
Bu Reisa, semakin geram karena tidak kunjung mendapatkan kabar dari Sandra. Terakhir kali bertemu di emperan toko waktu itu, Sandra berbicara akan membantunya ngomong kepada Alfian. Tapi ini sudah sudah dua bulan berlalu. Salahnya karena hanya memberi nomor kontak ponsel miliknya, tetapi tidak meminta nomor kontak dari Sandra sehingga hanya bisa menunggu gadis kampung itu menghubunginya.
" Pasti gadis kampung itu lupa, Sial ! Aku seperti di kerjai gadis ingusan..!" Omel Bu Reisa di dalam kamar. Sejak tadi dia sibuk mondar-mandir tidak menentu.
" Aah, aku harus bagaimana ?? Alfian sudah menjaga ketat hotelnya. Jangankan masuk ke kantornya. Baru sampai saja , security-nya sudah memintaku pergi ! Sialan kau Alfian !!! Dulu kamu sangat cinta kepada anakku ,tapi kini giliran anakku menderita, tak sedikitpun kamu berempati kepadanya !!" Rutuk Bu Reisa Tanpa henti.
" Haruskah aku mencari gadis kampungan itu ? Ya, aku harus mencarinya. Kasihan Rena , dia sangat tertekan di penjara sana ! Awas saja kalian berdua. Jika kalian tidak ada yang mau membantu ku, akan ku buat kalian merasakan akibatnya !" Omel Bu Reisa penuh ancaman.
Dengan emosi Bu Reisa keluar dari rumah untuk sekedar menenangkan pikirannya.
" Ahh , sesekali aku juga harus memperhatikan diriku. Mungkin dengan berbelanja bisa membuat emosiku berkurang. Apalagi, sudah lama aku tidak berbelanja... Lihat saja baju yang ku pakai. Ini dan ini terus. Tidak apalah menggunakan sedikit sisa tabungan untuk menyenangkan hati." Pikir Bu Reisa.
Bu Reisa kemudian naik taksi menuju butik langganannya dulu.
" Ah , tidak-tidak... Uangku mana cukup buat beli ke butik langganan yang dulu. Untung kemarin aku menyimak obrolan teman-teman ku waktu arisan. Katanya di daerah ini sekarang ada butik baru yang lebih murah tapi dengan kualitas baju yang bagus. Aku harus lihat dan membuktikannya sendiri." Gumam Reisa sendirian.
Sesak dia rasakan saat mengingat kembali pertemuan arisan ibu-ibu komplek kemarin lusa. Dulu teman-teman arisannya sangat menghormati dan menyanjungnya. Tapi semenjak kasus Rena booming, mereka mendadak menjaga jarak dengannya. Bahkan mereka dengan terang-terangan menggunjing dan menyindir di hadapannya langsung. Kalau saja bukan demi uang arisan yang belum dia dapat, dia sudah tidak sudi bergabung dengan mereka. Dia sangat butuh uang arisan itu, karena jumlahnya tidak sedikit. Sekarang dia tahu, mereka baik hanya saat dirinya kaya dan terhormat. Sekarang setelah banyak musibah menimpanya, jangankan menghargai... Mereka seolah sengaja menabuh gendang permusuhan kepadanya.
Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua sudut mata Bu Reisa. Kini dia merasakan sakitnya tidak di hargai dan di kucilkan oleh orang-orang tanpa ada keluarga, suami maupun anak.
" Tidak akan ku biarkan semua ini berlangsung lama. Kalian pasti akan ku balas ..!!" Geram Bu Reisa penuh dendam kepada teman-teman arisannya.
Setelah mencari alamat butik lewat ponsel pintarnya. Bu Reisa turun di depan sebuah butik berlantai dua. Butik dengan gaya modern itu terlihat begitu menarik dari luar.
Bu Reisa segera masuk ke dalam butik. Seorang karyawan menyapa dan memberi salam kepadanya dengan ramah.
" Halo , selamat siang.... Selamat datang di butik kami." Sapa karyawan itu dengan senyum semanis madu.
Bu Reisa tak menghiraukannya dan berjalan dengan angkuh ke dalam.
Sedetik kemudian, Bu Reisa tersenyum senang, matanya langsung di manjakan oleh pakaian-pakaian model terbaru. Tanpa banyak membuang waktu,Bu Reisa segera melihat dan memilih baju-baju di depannya sambil berkeliling di dalam butik itu.
Bu Reisa senang sekali dengan baju-baju yang ada di sana. Modelnya unik tapi tidak norak. Ada yang simpel tapi elegan. Teman-temannya ternyata tidak omong kosong belaka. Kualitas dari bahan yang digunakan juga tidak kaleng-kaleng dan harganya jauh lebih miring dari butik langganannya.
" Mbak, untuk model yang ini, ada ukuran yang lebih besar tidak ?" Tanya Bu Reisa.
__ADS_1
" Coba lihat sebentar Bu. " Jawab karyawan dengan ramah. Karyawan itu kemudian menghampiri dan melihat baju yang tengah Bu Reisa pegang.
" Oh, maaf Bu... Yang model ini sepertinya sudah habis. Maaf ya Bu, soalnya kami tidak memproduksi banyak untuk setiap modelnya." Jawab karyawan itu.
" Huh... Padahal aku ingin sekali yang model ini." Keluh Bu Reisa.
Sandra yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dan hendak mengambil minum di pantry, tidak sengaja mendengar keluhan dari pelanggannya.
Segera Sandra menghampiri mereka.
" Maaf, ada apa ya ?" Tanya Sandra ramah.
" Eh, ini Bu... Ibu ini menginginkan baju yang modelnya seperti ini dengan ukuran yang lebih besar. Tapi sayangnya sudah sold semua." Kata karyawannya menjelaskan.
" Lhoh ... Bu Reisa.... " Sapa Sandra terkejut.
Bu Reisa sama terkejutnya dengan Sandra.
" Ja... Jadi... Kamu pemilik butik ini ?" Tanya Bu Reisa kaget.
" Oh,, ya... Tapi... Kok bisa ? Bukannya kamu masih kuliah ya ?" Tanya Bu Reisa yang kepo.
Sandra tersenyum menanggapi pertanyaan Bu Reisa.
" Iya Bu, Alhamdulillah saya sedang berusaha merintis usaha saya sendiri sambil kuliah." Jawab Sandra sopan meskipun dia tahu jika perempuan itu adalah ibunya Rena, orang yang dulunya sangat Alfian cintai.
" Oh, bukannya kamu sudah hidup enak ya jadi suami Al... Ngapain lagi bikin usaha ?" Tanya Bu Reisa keluar jalur.
Sandra yang tetap masih tersenyum, tapi tidak menanggapi lagi pertanyaan Bu Reisa.
" Maaf Bu, kalau begitu saya permisi melanjutkan pekerjaan saya lagi." Potong pegawainya yang tidak mau menguping pembicaraan mereka.
" Oh ya Nin ... " Balas Sandra.
Reisa yang masih tidak mempercayai jika butik itu milik Sandra,, gadis kampung yang berhasil menggagalkan rencana anaknya untuk mendapatkan Alfian kembali, berusaha bersikap normal lagi.
__ADS_1
" Silakan ibu pilih-pilih dulu. Saya juga mau melanjutkan pekerjaan saya." Pamit Sandra kemudian hendak beranjak dari hadapan Bu Reisa.
" Tunggu... Mm... Maaf jika kata-kata ibu tadi kurang sopan. Eh bagaimana dengan Al ? Apa Nak Sandra sudah berhasil membujuknya ?" Tanya Bu Reisa kembali ke mode pura-pura baik.
" Oh, soal itu. Saya minta maaf ya Bu.. Kami belum sempat membicarakan masalah Kak Rena lagi karena kami memang sedang sibuk-sibuknya sekarang ini. Tapi saya sudah berusaha mencobanya lagi setelah waktu itu bertemu dengan anda. Tapi sepertinya suami saya belum berubah pikiran. Maaf ya bu, jika membuat anda lama menunggu kabar dari saya." Jawab Sandra apa adanya. Karena dia memang sempat menceritakan pertemuannya dengan Bu Reisa kepada Alfian. Tapi suaminya itu malah cuek dan tidak mau menanggapi. Dia hanya berpesan agar dirinya tidak dekat-dekat dengan keluarga mantannya itu.
Semburat kecewa dan amarah tersirat dari mata Bu Reisa. Benar dugaannya selama ini. Gadis kampung ini mengerjainya. Pikir Bu Reisa kalut. Bu Reisa sangat geram mendengar penjelasan dari Sandra.
" Oh ...Begitu ya..." Timpal Bu Reisa mencoba mengontrol emosinya yang kini kian memuncak.
" Maaf ya Bu, saya permisi." Ucap Sandra kemudian benar-benar berlalu dari hadapan Bu Reisa.
" Gadis kampung sialan !!!" Umpat Bu Reisa dalam hati.
Bu Reisa akhirnya keluar dari butik Sandra tanpa membeli sepotong baju pun. Mengetahui jika ternyata gadis yang sangat dia benci adalah pemilik dari butik itu membuatnya menjadi tidak tertarik sama sekali dengan pakaian yang di jual di sana.
Sampai di rumah, Bu Reisa menghempaskan tasnya dengan kasar. Kenyataan yang baru dia ketahui baru saja, membuat emosinya kembali memuncak.
" Gadis keparat !! Dia hidup enak-enak dan bikin usaha sendiri, sedangkan anak ku Rena masih hidup menderita di dalam penjara !! Tidak... !! Aku sudah tidak tahan lagi. Alfian dan kamu gadis kampungan, juga harus hidup menderita seperti yang di alami oleh anakku ! Mulai sekarang aku tidak akan memberi ampun kepada kalian !" Teriak Bu Reisa kesetanan.
Hidup penuh dengan tekanan dan kebencian membuat emosinya tidak stabil. Bahkan Bu Reisa sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Kini yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana caranya membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang sudah menghinanya dan juga putrinya. Dia tidak akan membiarkan siapapun hidup bahagia, tak terkecuali Alfian dan Sandra.
" Aargggh !! " Teriak Bu Reisa frustasi.
" Akan ku buat kalian semua menderita ! Aku tidak akan membiarkan kalian bahagia sedikitpun. Aku benci kalian...! Aku benci kalian !!!" Bu Reisa semakin mengamuk .
Asisten rumah tangga yang masih setia bekerja bersamanya, segera menghampiri majikannya yang berteriak histeris.
" Sabar Bu... Sabar... Istighfar..." Bujuk Susi ART nya.
" Diam kamu , jangan ikut campur !! Ambilkan obatku di dalam laci !" Bentak Bu Reisa.
Susi segera mencarikan obat yang di maksud majikannya. Dia tahu jika itu adalah obat penenang. Sejak keluarganya hancur berantakan, Susi tahu jika majikannya itu selalu mengonsumsi obat penenang.
Bu Reisa menerima obat itu kemudian menelannya tiga butir sekaligus, dia berharap bisa segera tertidur dan melupakan sejenak emosinya.
__ADS_1
Susi yang masih setia menemaninya, memandang prihatin kepada majikannya.