
Sandra terbangun saat Alfian masih tidur terlelap di sampingnya. Pelan-pelan, Sandra membawa tubuhnya ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Rasa ngilu dan sakit luar biasa dia rasakan pada inti tubuhnya. Bukan hanya itu, sekujur tubuhnya penuh dengan tanda merah dan juga lebam bekas gigitan Alfian. Sandra menangis tersedu di kamar mandi.
" Bodoh Sandra ! Kenapa kamu hanya bisa menangis ? Tidak bisakah kamu menjelaskan kepada suami mu sendiri jika semua yang di tuduhkan kepadamu tidak lah benar ?" Rutuk Sandra pada dirinya sendiri.
Selama lebih dari satu jam, Sandra menangis menyesali kebodohannya sendiri.
Sedangkan di atas ranjang, Alfian mulai membuka matanya. Kepalanya terasa pusing karena terlalu banyak marah-marah. Kini kejadian di taman terulang lagi di benaknya. Alfian menggeleng pelan, berharap rasa sakit di kepala bisa berkurang. Barulah dia menyadari jika Sandra sudah tidak ada di sampingnya.
"Pasti Sandra ada di dalam kamar mandi. " Tebak Alfian. Kemudian Alfian segera bangkit lalu mengambil jubah mandi di ruang ganti.
Detik berganti menit, namun Sandra tak kunjung keluar dari kamar mandi.
" Apakah dia menangis lagi di kamar mandi ?" Tanya Alfian.
Tepat saat itu,pintu kamar mandi terbuka. Sandra keluar mengenakan jubah mandi yang menutupi seluruh tubuhnya. Kedua matanya terlihat sangat merah dan bengkak. Bisa di pastikan jika tebakan Alfian benar. Sandra menangis, dan hal itu membuat hati Alfian sama terlukanya. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk melukai istrinya, namun lagi-lagi dia tidak bisa mengontrol emosinya.
" Kamu menangis karena apa Sandra ? Karena ku atau karena Gilang ?" Batin Alfian masih salah paham lalu menggelengkan kepalanya lagi karena pusing yang dia rasakan semakin menjadi.
" Minggir...!" Entah kenapa,kata itu yang justru keluar dari mulutnya, padahal Alfian ingin sekali bertanya tentang keadaan Sandra.
Sandra yang masih ketakutan segera bergegas ke ruang ganti. Sakit rasanya di perlakukan seperti itu oleh orang yang dia cintai. Di acuhkan bahkan di perlakukan secara kasar. Tapi Sandra tahu, Alfian seperti itu karena marah dan salah paham.
Sekuat hati, Sandra berusaha menahan tangisnya. Dia tidak boleh terlalu cengeng. Dia harus berusaha meluruskan kesalahpahaman diantara dirinya dengan Alfian.
Sandra mengganti jubah mandinya dengan baju tidur lengan panjang. Setelah itu, meski masih takut Sandra kembali ke ranjang dan menunggu Alfian selesai mandi.
Tidak begitu lama, Alfian keluar dari kamar mandi. Tatapan mata mereka saling bertemu. Namun tidak ada yang berbicara, Alfian lalu berjalan dan mengganti pakaiannya. Dia tahu Sandra sudah menyiapkan pakaian untuknya dan di taruh di pinggir ranjang. Namun Alfian enggan memakainya. Meski tubuhnya terasa lebih segar setelah bertemu dengan air, namun amarahnya kepada Sandra belum juga mereda.
Sandra menarik nafas dalam-dalam. Mulai sekarang mungkin dia harus kembali terbiasa dengan sikap Alfian yang acuh dan dingin.
Sandra merasa lelah sekali. Sekujur tubuhnya juga terasa sangat sakit. Bahkan kini pergelangan tangannya mulai terlihat membiru. Namun semua itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan apa yang hatinya rasakan sekarang.
Alfian keluar dari ruang ganti sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Disaat sakit kepala seperti ini, biasanya Sandra selalu memijat kepalanya. Namun egonya sangat tinggi untuk meminta tolong Sandra agar memijat kepalanya.
" Mau aku bantu mas ?" Tanya Sandra mengabaikan rasa takutnya.
Alfian menatapnya sebentar kemudian melemparkan handuk kecil itu di pangkuan.
Tanpa berkomentar Sandra segera mengambil handuk itu lalu mendekati suaminya yang kini duduk di sofa.
__ADS_1
Sandra mulai mengeringkan rambut Alfian dengan lembut sambil sesekali memijatnya. Alfian menikmati sentuhan dari tangan Sandra yang pada kenyataannya memang bisa mengurangi rasa sakit di kepalanya.
" Jangan harap dengan membantu ku seperti ini saja ,aku bisa memaafkan mu dan selingkuhan mu itu !" Kata Alfian sinis.
" Aku gak selingkuh mas..." Balas Sandra membela diri.
" Sayangnya aku sudah tidak percaya dengan mu !"
" Tolong kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya..." Pinta Sandra sambil tetap memijat kepala Alfian.
" Apa yang ingin kamu jelaskan ? Membela diri ?"
" Bukan mas, lebih tepatnya aku ingin bicara yang sejujurnya.."
Alfian diam tidak menanggapi.
" Aku akui aku salah ,aku minta maaf untuk masalah pil kontrasepsi itu. Waktu itu aku takut, sangat-sangat takut jika aku hamil. Awalnya aku lega karena mas saat itu tidak menyentuhku.. Tapi tetap saja, aku merasa khawatir. Saat itu tidak ada perasaan cinta diantara kita, justru yang ada adalah hal yang sebaliknya. Untuk itu aku berjaga-jaga agar tidak terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan." Sandra memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya.
" Tapi aku punya alasan mas, saat itu usiaku belum genap sembilan belas tahun dan belum lama lulus sekolah. Yang aku pikirkan saat itu hanyalah menuruti keinginan almarhum bapak. Kenyataan itu belum bisa aku terima sepenuhnya, aku yang tadinya seorang pelajar berubah drastis menjadi seorang istri di usia muda dari sorang yang belum ku kenal sebelumnya. Apalagi hubungan kita tidak baik dari awal berjumpa. Aku belum siap menjadi seorang istri waktu itu, apalagi jika harus menjadi seorang ibu. Itu yang membuatku nekat memutuskan untuk meminum pil kontrasepsi. Aku minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf. Aku tahu aku egois, setelah hubungan kita membaik dan sudah seperti sepasang suami istri yang semestinya, harusnya aku segera berhenti meminumnya dan berbicara jujur kepada mu." Ucap Sandra memberi jeda.
" Lalu kenapa kamu tidak jujur dan justru tetap mempertahankan kebohongan mu itu ?! Padahal kamu tahu aku menginginkan seorang anak."
" Maaf mas, aku yang salah.... Sudah ku bilang aku yang egois. Aku masih ingin menikmati masa-masa ini dengan teman-teman, masih ingin berkarya dan bekerja sehingga aku mengabaikan keinginan mu. Sebagai seorang istri harusnya aku patuh dan menurut, maaf...." Sesal Sandra. Kini tubuhnya kembali bergetar, namun sebisanya dia bertahan agar tidak menumpahkan air mata lagi di depan Alfian. Seperti nasehat yang diberikan oleh Nurul, dia harus bisa menghadapi masalah yang dia buat.
" Apapun alasanmu. Kamu sudah membuatku kecewa. Bukan hanya masalah anak. Tapi juga soal hubunganmu dengan Gilang !"
" Hubungan kami tidak seperti yang kamu tuduhkan mas.. Aku dan mas Gilang sudah tidak punya perasaan yang sama seperti dulu. Kita murni hanya berteman dan mas Gilang hanya menganggap dan memperlakukan ku seperti adik. Jika makan dan mengobrol dengannya membuat mas marah. Aku bersedia menjauh darinya. " Ucap Sandra lagi.
" Hanya makan dan mengobrol katamu ?! Kalian berpelukan, dia memberikan perhatian yang berlebihan kepada mu ! Ingat Sandra, kamu istriku dan dia sahabatku. Meskipun dia bersikap layaknya seorang kakak untukmu , harusnya kamu bisa menghargai ku sebagai seorang suami !"
" Maaf mas.., saat itu aku terlalu sedih mas mengacuhkan ku. Mas sering tidak pulang dan bahkan menghindari ku. Padahal aku ingin sekali minta maaf secara langsung. Tapi mas tidak pernah memberiku kesempatan untuk berbicara. Aku bingung, aku sedih, tapi tidak bisa bercerita kepada siapapun karena takut membuat mereka khawatir padaku..."
" Maksudmu hanya dengan Gilang kamu bisa menumpahkan semua kesedihan mu itu !? " Sela Alfian dengan nada yang mulai meninggi.
" Bukan begitu mas... Saat itu mas Gilang datang hanya untuk menanyakan kabarku. Karena tahu aku belum makan, mas Gilang mengajak ku makan lalu kita mengobrol dan menghibur ku di taman. Mas Gilang tahu aku terlalu memikirkan banyak hal dan semuanya mengalir begitu saja.." Kata Sandra menjelaskan.
Alfian memejamkan matanya sesaat. Mungkinkah yang di katakan Sandra benar adanya ? Apakah emosinya terlalu berlebihan ? Emosi benar-benar membuatnya lupa diri. Sandra benar, dia yang mengacuhkannya beberapa hari ini. Jika saja dia mau memberikan kesempatan kepada Sandra untuk menyelesaikan masalah mereka bersama, pasti kejadiannya juga tidak akan sampai seperti ini. Lagi... Alfian gagal mengontrol emosi. Selalu saja dia kehilangan kendali jika emosi sudah menguasainya. Bahkan dia sampai membuat istrinya sendiri ketakutan dan terluka. Bukan hanya luka hati, tapi juga luka fisik. Alfian kemudian membuka matanya. Masih bingung harus bagaimana bersikap. Sandra sudah meminta maaf untuk kesalahan yang sebelumnya, dan untuk kesalahannya bersama Gilang, ada andil dirinya yang Iki bersalah. Seharusnya dia tidak membiarkan masalahnya dengan Sandra berlarut-larut sehingga membuat Sandra dalam kesedihan dan rasa bersalah. Bukan salah Gilang juga yang punya niat baik untuk menghibur Sandra. Namun kekhawatiran, kepedulian, perhatian dan juga rasa nyaman yang Gilang berikan kepada Sandra tidak bisa dia terima. Biar bagaimanapun Sandra adalah istrinya, istri sahabatnya, tidak seharusnya Gilang bersikap berlebihan seperti itu. Apa lagi katanya sebentar lagi akan bertunangan. Bukan hanya dia yang bisa salah paham dengan semua itu, tapi juga calon pasangannya. Sebagai suami dan juga sahabat, Alfian merasa harga dirinya di cabik.
" Aku sudah memaafkan masalah pil kontrasepsi itu. Tapi aku tetap akan memberikanmu hukuman karena sudah berani membohongiku. Dan untuk masalah dengan Gilang, aku belum bisa memaafkannya." Kata Alfian kemudian beranjak pergi dari kamar.
__ADS_1
Tinggallah Sandra seorang diri masih tertegun mendengar ucapan suaminya. " Hukuman ?" Gumam Sandra.
" Bahkan kamu sudah menghukum ku dengan mengacuhkan ku dan membuatku sangat merana beberapa hari ini mas ? Bahkan tadi kamu juga melukai hati ku, melukai fisikku !" Ucap Sandra terisak kembali. Sulit sekali mendapatkan pengampunan dari suaminya. Di tambah dengan Gilang yang entah bagaimana sekarang kabarnya. Membuatnya semakin tertekan karena takut Alfian akan menyakiti Gilang lagi. Sandra merasa sangat bersalah kepada laki-laki itu.
" Semua salahku, aku yang begitu bodoh hingga membuat orang-orang yang sayang padaku ikut terseret dalam masalah ku !" Tangis Sandra pilu.
***
Alfian kemudian membuka pintu apartemennya. Dia memicingkan matanya dengan tajam saat melihat Dias langsung berdiri begitu melihatnya.
" Ngapain kamu di sini ?" Tanya Alfian dingin, dia kesal dengan Dias karena Gilang tahu masalahnya pasti dari Dias.
" Sorry Al. Aku hanya khawatir dengan kalian." Kata Dias sambil nyengir kuda berusaha mencairkan suasana.
Alfian tersenyum meremehkan.
" Jadi sejak tadi kamu menunggu ku di sini ??Bukankah tadi kamu bersama dia ? Dia tahu semua itu dari kan ?!!" Tanya Alfian dengan kesal.
" Eh,, maaf .. Aku keceplosan kemarin.. Tadi aku suruh orang untuk membawanya ke rumah sakit." Balas Dias yang tahu jika yang di bahas oleh Alfian adalah Gilang.
" Jadi dia yang menyuruhmu mengikuti ku ? Secemas itu dia mengkhawatirkan istriku ??" Tanya Alfian tidak suka dan penuh selidik.
" Bukan begitu Al.. Kita hanya takut saja jika kamu kehilangan kendali..."
" Berarti benar, dia yang menyuruhmu mengikuti ku ? Apakah menurut kalian aku orang yang berbahaya sehingga kalian sampai takut aku akan berbuat hal yang tidak-tidak kepada istriku sendiri ?!" Bentak Alfian.
Dias melengos menahan malu. Iya juga sebenarnya. Untuk apa mereka terlalu khawatir ? Toh Alfian membawa pergi istrinya sendiri,bukan istri orang lain. Tapi tetap saja... Sikap Alfian yang tidak bisa mengontrol emosi membuat mereka was-was.
" Sebenarnya atasanmu itu aku atau dia hah ! Kenapa kamu lebih patuh kepadanya ??!" Hardik Alfian memojokkan Dias.
Dias menunduk dan tidak berani menjawab amarah Alfian.
" Aku mau pergi ! Jangan ikuti aku !" Kata Alfian kemudian berlalu.
" Lalu Sandra dimana Al ? Apakah dia baik-baik saja ?" Tanya Dias.
Alfian berbalik badan. Menatap Dias dengan sorot mata yang tidak bersahabat.
" Masihkah hal itu menjadi urusanmu ?" Sindir Alfian.
__ADS_1
Dias kembali mati kutu dan tidak bisa berkutik.
" Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kantor." Kata Dias kemudian ngibrit cepat-cepat pergi dari hadapan Alfian yang menakutkan.