Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Pernikahan Dimajukan !


__ADS_3

Sore itu Sandra selesai mandi dan berganti pakaian. Alfian sudah mengabari jika sebentar lagi dia akan sampai. Malam ini Sandra akan makan malam di rumahnya. Selagi menunggu Sandra menerka-nerka apa yang akan Pak Wijaya bicarakan. Sandra takut saja jika kejadian kemarin ketahuan.


Pukul tujuh lebih dua puluh menit. Alfian menghubungi Sandra agar segera keluar karena dia sudah menunggu di depan gerbang.


Tentu Sandra menggunakan handphone pemberian darinya.


" Maaf, tadi ketiduran tuan ." Dalih Sandra. Bukan tanpa alasan, Alfian sudah terlihat kesal karena menunggu Sandra .


" Bisa-bisa kita sampai setelah makan malam selesai! " Keluh Alfian.


Sandra yang mulai memahami sifat pemarah dan tidak sabaran Alfian memilih diam tidak menanggapi keluhan itu. Percuma menjelaskan yang ada nanti akan sakit hati.


" Maaf. " Cuma kata itu yang terlontar, selebihnya mereka diam saja di dalam mobil. Benar-benar sepi. Sandra yang merasa canggung dan bosan ,membuka kaca jendela mobil dan menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.


Alfian menoleh sebentar.


" Tutup kacanya ! " Perintah Alfian.


" Saya hanya mencari udara segar tuan . "Kilah Sandra.


Sebenarnya bukan itu alasan Sandra. Melihat pemandangan dan hiruk pikuk di jalanan lebih menyenangkan dibandingkan hanya duduk di mobil dengan Alfian tanpa ada obrolan atau suara musik di mobil. Alfian tidak suka berisik. Itu yang pernah dia dengar dari Dias waktu bertemu dulu.


" Sudah ada AC, mau lebih dingin ?! " Tawar Alfian ketus.


" Tidak tuan, begini sudah cukup dingin." Jawab Sandra lalu menaikkan kaca jendela mobil itu hingga tertutup rapat.


Alfian mengangkat kedua alisnya.


" Benar tuan, mobil ini nyaman sekali. Sejuk ,wangi ." Puji Sandra . Lagi-lagi berharap si tuan tidak marah.


" Ehm tuan, boleh saya bertanya? " Sandra mencoba mengajak Alfian mengobrol agar tidak canggung.


Alfian diam. Ya ... Diam berarti boleh itu yang Sandra pelajari selama berbicara dengan Alfian.


" Apakah Pak Wijaya mengetahui tentang tempo hari ? "


" Mungkin."


Jawaban dari Alfian membuat wajah Sandra menegang. Dia takut itu benar. Lalu ... Ah Sandra yang hobi sekali menghayal sudah membayangkan yang tidak-tidak.


" Kenapa, Takut ? Harusnya kamu berfikir dulu sebelum bertindak. Sudah terjadi berarti kamu siap menanggung resikonya."


" Ya mana saya tau kalau bakal ketahuan begini tuan ." Ujar Sandra polos.


" Jadi .... Kamu justru berharap agar tidak ketahuan biar bisa menipu saya dan keluarga saya ? Kamu gak nyesel?" Ucap Alfian marah.


" Tidak tuan, bukan begitu..." Sandra tergagap .


" Aduh salah ngomong lagi !" Batin Sandra kesal dengan dirinya sendiri.


" Saya, saya mana tau tuan jika Mas Gilang akan mencium saya. It...itu..itu ciuman pertama saya tentu saya terkejut dan tidak bisa mengelak." Sandra menjelaskan.


" Tidak tanya ! Saya tidak bertanya itu ciuman pertama atau itu ciuman keseratusmu sekalipun saya tidak perduli. Pembelaanmu konyol sekali ! Saya yakin kalau memang papa sudah mengetahuinya kita selesai di sini. Baguslah , itu juga yang sudah lama saya inginkan.Sekarang saya bisa terbebas tanpa perlu bersusah payah melawan papa lagi !" Ucap Alfian emosi.


"Jangan tuan, kasian ibu saya... jangan sampai pernikahan ini batal. Saya sudah menandatangani surat yang tuan minta, saya akan menuruti semua perintah tuan seperti yang tertulis , bantu saya tuan..." Rengek Sandra ketakutan.


Alfian mengabaikannya.Amarahnya naik sampai ke ubun-ubun. Bayangan antara Sandra dan Gilang tempo hari membuatnya kembali emosi. Entah kenapa, Alfian sendiri heran dengan dirinya.


" Berengsek ! " Teriak Alfian. Kebenciannya terhadap Gilang kini semakin bertambah.


Sandra semakin takut melihat Alfian yang semakin marah .


" Jangan melotot begitu tuan, saya takut.... "


Alfian memandang Sandra dengan geram . Tentu hanya gadis itu yang bisa dia jadikan pelampiasan kemarahannya dengan Gilang.


Sisa perjalanan mereka kembali membisu dengan pikiran masing-masing. Sandra yang gugup dan ketakutan, sedangkan Alfian marah dan emosi .


Seperti itulah Alfian. Dia tidak segan berbuat hal buruk sekalipun untuk melindungi atau mendapatkan apapun yang dia mau.Dulu saat Rena belum menjadi kekasihnya, dia pernah berkelahi dengan kakak kelas yang juga menyukai Rena. Menurutnya tidak ada orang lain yang boleh mengganggu ataupun memiliki apa yang dia sukai atau yang dia inginkan. Saat ini sama seperti waktu itu.


Sandra dan Gilang memang saling mengenal lebih dahulu , namun perjodohan ini membuat Sandra harus menikah dengannya. Itu artinya Sandra miliknya, suka atau tidak suka entah benci atau tidak Alfian merasa lebih berhak ketimbang Gilang. Meskipun persahabatan mereka taruhannya. Itu pemikiran Alfian. Makanya dia sangat marah mendengar ciuman pertama Sandra justru Gilang yang mendapatkannya. Entah mengapa Alfian merasa di hianati oleh sahabatnya sendiri.


Berbeda dengan Alfian. Gilang berusaha mengejar cintanya, rasa yang berawal dari terimakasih berkembang menjadi kekaguman dan rasa suka kepada Sandra. Bukankah cinta harus di perjuangkan ? Menurutnya Gilang lebih pantas dari pada Alfian. Tentu atas dasar rasa yang dia miliki. Dia ingin memiliki Sandra karena tulus menyukainya. Sedangkan Alfian ingin memilikinya bukan karena kehendak hatinya. Gilang tahu betul jika Alfian hanya akan menyulitkan hidup Sandra. Dan dia tidak ingin Sandra hidup menderita, terlebih Sandra juga mulai menyukainya. Perjuangan yang lumayan panjang untuk mendapatkan hati gadis manis itu, kini harus siap pupus karena perjodohan orang tua yang merugikan banyak pihak. Salah satunya dia yang menjadi korban itu. Sudah pasti Gilang tidak rela melepaskan Sandra.


Sandra dan Alfian sudah sampai di kediaman Wijaya.Tanpa menunggu lama mereka kemudian masuk dan di sambut keluarga Pak Wijaya.

__ADS_1


Sambutan yang hangat. Sandra merasakan kelegaan yang luar biasa. Sedikit demi sedikit rasa takutnya memudar.


" Kakak ! " Teriak Neta seperti biasa.


" Kangen, kangen, kangen..., sudah gak sabar kakak nikah sama kak Al , terus kita tinggal bareng deh disini. Pasti menyenangkan ada kakak di sini. " Lanjut Neta memeluk Sandra bahagia. Pak Wijaya tak kalah bahagia mendengar perkataan putrinya.


Sandra tahu ,hal itu pasti karena Neta kesepian di rumah sebesar ini. Apa lagi papa dan dua kakak laki-lakinya semua serba sibuk. Sandra memakluminya karena dia sendiri juga merasakan hal yang sama dengan Neta. Selalu sendiri. Bedanya Neta sendirian tapi tanpa kekurangan satu apapun. Apa yang dia mau dan dia butuhkan sudah tersedia. Sedangkan Sandra, sendirian menjadi anak tunggal dari keluarga yang pas-pasan tidaklah menyenangkan. Saat bapak dan ibunya sibuk mencari nafkah, Sandra harus sendirian dengan keadaan yang serba kekurangan. Dan mau tidak mau Sandra harus mandiri sejak kecil tanpa bantuan siapapun.Tidak boleh cengeng atau banyak mengeluh. Beruntung dia punya tetangga yang baik seperti Bibi Nani dan sahabat yang luar biasa seperti Nurul. Ah ... Sandra jadi kangen sama gadis berambut keriting itu.


" Neta lepaskan pelukanmu, kakakmu tidak bisa bernafas." Protes Pak Wijaya.


" Hehe maaf ya kak, habis kangen beneran." Ucap Neta terkekeh manja.


" Iya gak papa. " Balas Sandra tersenyum. " Mungkin begini rasanya di rindukan seseorang. Bahagia." Batin Sandra.


" Lebay . " Protes Arkha.


" Biarin. " Sahut Neta tak mau kalah. Sudah bukan hal baru jika Arkha dan Neta sering bertengkar.


" Gak kangen sama aku ? " Tanya Alfian lembut. Sandra sampai di buat bengong dengan perkataan Alfian barusan.


Sejak kapan Alfian bisa berbicara lembut seperti itu ? Atau Sandra saja yang belum mengenal Alfian lebih jauh ?


" Jangan kaget, dia hanya bersikap lembut seperti itu kepada Neta saja ." Ucap Arkha yang mengetahui mimik wajah Sandra berubah.


" Oh... ehm gitu . " Sandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Aku pikir sudah mau kiamat dia bisa lembut begitu!" Lanjutnya dalam hati.


" Kangen dong. " Neta beralih memeluk kakak pertamanya itu.


" Dah yok langsung makan saja, keburu dingin . " Ujar Arkha yang melengos saat Neta memeluk Alfian dengan sayang.


Bukan iri, hanya saja sikap Alfian menurut Arkha selalu pilih kasih kepada sesama adik. Dulu Alfian sering mengancam akan memukulnya jika Neta sampai menangis saat bermain dengannya. Alfian juga sering melindungi Neta dari teman-temannya yang usil, sedangkan jika Arkha yang di ganggu anak-anak itu , Alfian tak pernah membelanya seperti saat Alfian membela Neta. Justru Alfian malah menyalahkannya karena menganggap Arkha cengeng dan penakut. Kejadian itu terus ada di ingatan Arkha meski kini dia sudah tumbuh dewasa. Hal itulah yang justru menyebabkan Arkha suka mengganggu dan bertengkar dengan Neta.


" Iya ayok kita makan malam. Papa sudah sangat lapar. " Imbuh Pak Wijaya yang memahami kecemburuan anaknya.


Akhirnya mereka makan malam dengan khidmat. Neta berceloteh ria seperti biasanya. Semua mendengarkan dengan baik kecuali Arkha yang sesekali mengejeknya.


Namun Pak Wijaya selalu bisa membawa suasana kembali tenang. Memahami karakter anak satu dengan yang satunya tentu bukan hal mudah , namun Pak Wijaya selalu berusaha menjadi penengah yang bijaksana dan adil di antara anak-anaknya .


" Ada hal penting yang ingin papa sampaikan kepada kalian semua, terlebih kalian berdua. " Ucap Pak Wijaya menatap Sandra dan Alfian.


" Persiapan pernikahan kalian sudah sembilan puluh persen selesai. Surat-surat, penghulu ,gedung, gaun ,MUA, sovenir, catering, undangan dan pengamanan semua sudah beres. Untuk itu saat mengantar Bu Lastri pulang kemarin kita sudah setuju memajukan hari pernikahan kalian seminggu lagi. Maaf papa baru bilang sekarang karena kemarin papa sibuk dengan pencetakan ulang undangan pernikahan kalian. Tentu papa mengubah tanggalnya dan hari ini semua undangan sudah selesai di sebarkan." Ujar Pak Wijaya.


" Yesss , jadi minggu depan kakak udah resmi jadi kakak ipar ku dong ?" Ucap Neta kegirangan.


Berbeda dengan Sandra.. Dia terkejut. Dari kemarin banyak sekali hal-hal mengejutkan yang terjadi.


" Seminggu lagi ?" Ucap Sandra mengulang.


" Iya .. Minggu depan kalian menikah. " Ucap Pak Wijaya menegaskan.


" Apa ada masalah nak ? " Tanya Pak Wijaya lebih lanjut saat melihat Sandra terkejut.


" Tidak ada pa, dia mungkin terkejut karena terlalu senang pernikahan ini di majukan ." Potong Alfian cepat.


" Oh begitu ... apa betul begitu nak ? " Tanya Pak Wijaya meyakinkan.


" Be betul pa... saya terkejut karena senang ." Ucap Sandra sambil tersenyum kaku setelah melihat Alfian meliriknya dengan tajam.


Seminggu lagi dia akan menikah ? Harusnya dia bahagia karena itu yang dia inginkan. Tapi kenapa dirinya justru sedih ?


" Kuat Sandra kamu harus kuat dan bertanggung jawab atas keputusanmu." Batinnya getir.


" Baguslah kalau begitu. Oya papa dengar dari Al kamu sudah berhenti bekerja. Papa mendukungmu. Setelah menikah nanti kamu fokus saja dengan kuliahmu. Nanti bisa kamu diskusikan dengan Al mau kuliah dimana dan jurusan apa. Papa pasti menyetujuinya. Sekarang kamu fokus saja pada pernikahan kamu minggu depan." Ujar Pak Wijaya.


" Baik pa. " Balas Sandra pasrah.


Setelahnya, mereka asik membicarakan pernikahan yang akan segera di selenggarakan Minggu depan itu.


" Ikut aku ke kamar.. " Ajak Alfian .


Sandra menatap Alfian kemudian menoleh kepada Pak Wijaya. Meminta izin lebih tepatnya meminta bantuan. Mereka belum sah menjadi suami istri, bagaimana bisa Alfian mengajaknya ke kamar dan hanya berdua ?


Tapi sayang, Pak Wijaya justru tersenyum menyetujui permintaan Alfian.

__ADS_1


" Sana pergilah, kalian yang akan menikah, pasti banyak yang ingin kalian bicarakan." Ujarnya bahagia.


" Apa lagi sekarang ? " Ucap Sandra dalam hati sambil mengikuti Alfian yang naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Sandra masuk ke kamar Alfian. Takjub. Sandra melihat sekeliling kamar itu dengan kagum. Kamarnya sangat luas, ada kamar mandi di dalam, ada ruang kerja yang tertata rapi lengkap dengan komputer dan perpustakaan kecil. Ada sofa panjang, di depannya ada televisi layar datar yang sangat besar. Di tengah ruangan ada tempat tidur ukuran king size yang terlihat sangat nyaman. Ada pintu lagi di sebelah kamar mandi. Mungkin itu ruang pakaian. Sandra melangkah maju , di balkon ada dua kursi santai dengan sebuah meja kecil.


" Wah, bagus sekali kamar tuan. " Ucap Sandra.


" Saya mengajakmu ke sini bukan untuk mengagumi kamar ku ! " Ucap Alfian datar.


" Ehm ,oh .. " Sandra tersadar dengan ucapan Alfian. Malu rasanya.


" Ada apa tuan?" Tanya Sandra akhirnya, mengabaikan rasa malunya barusan.


" Kenapa kamu tadi terlihat tidak suka jika pernikahan kita di ajukan ?! " Bentak Alfian seperti biasa.


" Bukan begitu tuan, saya senang ." Elak Sandra tersenyum.


" Kamu mau membodohi saya ! "


" Tidak tuan ... bukan begitu...."


" Lalu ? "


" Saya hanya terkejut , karena saya rasa terlalu cepat. Hanya itu . " Ucap Sandra menunduk.


" Sebenarnya apa maumu. Sebentar bilang iya sebentar bilang tidak. Apa menurutmu pernikahan ini mainan !? " Sentak Alfian.


Sandra tercekat tak bisa berkata apapun.


" Apa kamu masih berharap kepada laki-laki itu ?! Cepat katakan, saya masih bisa membatalkannya sekarang !"


" Tidak tuan, tidak ... "


" Benarkah ? "


Sandra mengangguk.


Kalau begitu saya butuh bukti.


" Bukti ? Saya sudah menandatangani su...."


" Bukan itu !" Potong Alfian cepat. Senyuman kecil tersungging di bibirnya.


" Lalu bukti apa tuan?" Tanya Sandra frustasi. Masalah pernikahan membuatnya banyak beban dan pikiran. Lelah berhadapan dengan tingkah Alfian yang tak terduga.


Alfian tak menjawab. Dirinya melangkah mendekati Sandra. Semakin dekat..


" Tuan, jangan macam-macam." Cegah Sandra.


" Hanya satu macam. " Balas Alfian berbisik.


Sandra mulai panik dan berjalan mundur. Alfian mengikutinya dengan senyum kecilnya.


" Saya bisa membuktikan dengan yang lain tuan. "


" Saya tidak ingin yang lain. "


Ucapan Alfian semakin membuatnya takut. Sandra semakin mundur namun sial. Tubuhnya sudah terbentur dinding di belakangnya sehingga dia tidak bisa melangkah ke tempat lain. Alfian memepet tubuhnya . Membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.


" Saya ingin bukti sekarang kalau kamu sudah siap menikah dengan saya !" Alfian semakin menjadi.


Tadinya dia hanya ingin menakut-nakuti Sandra tapi melihat ketakutan di wajah Sandra justru membuatnya semakin tertarik mengganggunya.


" Jangan sekarang tuan , saya sudah menuruti semua yang tuan minta. Saya sudah berhenti bekerja,sudah me...."


Sandra terhenti, matanya melotot karena kaget. Alfian mencium bibirnya. Sama seperti kemarin ,hanya saja sekarang Alfian melakukannya dengan lembut. Sandra berusaha mendorong tubuh Alfian. Namun justru tangannya dipegang oleh Alfian tanpa melepaskan ciumannya.


" Buka mulutmu ." Perintah Alfian dengan berbisik , kemudian melanjutkan apa yang dia inginkan.


Sandra berusaha menggelengkan kepalanya. Namun semakin dia berusaha mengelak Alfian semakin dalam dan semakin kuat menciumnya.


Setelah puas Alfian melepaskan ciumannya. Tanpa menunggu lama Sandra langsung mengambil kesempatan itu untuk kabur. Namun lagi-lagi, tangan yang dari tadi Alfian pegang belum di lepaskan, Alfian lalu menarik tubuh Sandra yang kemudian jatuh ke pelukannya.


" Aku rasa kamu harus mulai membiasakannya . " Bisik Alfian kemudian melepaskan Sandra.

__ADS_1


" Tuan mesum ! " Teriak Sandra kesal . Kemudian berlari keluar dari kamar itu dengan perasaan tak menentu.


__ADS_2