
" Sial !" Ucap Alfian kesal, membuat semua yang duduk di sekitarnya menatapnya dengan was-was.
" Santai bro.. Jangan marah dulu. Intinya,,aku cuma mau bilang... Terimakasih kepada kalian berdua. Kalian sudah banyak mengajarkan kepada saya tentang apa itu persahabatan dan seperti apa itu mengikhlaskan,, hingga akhirnya...,, saya bisa bertemu dengan perempuan yang tepat dan bisa menerima semua kekurangan saya ini.."
Para hadirin ikut menegang karena penasaran dengan apa yang Gilang ucapkan.
Gilang kemudian berbalik dan menatap Moza yang ada di sampingnya dengan senyum tulus yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
" Moza,, awalnya, mungkin aku bersikap kurang baik padamu. Maafkan aku, aku hanya tidak ingin menyakiti mu dengan memberikan harapan dan hubungan yang palsu. Namun dengan kegigihan dan sikapmu yang dewasa,, bisa membuat hati ini perlahan-lahan menerima kehadiranmu. Awalnya aku masih ragu dengan perasaan ku sendiri. Tapi semakin hari dan semakin banyaknya waktu yang ku lewati dengan mu. Aku menjadi semakin yakin,, jika aku memang mulai jatuh cinta pada mu...."
" Moza .. Mungkin apa yang akan aku katakan ini terlalu berlebihan,, terimakasih telah hadir menyembuhkan luka ku. Terimakasih telah hadir dan mengisi hati ku yang sepi. Dan terimakasih,, telah bersedia menerima semua kekuranganku ini.... Moza,, I Love You,, maukah kau menikah dengan ku ?!" Lanjut Gilang kemudian berlutut dan menunjukkan sebuah cincin berlian yang sangat indah.
Sorak dan tepuk tangan kembali bergema di gedung yang mewah itu.
"Mau, mau ...!! Terima ! Terima ! Terima !" Sorak para hadirin.
Moza sangat terkejut sekaligus terharu mendengar semua itu. Dia tidak menyangka jika di acara pertunangan mereka, Gilang akan melamarnya sekaligus. Dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan, Moza mengangguk mengiyakan permintaan Gilang. Akhirnya, laki-laki yang dia cintai itu menyambut cintanya dan balas mencintainya juga. Kini perasaannya tak lagi bertepuk sebelah tangan.
Tepuk tangan semakin meriah saat melihat Moza mengangguk dan menerima cincin yang disematkan di jari manisnya.
Sandra dan Nurul ikut terharu dan bertepuk tangan melihat semua itu.
" Semoga kamu bahagia Mas Gilang, semoga kalian berdua bahagia." Batin Sandra haru.
" Setelah banyaknya lika-liku di antara hubungan kita, setelah banyaknya kesalahpahaman yang terjadi, akhirnya kini kita bisa menemukan cinta kita masing-masing. Akhirnya Mas Gilang bisa bangkit dan mendapatkan seorang perempuan yang tak hanya cantik dan pintar, tapi juga baik dan dewasa. Aku ikut bahagia mas, selamat..." Imbuh Sandra dalam hati kemudian menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut netranya.
" Kau..."
" Jangan salah paham, aku menangis karena terharu melihat mereka bisa bersatu. Aku bahagia melihat mereka." Potong Sandra yang melihat Alfian menatapnya dengan tajam.
" Huft, aku pikir kau sedih karena Gilang melamar perempuan lain." Tuduh Alfian.
" Hush ! Apa-apaan kau ini mas ! " Sandra menepuk lengan suaminya dengan kesal. Saking kesalnya, Sandra memakai lengan Alfian untuk menghapus ingusnya.
" Apa yang kau lakukan ?!" Teriak Alfian menatap lengannya dengan jijik.
" Rasain." Kata Sandra tak menghiraukan suaminya yang sedang melotot kepadanya.
Alfian kemudian melepaskan jasnya dan menaruhnya di kursi. Ingin dia marah tapi malu karena banyak pejabat dan orang-orang penting di ruangan itu yang sedang menatap mereka.
" Nanti sampai di rumah kau akan membayarnya sayang..." Bisik Alfian menyunggingkan senyum liciknya.
" No ! Aku lelah mas !" Protes Sandra.
" Menolak berarti dosa !" Ancam Alfian dengan senyum menyeringai.
Sandra diam dan tidak menanggapinya lagi. Jika masih membantah dan meladeninya, bisa-bisa saat ini juga Alfian membawanya pulang.
Setelah acara inti selesai. Para hadirin di persilahkan untuk makan malam dengan menu yang sudah di sediakan.
Alfian dan Arkha kompak mengambilkan makanan terlebih dahulu untuk pasangan mereka masing-masing.
__ADS_1
" Aku gak nyangka, Gilang romantis abis ! So sweet !! " Celoteh Nurul.
" Kau benar. Dia sangat keren..." Balas Sandra sambil mengacungkan kedua jempolnya.
" Aku ikut senang, semoga setelah ini, suamimu tidak cemburu buta lagi kepadanya."
" Ku harap begitu."
" Ah, aku jadi iri..."
" Maksudnya ?" Tanya Sandra tidak paham. Karena Nurul juga mempunyai Arkha yang tak kalah sempurnanya dengan Gilang dan Alfian.
" Kau beruntung sudah menikah dan Tuan Alfian sangat mencintai mu meski terkadang sikapnya sangat berlebihan. Sedangkan aku .. Aku takut Sandra, aku takut melangkah lebih jauh lagi bersama Arkha." Aku Nurul.
" Nurul ... Kau kenapa ?" Tanya Sandra yang merasa jika sahabatnya itu pasti sedang merasa tidak baik-baik saja.
" Kalian tidak sedang bertengkar kan ?" Tanya Sandra lagi.
" Enggak. Hubungan kami baik-baik saja. Hanya saja, semakin ke sini, aku semakin takut dengan hubungan yang kami jalani." Kata Nurul dengan sedih.
" Kenapa Rul ? Arkha memperlakukan mu dengan buruk ?" Tanya Sandra.
Nurul menggeleng kemudian menghembuskan nafas dengan berat.
" Aku , aku rasa aku tidak pantas untuknya San. Dia terlalu sempurna untuk diriku. Dunia kami berbeda jauh... Bisa bersanding dengannya seperti sebuah mimpi yang kadang manis dan kadang buruk." Imbuh Nurul sesak.
" Siapa bilang kau tidak pantas ? Kau cantik, kau pintar dan mandiri.. Dan setiap orang juga mempunyai keunikannya tersendiri, tak terkecuali dengan mu. Dengarkan aku, kalian itu pasangan yang sangat serasi." Kata Sandra mencoba memberi dukungan untuk Nurul.
Sontak hal tersebut membuat Sandra membulatkan kedua matanya karena tidak menyangka.
" Jadi hal Itukah yang membuatmu menghindari ku akhir-akhir ini ?" Kata Arkha yang ternyata sudah kembali.
" Arkha !" Ucap Sandra dan Nurul serentak.
" Aku perlu bicara dengan mu." Tarik Arkha kepada Nurul yang masih terkejut karena Arkha mendengarkan apa yang baru saja dia ucapkan.
" Kita mau kemana ?" Tanya Nurul yang mencoba mengimbangi langkah panjang Arkha.
Arkha tak memperdulikannya kemudian tetap menggandeng Nurul menjauh dari tempat itu.
" Arkha,, !" Teriak Sandra yang khawatir dengan keadaan sahabatnya. Dia takut Arkha akan berbuat buruk dan bertindak bodoh seperti saat Alfian sedang marah kepadanya.
" Sudahlah, mereka sudah besar.. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Tidak usah ikut campur terlebih dahulu." Kata Alfian yang juga menyaksikannya.
" Mas juga dengar ?" Tanya Sandra.
" Sedikit... Aku tahu apa yang kau cemaskan. Tenanglah, Arkha tidak seburuk yang kau bayangkan. Dia bisa mengendalikan emosi lebih baik dari pada diriku." Ucap Alfian yang sebenarnya tidak suka mengakui hal itu.
" Tapi mas, aku sangat khawatir..." Ucap Sandra lagi.
" Sayang, mereka tidak akan kenapa-kenapa. Sahabatmu aman di tangan adikku. Jika sampai Arkha berbuat macam-macam, aku sendiri yang akan turun tangan memberinya pelajaran. Sekarang habiskan makanan mu, setelah itu kita pulang." Kata Alfian.
__ADS_1
Dengan terpaksa Sandra kemudian menghabiskan makanan yang sudah Alfian ambilkan untuk dirinya.
Selesai makan, Alfian dan Sandra maju ke depan untuk memberikan selamat kepada Gilang dan Moza sebelum pulang.
" Selamat Kak Moza.. Aku turut bahagia untuk kalian..." Ucap Sandra tulus.
Moza menyambutnya dengan senang kemudian saling berpelukan.
" Terimakasih, aku senang kalian bisa hadir." Ucap Moza setelah melepaskan pelukannya.
Sandra tersenyum kemudian beralih kepada Gilang..
" Selamat ya mas ?" Ucap Sandra.
" Terimakasih San. " Jawab Gilang menjabat ukuran tangan dari Sandra.
" Boleh aku peluk juga ?" Sambung Gilang.
" Boleh jika kamu ingin hidungmu kembali patah ." Ucap Alfian yang ada disamping Sandra.
Gilang nyengir kuda mendengar ancaman dari sahabatnya itu.
" Hehehe, aku hanya bercanda. Lagi pula aku sudah ada wanita yang mau aku peluk." Balas Gilang kemudian merengkuh punggung Moza dan menariknya ke dalam dekapannya.
Moza yang mendadak di perlakukan seperti itu menjadi salah tingkah sekaligus bahagia.
" Hish... Dasar pamer !" Olok Alfian kemudian menepuk bahu Gilang dan memberikan ucapan selamat secara langsung.
" Hehehehe... Kau pikir hanya kamu yang bisa pamer ?"
" Ck... ! Ku harap, kalian bahagia." Ucap Alfian sambil menyunggingkan seuntai senyum nya, kemudian menggenggam tangan Sandra dan mengajaknya beralih dari sana.
Gilang yang tidak menyangka akan mendapatkan ucapan tulus dari Alfian sampai-sampai terbengong mendengarnya. Dia tidak menyangka, setelah kesalahpahaman yang terakhir kemarin, persahabatan mereka masih bisa kembali seperti semula.
" Al... Thanks.." Sahut Gilang yang membalasnya dengan senyum mengembang saat mereka sudah mulai menjauh.
Alfian hanya membalasnya dengan lambaian tangan. Kemudian dia merogoh ponsel di sakunya dan mengetikkan sesuatu.
" Ayo kita pulang..." Ajak Alfian setelah itu.
Sandra sedikit bingung kenapa Alfian tiba-tiba terlihat senang tapi mencurigakan seperti itu.
" Mas kenapa ? Menang lotre ?" Tebak Sandra.
" Lotre ? Kamu pikir aku tukang judi ?!"
" Abis mas senyum-senyum sendiri kaya orang gila. " Sahut Sandra.
" Apa ! Berani ya kamu ngatain aku orang gila !"
" Hehehe, kalau marah berarti betul, orang gila !"
__ADS_1
" Ck... Kamu benar-benar ingin di beri pelajaran !" Ancam Alfian kemudian semakin erat menggandeng Sandra.