulah setelah itu Alfian melepaskan pandangannya dari Dias dan memikirkan Sandra kembali. Ingin rasanya segera pulang tapi apa daya, pekerjaannya masih begitu banyak.
Kembali ke apartemen.....
Sandra terlihat semakin dongkol ketika panggilan telepon darinya juga tidak di angkat oleh Alfian. Dia juga sudah berulang kali menanyakan kabar Alfian lewat Dias. Tapi pria itu juga sama-sama mengabaikan pesannya.
" Aaaa... Pusing banget ni kepala. Sebenarnya apa yang sedang kamu lakukan sih mas ? Lihat saja nanti jika sampai rumah. Tamat riwayatmu ! " Ancam Sandra yang kesal.
Sandra yang tidak bisa tenang memikirkan suaminya lalu bergegas ke dapur dan menyiapkan makan malam. Dengan memasak mungkin bisa mengalihkan sedikit pikirannya dari Alfian.
Selesai memasak Sandra menata semua hidangannya di meja makan lalu pergi mandi untuk membersihkan diri yang sudah banyak berkeringat. Selesai mandi Sandra berkirim pesan kepada Neta. Setelah tidak tinggal bersama, Sandra tetap menjaga komunikasi entah lewat chat atau VC yang penting bisa menghilangkan kerinduan di antara keduanya. Selesai berbincang-bincang lewat chat Sandra kemudian VC dengan Nurul. Dia juga butuh seseorang yang mau mendengarkan curhatan hatinya. Dan itu hanya bisa Sandra lakukan dengan sahabat baiknya.
" Ada apa San ? " Tanya Nurul yang kini wajahnya terlihat di layar handphone.
" Lagi kesel nih ?" Keluh Sandra.
" Kesel kenapa ? Gak dapat jatah uang jajan ?" Tanya Nurul bergurau.
" Enggaklah, bukan itu. Buat apa juga kesel dengan masalah begituan. Ini bukan masalah uang Rul, tapi aku lagi kesel sama Alfian karena dia mengabaikan ku hari ini ." Curhat Sandra.
" Mengabaikan bagaimana maksudnya ?" Tanya Nurul.
Sandra kemudian menceritakan kejadian hari ini. Di tambah dengan tingkah Alfian yang justru meminta Gilang untuk menjemputnya dan mengabaikan telepon darinya.
" Aku kesal kenapa dia berbuat seperti ini padaku ?" Ucap Sandra mengakhiri ceritanya. Wajahnya terlihat murung di layar handphone milik Nurul.
" Mmm... Berpikir positif aja San .. Siapa tau memang dia lagi sangat sibuk... Tau sendiri dia sekarang gak cuma ngurus restoran tapi juga mengurus hotel dan yang lainnya."
" Tadinya aku juga berpikir begitu Rul... Tapi anehnya mengapa dia sempat menghubungi Gilang untuk menjemput ku ? Aku jadi merasa di abaikan olehnya."
__ADS_1
" Hahahaha Sandraaa... Ketahuan sekarang, kamu itu sedang jatuh cinta sama suamimu. Lihat deh , sekarang kamu bisa cemburu begitu, padahal dia hanya menghubungi Gilang bukan menghubungi perempuan lain." Nurul menertawakan sikap bodoh Sandra.
" Mana mungkin ? Tapi.... Tadi Gilang juga bilang begitu padaku. Apa..... Aku.... Beneran jatuh cinta sama dia ?" Tanya Sandra dengan polosnya.
" Iyalah... Kalau tidak, untuk apa juga kamu uring-uringan hanya karena merasa diabaikan olehnya. Lagi pula kalau soal suamimu dan Gilang bukan kah hal ini justru bagus ? Sekarang kita jadi tahu jika hubungan Alfian dan Gilang sudah kembali baik, kita harus bersyukur untuk itu. Karena itu tandanya Alfian sudah percaya penuh kepada Gilang. Dia tidak takut atau khawatir lagi jika Gilang akan merebut mu darinya." Lanjut Nurul.
" Iya sih. Aku juga lega dan senang akhirnya mereka baikan lagi. Kemarin-kemarin aku sempat berpikir jika akulah yang telah merusak persahabatan mereka. Tapi Rul , tetap saja aku tidak tenang memikirkan Alfian. Tidak biasanya lho dia begini ? Setiap hari biasanya dia selalu memberiku kabar, menanyakan keadaan ku dan memberikan ucapan-ucapan gombal untuk merayu dan menghiburku." Ucap Sandra lagi.
" Hmmm itu artinya kamu sangat merindukannya, merindukan perhatiannya. Sudah gak usah terlalu di pikirkan. Nanti kalau dia pulang tanyakan dengan baik-baik. Jangan langsung emosi, kasian kalau pulang kerja capek-capek langsung kena marah sama kamu. Yang ada kalian hanya akan kembali ribut. Buatlah dia nyaman bersamamu dan tunjukkan perhatian kembali kepadanya. Bisa jadi dia bosan karena kamu tidak peka dengan perhatian yang dia berikan untukmu...." Kata Nurul.
Sandra mendengarkannya dengan seksama. Apa yang di katakan oleh Nurul memang benar. Selama ini jarang sekali dia menunjukkan perhatiannya pada Alfian. Alfian lah yang lebih banyak perhatikan dan peduli kepadanya. Sandra jadi tidak enak menyadari dirinya yang sok jual mahal kepada suaminya sendiri. Padahal dia juga sudah menyetujui untuk memulai hidup baru bersamanya. Itu artinya bukan hanya Alfian saja yang harus berubah,tapi dia juga harus berubah demi Alfian dan rumah tangganya.
" Oke, aku mengerti maksudmu. Thanks ya Rul.... Kamu memang yang terbaik !" Sandra berterima kasih kepada sahabatnya itu yang selalu mau mendengarkan dan memberinya nasehat tanpa pernah menyudutkan dirinya.
"Sama-sama San. Udah dong...., senyum dulu kalau gitu.." Paksa Nurul.
Sandra kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya karena malu.
" Ya udah aku akhiri ya VC nya ...? " Ucap Sandra.
" Eh tunggu dulu dong... Abis selesai curhat langsung mau ditutup aja !" Protes Nurul.
" Ya kan udah selesai curhatnya... Emang ada apa ?" Tanya Sandra.
" Mm... Mau memastikan aja, Minggu besok jadikan acaranya ?" Tanya Nurul serius.
" Jadilah.... Tenang aja. Mas Al udah boking makanan untuk Minggu besok, jadi aku tidak perlu repot-repot memasak." Ucap Sandra memberi tahu.
"Syukurlah.... " Balas Nurul sambil senyum-senyum.
" Emang kenapa sih ? Ada yang kamu sembunyikan ya dariku ?" Tanya Sandra yang melihat gelagat aneh dari sahabat nya .
" Gak ada yang aku sembunyikan kok." Sahut Nurul cepat. Hal itu justru membuat Sandra semakin curiga kepadanya.
" Ya udah deh, aku matiin ya sekarang ?" Pamit Sandra.
" Hmz, ada yang tidak beres sama tu anak." Gumam Sandra sambil melihat ke arah pintu. Dia berharap Alfian segera sampai di rumah.
Satu jam kemudian pintu apartemennya terbuka saat Sandra tengah melihat televisi di ruang tengah.
Alfian masuk dengan muka lelahnya. Sandra melirik sekilas kemudian kembali menyaksikan acara televisi. Alfian duduk di kursi ruang tamu yang terlihat dari ruang tengah tempat Sandra sedang melihat televisi. Dia melihat Alfian melepaskan sepatu kerjanya dan melonggarkan dasi di kerah bajunya. Sesekali Alfian terlihat memijit pelipisnya. Sandra yang tadinya ingin bersikap cuek menjadi khawatir melihat kondisi Alfian. Dia lalu menghampiri suaminya yang kini duduk bersandar sambil memejamkan kedua matanya.
" Mas kenapa baru pulang ? Biasanya sedikit lebih awal dari sekarang." Tanya Sandra di sampingnya. Sandra mengingat nasehat dari Nurul, bahwa dia tidak boleh langsung marah kepada suaminya.
Alfian kemudian membuka matanya dan menoleh kepada Sandra.
" Maaf, pekerjaan mas banyak sekali hari ini." Jawab Alfian berbohong. Padahal dia sudah pulang dari tadi. Dia ingin segera pulang tapi Dias mengajaknya mampir dulu ke tempat Gilang.
" Ooh.." Sahut Sandra sedikit kecewa dengan penjelasan suaminya.
"Mungkin memang banyak pekerjaan, sehingga hari ini dia sangat sibuk. Berpikirlah yang positif Sandra... Lihatlah wajah lelah suamimu." Pikir Sandra merenung.
" Mas mau aku bikinin teh atau kopi ?" Tawar Sandra.
" Tidak usah, mas sedikit pusing. Mas mau mandi dulu terus istirahat." Ucap Alfian kemudian beranjak masuk ke dalam kamar.
Sandra tertegun melihat kepergian Alfian. Alfian memang tidak terlihat marah ataupun acuh kepadanya. Namun Sandra tetap merasa jika ada sesuatu yang tidak beres dengan suaminya itu.
Dengan masih penuh tanda tanya Sandra mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar lalu menyiapkan baju ganti untuk suaminya.
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Alfian tersenyum kecil mengingat melihat wajah Sandra yang kesal tapi tetap berlagak baik-baik saja di depannya.
" Sepertinya kamu sudah masuk ke dalam perangkap. Sebentar lagi kamu benar-benar akan menjadi milik ku Sandra.." Gumam Alfian lirih di bawah kucuran air shower.
Selesai mandi dan berganti pakaian Alfian keluar dari kamar dan menemui Sandra yang menunggunya di meja makan.
" Mas, makan malam yuk." Ajak Sandra sambil tersenyum manis.
Alfian yang tadi habis makan dengan teman-temannya tentu saja masih merasa kenyang.
__ADS_1
" Mas belum lapar. Kamu makan duluan saja." Jawab Alfian kemudian membuka kulkas yang ada di dapur dan mengambil minuman dingin dan meminumnya.
Sandra terlihat sangat kecewa. Dia sudah berusaha membuatkan makanan kesukaan Alfian. Tapi Alfian justru menolaknya.
" Mas makan di mana ? " Tanya Sandra menahan air matanya agar tidak menangis.
" Di restoran." Jawab Alfian lagi lalu duduk di depan Sandra.
" Sama siapa ?" Tanya Sandra lagi.
" Sama Dias dan rekan kerja kantor lainnya."
" Ada ceweknya ?" Tanya Sandra dengan sendirinya.
Alfian menarik sudut bibirnya.
" Tentu saja ada, namanya juga rekan kerja, ada laki-laki ada perempuan juga. Emang kenapa ? " Alfian balik bertanya. Dia ingin tahu sampai seberapa kadar cemburu di dalam hati istrinya. Dias memang benar. Harus berani menanggung resiko untuk mengetahui isi hati gadis itu.
" Gak apa-apa !" Jawab Sandra lalu mengambil nasi dan lauk lalu memakannya dengan cepat seperti di kejar-kejar waktu.
" Makan sama rekan kerja aja bisa, tapi di ajak makan istri sendiri malah menolak ! Pasti dia juga makan bareng sama cewek-cewek cantik yang bekerja dengannya !" Batin Sandra kesal.
" Pelan-pelan saja makannya, gak ada yang mau minta kok." Kata Alfian menasehati.
Sandra tidak menghiraukan nasehat dari Alfian dan tetap melahap makanannya dengan cepat.
" Uhukkk.... Uhukkk !" Tiba-tiba Sandra tersedak oleh makanan.
" Tuh kan, apa kata mas.... Pelan-pelan saja makannya, jadi tersedak kan ?" Ucap Alfian kemudian menuangkan air putih dan memberikannya kepada Sandra. Sandra menerimanya dan langsung meminumnya hingga tandas. Sebulir air mata jatuh membasahi pipinya.
" Jangan cengeng Sandra, apalagi sampai menangis di depannya !" Batin Sandra sembari menenangkan dirinya sendiri.
" Kamu nangis ?" Tanya Alfian panik.
" Enggak mas.. Aku tersedak oleh makanan pedas jadi itu yang membuatku menangis." Ucap Sandra berbohong. Sebenarnya dia menangis karena memikirkan Alfian.
" Hm... hati-hati kalau makan."
" Iya. " Jawab Sandra yang kemudian membereskan semua makanan yang ada di meja makan. Alfian berniat membantunya tapi Sandra menolaknya.
" Mas masih pusing ? " Tanya Sandra setelah beres semuanya.
" Masih sedikit." Jawab Alfian yang kali ini jujur.
" Mau aku ambilkan obat ?"
" Tidak usah, nanti istirahat sebentar juga sudah sembuh." Tolak Alfian.
" Ya sudah..... Mas Al ?" Tanya Sandra pelan.
" Ya ?"
" Mengapa mas mengabaikan pesan dan telepon dari ku ? Mas marah padaku ?" Tanya Sandra yang sudah tidak bisa menahan rasa penasarannya lagi.
" Sandra. Seharian ini mas sangat sibuk." Balas Alfian ketar-ketir. Dia juga takut jika akhirnya Sandra akan marah.
" Ohh .. Tapi bisa ya mas menghubungi Mas Gilang sama makan-makan bersama rekan kerja." Sindir Sandra.
" Itu .. Mas kan juga harus mengapresiasi kerja keras mereka. Untuk itu aku ikut bergabung dengan mereka untuk makan malam." Ucap Alfian berbohong.
" Oya.... Kalau begitu seterusnya aja mas makan bersama rekan-rekan kerja. Apresiasi terus kerja keras mereka, pasti lebih asyik kan dari pada makan berdua bersamaku saja Mas pasti sangat senang karena banyak wanita cantiknya. Bahkan mas tidak perduli dengan diriku yang sudah menunggu dan menyiapkan begitu banyak makanan untukmu !" Lanjut Sandra yang tidak bisa mengontrol emosinya.
" Maaf Ya Allah...." Batin Sandra yang tahu jika dirinya bersalah karena berbicara seperti itu kepada suaminya sendiri.
" Mengapa kamu bilang seperti itu ? Kamu marah ? Cemburu ?" Alfian balik bertanya.
" Pikir saja sendiri !" Balas Sandra kemudian masuk ke dalam kamar.
Bukannya marah Alfian justru tersenyum senang dan menatap punggung istrinya yang kini sedang merajuk.
__ADS_1