Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Mengunjungi Butik


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Kini Sandra semakin memantapkan dirinya untuk mulai merintis bisnisnya sendiri meski hanya bisnis kecil. Di bantu oleh suaminya yang kini sudah mendukung penuh keputusannya, Sandra semakin bersemangat empat lima. Setiap hari seperti biasa, dia akan melakukan kewajibannya terlebih dahulu, seperti menyiapkan sarapan, menyiapkan pakaian kerja Alfian dan membersihkan apartemen. Setelah itu baru dia berangkat kuliah. Setiap ada waktu luang, Sandra menggunakan kesempatan itu untuk berlatih dan membuat desain pakaian yang ingin dia produksi untuk butiknya.


Sandra semakin yakin untuk menekuni dunia barunya itu setelah sahabat dan juga teman-temannya juga memberikan dukungan dan semangat kepadanya.


Seperti hari ini,, dia tengah berada di cafetaria tempat Intan bekerja. Tak hanya dirinya saja, dia juga bersama dengan Nurul yang sengaja membuat janji bertemu dengannya di sana.


" Semangat ya San, aku dukung seribu persen. Semoga kedepannya di beri kelancaran dan kesuksesan." Ucap Nurul lagi.


" Aamiin. Makasih ya Rul...Doa dan dukungan dari kalian sangat aku perlukan sekarang." Balas Sandra sambil menyeruput es jeruk di depannya.


" Iya, aku juga do'akan yang sama untuk kamu dan suami. Tapi... Jadi tambah sepi deh, pasti kita bakal sibuk semua. Jadi semakin sulit bagi kita untuk berkumpul seperti ini. Sekarang aja Salsa masuk kerja." Sambung Intan yang ikut duduk dengan mereka. Hari masih belum terlalu siang sehingga cafe masih sedikit pengunjung.


" Jangan lebay gitu ah, kaya gak bakal ketemu lama aja, padahal kan kita tetep bakal bertemu setiap hari di kampus...,, biasanya juga Salsa yang suka ngomong melow begitu. Tumben ini kamu yang galau..." Ujar Sandra menghibur temannya.


" Iya-iya bebs... Gak tahu nih, lg ngerasa sepi aja.." Balas Intan cekikikan.


" Ada masalah ? Cerita sama kita..." Tanya Sandra menyelidik.


" Enggak,gak ada kok.." Jawab Intan.


" Yakin ? Kalau ada apa-apa cerita ya sama kita. Siapa tahu kita bisa bantu." Imbuh Sandra yang di setujui oleh Nurul dengan sebuah anggukan.


" Iya ,gak ada apa-apa kok." Kekeh Intan.


Sandra masih menatapnya dengan penasaran. Tidak biasanya Intan yang super ceria dan suka ceplas-ceplos terlihat begitu aneh hari ini. Tapi karena Intan belum mau terbuka,maka dia tidak ingin memaksanya.


" Oya, kabar kamu dengan Arkha gimana ?" Tanya Sandra menoleh kepada Nurul.


" Alhamdulillah hubungan kami baik-baik saja." Jawab Nurul kemudian.


" Syukurlah, aku tunggu ya kabar baiknya....?"


" Yah, kabur ah kalau pada bahas pasangan. Jiwa jomblo ku mengiri nanti .." Gurau Intan.


" Hehehe, ada-ada saja... Eh, mau gak...,, aku kenalin sama temen ku. Dia anaknya rajin dan seru abis,Kayanya cocok deh sama kamu yang pekerja keras dan sedikit tomboy.. Kriteria dia banget." Kata Nurul bersemangat.


" Mau jadi Mak comblang nih ceritanya ?" Sela Sandra.


" Hehehe, sapa tahu jadi jodohnya.."


" Gak ah, menurutku jodoh itu sesuatu yang murni, misterius... Dan tidak bisa di tebak, aku ikuti saja alurnya. Nanti jika sudah ketemu jodohnya juga ada yang nyantol dengan sendirinya. Kaya Sandra tuh, yang gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba di minta nikah. Kalau udah jodoh gak bakal bisa mengelak. Lagi pula, sekarang ini aku harus fokus kuliah dan bekerja. Cinta mah nomer sekian di kamus ku. Apalagi,, aku belum bisa membedakan antara suka dengan jatuh cinta. Karena setiap melihat cowok yang ganteng,, semua aku suka ... Hahahaha." Tawa Intan jujur.


" Astaga... Dasar Intan... Hehehe..." Sandra dan Nurul ikutan tertawa mendengar jawaban jujur dari teman mereka itu.


" Oke deh, terserah kamu aja. Gak enak juga kalau aku paksa..."

__ADS_1


" Iya, tapi aku ngerti kok kalau kamu bermaksud baik. Uhh... Seneng bisa mengenal kalian." Kata Intan sungguh-sungguh.


" Aduh, Hari ini kamu lebay amat sih ?" Protes Sandra sambil cengengesan.


Setengah jam kemudian, mereka bertiga berpisah. Intan tetap harus bekerja sedangkan Nurul dan Sandra rencananya akan mengunjungi ruko tempat dia bakalan membuka butiknya.


Sandra sampai di alamat yang telah Alfian kirimkan lewat pesan. Suaminya sedang rapat keluar kota sehingga tidak bisa menemani Sandra mengunjungi calon butiknya itu.


Sebagai gantinya, Sandra meminta Nurul menemaninya supaya ada teman.


Setelah sampai, ada seorang bapak-bapak yang menyapanya.


" Nyonya Sandra ya ?" Sapa bapak tersebut.


" Iya... Ee, bapak siapa ?" Tanya Sandra bingung.


" Saya Bagas nyonya. Saya yang di utus oleh Tuan Alfian untuk membantu menyiapkan semua keperluan butik nyonya." Kata Pak Bagas menjelaskan.


" Oh,, ya....Maaf Pak, saya lupa. Padahal dari kemarin Mas Al sudah memberi tahu." Ucap Sandra sedikit memukul keningnya dengan telapak tangan.


" Iya nyonya. Tidak apa-apa." Jawab Pak Bagas.


" Pak, jangan panggil nyonya dong... Panggil mbak aja." Pinta Sandra yang sungkan dan tidak mau di panggil dengan sebutan itu.


" Tapi nyonya..."


" Ba...baik mbak..." Ucap Pak Bagas akhirnya.


" Kalau begitu mari nyo... eh, mari mbak saya antar masuk ke dalam dan berkeliling." Ajak Pak Bagas.


" Baik Pak, Oya perkenalkan dulu. Ini sahabat saya, namanya Nurul." Sandra memperkenalkan Nurul kepada Pak Bagas.


" Saya Nurul pak," Kata Nurul mengenalkan diri.


" Bagas non.."


" Sama aja pak, panggil saja mbak juga." Ucap Nurul memberi tahu.


" Baik mbak." Kata Pak Bagas patuh.


" Jadi tugas bapak apa saja ?" Tanya Sandra yang memang tidak tahu banyak. Suaminya bersikeras akan mengurus semuanya jika Sandra ingin tetap membuka butik. Sandra hanya di minta fokus membuat desain dan menyerahkannya kepada Alfian untuk segera di produksi. Seperti keinginan Sandra waktu itu, beberapa karyawan nya adalah ibu-ibu rumah tangga yang sempat berhenti kerja setelah menikah atau terhalang punya anak balita. Karena kebanyakan dari mereka sulit mendapatkan pekerjaan lagi karena faktor usia. Kebanyakan pabrik-pabrik ataupun konveksi sekarang menerima karyawan yang masih muda atau baru lulus sekolah.


" Tugas saya di sini banyak mbak. Mulai dari mengecek bahan, mengatur pemesanan kain dan juga mengawasi para karyawan yang bekerja. Untuk masalah keuangan dan lain-lain sepenuhnya mbak Sandra yang menghandle."


" Oh, baiklah pak. Terimakasih atas kerjasamanya. Mohon bantuan dan bimbingannya ya pak. Karena jujur saya baru terjun pertama kali ini di dunia bisnis."

__ADS_1


" Tidak masalah mbak. Saya akan membantu sebisa dan semampu saya."


" Terus para karyawan sudah bekerja sejak kemarin ya pak ?"


" Iya mbak. Mulai hari ini mereka sudah memulai membuat pakaian sesuai desain yang mbak buat. Kemarin kita masih memilah dan memilih jenis kain yang sesuai agar tetap nyaman di pakai."


" Baik pak.. Kerja yang bagus. Saya ingin target utama dari usaha kita adalah masyarakat kelas menengah ke bawah dulu. Usahakan menggunakan kain berkualitas baik meski kita menjualnya dengan harga yang lebih terjangkau dari pasaran. Keuntungannya kecil tidak masalah, yang penting kenyamanan dan kualitas adalah modal utama kita untuk mendapatkan pelanggan." Ujar Sandra.


" Siap mbak. Semua sudah sesuai seperti yang mbak inginkan."


Sandra dan Nurul kemudian di ajak berkeliling melihat butik Sandra. Gedung berlantai dua itu lebih luas dari dugaan Sandra sebelumnya. Di Lantai atas, adalah tempat produksi berlangsung, sedangkan di lantai bawah adalah tempat di mana berbagai jenis pakaian akan di jual. Karena belum ada pakaian yang selesai di produksi, jadi di lantai bawah masih terlihat kosong.


Setelah melihat dan memperkenalkan diri kepada para karyawannya. Sandra di ajak kembali ke lantai bawah.


" Di sini ruang kerja anda mbak." Ucap Pak Bagas memberi tahu.


Sandra melihat ruangan kerjanya yang tidak begitu luas. Namun cukup untuknya bekerja dan beristirahat di kala lelah. Ruangan itu hanya berisi satu meja dan kursi kerja, serta satu buah sofa panjang di sudut ruangan.


Sandra mengangguk-angguk puas karena memang dirinya yang menginginkan ruang kerjanya agar tidak begitu luas.


" Oya kalau untuk karyawan yang stand di bawah kapan mulai masuk kerja Pak ?" Tanya Sandra.


" Sebenarnya kemarin mereka sudah datang dan ikut menata semua ini Bu. Tapi berhubung sekarang tidak ada pekerjaan lagi , mungkin setelah pakaian yang di produksi sudah siap mereka mulai masuk lagi."


" Oke... Makasih banyak ya Pak, saya suka dengan penataan ruangnya dan juga fasilitas yang ada. Terlihat luas dan nyaman. Apalagi di lantai atas. Saya senang melihat mereka bekerja dengan nyaman dan baik. Karena selain pelanggan, kita juga harus memikirkan kenyamanan dan keselamatan para pekerja sehingga mereka bisa bekerja dengan baik." Ujar Sandra.


" Tentu mbak. Semuanya serahkan saja kepada saya. Karena memang sudah menjadi tugas dan kewajiban saya."


Sandra mengangguk paham.


" Kalau sudah tidak ada yang mau di bicarakan lagi, saya undur diri mbak, mau kembali bekerja." Pamit Pak Bagas.


" Baik pak, sekali lagi terimakasih atas kerja kerasnya. Cukup untuk hari ini. Saya pulang dulu."


" Sama-sama.."


Setelah berpamitan, Sandra dan Nurul pulang dari butik dengan menggunakan taksi online.


" Mampir ke apartemen ku ya Rul ?" Bujuk Sandra.


" Oke, nanti Arkha yang bakal jemput dan nganterin aku pulang ke kost." Balas Nurul yang sejak tadi lebih banyak diam.


" Hm, gak nyangka ya, aku perhatian kamu udah pantes jadi pengusaha. " Imbuh Nurul.


" Ya do'akan saja semuanya lancar ya ? Sebenarnya aku belajar banyak dari Mas Al. Dia yang ngajarin ilmu marketing dan yang lainnya kepadaku. Ini masih belajar terus ." Aku Sandra.

__ADS_1


" Siip, semoga kedepannya sukses."


" Aamiin." Ujar mereka bersama.


__ADS_2