
Dua jam kemudian, Sandra dan Nurul sudah di perbolehkan pulang setelah dokter melepaskan selang infus dari tangan meraka. Untung saja dokter hanya memberikan saran untuk banyak beristirahat dan berhati-hati dalam memilih makanan sehingga rahasia tentang kehamilan Sandra masih aman terjaga.
" Kamu antar dia pulang..." Titah Alfian kepada Arkha.
Arkha yang tidak banyak bicara kemudian menatap Nurul dan seolah memberi perintah dari tatapannya itu untuk mengikutinya.
Nurul yang serba salah, mau tidak mau terpaksa mengikutinya.
" San, aku balik dulu.. Jaga diri baik-baik..." Pesan Nurul sebelum pergi.
" Oke, kamu juga ya ? Kalau masih sakit jangan di paksain juga. Banyak-banyak istirahat." Sahut Sandra.
Seperti biasa, keduanya kemudian saling berpelukan sesaat. Kemudian dengan langkah gontai, Nurul mengikuti Arkha yang kini sudah berjalan.
" Arkha, aku nitip sahabat aku ya ?" Pesan Sandra memastikan.
Arkha hanya mengangguk singkat kemudian melanjutkan jalannya. Dia sama sekali tidak menoleh maupun menengok ke arah Nurul yang kini terlihat cemas.
" Ayo sayang... Kita pulang ke rumah baru kita." Ajak Alfian setelah kedua orang itu pergi.
" Hm.." Jawab Sandra singkat. Dalam hati dia berharap semoga hubungan sahabat beserta adik iparnya masih bisa di benahi.
" Kamu kenapa sayang ? Ngambek ?" Tanya Alfian yang mulai merasa jika Sandra memang bersikap berbeda dari biasanya.
" Enggak..."
" Kalau enggak, kenapa dari tadi ngomongnya begitu ?"
" Ya nggak kenapa-kenapa mas. Udah ayok, katanya mau pulang !" Omel Sandra.
Alfian yang sebenarnya masih ingin bertanya lebih lanjut segera menepis keinginannya itu. Dia berpikir jika Sandra marah kepadanya karena dia tidak menemaninya di rumah sakit disaat-saat dia membutuhkan dirinya di sampingnya.
Setelah semua beres, mereka berdua pun akhirnya pulang ke rumah baru mereka.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mereka kini sampai di rumah besar dengan dua lantai bercat putih.. Ada air mancur yang sangat indah di depan rumah itu setelah melewati pagar besi berukuran besar. Seorang satpam, tadi dengan sigap membukakan pintu pagar untuk mereka.
Sampai di depan pintu, Alfian turun dari mobil kemudian berlari kecil membukakan pintu mobil untuk Sandra. Setelah Sandra turun, Alfian memberikan kunci mobilnya kepada pak satpam supaya memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.
__ADS_1
Untuk sesaat, Sandra melupakan rasa kesalnya kepada sang suami dan berubah dengan rasa takjub dengan pemandangan yang ada di depannya.
Dalam hati Sandra sangat terharu, dia bahkan tidak pernah bermimpi untuk bisa memiliki rumah sebagus dan semewah itu. Pikirannya langsung tertuju kepada kedua almarhum dan almarhumah orang tuanya. Jika saja mereka berdua masih hidup, mereka pasti sangat takjub,, sama seperti dirinya dan juga pasti mereka akan sangat bahagia melihat anak mereka satu-satunya memiliki rumah sebagus itu.
" Bagaimana ? Bagus tidak rumahnya ? Ayo masuk ke dalam..." Ajak Alfian menuntun dan menggandeng Sandra yang masih diam tertegun di sampingnya.
Sandra kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Hal pertama yang ingin dia ucapkan adalah rasa syukur dan terima kasih kepada Tuhan dan juga suaminya yang sudah menyiapkan rumah sebagus itu untuk dirinya.
" Bagaimana sayang ? Kok dari tadi diam saja." Ucap Alfian lagi.
" Mm, bagus." Jawab Sandra datar, padahal dalam hati dia teramat sangat bahagia.
" Cuma bagus ? " Tanya Alfian terheran-heran. Dia masih bingung dengan sikap Sandra yang sejak tadi begitu acuh kepadanya seolah dia telah melakukan kesalahan besar.
" Hm ..iya." Sahut Sandra lagi."
" Oke baiklah, ayo aku ajak berkeliling.." Ajak Alfian berusaha bersabar meski dalam hati bertanya-tanya kesalahan apakah yang telah dia perbuat sehingga membuat Sandra bersikap seperti itu.
Alfian dan Sandra kemudian berkeliling melihat isi di dalam rumah itu.
" Di samping ruang tamu ini , ada ruang keluarga... Nah .. luaskan ? Nanti kita bisa menghabiskan banyak waktu di sini. Dan jika kita lihat dari sini... Lihatlah,, kita bisa langsung melihat kolam renang dari dalam ruangan. "
Dalam hati Sandra bertambah takjub dengan apa yang dia lihat, setiap ruangan memiliki keunikan masing-masing dan di lengkapi dengan fasilitas lengkap dan mewah di tambah dengan interior yang sangat elegan.
" Nah, ini dapur kita.. Di sana ruang makan, dan di sana mushola kecil untuk ibadah berjamaah. Dan yang paling spesial, ayo ke taman." Lanjut Alfian meski tak ada tanggapan dari Sandra.
Alfian mengajak Sandra ke taman di belakang rumah mereka. Taman yang tidak terlalu luas tapi terasa sangat nyaman. Ada dua ayunan dan kursi taman di sana. Pohon-pohon yang tidak terlalu besar juga berjajar melengkapi keasrian taman itu.Tak lupa di sudut taman itu juga terdapat sebuah gazebo, mungkin tempat untuk bersantai atau menghabiskan waktu.
Sandra justru sudah berangan-angan jika tempat itu bakalan jadi tempat favoritnya untuk membuat desain atau mengerjakan tugas kuliah.
" Yank .. Gimana ? Apa pendapatmu tentang rumah ini ?" Tanya Alfian penuh harap.
" Mm, bagus.." Jawab Sandra lagi. Yang sejujurnya dia sendiri tak mampu berkata-kata untuk menggambarkan isi hatinya yang sangat gembira. Apalagi di tambah kabar kehamilannya, itu artinya akan bertambah satu penghuni di rumah mewah itu.
" Kalau bagus kenapa dari tadi hanya diam ?" Tanya Alfian lagi.
" Kan aku dengerin kamu mas dari tadi .."
__ADS_1
" Ck .. Sebenarnya kamu kenapa sih yank ? Apa aku ada salah ? Tolong jelaskan jika memang aku telah membuat kesalahan, biar aku tahu apa kesalahan ku itu. Aku tidak suka melihat mu se acuh ini padaku !"
" Apaan sih mas, kamu nggak salah apapun." Jawab Sandra menghela nafas.
" Kalau tidak salah kenapa kamu jadi begini ? " Alfian merasa bingung sendiri dengan sikap Sandra.
" Jadi begini gimana... Aku biasa saja lho mas dari tadi !" Sanggah Sandra.
" Kamu nggak suka dengan rumah baru kita ? Atau kamu marah karena kita harus pindah sekarang ? Atau gara-gara aku nggak ada di samping kamu saat kamu tadi di rumah sakit??Tolong katakan sayang..., jangan buat aku jadi bingung seperti ini."
" Huft, entahlah mas, aku lagi bete saja sama kamu..." Aku Sandra.
" Bete kenapa yank ? Emang aku salah apa ? Bisa coba jelasin ?"
" Ya mas nggak salah apa-apa,tapi aku bete saja... nggak butuh alasan kenapa." Ujar Sandra berbohong.
" Aneh banget sih kamu yank.. nggak ada angin nggak ada hujan tapi tiba-tiba bete sama suami sendiri.."
" Aku lelah mas, kamar kita yang mana ?" Sahut Sandra kemudian. Dia tidak ingin berlanjut membahas hal yang membuatnya semakin tidak nyaman. Apalagi sekarang ada janin yang harus dia jaga. Untuk itu, Sandra tidak ingin stres atau uring-uringan sendiri karena memikirkan kemesraan suami dan mantannya di masa lalu. Dia juga sadar sepenuhnya jika suaminya juga tidak salah apapun kepadanya.
" Oke, ayo aku antar... Kamu benar, kamu harus banyak istirahat seperti kata dokter tadi. Saking senengnya ingin nunjukin ini semua, mas jadi lupa dengan nasehat dokter." Kata Alfian merasa bersalah.
Setelah sampai di dalam kamar.. Sandra langsung berbaring dan memunggungi suaminya yang masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Dia masih belum puas dengan jawaban yang diberikan oleh istrinya.
Namun saat hendak menyentuh pundak sang istri, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
" Halo..." Kata Alfian setelah mengangkat telepon tersebut. Dirinya kemudian melangkah menjauh dari kamar.
" Apa ?! Kurang ajar !! Jangan lepaskan orang itu ! Tunggu aku di sana, aku akan segera ke sana !"
Selesai menutup telepon selulernya, Alfian terlihat menjadi sangat marah dengan mata merah menyalang.
Tanpa memberi tahu dan berpamitan kepada Sandra, Alfian segera bergegas pergi meninggalkan rumah barunya itu. Tentu saja hal itu membuat Sandra semakin kesal dengan suaminya. Bukanya di bujuk atau di ratu agar moodnya membaik, Alfian justru meninggalkannya begitu saja. Tanpa terasa, air mata kembali mengalir dari kedua sudut matanya.
" Ah, kamu jadi perasa sekali San... Mungkin saja saat ini suamimu lagi ada urusan yang sangat penting dan mendesak .. Mungkinkah ini karena aku sedang hamil ?" Ucap Sandra sambil mengusap-usap perutnya yang masih terlihat rata.
__ADS_1