
Bu Reisa membawa Rena masuk ke rumah berukuran sedang yang baru saja kemarin dia beli. Ya, Setelah mengurus penjualan rumahnya. Bu Reisa lalu membeli rumah itu dan pindah di hari yang sama. Dan hari ini, setelah menebus Rena. Bu Reisa mengajak putrinya itu ke rumah baru mereka.
" Ma, mama yakin kita akan tinggal di tempat seperti ini ?" Tanya Rena setelah masuk ke dalam rumah dan menatap ke sekeliling.
" Yakin Rena, toh mau tidak mau kita harus tinggal di sini karena hanya rumah kecil ini yang bisa mama beli setelah menebus mu." Ucap Bu Reisa.
" Tapi ini bukan rumah ma ? Masa ruang tamu jadi satu dengan ruang keluarga begini. Dan di mana kamar Rena ?" Tanya Rena lagi.
" Sini, ini kamar kamu.. Dan di sebelahnya itu kamar mama. Di belakang ada dapur,di sampingnya kamar mandi." Ucap Bu Reisa menjelaskan.
Rena menatap tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Kamar kecil berukuran 3x4 itu adalah kamarnya.
" Mah, ini sih lebih kecil dari kamar mandi Rena yang dulu !" Protes Rena kepada sang ibu.
" Ren, please... Tolong jangan banyak mengeluh dan ngertiin keadaan sedikit. Untuk saat ini kita tidak bisa milih-milih tempat tinggal." Tegas Bu Reisa.
" Ck...!" Rena masuk ke dalam kamarnya dengan kesal kemudian membanting pintunya dengan kasar sehingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
" Astaga , anak itu !!" Keluh Bu Reisa sambil mengelus dada. Salahnya yang tidak pernah mengajarkan Rena tentang attitude yang baik dan sifat menghargai, sehingga dengan orang tua pun Rena bersikap kasar seperti itu.
Bu Reisa kemudian pergi ke dapur, memilih untuk tidak menghiraukan Rena yang banyak protes. Bu Reisa kemudian mengambil minum lalu bersiap menyiapkan makan siang untuk mereka berdua.
Bu Reisa sedikit kesulitan karena sudah lama tidak turun tangan ke dapur. Tapi mulai saat ini, Bu Reisa harus mulai membiasakan diri dengan kehidupannya yang sekarang. Untuk berbelanja sayur, Bu Reisa sekarang tidak pergi ke hypermart seperti dulu, namun Bu Reisa hanya membeli sayur di mamang tukang sayur yang keliling setiap hari. Untuk masalah pakaian, Bu Reisa juga tidak ada pilihan lain, dia sekarang memakai baju yang biasa digunakan oleh para ibu-ibu kebanyakan. Karena jika memakai baju branded nya, Bu Reisa merasa sayang karena hanya di pakai untuk ke dapur dan mengerjakan tugas rumahan. Terpaksa Bu Reisa membeli beberapa potong baju rumahan dari online shop.
Di dalam kamar,, Rena menghempaskan pantatnya ke kasur.
" Auh ! Keras sekali sih kasurnya ! Ini kasur atau batu ?! " Omel Rena yang tidak terbiasa hidup dengan kesederhanaan.
Rena kemudian melepaskan maskernya. Kini wajahnya terlihat dengan jelas. Banyak bekas luka cakaran di sana sini. Sebenarnya tidak terlalu menakutkan, hanya saja terlihat seperti belang-belang di seluruh wajahnya.
" Huh, panas sekali kamar nya ! Mama kenapa beli rumah seperti ini sih ?! Setidaknya meski kecil harusnya beli yang fasilitasnya lengkap !" Gerutu Rena lagi.
" Ma, ada kipas angin nggak ?!" Teriak Rena dari dalam kamar.
" Ada , di ruang tamu tu... Kamu ambil saja buat di kamar." Jawab Bu Reisa dari dapur.
" Ya ampun ma... Masa Rena harus melakukannya sendiri !" Teriak Rena lagi.
Bu Reisa yang merasa terganggu karena putrinya berteriak-teriak segera menghampirinya.
"Nih ... Apa susahnya sih Ren ? Kan tinggal ngambil saja terus di colokin !" Kata Bu Reisa kesal dengan putrinya yang kelewat manja.
__ADS_1
" Aku kan gak pernah pakai kipas angin ma !" Jawab Rena tak kalah kesal.
" Makanya belajar ! Terus jangan teriak-teriak Ren, kita ini orang baru di sini. Malu di denger tetangga !" Ujar Bu Reisa menasehati putrinya.
" Iya-iya ma.... Bawel banget sih ?! Dah sana mama terusin masaknya. Rena mau istirahat... Sudah lama Rena gak bisa istirahat dengan tenang. " Ucap Rena malah mengusir ibunya.
Bu Reisa hanya bisa menggelengkan kepalanya menghadapi putrinya itu. " Untung sayang !" Batin Bu Reisa.
Setelah bergelut dengan dapur dan alat tempurnya selama dua jam, akhirnya Bu Reisa bisa menyelesaikan masakannya.
" Ren, bangun... Kita makan dulu." Panggil Bu Reisa.
" Ya ma." Jawab Rena kemudian keluar dari kamar ke dapur.
" Mama masak apa ?" Tanya Rena yang sudah sangat lapar.
" Mama bikin cah kangkung, balado ikan pindang sama goreng tempe." Sahut Bu Reisa.
" Ya ampun ma... Masak begini doang sampai berjam-jam." Komentar Rena.
" Maklumlah Ren, mama kan sudah lama tidak masak. Jadi mama lupa- lupa ingat saat bikin bumbunya. Sudah jangan banyak protes, makan gih buruan." Timpal Bu Reisa.
Tanpa menunggu lama , Rena segera mengambil makanan untuknya.
" Eh, asin ya ?" Tanya Bu Reisa sambil nyengir kuda.
" Mama cobain sendiri deh ! Mama bisa masak gak sih ? Kalau gak bisa mending besok-besok langsung pesan makanan online aja !" Omel Rena semakin menjadi.
" Ya maklum Ren, kan tadi mama sudah bilang, mama sudah lama tidak turun ke dapur. Lagi pula mama juga tidak pandai memasak dulunya. Mama hanya bisa bikin kue .." Jawab Bu Reisa jujur.
" Ih, mama nih aneh,, masa nggak bisa masak tapi bikin kue bisa ! "Kata Rena yang tidak percaya.
" Beneran Ren, kue yang sering kamu makan dulu adalah kue buatan mama semuanya. Mama akui mama gak pandai masak. Tapi kalau masalah per kue an mama ahlinya." Ucap Bu Reisa sedikit menyombongkan kemampuannya.
" Ah bodo amat, Rena laper ma... Terus Rena harus makan apa sekarang ?!" Protes Rena lagi.
" Mm... Cobain yang lain dulu. Ini masih ada ikan pindang sama tempe goreng." Bujuk Bu Reisa.
" Mama aja deh yang nyobain dulu. Cobain ma ..." Paksa Rena.
Bu Reisa pun kemudian mengambil sedikit balado pindang yang tadi dia masak.
__ADS_1
" Huueekk !" Bu Reisa memuntahkannya setelah mencicipinya.
" Kenapa ma ? Asin juga ? " Tanya Rena penasaran melihat ekspresi ibunya yang mengernyit sambil memejamkan kedua matanya.
" Pahit ..." Jelas Bu Reisa.
" Haha ... Udah deh ma, masak yang pasti-pasti aja. Bikinin Rena mie instan deh... Masakan mama gak ada yang bener !" Sahut Rena.
" Ck... Mubazir dong ini ? Buang-buang duit sama tenaga mama aja !" Kata Bu Reisa kecewa.
" Ya kalau mama sayang, silakan di makan aja.. Sok semua habiskan !" Balas Rena.
"Huh... " Keluh Bu Reisa kemudian kembali mendekati kompor untuk membuat mie instan untuknya dan juga untuk Rena.
Ternyata hidup sederhana tak semudah yang dia bayangkan.Niat hati ingin masak sendiri agar lebih hemat, justru masakannya gagal semua dan tidak ada yang bisa di makan.
Setelah dua mangkuk mie tersaji di atas meja. Ibu dan anak itu kemudian makan dengan lahapnya. Maklum saja, sejak pagi, baik Rena maupun Bu Reisa belum makan sama sekali.
" Rencana kamu setelah ini apa Ren ?" Tanya Bu Reisa.
" Merusak rumah tangga Alfian dengan Sandra ma !" Jawab Rena penuh keyakinan.
" Kan mama sudah katakan sayang, sebaiknya kamu hentikan niat itu sebelum Alfian semakin marah dan membenci kita." Nasehat Bu Reisa.
" Mama kenapa sih ? Dari kemarin gak setuju terus Rena mau bikin perhitungan dengan mereka !" Ucap Rena dengan ketusnya.
" Mama cuma khawatir sama kamu Ren, mama sudah coba berbagai cara juga, namun hasilnya apa ? Mereka tetap bisa kembali bersatu. Setelah mama pikir-pikir, tidak ada yang bisa mengubah takdir. Jika mereka memang berjodoh, hanya maut yang akan memisahkan mereka berdua."
" Ck, itu karena mama kurang pintar... Lihat saja nanti setelah Rena yang bertindak."
" Ren, mama nggak mau hidup kamu semakin hancur. Cukup sudah semua yang terjadi sampai detik ini menjadi pelajaran berharga untuk kita bersama." Kata Bu Reisa tidak menyerah. Dia sangat khawatir memikirkan Rena yang tetap nekat.
" Maksud mama apa ?? Mama menyesal ? Jadi ceritanya mama sudah bertobat gitu,, ? Pantes dari kemarin ngehalangin Rena mulu !" Ujar Rena yang justru meledek ibunya.
" Ren, percaya atau tidak percaya, mama rasa semua yang sudah terjadi kepada kita adalah balasan dan teguran untuk kita dari Tuhan." Imbuh Bu Reisa serius.
" Hahaha... Mama-mama,, sejak kapan mama berubah menjadi religius begini ? Rena nggak akan terpengaruh ma, apapun yang terjadi, Rena akan tetap berusaha merebut Alfian kembali." Kata Rena keras kepala.
" Tapi mama bilang begini karena mama peduli Ren sama kamu."
" Kalau mama emang peduli sama Rena, harusnya mama dukung keputusan Rena ,bukan malah menghalang-halangi seperti ini. Dah kenyang ma, aku mau lanjut istirahat !" Ucap Rena kesal kepada ibunya.
__ADS_1
" Ren,, Ren,, mama cuma mau,, mama dan kamu hidup tenang mulai sekarang. Lagi pula percuma melawan Alfian dan keluarganya." Gumam Bu Reisa sambil menggelengkan kepalanya.