Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Kegilaan Rena


__ADS_3

Rena tersenyum puas setelah membaca pesan singkat dari Sandra. Akhirnya, apa yang dia inginkan sebentar lagi bisa terwujud...


" Jika kamu tidak bisa ku miliki... Maka perempuan itu pun juga tidak akan pernah bisa memiliki mu selamanya.. Dengan begitu, aku juga bisa melampiaskan rasa sakit di hatiku ini karena bisa melihatmu hancur menangisi kepergian orang yang kamu cintai. Bukan hanya satu, tapi dua nyawa sekaligus... Kita lihat nanti Al.. Aku tidak akan pernah menyesal dengan apa yang akan aku lakukan hari ini, tapi aku akan pastikan satu hal... Aku akan membuatmu menyesal seumur hidup karena telah menolak serta menghinaku..!" Gumam Rena penuh tekad.


Dengan tergesa serta sangat berhati-hati, Rena keluar dari tempat persembunyiannya. Tujuannya sudah pasti, menemui Sandra yang sudah terpancing dengan umpan yang dia berikan.


" Dasar perempuan bodoh... hanya segitu saja sudah kepancing..Dengan mudah kamu percaya dengan kata-kata ku lewat pesan... Hahaha, tapi syukurlah, dengan kebodohan mu ini, akan ku buat kalian sadar , siapa Rena yang kalian remehkan... ! Jangan pernah bermain-main atau berani menghinaku... Mati pun aku tidak takut asal kalian hidup menderita selamanya !!" Rena terus bergumam sendiri seperti orang gila saat mengendarai mobil.


Di tempat lain, Alfian terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh...


" Cepat hubungi Sandra... Aku harus berbicara dengannya !" Perintah Alfian kepada Dias yang baru saja selesai menelpon anak buahnya.


" Baik Tuan ! Tapi kumohon,, kurangi sedikit kecepatan anda.... Ini demi kebaikan kita semua... Bukan kah anda bilang ingin menolong nona Sandra ? Jika sampai terjadi sesuatu kepada kita, tentu saja kita tidak bisa menolong nona tuan..." Dias terus berusaha memberikan nasehat kepada sahabatnya itu.


" Jangan gila Al.. seratus dua puluh kilo meter permenit... Bukannya sampai di tujuan, bisa jadi kita malah sampai di akhirat terlebih dahulu !" Batin Dias sambil menahan detak jantungnya yang berdegup dengan kencang karena ketakutan.


Akhirnya, Alfian pun mendengar apa yang di ucapkan oleh Dias. Sedikit demi sedikit, Alfian mulai mengurangi kecepatan mobilnya. Apa yang dikatakan Dias benar adanya... Dia memang harus menyelamatkan Sandra, tapi keselamatan tetap harus yang utama atau dia justru tidak akan pernah bisa menyelamatkan Sandra karena kepanikannya sendiri.


Alfian kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya. Berharap semua oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya bisa sedikit memberinya ketenangan agar tetap bisa berpikir dengan tenang. Begitupun dengan Dias, pria yang tak kalah tampan dengan sahabatnya itu terlihat sangat lega ketika mobil yang di naikinya melaju dengan kecepatan normal.


" Tidak di angkat tuan... Kemungkinan nona Sandra juga masih dalam perjalanan ke tempat itu." Ucap Dias memberi tahu.


" Sial !! Tetap telepon lagi Dias...! " Perintah Alfian.


Dias pun mengangguk patuh dan terus mencoba menghubungi ponsel Sandra.


"Astaga sayang ... Apa yang kamu pikirkan ? Kenapa kamu nekat menemui orang yang jelas-jelas hanya berniat buruk kepada mu ?" Gumam Alfian.


" Dias, Sandra sedang hamil... Dia sedang mengandung anak ku Dias !! Aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka berdua.. Aku... Aku..sangat menyesal.. Ini semua salahku, aku yang salah karena tidak bisa menjaga istri ku dengan baik. Harusnya pagi tadi aku tidak mengabaikannya, tidak pergi ke kantor begitu saja... Bisa jadi, pagi tadi Sandra akan memberitahu ku tentang kehamilannya, seharusnya aku masih menemaninya, seharusnya aku bisa lebih bersabar dalam menghadapinya... Astaga ... Apa yang ku lakukan !!!" Pekik Alfian penuh penyesalan.


" Sudahkah tuan, jangan menyalahkan diri sendiri. Sekarang yang terpenting adalah berusaha menyelamatkan Nona Sandra. Kita berdoa saja semoga Nona baik-baik saja dan apa yang tuan khawatirkan tidak akan pernah terjadi." Hibur Dias yang tidak tahu harus berkata apa. Baru kali ini dia melihat sahabatnya menyesal seperti itu. Bahkan terlihat jelas jika mata pria yang dia kenal keras kepala itu sampai berembun karena menahan air matanya.


...****************...


Selesai menitipkan tugas kepada Salsa, Sandra segera keluar dari kampus kemudian mencari taksi online lagi.


" Cepetan sedikit ya pak .." Pinta Sandra setelah berada di dalam taksi online.


" Baik non.. Tapi tolong pakai sabuk pengamannya ya non.." Balas pak sopir.


" Oh,, baik pak... " Sandra kemudian memakai sabuk pengaman yang di maksud.


" Kelihatannya buru-buru sekali ya non ?" Tanya pak sopir ramah.


" Iya pak, saya ada janji sama seseorang." Jawab Sandra."


" Oh .." Balas Pak sopir yang kemudian fokus menyetir kembali.


Tidak berselang lama, akhirnya Sandra pun sampai. Karena terburu-buru, Sandra tidak menyadari jika ponselnya tertinggal di dalam taksi yang baru saja dia naiki.


Sandra melihat ke sekeliling. Kini dia sedang berdiri di pinggir jalan raya yang sangat sepi. Di kiri dan kanan jalan tidak ada bangunan apapun. Hanya ada pohon-pohon, ilalang dan juga bunga liar yang tumbuh subur di kanan kirinya.


" Tempat apa ini ? Kenapa sepi sekali ? Alamat nya gak salah kan ?" Sandra bertanya-tanya dalam hati sambil celingukan ke sana kemari.

__ADS_1


" Aku tanya tu orang saja deh..," Ucap Sandra kemudian merogoh tas selempang kecil yang dia kenakan.


" Ponselku kok gak ada ?" Ucap Sandra panik.


" Aduh, jangan-jangan ponselku tertinggal di dalam taksi lagi ! Kalau begini, gimana aku bisa menghubungi itu orang ?" Sandra terus bergumam sambil merutuki kebodohannya sendiri.


" Pukul sepuluh tepat... Bukankah harusnya orang itu sudah ada di sini jika memang ini alamatnya ?" Tanya Sandra mulai gusar. Karena sejak berdiri tadi, Sandra tidak menemukan kendaraan maupun orang yang lewat di sana. Hanya semilir angin yang membuat bunga-bunga liar dan pepohonan yang ada di sana saling bergoyang menghembuskan udara yang sejuk.


" Tempatnya sih nggak terlalu buruk, tapi sepinya ini lho.... Kok ada sih tempat seperti ini yang nggak aku ketahui ? Bahkan ini nggak terlalu jauh dari kampus. Mungkin karena aku terlalu sibuk ngurusin butik kali ya ?" Celoteh Sandra.


Srrk Srrk


Sandra menoleh, dia pikir ada seseorang yang mendekatinya, ternyata hanya suara dedaunan kering yang berjatuhan.


" Kok jadi ngeri gini sih ? Perasaan ku jadi nggak enak ... Apa aku pergi saja ya ?" Batin Sandra sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Saat hendak melangkah pergi, saat itulah sebuah mobil tua muncul dan berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sandra bergeming melihatnya, berharap orang itulah yang ingin dia temui.


Namun betapa terkejutnya Sandra saat tahu siapa pengemudi mobil yang tengah turun dari mobil itu. Wanita itu menutup pintu mobil dengan kasar, menimbulkan dentuman suara yang sedikit memejamkan telinga. Namun hal itu masih tak mampu membuat rasa terkejut Sandra menghilang begitu saja.


" Ren,, Rena ?" Kata Sandra terpengarah. Dia tidak percaya jika yang tengah berhadapan dengan dirinya saat ini adalah Rena. Rena yang dia kenal. Sandra begitu pangling dan terkejut melihatnya. Bagaimana tidak ? Rena yang dulunya sangat cantik dan modis, kini berubah menjadi Rena yang jauh dari kata sebelumnya. Kini Rena mempunyai wajah yang berantakan,bahkan masih terlihat bekas-bekas cakaran di seluruh permukaan wajahnya.


" Hai Sandra... Lama tidak berjumpa." Ucap Rena tanpa basa-basi.


" Bu... Bukankah ... Kamu masih di penjara ? Kena.. pa de..ngan wa..jah mu ?" Tanya Sandra terkejut, bingung dan bercampur penasaran.


" Hahahahaha... Sandra... Sandra .... Jadi kamu belum tahu jika aku sudah bebas ? Padahal suami kamu sendiri sudah tahu jika aku sudah lama bebas Sandra, dan bahkan kita sudah pernah bertemu.. Aku tidak menyangka ternyata suamimu tidak sepenuhnya jujur dan terbuka kepada mu. !" Ucap Rena dengan nada sinis dan enggan mengomentari keterkejutan Sandra tentang wajahnya yang sekarang.


" Terserah, aku tidak perduli meskipun kalian pernah bertemu lagi di belakang ku. Aku yakin mas Al tidak sengaja atau punya alasan tertentu saat bertemu maupun ingin bertemu dengan mu." Jawab Sandra tegas.


" Hahaha, Sandra... Sandra... Jangan berlagak sok jika di depanku, aku yakin jika sebenarnya kamu pasti sangat penasaran kenapa suamimu masih mau bertemu dengan ku.." Pancing Rena mulai membual.


" Aku tidak perduli Ren... Sekarang langsung pada intinya saja . Jadi kamu yang kemarin meneror ku ? Kamu yang mengirim foto-foto itu lewat seorang anak kecil ? Atau jangan-jangan kamu juga yang sudah berusaha ngeracunin aku ?" Tanya Sandra.


" Yap betul.. Semua itu aku yang melakukannya...!" Jawab Rena dengan lantang.


" Apa tujuan mu melakukan semua itu ? Untuk memisahkan aku dengan mas Al ?" Tanya Sandra tak kalah sengit setelah mendengar kenyataan yang sebenarnya.


" Pintar sekali.... Itu memang tujuanku Sandra sayang...Hahaha..."Bukanya merasa bersalah, Rena justru terlihat bangga saat mengakuinya.


" Untuk apa kamu melakukan hal keji seperti itu Rena ?? Percuma saja, meskipun seandainya kamu berhasil memisahkan aku dengan mas Al, belum tentu mas Al mau kembali kepada mu... Justru mas Al akan semakin membenci mu... Bukankah hal itu hanya sia-sia ?" Ucap Sandra lagi.


" Jangan sok menceramahi ku gadis kampung ?! " Sentak Rena.


" Aku sudah memaafkan mu atas perbuatanmu yang lalu dan tidak memperkarakannya. Aku berharap kamu bisa berubah dan menjadi orang yang lebih baik. Ternyata aku salah... Sekarang kamu justru semakin menjadi,, bahkan musibah yang menimpa mu dan keluarga mu juga tak mampu mengubah cara pikir dan perilaku mu..!" Ucap Sandra geram.


" Jaga mulutmu !! Aku juga tidak butuh maaf dari gadis kampung seperti mu ...!" Teriak Rena mulai mendekat.


" Apa yang kamu inginkan sekarang ? Apa tujuan mu ingin menemui ku ?" Tanya Sandra sambil berjalan mundur. Saat ini, rasa takut mulai menguasai dirinya. Namun dia harus tetap berpura-pura berani.


" Apa yang ku inginkan ?? Tentu saja aku mau nyawamu dan juga anak yang kamu kandung itu !" Tutur Rena kemudian mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya.


" A..anak ? Jadi kamu juga tahu jika aa..aku..."

__ADS_1


" Tentu saja aku tahu Sandra ... Aku tahu semuanya... !" Bentak Rena. Langkahnya semakin mendekat ke arah Sandra.


" Ja..jangan macam-macam Rena , kamu bisa masuk ke dalam penjara lagi jika berbuat hal buruk kepada ku !" Ancam Sandra.


" Aku tidak perduli lagi ! Bahkan mati pun aku sudah tidak takut ,, asalkan kamu dan suamimu hidup menderita ! Hahaha..."


" Sadar Rena ... Jangan berbuat nekat... " Sandra semakin mundur ketakutan saat Rena mengacung-acungkan pisau itu.


" Kenapa ?? Kamu takut ? Mau teriak ? Teriak saja,, tempat ini begitu sepi,, tidak akan ada yang mendengar mu berteriak."


Mendengar ucapan Rena , Sandra semakin ketakutan sambil berpikir bagaimana caranya dia bisa kabur dari Rena.


" Akan ku buat kalian menyesal seumur hidup ! Akan ku buat Alfian merasakan apa yang aku rasakan... Kehilangan orang yang sangat dia cintai, bahkan dua nyawa sekaligus !"


Syuutt


Rena berusaha melukai perut Sandra. Untung saja Sandra dengan sigap menghindar dan terus mundur menjauhi Rena.


" JANGAN SAKITI ANAKKU ! " Teriak Sandra spontan sambil menutupi perutnya dengan kedua tangannya.


" Sial ! Berani sekali kamu meneriaki ku !" Ucap Rena murka. Dengan gerakan tak kalah cepat Rena berusaha menghujam lagi tubuh Sandra.


Sandra yang ketakutan, kemudian berlari ke arah semak-semak dan bunga liar di sampingnya, berharap Rena kesulitan mengejarnya. Tapi sayangnya, saat hendak berlari, Rena berhasil melukai lengannya. Senyum bahagia terpancar dari wajah Rena yang sudah kesetanan.


" Aarg... Tolong... Tolong..." Jerit Sandra berlari sambil memegangi lengan dan perutnya.


Rena mengejar Sandra sambil tersenyum puas. Rencananya sebentar lagi akan berhasil. Setelah dia berhasil menyingkirkan Sandra dan calon anaknya, dia tinggal menunggu waktu melihat kehancuran Alfian.


Saat Rena sudah hampir mendekat, Sandra mengambil dahan kayu kering yang ada didekatnya kemudian memukulkan ke arah pisau Rena. Berhasil... Sandra berhasil membuat pisau itu melayang dan terjatuh ke semak-semak. Setelah itu Sandra tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan cepat, Sandra kembali berlari menjauhi Rena.


Rena yang semakin murka melihat Sandra yang berani melawannya, mengambil alih dahan kering yang tadi Sandra lemparkan begitu saja kemudian kembali mengejarnya.


Bruuuk !


Sandra yang tergesa-gesa dan tidak berhati-hati,, jatuh terjerembab di atas rumput.


Rena tertawa mengejek saat mendapatinya tersungkur di atas tanah berumput.


" Jangan Rena jangan...." Sandra memohon sambil menangis ketakutan.


" Teruslah memohon, karena aku tidak akan pernah mengampuni mu ! Hahahaha..." Tawa Rena tanpa rasa belas kasih sedikit pun.


" Aaa... Sakit Rena , Jangan...!" Sandra meringkuk mencoba melindungi perutnya saat Rena bertubi-tubi memukul tubuhnya dengan dahan pohon kering. Lengannya yang terluka juga terus mengalirkan darah segar yang membuatnya merasa sangat perih.


" Hentikan Rena, aku mohon... Tolong sadarlah... Hentikan Rena...." Ucap Sandra yang merasakan sakit di sekujur tubuh dan kepalanya karena serangan dari Rena yang membabi buta.


" Sakit ? Segini saja sudah sakit ? Baiklah, biar ku percepat karena kamu terus memohon..." Rena yang semakin liar dan hilang kendali kemudian mengambil batu besar yang ada di dekatnya.


" JANGAN RENAA !!!" Teriak Sandra saat Rena mengarahkan baru besar tersebut ke arahnya.


Doorr !


Tepat saat itu, sebuah suara letupan pistol terdengar di telinga Sandra, sesaat sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


__ADS_2