
" Ada apa mas ? " Tanya Sandra langsung setelah kepergian Alfian.
Gilang duduk menggantikan posisi Alfian.
" Apa kamu baik-baik saja ? " Tanya Gilang.
" Ehmm... ya baik .. emang kenapa mas ? " Sandra balik bertanya.
" Gak kenapa-kenapa sih, syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Kalau Alfian melakukan sesuatu yang buruk padamu katakan saja padaku. Biar aku beri pelajaran dia." Ucap Gilang terlihat kesal. Tentu saja dia kesal melihat bagaimana dia masih memperlakukan Sandra dengan tidak baik.
" Hms,, udah biasa mas . Tenang saja, Tuan Alfian masih bisa aku atasi . Aku sama sekali tidak takut padanya. Hehe.. "
Gilang tersenyum kecut mendengarnya. " Kamu belum mengenalnya dengan baik San, dia bisa jauh lebih kejam lagi dari saat ini. " Ucap Gilang mengingatkan.
Sandra tertegun, kata-kata Gilang barusan membuat pikirannya kembali teringat dengan ancaman Alfian yang akan membuatnya hidup menderita setelah menikah . Apa benar Alfian bisa berbuat lebih kejam dari sekarang ? Mengerikan sekali laki-laki itu. Pikir Sandra.
" San, ehh, San.. Lo masih dengerin aku kan ? Kok melamun ? " Gilang menepuk bahu Sandra pelan.
" Ehmm , de ...denger kok mas. Udah mas tenang aja. Aku yakin bisa ngadepin Tuan Alfian kok. " jawab Sandra tersadar dari lamunannya dan berusaha menyembunyikan kecemasannya.
" Tapiii.... aku boleh tanya sesuatu mas ? "
" Ya, tanya saja. Kenapa gak boleh, tentu boleh dong, apa lagi kalau kamu yang nanya ? " Gombal Gilang sambil cengengesan.
Sandra tersenyum.
" Apa sih mas, garing tau gak. Mmm, bukannya mas Gilang dan Tuan Alfian teman baik ya. Aku lihat dulu pas awal-awal mas Gilang kerja di restauran Tuan , mas suka diem-diem masuk ruangan Tuan Alfian dan mengobrol sangat akrab. Kok akhir-akhir ini sebaliknya, kalian suka bertengkar jika bertemu. Apakah ada masalah serius diantara kalian ? Kata Tuan juga mas Gilang pernah mukul dia belum lama ini, apa itu benar ?" Tanya Sandra panjang lebar. Rasa penasarannya sudah tidak bisa dia bendung lagi.
Tiba-tiba senyum itu menghilang dari wajah Gilang. Tentu saja dia tidak menyangka Sandra akan menanyakan hal itu kepadanya.
" Oh ituu .. biasalah, laki kalau bertengkar yah... begitulah ... " Jawab Gilang kikuk.
Sandra yang menyadari hal itu menjadi merasa tidak enak .
" Maaf ya mas , bukan maksudku....."
" Iya, gak apa-apa, gak salah juga bertanya." Potong Gilang cepat.
Sandra menangkap gelagat jika Gilang tidak ingin menceritakan kepadanya apa masalahnya. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan tapi entah apa itu.
" Ya mungkin saja itu hal yang sangat pribadi.Jangan suka terlalu kepo dengan urusan orang lain Sandra ! " Batin Sandra mengingatkan dirinya sendiri.
" Lanjutkan saja makanmu, habiskan aku akan menunggumu di sini. " Ucap Gilang berusaha tersenyum kembali .
" Ahh gak mas, sudah kenyang. " Jawab Sandra.
" Oke, kalau gitu mau aku antar pulang ?" Tawar Gilang.
" Mm , sebenarnya mau-mau saja ,tapi pasti tuan Al sudah menunggu dengan marah di mobil.Lain kali saja ya mas ? " Tolak Sandra tidak enak hati.
" Ohh,oke .. tapi kalau terjadi sesuatu langsung kabari aku ya ? "
" Siapp boss. " Sandra tersenyum ceria sambil mengakat tangan di depan Gilang .
" Kalau gitu aku duluan ya mas . "
" Oke , hati-hati ..."
" Oke, bye.." Sandra bergegas meninggalkan Gilang dan mencari dimana keberadaan Tuan Alfian.
" Aku gak akan tinggal diam Al, pasti ada cara bagaimana menggagalkan pernikahan itu." Batin Gilang selepas kepergian Sandra.
" Tok....Tokk...Tokk ....! "
Sandra mengetuk jendela mobil milik Alfian. Alfian dengan malas membuka pintu mobil . Kemudian Sandra bergegas masuk ke dalam dan duduk dengan baik. Sudah membuat Alfian menunggu firasatnya mengatakan akan ada sesuatu tidak baik yang terjadi padanya.
" Biasanya instingku tak pernah salah." Batin Sandra .
" Kamu pikir aku sopir yang harus menunggumu ?! Selalu merepotkan ! " Keluh Alfian.
" Tuh kan benar ! Mulai deh, baru juga selesai ngomong. " Keluh Sandra dalam hati.
" Maaf tuan. " Ucap Sandra. Dia tau segala apapun tentang dirinya entah benar atau salah hanya akan membuat Alfian marah. Sebaiknya merendah saja agar tidak menimbulkan keributan . Pikir Sandra.
"Kamu pikir maafmu itu berguna ?! " Bentak Alfian.
Sandra diam saja. Perutnya baru saja terisi dan dia tidak akan terima jika mendadak lapar lagi hanya karena bertengkar. Apa lagi semua yang dia makan tadi makanan enak . Jarang-jarang kan bisa makan makanan yang enak dan mahal ? Gratis pula. Di kos hanya ada mie instan dan cemilan yang tidak akan membuatnya kenyang tapi justru akan membuat tubuhnya semakin melebar . Hhhhhh. Sandra tersenyum mengingat hal itu.
" Kamu ! Kamu nantangin aku ! " Bentak Alfian.
" Hah ? " Ucap Sandra tidak mengerti apa maksud Alfian. Satu tangannya ditarik kasar oleh Alfian.
" Aaa ...aaa aaa.... sakit Tuan, aku gak nantangin Tuan .! " Rintih Sandra.
" Lalu kenapa kamu malah senyum-senyum dan tidak menjawab ku !"
__ADS_1
" Ah Tuan ini, menjawab salah , tidak menjawab pun salah.. " Batin Sandra.
" Tidak tuan , mana berani saya menantang tuan , tadi aku tersenyum karena sedang memikirkan sesuatu. Maaf jika itu membuat tuan salah paham. Lepasin tuan, ini sakiit... !" Rintih Sandra.
" Memikirkan sesuatu ? Ohh ya , aku mengerti sekarang. Jadi kamu mengabaikan ku dan justru memikirkan hal lain ?? Memikirkan Gilang ? Apa karena habis bertemu dengannya ? "
" Kamu benar-benar membuatku seperti sopir menunggu tuannya yang sedang asyik berkencan ! " Lanjut Alfian semakin marah dan menghempaskan tangan Sandra dengan kasar.
" Auu... Sakit, aduuhh .... au... siapa yang kencan tuan, jelas-jelas tuan tahu kita hanya mengobrol sebentar. Salah tuan sendiri kenapa tidak menunggu disana justru menunggu di dalam mobil ! " Balas Sandra sambil mengelus tangannya yang sakit. Benci sekali dia dengan lelaki di hadapannya itu.
" Apa istimewanya dia sih, dia tu hanya tukang ikut campur urusan orang aja ! Hah , **** ... ! Umpat Alfian.
" Aku gak suka ya kamu dekat-dekat dengan dia lagi mulai sekarang ! Ingat nama baik keluarga ku dan juga dirimu sendiri. Harusnya kamu tau itu !" Bentak Alfian lagi.
" Mas Gilang kan teman tuan, kenapa jahat banget sih ? Lagi pula aku juga hanya berteman dengan Mas Gilang, Mas Gilang kan baik,lemah lembut , gak galak , perhatian lagi . Saya juga tahu tuan , kalau saya ini sudah punya calon suami. Tapi apa salahnya berteman dengan orang lain. Tuan gak berhak mengatur semua kehidupan saya. "
" Ohh ... jadi menurut mu saya gak berhak mengatur kehidupan mu ? Kamu salah, setelah menyetujui perjodohan ini, itu berarti kamu sudah setuju dengan semua persyaratan saya." Ucap Alfian.
" Persyaratan ??" Tanya Sandra bingung. Kedua alis nya bertautan tanda tak mengerti apa yang dikatakan Alfian.
" Ya, ini, kamu tanda tangan di sini. " Lanjut Alfian sambil mengambil selembar kertas putih yang ada di dashboard mobil.
" Ini adalah surat pranikah kita. " Jelasnya.
" Surat pranikah ?? apa itu ? " Tanya Sandra masih juga tidak mengerti.
" Dasar bodoh. Anggap saja ini surat perjanjian sebelum kita menikah. " Ujar Alfian.
Sandra menerima kertas itu dan membaca tulisannya.
" Setelah menikah aku dilarang kerja ? Dilarang mencampuri urusan pribadi Tuan Alfian Rega Wijaya ? Istri harus patuh dan menuruti semua kemauan suami ? Akan ada sanksi jika peraturan dari suami di langgar ? Semua keperluan atau kebutuhan Tuan Alfian selama dirumah itu adalah tanggung jawab istri sepenuhnya ? Istri tidak berhak bertanya maupun protes tentang apa saja yang dilakukan suami ? " Baca Sandra terkaget-kaget. Masih banyak lagi poin- poin merugikan yang tertulis di sana.
Alfian mengangguk senang .
" Kalau tidak bekerja bagaimana saya bisa menghasilkan uang tuan, saya masih punya impian meski saya sudah menikah nanti . Lagi pula,Tuan mau cari istri atau cari pembantu ? Dirumah tuan kan sudah banyak ART yang membantu mengurus semua keperluan tuan, saya tidak mau tuan, saya ingin hidup bebas tanpa banyak aturan yang mengekang, surat apaan ini, isinya hanya tuntutan semua . Enak di tuan saja. Aku gak mau ada surat-surat pranikah segala." Protes Sandra.
"Dikira aku ini bodoh apa , mau menyetujui surat seperti ini." Batinnya.
Alfian menghela nafas kasar.
" Kamu pura-pura bingung atau beneran bodoh ?! Dengar, sejak kita nanti sah menjadi suami istri ,semua kebutuhan kamu sudah pasti aku yang akan memenuhinya, dan setelah menikah tentu kamu tidak akan bekerja di restoran. Mau dikata apa saya sama kolega jika tau istriku menjadi pelayan di restoran ku sendiri ? Tentu aku juga tidak mau kamu jadi pengangguran yang hanya menikmati kerja kerasku. Aku akan memasukkan kamu ke salah satu universitas di kota ini. Semua biaya untuk kuliah kamu , aku yang menanggungnya. Beserta keperluan dan kebutuhan ibumu. Intinya, segala sesuatu tentang kalian berdua aku yang akan menjamin. Tentu saja tidak cuma-cuma. Kamu harus menyetujui isi surat pranikah ini." Jelas Alfian panjang lebar.
" Saya tetep tidak setuju tuan, biarkan saya bekerja setelah menikah. Tuan tidak perlu repot-repot menjamin hidup saya maupun ibu saya. Jika tuan malu dengan kolega tuan , saya akan cari pekerjaan di tempat lain. Saya memang ingin kuliah tuan ,tapi tidak dengan merendahkan martabat dan harga diri saya. Saya yakin saya bisa membiayai hidup saya dan ibu saya sendiri. Maaf ,tapi surat ini . Saya tidak memerlukan surat ini untuk menjamin masa depan dan kebebasan saya !" Tegas Sandra merobek dan melemparkan kertas itu di depan muka Alfian.
" Enak saja mau mengatur hidupku . Kamu pikir aku bangga dengan senang hati menerima pernikahan ini ? Enggak lah, semua ini aku lakukan karena almarhum bapak. Tidak lebih. " Batin Sandra semakin kesal.
" Kamu kira kamu punya pilihan ? Setuju atau tidak ,itu tidak akan merubah semuanya. Setelah menikah kamu hanya akan menuruti semua perintahku. Apa kamu pikir saya tidak tau ? Wanita miskin seperti kalian pasti hanya uang yang kalian incar bukan ? Persetan dengan wasiat itu, itu hanya alasan kalian saja. Hari gini, terlebih gadis miskin yang suka bermimpi seperti mu ini , pasti senang sebentar lagi bakal menjadi menantu orang kaya. Jangan munafik jadi orang ! "
PLAKK
Sandra menampar pipi Alfian sekuat tenaga. Emosinya meledak sudah.
" Kalian ? Maksud tuan saya dan ibu saya ? Sudah pernah ku bilang tuan, anda boleh menghina saya tapi jangan melibatkan orang tua saya. Orang seperti saya memang miskin tapi tidak miskin hati seperti anda. Tuan pikir saya bahagia akan menikah dengan anda ? Salah anda salah.. Menikah dengan anda sama dengan menjatuhkan diri saya sendiri kedalam jurang. Ya ,anda tak sesempurna itu sampai saya berpikir bahagia akan menikah dengan anda. Justru sebaliknya, saya yang suka bermimpi ini takut,takut akan mimpi buruk yang akan jadi kenyataan. Ya seperti itulah anda. Anda hanyalah mimpi buruk yang datang di kehidupan saya !! " Teriak Sandra.
Setelah mengatakan semua itu , Sandra keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan keras.
Alfian yang masih tercengang karena tamparan dari Sandra semakin terkejut dengan keberanian Sandra yang baru saja menghinanya.
" Sssh ..sakit juga tamparannya. " Rintih Alfian memegang pipinya yang kian merasa panas.
" Kurang ajar,kita lihat saja nanti." Lanjut Alfian.
Sedangkan Sandra, dia berjalan tergesa-gesa menjauh dari mobil Alfian. Dadanya naik turun menahan amarah .
Semiskin apapun dirinya dia tidak akan pernah memanfaatkan keadaan. Dirinya dan ibunya bukan orang seperti itu. Kesal sekali mendengar ucapan Alfian tadi .
" San,, kok belum pulang ? Al mana ? " Tanya Gilang yang mensejajari langkah Sandra .
" Lhok kok Mas Gilang masih di sini ? " Sandra justru balik bertanya.
" Tadi ban mobilku kempes jadi ngisi angin dulu di pom sana ." Jelas Gilang sambil menunjuk arah pom bensin.
" Ohh.. " Balas Sandra yang tidak bersemangat.
" Kok cm oh... Kenapa ? Ada masalah ? Apa karena Alfian ? Apa kamu di tinggalkan sendiri lagi ? " Tanya Gilang penuh tanya.
" Gak kok mas, aku yang ninggalin tuan." ucap Sandra kesal.
Melihat Sandra yang terlihat marah dan murung membuat Gilang berpikir untuk mengambil kesempatan.
" Ya udah, ayok ikut aku , aku ajak jalan-jalan biar gak cemberut jelek begitu. " Bujuk Gilang.
" Jalan-jalan kemana mas ? " Tanya Sandra kurang setuju karena saat ini suasana hatinya sedang buruk.
" Ehm ke mall aja yuk . Kita jalan-jalan sambil belanja. "
__ADS_1
" Eemm, ya udah deh . " Timpal Sandra kemudian. Mungkin dengan jalan-jalan bisa mengurangi dan melupakan kemarahannya.
Gilang pun tersenyum senang Sandra mau di ajak jalan-jalan.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah mall terbesar di kota itu.
" Waahh ... Ramai ya mas . " Ujar Sandra .
" Ya kalau menjelang sore begini mulai ramai . Ayok ikut aku." Ajak Gilang.
" Kemana ?"
" Ayookkk , nanti juga tau. "
Gilang mengajak Sandra ke timezone di lantai paling atas. Mereka berdua mencoba berbagai wahana permainan yang ada di sana. Sandra terlihat sangat gembira dan menikmati . Keputusannya mengikuti Gilang ke mall membuatnya melupakan apa yang terjadi antara dirinya dengan Alfian. Saking asyiknya mereka bermain. Sampai tidak terasa jika hari sudah sore.
" Mas , capek. Makan yuk. Jam berapa ini kok udah lapar lagi sih ? " Tanya Sandra.
" Hampir pukul enam sore." Ucapnya
" Hah , cepet banget . "
" Ya udah ayo makan dulu, nanti baru aku antar pulang."
" He eh mas."
Sandra tersenyum senang dan menikmati makan malamnya dengan lahap.
" Makasih ya mas ,udah ajak Sandra kesini. Di traktir makan, masih beliin ice cream juga " Ucap Sandra sambil menikmati ice cream rasa coklat selesai makan.
" Iya, gak masalah, aku juga makasih kamu mau nemenin aku ke sini. Lain kali kita pergi ke tempat yang lebih seru lagi ya ?" Timpal Gilang tak kalah bahagia.
" Sini ..." Pinta Gilang meminta Sandra mendekat.
" Ya ??? Kenapa mas ? " Tanya Sandra bingung sambil mencondongkan badannya ke depan.
" Kalau makan ice cream yang rapi dong, jangan kaya anak kecil belepotan begini " Ujarnya sambil membersihkan sisa-sisa cream di sekitar bibir Sandra.
" Eeh, maaf mas.. makasih " Ucap Sandra tersipu.
" Ya ampun mas, kamu ini baik banget sih,paket komplit. Ganteng,baik, perhatian, lemah lembut. Pantas saja temen-temen di restauran banyak yang iri sama aku. Ahh kenapa bukan mas Gilang saja sih yang bakal nikah sama aku ?" Batin Sandra dag dig dug.
" Kenapa ? Mau nambah ice cream nya ? " Tanya Gilang yang melihat Sandra terus menatap dirinya.
" Ehmm ..enggak . Enggak kok mas." Jawab Sandra kikuk . Malu kepergok tengah mengamati laki-laki di depannya itu.
" Kalau sudah, ikut aku.."
" Kemana lagi mas ? Katanya mau nganterin pulang."
" Ada deh ayok . "
Kemudian Gilang mengajak Sandra ke sebuah counter handphone .
" Kita mau ngapain ke sini mas ? HP mas Gilang rusak ? "
Gilang diam saja dan asyik memilih Handphone. Setelah membayar mereka berdua pergi menuju basemen mobil .
" Ini buat kamu .." Ucap Gilang menyodorkan paper bag handphone itu kepada Sandra .
" Lho kok buat aku mas ? Kan mas yang beli ? " Tanya Sandra.
" Terima saja. Biar aku bisa dengan mudah menghubungi kamu . "
" Tapi mas , aku ... aku ..." Gak enak dong ,dah di ajak jalan-jalan, di traktir makan, masa ini juga mau di terima. Batin Sandra.
" Please terima saja San, aku yakin kamu juga membutuhkan ini. "
" Aduh mas... aku emang butuh tapi... aku gak bisa terima ini.. " Ucap Sandra menolak paper bag itu.
Memang benar saat ini dia memerlukan handphone untuk menghubungi ibunya . Sejak dari butik tadi siang , dia juga belum bertanya kabar ibunya. Teman-temannya juga sering kesulitan saat ingin menghubunginya. Tapi menerima barang semahal ini dari orang lain juga membuatnya merasa tidak enak.
" Udah ,jangan merasa tidak enak atau sungkan. Aku iklhas. Atau anggap saja aku sahabatmu yang membantumu saat ini, lain kali jika aku dalam kesulitan aku juga pasti akan meminta bantuanmu."
"Ehm...." Ucap Sandra masih ragu.
" Dah ...pokoknya terima . kalau gak di terima aku ngambek ya ? " Ucap Gilang pura-pura cemberut.
" Hahaha, Mas Gilang , ya ampun .. iya ..iya deh aku terima . Tapi kalau aku ada rejeki aku ganti ya ? "
" Gak perlu di ganti, pokonya gak ada ganti-gantian.. Kalau mau ganti boleh sih, tapi ganti cium saja ." Goda Gilang sambil menunjuk pipinya.
" Ihh mas Gilang apaan sih, makasih ya...lain kali aku traktir makan aja ya. "
" Ehmm .... ya udah deh,gak dapat cium makan bareng juga gak apa-apa. Tapi tiga kali ya ? " Tawar Gilang.
__ADS_1
" Siapp boss . " Balas Sandra sumringah.
Setelah itu Gilang bergegas mengantarkan Sandra pulang karena hari juga sudah gelap.