Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kembali Bekerja


__ADS_3

Kedatangan Sandra di sambut gembira oleh Pak Bagus dan juga semua para pegawainya. Tak terkecuali Sandra, dia juga sangat senang bertemu dengan orang-orang yang telah membantunya selama ini.


" Syukurlah Nona sudah kembali dengan selamat. Waktu itu tuan mencari nona dengan wajah pucat. Saya ikut jadi kepikiran yang tidak-tidak." Sambut Pak Bagus.


" Alhamdulillah saya baik-baik saja Pak..Maaf beberapa hari terakhir ini saya merepotkan bapak." Balas Sandra tersenyum. Sandra sudah menyerah menyuruh Pak Bagus memanggilnya dengan sebutan mbak saja. Katanya dia tidak enak dengan karyawan yang lain dan takut kepada suaminya, Alfian tentunya.


" Sudah menjadi tugas saya nona." Balas Pak Bagus.


Pak Bagus dan Sandra kemudian berdiskusi tentang perkembangan usaha butiknya yang selama beberapa hari kemarin dia tinggal begitu saja. Beruntung Pak Bagus sangat bisa di andalkan dan jujur. Alfian memang tidak salah memperkerjakan Pak Bagus untuknya.


****


Di lain tempat, Alfian masuk ke Hotel Alsan yang sangat megah. Para karyawan segera menganggukkan kepalanya begitu melihat bos mereka datang. Mereka yang sudah berhari-hari tidak melihat kehadiran bos dingin tapi berwajah tampan itu bertanya-tanya kemana gerangan bosnya itu. Karena entah kabar dari mana, mereka sempat mendengar desas-desus jika bos mereka sedang tidak baik-baik saja dengan istrinya. Bagi mereka yang menyukai Alfian dan Sandra, berharap dan berdoa semoga rumah tangga bosnya itu tetap harmonis dan samawa. Sedangkan sebagian kecil dari mereka yang menganggap Sandra tidak pantas bersanding dengan bos mereka, tersenyum senang mendengar kabar itu. Untung saja, Dias langsung menepis rumor buruk tersebut dan mengancam bagi siapa saja yang bergosip tentang bos mereka akan segera di pecat tanpa pesangon.


Alfian melangkahkan kakinya yang panjang ke ruangan Dias.


" Ikut aku." Pinta Alfian tanpa basa-basi.


Dias yang sudah tahu akan kehadiran Alfian segera meninggalkan pekerjaannya dan bergegas mengikuti Alfian dari belakang.


Alfian masuk ke dalam ruangan kerjanya. Kemudian duduk di sofa panjang lalu melempar jasnya dengan asal. Dias yang melihatnya langsung mengambil jas itu lalu menaruhnya di tempat yang seharusnya sambil menggelengkan kepala. Mau marah, tapi di kantor sahabatnya itu adalah bosnya sehingga dia tidak bisa sesuka hati menyalahkan sahabatnya itu.


" Sudah beres ?" Tanya Dias yang ikut duduk di seberang meja dengan Alfian.


" Sudah, untungnya Sandra mau di bujuk pulang. Kepala ku sudah pusing memikirkan pekerjaan yang terbengkalai. " Tutur Alfian.


" Hehehe, gak apa-apa lah bro. Yang penting rumah tangga kamu kan baik-baik saja." Ucap Gilang terkekeh.


" Ya kau benar.. Aku sangat takut terjadi sesuatu kepada Sandra kemarin. Kalau hal buruk terjadi kepadanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri karena aku juga sudah berjanji kepada almarhumah ibunya untuk menjaga dan melindungi Sandra dengan baik. " Ucap Alfian yang lebih terbuka kepada Dias.


" Hm... Aku gak menyangka, ternyata menikah serumit itu. Aku pikir setelah kalian saling menyukai tidak akan ada masalah lagi di antara kalian." Komen Dias yang selama ini ikut jadi korban jika rumah tangga sahabatnya itu terjadi masalah. Bagaimana tidak ?? Jika terjadi sesuatu, Alfian akan melimpahkan semua pekerjaan kantor kepadanya dan dia juga akan di buat pusing dan ribet dengan drama mereka yang kadang seperti kucing dan tikus yang tidak pernah bisa akur.


" Apakah ada kesulitan ?" Tanya Alfian mengenai pekerjaan.


" Alhamdulillah nya tidak. Semua aman terkendali." Lapor Dias.

__ADS_1


" Bagus. Kamu memang paling bisa di andalkan." Tanggap Alfian senang.


" Ya,. hanya saja mungkin minggu ini kamu harus sering lembur mengingat pekerjaan yang kamu limpahkan ke aku semua sudah beres. Sekedar mengingatkan, semua yang ada di atas meja kamu itu harus segera kamu tangani, mengingat kita juga punya klien yang susah-susah gampang." Lanjut Dias.


Alfian memijit pelipisnya sebentar. Baru masuk kerja tapi dia sudah di suguhkan dengan pekerjaan yang menumpuk. "Jika dia harus lembur, berarti dia harus meninggalkan Sandra lebih lama sendirian di apartemen selama seminggu ke depan ?" Batinnya.


" Gak usah se cemas itu kali Al ...Mikirin Sandra kan ?" Tanya Dias yang tepat sasaran.


" Iya... Aku khawatir meninggalkannya sendirian terlalu lama di apartemen jika aku harus lembur." Aku Alfian.


" Gampang lah... Jangan di buat pusing. Sandra kan bisa kamu suruh nginep ke rumah orang tua kamu. Di sana ada Neta dan juga Arkha !" Ucap Dias memberikan saran.


" Ck, jarak rumah papa dari sini jauh bego ! Kalau Sandra ada di sana, bagaimana bisa aku menemuinya ? Habis di perjalanan waktuku." Seloroh Alfian ketus.


" Ya kalau gak setuju gak apa-apa kali Al, gak perlu sewot begitu. Kaya gak ada cara lain saja. Kamu kan bisa suruh Nurul nemenin Sandra nginep selama kamu tinggal lembur. Tapi jika kamu terlalu khawatir, ajak saja Sandra sekalian ke kantor. Toh di sini juga ada kamar mandi dan tempat tidur. Dasar bucin !" Sahut Dias.


Alfian membalasnya dengan menatap tajam wajah pria di depannya itu. Mendapat tatapan yang mematikan seperti itu, membuat nyali Dias sedikit menciut. Itu tandanya Alfian sudah mulai kesal mendengar kata-kata nya.


" Bisa gak sih,ngasih solusi yang benar ?" Kata Alfian dengan dinginnya.


" Huft... Salah lagi deh aku !" Batin Dias ikutan kesal.


" Ck..." Balas Alfian kesal. Masalahnya dia tidak bisa lama-lama berjauhan dari Sandra. Sandra selalu membuatnya candu. Entah mengapa dia terlalu sensitif dan posesif jika menyangka Sandra.


" Bilang saja kamu terlalu bucin goblok !" Batin Dias mengumpat sahabatnya itu.


" Lo ngatain aku ?!" Alfian melotot kesal kepada Dias.


" Sial ! Kenapa bisa tahu ? Kamu punya ilmu cenayang sekarang ?!" Kata Dias yang kaget.


" Terlihat dari wajah mu yang menyebalkan bodoh !" Gerutu Alfian.


" Hehe, sorry bro. Aku gak ngatain kamu kok. Aku cuma bilang dalam hati kalau kamu terlalu bucin sama istri kamu." Ucap Dias kembali terkekeh sambil nyengir tanpa rasa bersalah.


" Untung sahabat ! Kalau enggak udah aku pecat sekarang juga !" Omel Alfian.

__ADS_1


" Nantilah aku pikir sendiri gimana solusinya. Bicara sama kamu bukanya jadi terang malah semakin gelap !" Lanjut Alfian melampiaskan kecemasan dan amarahnya kepada Dias.


Untung laki-laki itu sudah kebal dengan kata-kata buruk dari Alfian. Coba kalau tidak. Bisa setiap hari mereka adu jotos seperti yang sering Alfian dan Gilang lakukan jika tengah berdebat dengan sengit.


" Ngomong-ngomong, bagaimana soal kemarin ? Siapa yang mengirim foto-foto itu untuk memprovokasi hubungan ku dengan Sandra ?!" Tanya Alfian beralih topik.


" Tak lain dan tak bukan ,, Bu Reisa.... Mau siapa lagi ? Hanya perempuan itu dan anaknya yang ingin kamu dan Sandra berpisah !" Ucap Dias memberi tahu.


" Kurang ajar ! Jadi perempuan tua itu belum menyerah ?" Tanya Alfian semakin geram.


" Yup. Dia ingin kamu berpisah dengan Sandra dan kembali dengan Rena putrinya."


" Hahaha.... Apa dia mimpi ? Bagaimana mungkin aku mau memungut sampah dan membuang berlian ?" Ledek Alfian.


" Huft, baru nyadar ?? Dulu kamu juga di butakan oleh Rena jika kamu lupa ." Kata Dias menyindir.


" Sial mulut mu !" Balas Alfian.


" Jangan marah Al... Itu kenyataan.. Aku sampai berbusa menasehati mu waktu itu. Tapi gak kamu dengerin sama sekali." Lanjut Dias lagi.


" Ya, kamu memang lebih pandai saat menilai orang." Aku Alfian kemudian.


" Tapi sudahlah, yang dulu sudah berlalu. Sekarang,, kamu punya Sandra yang tidak ada embel-embel ingin ini dan itu dari mu. Bahkan sekarang Sandra sedang berjuang dengan caranya sendiri untuk meraih kesuksesan tanpa memanfaatkan diri mu."


" Ya kau benar. Sandra ku memang pekerja keras." Ucap Alfian setuju akan hal itu. Lagi pula dia juga tidak suka jika masa lalunya di ungkit kembali.


Dias juga mengangguk setuju akan hal itu.


" Kau punya ide untuk membuat perempuan tua itu kapok ?" Tanya Alfian yang sedang malas berpikir.


" Belum ada Al... Memikirkan pekerjaan yang banyak saja sudah membuatku pusing tujuh keliling kemarin." Kata Dias.


" Okelah,gak apa-apa. Biarkan saja dulu perempuan tua itu bertingkah, yang penting suruh orang untuk selalu mengawasi semua gerak-geriknya. Aku gak mau kecolongan seperti kemarin lagi. Nanti jika sudah ada waktunya,kita bikin pembalasan kepada perempuan itu." Ucap Alfian kemudian.


" Oke ,aku memang sudah mengirim orang untuk mengawasi Bu Reisa. Ya sudah,, aku kembali bekerja terlebih dahulu. Intinya aku ikut senang kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan baik. Ku harap ke depannya kalian tidak akan ada masalah lagi." Lanjut Dias tulus.

__ADS_1


Alfian mengangguk. Harapan kedepannya dia juga seperti itu. Berharap tidak akan ada masalah lagi antara dirinya dengan Sandra. Setelah Dias tak terlihat, Alfian kemudian ikut bangkit dan pindah menuju ke meja kerjanya. Alfian lalu merenggangkan kedua tangannya terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaannya yang sudah sangat menumpuk di depannya.


Alfian menghembuskan nafas dengan kasar sebelum akhirnya benar-benar terjun ke dalam lautan pekerjaan yang entah sampai kapan akan selesai dia kerjakan.


__ADS_2