
Sandra kembali bekerja dengan giat. Bertemu dan berkumpul dengan teman-temannya lagi membuatnya melupakan sedikit permasalahan hidupnya.
Jam istirahat tiba.
" San ,Lo makan dulu , biar gantian gue yang handle. Gue dah makan. " Kata Doni.
" Oke , kamu antar ini ke meja nomor dua puluh tiga ya ? " Pinta Sandra.
" Oke." Jawab Doni.
Belum sempat Sandra masuk kebelakang , seseorang memanggil namanya.
" Mas Gilang ... " Kata Sandra.
" Hei, Dah waktunya istirahat ya. Aku mau ngomong sebentar. Nih aku juga sudah bawain makan siang buat kamu . " Ucap Gilang.
Di taman dekat restoran . Sandra dan Gilang duduk bersama.
" Nih , aku bukain ya . " Kata Gilang.
" Gak usah repot-repot mas . Harusnya mas gak perlu bawain aku makan siang. " Ucap Sandra.
" Gak apa-apa , aku seneng bisa nemuin kamu lagi. Beberapa hari ini aku mencoba menghubungi mu tapi tidak bisa . Sedangkan aku sendiri sedang sibuk . Jadi tidak bisa ke rumahmu. " Jelas Gilang.
" Apa kamu marah padaku ? Apa kamu mencoba menghindari ku ? " Lanjut Gilang.
" Ehm tidak.. bukan begitu . Aku gak punya handphone sekarang. " Ungkap Sandra.
" Tuan Al membanting handphone ku ,dan rusak .. Begitulah . Ini aku juga lagi mulai kerja . Ngumpulin uang dulu biar bisa beli handphone. Sudah dua hari aku kembali bekerja tapi belum bisa mengabari ibu . Nurul sedang ada tugas kuliah di tempat temannya. Jadi aku tidak bisa meminjam handphone dan menghubungi siapapun. " Kata Sandra memberitahu.
" Jadi karena handphone mu rusak ? " Tanya Gilang lega. Dia pikir Sandra sengaja menghindarinya.
" Iya . " Jawab Sandra singkat.
" Boleh aku makan ?" Tanya Sandra yang sudah lapar. Dia juga takut kelamaan istirahat .
" Tentu . Mau aku suapin ? " Goda Gilang .
" Mas ?! " Ucap Sandra melotot.
Gilang hanya cengengesan dan melihat Sandra makan dengan lahap.
Setelah selesai makan dan minum Sandra pamit untuk kembali bekerja. Begitu juga dengan Gilang. Dia akan segera kembali ke kantor. Sudah lama dia meninggalkan kantornya.
" Sebentar, nanti aku jemput . " Kata Gilang saat Sandra hendak melangkah pergi
" Tidak perlu repot-repot. " Tolak Sandra.
" Tentu saja tidak." Gilang bersikukuh.
" Terserah deh kalau gitu." Ucap Sandra tersenyum.
Gilang pun senang mendengar jawaban dari Sandra.
Setelah kembali bekerja, beberapa temannya menggoda Sandra.
" Senengnya yang habis makan berdua di taman ." Goda Temannya.
__ADS_1
" Iya ... kamu beruntung sekali San. " Ucap yang lainnya.
" Udah ganteng, baik , perhatian , tajir pula . " Tambah Syefa yang tiba-tiba ikut nimbrung.
Sandra yang jadi bahan godaan enggan menanggapi. Ada rasa yang tidak enak dia rasakan.
Bukan karena dia sudah punya tunangan saat ini, dia tidak perduli dengan itu. Namun karena dia takut , takut menyakiti hati seseorang.
Ya , Sandra takut kedepannya hanya akan melukai Gilang . Dia tau betul perasaan Gilang yang sungguh-sungguh. Seperti yang dikatakan temannya, Gilang sangat baik dan perhatian. Dia takut jika semakin dalam perasaan Gilang padanya akan semakin membuatnya terluka karena dia tidak bisa memberikan kepastian atau jawaban apapun untuknya. Sebentar lagi dia akan menikah. Suka tidak suka dia sudah menjadi milik orang lain dan jika Gilang tetap seperti ini orang-orang akan menyebutnya lelaki yang tidak baik. Sandra tidak ingin hal itu terjadi. Walaupun dia sendiri tidak tau perasaannya kepada Gilang , namun tidak dia pungkiri bahwa dia juga bersyukur ada Gilang yang baik dan perhatian kepadanya.
" Kok diam aja, malah melamun. " Kata Syefa.
" Eh ,eng..enggak ." Timpal Sandra.
" Kalian apaan sih, jangan goda aku terus dong . Balik kerja deh ." Kata Sandra kemudian.
" Cie .. sekarang mulai sombong ya. Takut ada yang rebut ya ! " Kata salah seorang teman Sandra.
" Kalian sedang apa ! Kembali bekerja ! " Perintah Alfian tiba-tiba. Mereka tidak tau sejak kapan bos mereka berada di sana.
" Baik Tuan . " Ucap semuanya takut. Mereka segera kembali bekerja.
Setelah mereka bubar Alfian melewati Sandra begitu saja yang sedang pura-pura mengelap meja pelanggan.
Setelah teguran itu , mereka bekerja dengan sungguh-sungguh.
Syefa kemudian menghampiri Sandra yang sudah bersiap pulang sore itu. Hari ini dia tidak ingin lembur. Sejak kejadian siang tadi Sandra merasa teman-temannya berbeda.
" San, jangan di ambil hati ya omongan Lia tadi." Ucap Syefa.
" Sebenarnya dia iri saja sama kamu. Dia juga marah karena hanya aku saja yang kamu kasih hadiah tempo hari." Jelas Syefa.
" Tapi kamu tenang saja , teman-teman yang lain sudah mengingatkannya. " Lanjut Syefa.
Sandra yang mendengar semua itu tersenyum kecut. Sudah bukan hal baru jika Lia seperti itu. Bahkan hampir kepada semua temannya yang sedang bahagia .Dia selalu membuat keributan.
" Tidak masalah Syefa . Aku maklum . Biarkan saja. Aku tidak marah atau gimana-gimana. Aku kangen ibuku . Dua hari ini aku belum mengabari beliau. Aku ingin cepat-cepat pulang dan menelponnya." Kilah Sandra, meskipun sebenarnya dia memang sangat merindukan ibunya.
Di parkiran Sandra kaget sudah ada Gilang yang menunggunya di atas sepeda motornya.
" Mas Gilang , kenapa sudah di sini ? " Tanya Sandra .
" Karena aku takut kamu menghindariku. " Tegas Gilang.
Sandra kaget kenapa Gilang mengetahuinya. Dia memang berniat menghindari Gilang dulu ,makanya Sandra pulang sore .
" Menghindari ? Enggak lah. " Kata Sandra berbohong lagi.
" Maafkan aku Ya Allah. Sudah berapa kali hari ini aku berbohong." Batin Sandra.
" Ini , aku cuma mau kasih ini saja. " Gilang berdiri dan menyerahkan sebuah tas kecil untuk Sandra .
Sandra mengambil tas itu dan mengintip sedikit isinya.
" Ini apa mas ? " Tanya Sandra.
" Maaf mas , aku gak bisa nerima ini . " Kata Sandra selanjutnya.
__ADS_1
" Kenapa ? " Tanya Gilang kecewa. Sandra menyerahkan kembali tas kecil itu.
" Ini terlalu mahal , dan juga mas tidak perlu repot-repot membelikanku ini itu. " Ucap Sandra.
" Kenapa ? Karena kamu sudah tunangan ? Karena sebentar lagi kamu menikah ? "
Sandra tertegun . Laki-laki di depannya ini selalu tau apa yang ada di pikirannya.
" Sandra , aku mohon . Jangan seperti ini. Jadilah seperti Sandra seperti yang aku kenal. Jangan menjauh dariku. Apa salahnya aku baik kepadamu. "
" Salah mas Gilang, aku sudah punya tunangan sekarang . Tidak perduli aku menyukainya atau tidak pada kenyataannya aku sudah punya calon suami. Aku tidak ingin kamu terluka . Jangan baik lagi padaku." Ucap Sandra mulai berlinang.
" Gak Sandra, meskipun kamu sudah tunangan bahkan menikah sekalipun apa salah jika aku ingin membantu temanku ? Ya Sandra , kamu temanku. Jangan hiraukan perasaanku . Sejak awal kita berteman." Ucap Gilang memohon.
Gilang mendekati Sandra dan mengambil kedua tangannya.
" Aku tidak perduli dengan hubunganmu dengannya,yang aku perduliin hanyalah kamu." Tuturnya.
" Terima ini dan pakailah , aku yakin kamu sangat merindukan ibumu. Dengan handphone ini kamu bisa menghubungi beliau. Jangan berpikir macam-macam. Kumohon ." Bujuk Gilang.
Sandra tak bisa membendung tangisnya lagi. Segera dia memeluk Gilang. Tak bisa berkata-kata lagi. Terimakasih hanya kata itu terus yang ingin dia ucapkan.
" Aku tidak akan pernah melepasmu Sandra . Tidak akan pernah. Apapun yang terjadi. Aku mencintaimu." Batin Gilang memeluk Sandra dengan erat.
Sandra melepas pelukannya . Malu .
" Kenapa ? " Tanya Gilang tersenyum. Sandra hanya menggeleng.
Kemudian Gilang menghapus sisa air mata di kedua sudut mata Sandra.
" Jangan menangis , jangan bersedih. " Perintah Gilang . Sandra hanya mengangguk patuh.
" Ya sudah .. kamu pulang sekarang , aku tidak akan mengantarmu. Tenangkan dirimu dulu." Kata Gilang kemudian.
Sandra juga hanya mengangguk patuh dan segera pulang.
Gilang menatap kepergian Sandra dengan sepeda motornya. Dia tersadar saat di kagetkan dengan suara pintu mobil yang di banting .
Alfian baru turun dari mobilnya. Dia baru saja pulang dari rapat di hotelnya . Ketika dia hendak turun dari mobil dia melihat Gilang masuk ke parkiran dan duduk di atas sepeda motor Sandra . Tidak lama kemudian Sandra muncul . Dia mendengar dan melihat semua yang terjadi.
Alfian berjalan santai melewati Gilang. Dia enggan walaupun hanya sekedar bertegur sapa dengan sahabatnya itu.
" Aku akan merebutnya dari mu. " Ucap Gilang.
Alfian berhenti dan berbalik menatap Gilang.
" Sekalipun kamu menikahinya aku akan merebutnya. Tidak akan kubiarkan kamu melukainya." Ucap Gilang lagi.
" Oh ya ? Sungguh kisah cinta yang membuatku terharu . " Ucap Alfian mengejek.
" Tapi sayangnya dia akan menjadi milikku . Lumayan bisa jadi pembantu gratis di apartemenku !" Ungkap Alfian angkuh.
" Kau ! Jangan berani macam-macam kepadanya . " Ancam Gilang.
" Sayangnya aku tidak bisa. Ada banyak macam yang akan aku lakukan pada gadis udik itu .Mau aku apakan mau aku suruh apapun jika dia sudah menjadi istriku kamu bisa apa ! " Tantang Alfian.
" Kita lihat saja , kamu mungkin bisa memilikinya dengan sebuah setatus , Tapi aku yang akan memiliki dan merebut cintanya. Setiap luka yang akan kamu berikan padanya, dengan senang hati aku yang akan mengobatinya." Balas Gilang sambil berlalu pergi meninggalkan Alfian yang tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1