
Door !!
Suara letupan senjata api terdengar nyaring di telinga Sandra..Namun sayang, pada saat itu juga Sandra sudah tidak mampu lagi menjaga kesadarannya.
" Sandra !!! " Teriak Alfian sambil berlari ke arah istrinya dengan wajah yang sangat panik.
" Sandra... Bangun sayang... Bangun... " Alfian menepuk halus kedua pipi Sandra, berharap Sandra mendengarnya dan segera membuka matanya.
" Aal...." Rintih Rena di belakangnya. Saat ini Rena terbaring lemah sambil memegangi dadanya yang baru saja tertembak peluru pistol.
Ya, Alfian dan para anak buahnya juga datang bersama polisi setempat. Syukurlah mereka tiba di saat yang tepat.
Ketika melihat Sandra dalam keadaan darurat,salah seorang polisi terpaksa menembak Rena untuk melindungi Sandra dari hal keji yang hendak Rena lakukan.
" Rena ! Kamu apakan istriku hah ! " Teriak Alfian nyalang. Kebencian terlihat jelas di kedua matanya dan tak ada sedikitpun rasa kasihan di hatinya saat melihat tubuh Rena mengeluarkan begitu banyak darah.
" Istrimu akan mati... Hahaha.." Ucap Rena memaksakan tawanya.
" Sial ! ... Sandra ... Ayo, kita ke rumah sakit sekarang sayang... Jangan membuatku takut... Buka matamu sayang.." Ucap Alfian kembali melihat keadaan istrinya yang tidak sadarkan diri. Dengan sigap, Alfian kemudian membopong tubuh Sandra lalu berlari meminta pertolongan.
" Siapkan mobil... Bawa aku ke rumah sakit terdekat !"Teriak Alfian panik.
Dias yang sejak tadi mengikuti Alfian, berlari terlebih dahulu kemudian membukakan pintu mobil untuk mereka.
Rena tersenyum sambil menahan rasa sakit di dadanya yang tertembus peluru.
Melihat begitu panik dan takutnya wajah Alfian saat menggendong Sandra, dia berharap jika Sandra dan bayinya tidak akan selamat.
Beberapa anggota polisi kemudian datang dan juga segera membawa Rena ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan terlebih dahulu.
...****************...
Satu jam kemudian,, Alfian berjalan mondar mandir di depan ruang ICU tempat di mana Sandra sedang di periksa dan di tangani oleh dokter. Bersyukur saat ini Alfian di temani oleh seluruh anggota keluarganya. Sedangkan Bibi Nani dan paman Joni yang sudah di kabari, sekarang masih dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.
Nurul yang juga sudah mendengar kabar tentang Sandra, saat ini hanya bisa menangis dan berdoa untuk keselamatan Sandra di apartemen Arkha.
Laki-laki itu tidak membiarkannya ikut ke rumah sakit dengan alasan masih harus beristirahat. Sebenarnya Nurul sudah bilang jika dirinya sudah baik-baik saja, dan sudah berusaha memohon agar di ijinkan ikut bersama Arkha, namun Arkha mengancam jika dia tetap memaksa ikut, Arkha akan memberi tahu kedua orang tuanya jika dirinya telah bermalam di apartemennya. Karena hal itulah Nurul terpaksa menuruti kemauan Arkha.
" Tenanglah kak... " Ucap Neta sambil meraih lengan Alfian dengan lembut. Kedua mata gadis itu terlihat sembab karena banyak menangis. Tentu saja gadis itu sangat sedih dengan apa yang menimpa kakak iparnya.
" Bagaimana kakak bisa tenang Neta, Istri dan calon anak kakak sedang berjuang di dalam sana."Balas Alfian.
" Tapi Neta benar Al... Istirahatlah sebentar, tenangkan dirimu terlebih dahulu... Yang terpenting sekarang ini kita terus berdoa, semoga Sandra dan kandungannya tidak apa-apa." Imbuh Pak Wijaya. Pria yang mulai beruban itu tak kalah sedihnya.
" Ayo kak, kita makan siang terlebih dahulu. Kakak belum makan siang kan ? " Bujuk Arkha.
" Kalian makanlah dahulu. Kakak belum lapar. Kakak ingin menunggu Sandra di sini." Pungkas Alfian sedih.
Semua terdiam setelah mendengar penuturan Alfian. Alfian dan keluarganya terlihat sangat terpukul atas kejadian yang menimpa Sandra.
Tak berselang lama, pintu ruangan ICU tersebut terbuka. Dua orang dokter dan beberapa perawat keluar dari ruangan itu.
" Bagaimana kondisi istri saya dok ?" Tanya Alfian cemas.
" Dengan bapak ....?"
" Alfian... Saya suaminya dok..." Potong Alfian tidak sabaran.
" Baiklah, begini Pak Alfian, untuk saat ini kondisi istri anda masih belum sadarkan diri. Hal itu di akibatkan karena beliau kehilangan banyak darah dari luka di lengannya yang cukup parah dan juga pukulan di kepalanya. Tapi anda tidak perlu khawatir, karena dari hasil scan yang kita lakukan, hasilnya semuanya baik. Dan untuk kandungan beliau, Dokter Obgyn yang akan menjelaskannya." Kata dokter yang pertama.
Lalu sorang dokter perempuan di samping dokter yang baru saja memberikan penjelasan tersenyum kecil kepada Alfian.
" Alhamdulillah Pak, kandungan Ibu Sandra masih aman, hanya saja,, keadaannya sangat lemah. Untuk kedepannya, jika beliau sudah sadar, beliau harus benar-benar memperhatikan kondisi kandungannya dan beristirahat total supaya kandungan beliau tetap sehat dan berkembang dengan baik." Ucap dokter itu.
__ADS_1
" Alhamdulillah... Terimakasih Ya Tuhan..." Bisik Alfian sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Alfian terisak tak mampu menahan tangis bahagianya ketika mendengar kabar baik tersebut. Bersyukur, itulah yang Alfian terus panjatkan saat ini.
" Kakak...." Neta menghambur ke dalam pelukan sang kakak. Ikut menangis bahagia mendengar penjelasan dari para dokter tersebut.
" Apakah kami sudah boleh melihatnya dok ?" Tanya Alfian.
" Silakan pak,, namun hanya satu orang yang boleh masuk dan menunggu pasien di dalam. Kalian bisa bergantian melihatnya."
" Baik dok... Terimakasih banyak."
" Sama-sama pak, sudah menjadi tugas kami... Kalau begitu kami permisi dulu, dan untuk saat ini Ibu Sandra masih harus mendapatkan pengawasan yang intens dari kami sehingga belum bisa di pindahkan ke ruang rawat inap. Mungkin setelah beliau sadar, baru bisa di pindah ke ruangan yang lain." Tutur Pak dokter kemudian pergi bersama para perawat.
" Alhamdulillah... " Ucap Pak Wijaya tak kalah bahagia.
" Kak , Kak Sandra dan calon bayinya selamat.. Sekarang kita bisa tenang. Ayo kita pergi makan dulu kak.. Biar Papa dan kak Arkha yang menunggu di sini..." Bujuk Neta yang khawatir dengan kondisi kakaknya yang juga terlihat lemas.
" Tidak, kakak akan menunggu Sandra hingga siuman. Kalian pergilah mencari makan duluan. Kakak masih ingin di sini." Sahut Alfian keras kepala.
Pak Wijaya kemudian mendekat lalu menepuk bahu putranya. Dia tahu betul apa yang tengah di rasakan putranya saat ini. Dia pasti masih sangat mengkhawatirkan Sandra dan calon bayinya, apalagi ini adalah anak pertamanya.
" Papa tinggal sebentar, jangan lupa istirahat dan makan.. Karena nanti setelah istrimu sadar, kamulah orang pertama yang akan dia cari. Dia pasti akan sedih dan akan sangat merasa bersalah jika melihat kondisimu seperti ini." Ucap beliau.
" Baik pa... Papa duluan saja.. Nanti kita bisa gantian." Balas Alfian.
Pak Wijaya kemudian mengajak Neta keluar, sedangkan Arkha di minta untuk menemani Alfian di sana.
...****************...
Pukul sembilan malam. Cahaya terang mulai mengusik kenyamanan kedua mata Sandra. Perlahan-lahan, kedua matanya pun terbuka.
" Sayang !" Ucap Alfian bahagia. Alfian segera menekan tombol yang ada di atas Sandra untuk memanggil dokter.
" Stt... Pelan-pelan saja.. Syukurlah kamu sudah sadar sayang... Kamu membuatku takut.." Balas Alfian sambil menangkup tangan Sandra dengan lembut.
" Apa yang terjadi mas ? Kenapa aku bisa di rumah sakit ?" Sandra berusaha mengingat-ingat kejadian yang menimpanya.
" Mas ... Rena....! Auch.., " Ucap Sandra setelah mengingat kejadian yang dia alami.
" Jangan banyak bergerak dulu sayang..." Ucap Alfian cemas.
" Mas... Anak kita... Aku,, aku sedang hamil..." Ucap Sandra mulai panik saat mengingat kandungannya.
" Tenang sayang, tenanglah...." Pinta Alfian.
" Ibu Sandra ? Alhamdulillah ibu sudah siuman.." Sela Bu dokter yang baru saja datang.
" Dokter... Dokter,, bagaimana dengan kandungan saya dok ? Bagaimana dengan anak saya dokter...?" Tanya Sandra sambil memegangi perutnya dengan satu tangannya yang di infus, karena satu lengannya belum bisa di gerakkan karena di balut dengan perban yang tebal.
" Tenang ibu... Kondisi kandungan ibu masih aman meskipun sangat rentan. Janin ibu masih bertahan meskipun keadaannya begitu lemah. Untuk itu ibu harus beristirahat total mulai sekarang, makan makanan yang bergizi, minum vitamin dan minum obatnya." Jelas Sang dokter sambil mulai memeriksa kondisi Sandra.
" Syukurlah..." Ucap Sandra lemah namun terlihat lega. Dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri seandainya sesuatu terjadi kepada kandungannya. Karena kecerobohannya sendiri, dia membuat kandungannya dalam bahaya.
Bu dokter memeriksa keadaan Sandra dengan teliti, sedangkan sang perawat mencatat semua yang dikatakan oleh dokter itu.
" Kondisi Bu Sandra sudah mulai membaik. Tidak ada masalah serius yang mengkhawatirkan. Setelah ini, pasien bisa di pindahkan ke ruang rawat inap sampai kepadanya benar-benar sembuh total." Lanjut dokter itu.
" Terimakasih banyak dok. " Ucap Alfian lega.
" Sama-sama." Dokter itu kemudian pergi lagi di ikuti oleh sang perawat di belakangnya.
Malam hari, semua orang berkumpul di ruangan tempat Sandra di rawat. Pak Wijaya sengaja memesan ruangan VVIP paling terbaik yang ada di rumah sakit itu untuk menantunya.
__ADS_1
" Mas Al... Maaf..." Ucap Sandra lirih. Sejak tadi, dia ingin mengatakan hal itu kepada suaminya tapi belum sempat karena harus menjalani serangkaian pemeriksaan lagi.
" Sudahlah... Yang terpenting sekarang kamu sudah aman. Tapi kumohon untuk yang terakhir kali, mulai sekarang jangan suka bertindak gegabah dan ceroboh seperti ini lagi." Kata Alfian lembut.
" Iya mas... Maafin aku..." Sandra mulai terisak menyadari kesalahan dan kebodohannya.
" Pa.. paman ,bibi... dan semuanya... Aku juga minta maaf kepada kalian semua. Maaf sudah membuat kalian khawatir dan cemas,, maaf juga karena sudah merepotkan kalian semua." Imbuh Sandra.
" Sandra... Kami semua tidak ada yang merasa di repotkan sama sekali. Justru kami bersyukur dan senang kamu sudah aman sekarang. Hanya saja,, bibi sedikit kecewa dengan sikap kamu ini. Lain kali kalau ada masalah atau sesuatu yang mengganjal di hatimu, katakanlah kepada suamimu, bicarakan dengan baik-baik, dan katakan yang sejujurnya agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti ini lagi. Untung saja nasib baik masih berpihak pada kita. Bagaimana jika hal buruk sampai benar-benar terjadi akibat kecerobohan kamu ini ?"
" Iya bi... Maafin Sandra...Sandra menyesal.."
" Betul nak.. Untung Alfian dan Dias datang tepat waktu. Para anak buahnya juga sangat pintar. Mereka langsung melapor kepada polisi begitu Dias menghubungi mereka." Imbuh sang paman.
" Maaf semuanya.. Aku begitu bodoh dan ceroboh.. Padahal Nurul juga sudah melarang ku dan menyuruh ku pulang.. Aku menyesal telah mengabaikannya .. Maafin aku..." Isak Sandra yang kini semakin merasa bersalah.
" Tenanglah San, jangan menangis... Itu tidak baik untuk kandungan kamu." Kali ini Pak Wijaya yang berkomentar.
" Kami semua tidak marah kepadamu. Kami bilang begini karena kami sangat peduli dan menyayangimu..." Imbuh Bibi Nani.
Alfian memeluk istrinya yang menangis sambil menenangkannya.
" Tenanglah sayang, berhenti menangis. Kita semua yang ada di sini sangat menyayangi mu..."
Sandra mengangguk sesenggukan.
" Iya mas, aku tahu... Sekali lagi aku minta maaf .. Aku janji mulai sekarang akan lebih berhati-hati dan mengingat semua nasehat kalian. Terimakasih, terimakasih kalian sudah sangat mengkhawatirkan ku.. Aku sangat bahagia, karena meskipun aku sudah tidak memiliki orang tua, masih begitu banyak orang yang peduli dan menyayangiku seperti kalian." Lanjut Sandra dalam pelukan suaminya.
Alfian tersenyum kemudian menciumi pucuk kepala Sandra dengan sayang. Perasaan yang tadinya kalut dan cemas kini sirna dan mulai menghangat kembali.
" Ehm... Sudah dong peluk-peluknya... Aku kan juga mau peluk kakak ipar..." Deham Neta mencoba mencairkan suasana.
Semua tertawa renyah mendengar penuturan Neta. Alfian pun mundur dan di gantikan oleh Neta yang sudah tidak sabar ingin memeluk kakak ipar dan calon ponakannya.
" Hati-hati..." Ucap Alfian khawatir.
" Iya kakak ku sayang.... " Balas Neta sambil memutar kedua bola matanya.
Semua yang ada hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka.
" Oya.. Bagaimana keadaan Rena ?" Tanya Sandra takut-takut.
" Sudahlah,jangan pikirkan wanita jahat itu lagi... Apa yang dia alami sekarang sudah sepantasnya dia dapatkan !" Ucap Bibi Nani.
Sandra menggeleng karena tidak mengerti maksud perkataan bibinya.
" Rena masih koma, dia juga di rawat di rumah sakit ini tapi dengan pengawalan yang ketat dari pihak kepolisian. Setelah dia sadar nanti, proses hukum akan berlanjut. Kali ini aku yakin, Rena tidak akan bisa keluar dari penjara selamanya." Kata Alfian memberi tahu.
Sandra ternganga mendengarnya. Yang ada di pikirannya bukan Rena, tapi justru Bu Reisa. Bagaimana perasaan Bu Reisa sekarang ? Pasti Bu Reisa sangat terpukul sekali. Ibu mana yang tidak akan terpukul ketika melihat putrinya berjuang antara hidup dan mati ? Di tambah dengan hukuman yang telah menanti sang putri jikalau putrinya selamat dari maut.
" Kasihan Bu Reisa mas ..."
" Ck... Jangan mulai lagi sayang... Biarkan hukum tetap berjalan. Dengan begini Rena mungkin bisa menyadari semua kesalahannya. Lagi pula semua yang terjadi sudah menjadi takdir. Sekarang kamu fokus saja dengan kesembuhan dan juga kandungan mu.. " Ucap Alfian mengingatkan.
Sandra mengangguk patuh kepada suaminya. Alfian benar, hal terpenting yang harus dia utamakan saat ini adalah kesembuhan dan juga anak yang sedang dia kandung. Apalagi, kata dokter kandungannya begitu lemah.
" Ehm... Nurul mana bi ?" Tanya Sandra yang baru menyadari jika hanya Nurul yang tidak terlihat di sana.
" Entahlah, bibi sudah menghubunginya tadi, tapi katanya ,, dia sedang mengerjakan tugas kuliah yang sangat penting, jadinya belum bisa ke sini menjenguk mu. Tapi tadi dia nitip salam untuk kamu dan calon keponakannya. Jika tugasnya sudah selesai, dia berjanji akan segera ke sini." Jelas Bibi Nani.
" Nggak apa-apa bi... Kasian Nurul ..Dia pasti sedang banyak tugas kuliah." Balas Sandra memakluminya.
Sedangkan Arkha yang mendengar penjelasan Bibi Nani sedikit menguraikan senyumnya. Tentu saja, Sandra yang menyadarinya menjadi curiga kepada adik iparnya itu.
__ADS_1