Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Mencari Sandra


__ADS_3

Alfian berlari panik menuju apartemennya. Perasaannya mulai tidak tenang mengingat kemarin dia meninggalkan Sandra saat sedang menangis.


" Bagaimana jika dia beneran gak makan dari kemarin ?" Alfian bertanya-tanya sendiri saat mengemudikan mobilnya.


Karena waktu menunjukkan jam kerja , maka perjalanan pulang ke apartemen tidaklah begitu lama, apalagi Alfian sedikit ngebut melajukan mobilnya.


Sampai di apartemen, Alfian segera memasukkan kode pin pintu kemudian masuk dan bergegas mencari keberadaan Sandra.


Alfian bingung kenapa apartemen tampak begitu sepi.


" Apakah dia tidur ?" Gumam Alfian.


Alfian kemudian menuju kamar, tapi ternyata kosong tak ada siapapun. Hati Alfian mulai was-was, perasaannya semakin tidak tenang. Dengan terburu-buru Alfian membuka pintu kamar mandi berharap Sandra berada di dalam sana meski tidak terdengar suara sedikitpun.


Alfian terlihat gusar, Sandra juga tidak ada di toilet. Alfian mencari di seluruh ruang di apartemennya,namun ternyata Sandra tak ada.


" Apakah dia ke butik ?" Lanjut Alfian bertanya pada diri sendiri.


Alfian kemudian mengambil ponselnya lalu menghubungi Sandra. Sayangnya,, nomor telepon Sandra tidak bisa di hubungi. Dengan langkah tergesa-gesa, Alfian kemudian pergi ke butik Sandra. Siapa tahu istrinya itu berada di sana.


Setelah sampai, Alfian menerobos masuk begitu saja. Para pegawai yang sudah tahu jika Alfian adalah suami dari bos mereka tak berani menyapa atau melarang sedikit pun.


Untung ada Pak Bagus yang kemudian muncul.


" Oh, Tuan Al .. Kebetulan sekali,, saya mencoba menghubungi nona Sandra sedari tadi. Ada laporan keuangan bulan ini yang harus saya sampaikan terkait dengan proses produksi. Sayangnya, nomor telepon nona tidak bisa di hubungi. Apakah Nona Sandra tidak masuk hari ini ?" Tanya Pak Bagus.


" Jadi Sandra tidak ada di sini ?" Bukannya menjawab pertanyaan dari Pak Bagus, Alfian justru balik bertanya.


" Lhoh, tidak itu tuan. Sejak pagi kita semua menunggu kehadiran nona. Apakah terjadi sesuatu ?" Tanya Pak Bagus ikut cemas.


" Ck, kalau begitu bapak urus saja terlebih dahulu semuanya. Saya percayakan butik istri saya kepada anda." Ucap Alfian kemudian berlalu keluar.


Pak Bagus yang belum sempat menjawab terlihat bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan bosnya. Tidak biasanya bosnya tidak masuk tanpa kabar, bahkan kini suaminya terlihat panik mencarinya.


" Semoga Nona Sandra baik-baik saja." Do'a Pak Bagus kemudian kembali mengurus pekerjaannya.


" Sandra... Kamu di mana ?" Gumam Alfian gelisah. Alfian juga sudah menghubungi Nurul, Neta dan teman-teman Sandra di kampus. Tapi mereka semua tidak ada yang mengetahui keberadaan Sandra. Sedangkan Alfian juga sudah meminta tolong kepada Dias untuk mencari informasi dari Gilang. Dia takut jika Sandra pergi menemui laki-laki itu. Tapi dengan penuh keyakinan Dias membantah kecurigaannya tersebut dan mengatakan jika saat ini Gilang masih terbaring di rumah sakit karena mengalami patah tulang pada hidungnya akibat amukan Alfian yang membabi buta tempo hari. Jika Gilang mau menuntut, panjang sudah urusan mereka. Untungnya Gilang tidak mempermasalahkan apa yang terjadi pada hidungnya. Ada sedikit penyesalan di hati Alfian atas apa yang dia lakukan terhadap Gilang, namun perasaan itu dia tepis segera karena yang dia cemaskan saat ini hanyalah Sandra.


Kini hanya tinggal satu tujuan Alfian. Dengan kecepatan tinggi Alfian menuju ke kampung tempat tinggal Sandra dahulu. Dua jam kemudian, Alfian sampai di rumah almarhum dan almarhumah mertuanya. Sepi, tak terlihat siapapun di sana.


" Nak Al ? Kapan datang ?" Tanya Bi Nani yang melihatnya dari samping rumah. Kelihatannya, Bi Nani tadi sedang sibuk di dalam rumah sehingga tidak menyadari kedatangan Alfian.


" Oh, assalamualaikum bi.. Saya sedang mencari Sandra. Apakah bibi melihatnya pulang ke sini ?" Tanya Alfian.


Bibi Nani mengerutkan keningnya penuh tanda tanya.


" Nak Al cari Sandra ? Apakah terjadi sesuatu ?" Tanya Bi Nani kemudian.

__ADS_1


" Ceritanya panjang bi... Saya tidak bisa menceritakannya sekarang. Saya harus segera menemukan Sandra." Ucap Alfian yang dilanda cemas.


" Tapi, tidak ada siapapun yang datang nak.. Bibi seharian ada di rumah. Dan tadi bibi juga sempat membantu Mpok Jum membersihkan rumah Sandra." Timpal Bibi Nani . Ya,, meski kosong tidak berpenghuni tetapi Alfian menyuruh orang untuk datang setiap hari untuk membersihkan rumah itu , setelah selesai orang itu bisa langsung pulang.


Mendengar jawaban dari bibi Nani semakin membuat Alfian khawatir. Hari sudah mulai sore tapi Sandra belum juga di temukan.


Bibi Nani kemudian menghampiri Alfian agar lebih leluasa berbicara, karena sejak tadi mereka mengobrol sambil setengah berteriak karena Bibi Nani sedang berada di samping rumahnya.


Bukan mengapa, Bibi Nani hanya takut ada tetangga yang ikut mendengarkan obrolan mereka dan menjadikannya sebagai bahan gosip di kampung itu.


" Ada apa sebenarnya nak Al ? " Tanya Bibi Nani.


" Nanti ya bi, setelah Sandra ketemu saya ceritakan. Tapi untuk saat ini, saya takut terjadi sesuatu kepada Sandra. Nomor ponselnya tidak aktif, teman-temannya juga tidak ada yang tahu di mana dia sekarang." Ucap Alfian murung.


" Astaga... Aduh, bibi jadi ikut khawatir sekarang... Sebenarnya di mana kamu nak...?" Timpal Bibi Nani.


" Bibi tahu gak, tempat yang sering Sandra datengin ?" Tanya Alfian.


" Waduh, di mana ya nak ... Sandra itu orangnya gak suka main atau keluyuran. Paling jauh juga ke pasar bantuin almarhumah ibunya dulu. Sama ke sekolah..."


" Ah ya... almarhumah ibu... Bibi, saya mau cari Sandra terlebih dahulu." Ucap Alfian seperti mendapatkan petunjuk.


" Nak Al mau kemana ??" Tanya Bibi Nani, namun Alfian terlanjur sudah masuk ke dalam mobil.


" Semoga kali ini kamu ada di sana sayang... Jangan bikin aku cemas seperti ini." Ucap Alfian lirih. Hari sudah sore dan hujan deras mulai mengguyur bumi.


Alfian semakin kencang melajukan mobilnya. Tak lama kemudian, sampailah Alfian di makam. Sejenak dia mengamati keadaan sekeliling. Sepi... Apalagi hari mulai gelap dan juga hujan deras begini, siapa yang mau datang ke makam ? Tapi firasatnya mengatakan jika Sandra ada di sini.


Jantung Alfian tiba-tiba berpacu dengan cepat. Segera Alfian berlari mendatangi sosok itu. Alfian semakin panik setelah tahu jika sosok itu ternyata adalah Sandra.


" Sandra....! " Teriak Alfian. Namun Sandra diam saja tidak menyahut. Tentu saja hal itu membuat Alfian sangat ketakutan.


Alfian segera ikut duduk dan melihat keadaan Sandra yang tadinya dia pikir sedang duduk menelungkup di atas nisan. Pada kenyataannya, Sandra duduk terkulai dengan kondisi tidak sadarkan diri di atas nisan ibunya.


" Sandra, bangun sayang .. Bangun ... Jangan bikin aku takut. " Teriak Alfian lalu menepuk kedua pipi Sandra.


Wajah Sandra terlihat sangat pucat. Bibirnya membiru dan seluruh badannya terasa sangat dingin.


Alfian lalu mengangkat tubuh istrinya dan membopongnya lari ke dalam mobil.


Alfian yang panik terus memanggil-manggil istrinya agar segera sadar.


" Please Sandra, jangan bikin aku setakut ini."


" Bangun, sadar sayang.... Buka mata kamu..."


" Please aku mohon... " Kali ini suara Alfian mulai terdengar parau karena menahan tangisannya.

__ADS_1


Alfian kemudian mengemudikan mobilnya kembali ke rumah mertuanya. Sampai di sana, ternyata sudah ada Bibi Nani yang menunggu dengan khawatir.


" Astaghfirullah Sandra !! Kamu kenapa nak !" Jerit Bibi Nani setelah melihat Alfian berlari sambil membopong tubuh Sandra yang tidak sadarkan diri.


" Bibi, siapkan air hangat... Saya akan membersihkan diri Sandra terlebih dahulu !" Teriak Alfian.


" Baik nak." Dengan sigap Bibi Nani kemudian mengambil peralatan ala kadarnya dan juga air hangat di dalam baskom berukuran sedikit besar.


Alfian sudah meletakkan Sandra di atas kasur, kemudian dia berganti pakaian terlebih dahulu. Agar bisa lebih leluasa saat membersihkan tubuh Sandra. Kedua mata Alfian terasa perih dan memerah karena tadi dia hujan-hujanan air matanya sekaligus.


Setelah membantu menyiapkan baju Sandra, Bibi Nani kemudian undur diri dan membiarkan Alfian merawat istrinya seorang diri.


" Bibi siapkan air hangat dulu ,,untuk kamu mandi nanti. Sekalian bibi buatin masakan. Kalian pasti belum makan." Ujar Bibi Nani kemudian keluar dari kamar.


Setelah Bibi Nani meninggalkan mereka, Alfian segera membuka pakaian Sandra yang basah kuyup. Dan betapa terkejutnya Alfian melihat begitu banyaknya bekas lebam di sekujur tubuh istrinya. Tanpa bisa di bendung lagi , air mata mengalir begitu deras dari sudut matanya.


Betapa tidak ?? Bekas lebam yang mulai terlihat biru keunguan itu adalah ulahnya. Dia yang sudah membuat tubuh istrinya seperti sekarang ini. Bayangan saat dia menyesap dan menggigit secara asal saat memaksa Sandra melayani amarahnya di atas ranjang kembali terlintas. Sandra sudah menjerit kesakitan dan memohon untuk menghentikannya, namun seperti orang yang hilang kendali, Alfian tak menghiraukannya kemarin.


" Maafkan aku... " Isak Alfian lirih. Dengan hati-hati, Alfian membersihkan tubuh Sandra. Bahkan pergelangan tangan Sandra juga sudah terlihat hitam kebiruan.


" Maaf... Aku benar-benar berengsek kemarin ! Aku tidak pantas menjadi seorang suami..!" Kata Alfian lagi.


" Maaf karena aku selalu menyakiti mu. "


" Maafkan aku sayang, kumohon, segera buka matamu."


Penyesalan yang teramat mendalam terlihat dari kedua mata Alfian. Lagi-lagi, sikapnya yang tidak bisa mengendalikan emosi membuat orang yang sangat dia cintai kembali terluka. Bahkan kini lukanya bukan hanya di hati saja, tapi juga fisiknya. Air mata terus mengalir saat Alfian membersihkan tubuh istrinya.


Akhirnya Alfian selesai membersihkan tubuh dan juga mengganti baju Sandra. Kemudian dia membereskan peralatan yang tadi dia gunakan. Setelah itu dia kembali ke samping istrinya. Menggenggam tangan Sandra dengan erat serta menciuminya berulang-ulang kali.


" Alfian !" Geram seseorang dari belakang.


" Papa ?!" Tanya Alfian terkejut dengan kehadiran Pak Wijaya yang tiba-tiba.


" Bagaimana bisa kamu tidak memberi tahu papa tentang semua ini !!" Tegur Pak Wijaya marah.


" Maaf pa... Al rasa ini adalah masalah rumah tangga Alfian dengan Sandra." Balas Alfian.


" Ck... Masalah rumah tangga katamu ? Apa kamu lupa jika kamu dan Sandra adalah anak-anak papa ?? Haruskah papa selalu mendengar dari orang lain tentang apa yang terjadi kepada kalian ? " Ucap Pak Wijaya marah.


" Maaf pa..."


" Benar-benar kau Al ! Bagaimana sekarang keadaan Sandra ? Sudah menghubungi dokter ?" Tanya Pak Wijaya sedikit lebih lembut lalu ikut duduk menunggui Sandra."


"Huft ... " Pak Wijaya membuang nafasnya dengan kasar.


" Ceritakan kepada papa dari awal, sampai akhirnya Sandra bisa jadi seperti ini." Perintah Pak Wijaya.

__ADS_1


Alfian kemudian menceritakan dari awal mula mereka sering berdebat dan bertengkar hingga akhirnya Alfian bisa lepas kendali dan membuat Gilang dan Sandra terluka karenanya.


Tanpa mereka sadari, Sandra sudah sadar dari pingsannya. Namun dia pura-pura masih tidur saat mendengar suara mertuanya datang.


__ADS_2