Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Cerita Arkha


__ADS_3

Paginya sebelum berangkat ke kampus.. Sandra dan Alfian mampir ke rumah Pak Wijaya terlebih dahulu. Mereka ingin memberi tahu tentang rencana mereka yang akan pindah ke rumah baru hari itu juga. Setelah sampai Pak Wijaya dan Arkha sudah menunggu kedatangan mereka.


" Pagi pa ,, pagi adik ipar....?" Sapa Sandra dengan ramah kemudian mencium telapak tangan mertuanya.


" Pagi juga nak... gimana kabar kalian ?" Tanya beliau.


" Alhamdulillah kami baik pa.. Papa sendiri bagaimana ?" Sahut Sandra yang memang sudah akrab dengan papa mertuanya.


" Papa juga baik nak. Oya tumben mampir ke sini dulu , nggak ada masalah kan ?"


" Enggak ada pa.. Kita mau kasih tahu saja kalau hari ini kami akan pindah ke rumah baru." Kali ini Alfian yang menjawab pertanyaan dari papanya.


" Oya ? Kenapa mendadak sekali mengabarinya.. Kita kan bisa siapkan pesta kalau tahu kalian akan pindah." Tutur beliau sedikit terkejut.


" Ya nggak ada apa-apa pa. Kebetulan rumahnya sudah selesai di renovasi dan semuanya juga sudah lengkap. Dengan kata lain rumah itu sudah siap di huni." Jawab Alfian yang tidak memberi tahu semuanya. Akhir-akhir ini Pak Wijaya sering mudah sakit jadi Alfian tidak ingin menambah beban pikiran orang tuanya itu jika tahu tentang kejadian yang sebenarnya.


" Owh... Baguslah, memang sudah seharusnya kalian pindah ke rumah milik kalian... Bahkan tadinya papa berpikir mau sampai kapan kalian tinggal di apartemen. Yan walaupun nyaman dan lengkap rasanya tidak akan sama seperti jika kalian tinggal di dalam rumah."


" Kalau gitu kita perlu bantuin nggak kak ? " Tanya Arkha ikutan bergabung dengan obrolan mereka.


" Nggak perlu. Lagi pula kita nggak bawa banyak barang." Jawab Alfian.


" Oke... Mm, kalau gitu boleh aku pinjam kakak ipar sebentar ?" Tanya Arkha ragu-ragu.


Alfian dan Sandra saling menatap penuh tanda tanya.


" Nggak lama kok.. Aku cuma mau ngobrol sebentar sama kakak ipar." Lanjut Arkha.


" Ya sudah, sana kalian ngobrol dahulu. Lagi pula ada masalah pekerjaan yang ingin papa bahas dengan kakakmu mumpung dia datang ke sini." Timpal Pak Wijaya.


Setelah mendapatkan izin dari papanya , Arkha kemudian mengajak Sandra ke balkon.


" Ada apa ?" Tanya Sandra langsung.


" Mm... Apa Nurul belum bercerita kepada mu ?" Tanya Arkha cemas.


" Bercerita apa ? Sejak dari pesta pertunangan Mas Gilang waktu itu aku belum ketemu lagi sama Nurul. Emangnya kenapa ? Kalian lagi bertengkar ?" Tanya Sandra penuh selidik.


Arkha tercekat mendengar pertanyaan dari Sandra.


" Sebenarnya... Ah lupakan saja." Kata Arkha kemudian hendak pergi.

__ADS_1


" Hey ! Kamu nggak bisa pergi begitu saja setelah membuatku penasaran bodoh !" Gerutu Sandra.


Arkha kembali berbalik dengan keraguan di wajahnya.


" Ada apa ? Cepat katakan saja.Dari tingkah mu saja aku bisa menyimpulkan jika kalian sedang ada masalah. Dengan begitu siapa tau aku bisa membantu kalian." Tutur Sandra sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan.


"Hffftt...." Arkha mengeluarkan nafas panjangnya sebelum akhirnya membuka suaranya.


" Aku putus dengan Nurul ..." Aku Arkha kemudian.


" What ?? Putus ? Emang kalian ada masalah apa ? Apa yang kamu lakukan kepada sahabat ku ? Kamu nggak nyakitin dia kan ?" Tanya Sandra bertubi-tubi membuat Arkha semakin panjang menghembuskan nafasnya.


" Tenang dulu San... Aku nggak ngapa-ngapain Nurul... Dia yang mutusin aku." Kata Arkha tercekat.


" Nurul ? Dia yang mutusin kamu ?" Tanya Sandra terkejut mendengar pengakuan dari adik iparnya itu.


Arkha mengangguk pelan.


" Dia minta putus hanya karena merasa tidak pantas menjadi kekasih ku. Dia bilang , selama ini dia tertekan dengan batinnya sendiri selama menjadi kekasih ku. Dan puncaknya waktu kita di pesta pertunangan Gilang kemarin." Ucap Arkha sambil menahan sesuatu yang selama ini dia pendam.


" Aa...Aku sedikit dengar tentang hal itu, tapi waktu itu aku juga sudah meyakinkan Nurul jika dia salah berpikir seperti itu. Aku nggak nyangka jika akhirnya dia memilih menyerah begitu saja. Padahal kalian pasangan yang sangat serasi." Ucap Sandra kecewa.


" Terus bagaimana rencana mu selanjutnya ? Apa kamu yakin dengan keputusan kalian ? Kamu nggak coba hubungin dia atau berusaha bertemu dengannya ?" Tanya Sandra.


" Sudah ku lakukan, tapi dia seperti hilang di telan bumi. Handphone nya susah di hubungi dan setiap aku ke kampusnya,aku tidak menemukannya. Sial ! Dia benar-benar membuatku menjadi gila !" Umpat Arkha kesal dengan dirinya sendiri.


Sandra terdiam untuk sesaat. Kemudian dia ada ide.


" Baiklah, akan ku coba membantu mu. Tapi untuk keputusan akhirnya aku serahkan kepada kalian berdua. Nanti setelah pindah ke rumah baru, biar aku minta kakakmu untuk membuat pesta kecil-kecilan untuk syukuran. Akan ku undang kalian semua termasuk Nurul dan beberapa teman dekatku. Akan ku siapkan cara agar kalian bisa berbicara berdua. Tapi ingatlah... Jangan pernah macam-macam kepada sahabat ku. Ku harap kamu berusaha lebih keras lagi untuk meyakinkan dirinya dan bisa memahaminya bukan dari sudut pandang kamu saja , tapi juga dari sudut pandangnya juga. Jujur , aku dulu pun merasakan hal yang sama seperti Nurul. Saat menginjakkan kaki di keluarga ini, rasanya seperti mimpi sekaligus beban berat. Selain harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup kalian yang sangat berbeda dengan kami. Kami juga harus tahan dari hinaan dan kabar miring tentang kami. Kami sudah terbiasa hidup sederhana bahkan hidup susah. Jadi ketika kami masuk ke keluarga kalian atau bersanding dengan kalian tentu akan banyak pandangan mata yang menilai orang-orang seperti kami. Ada yang menilai jika orang-orang seperti kami ini adalah orang-orang miskin yang mengandalkan keberuntungan, ada juga yang menilai kami dengan pandangan buruk dan bahkan berkata yang tidak-tidak. Bahkan banyak di antara mereka yang bilang jika orang seperti kami hanyalah orang yang licik dan gila harta. Mungkin, saat ini Nurul masih belum terbiasa dengan pandangan dan penilaian seperti itu sehingga membuatnya memutuskan hal seperti ini." Kata Sandra memberi tahu.


" Tapi aku tidak pernah menilai kalian seperti itu." Jawab Arkha lirih.


" Aku tahu Arkha... Tapi kami tidak bisa mengendalikan mulut-mulut orang di luar sana. Jika saat ini Nurul tertekan, aku bisa memakluminya karena aku pernah di posisi itu. Ku mohon mengertilah, mungkin saat ini Nurul sedang butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan semuanya. Aku adalah orang pertama yang mendukung dan sangat bahagia mendengar kabar baik dari hubungan kalian, tapi aku juga tidak bisa memaksa jika salah satu di antara kalian memang tidak menginginkannya." Lanjut Sandra.


Arkha diam tak bergeming. Apa yang di katakan oleh kakak iparnya membuatnya tertampar. Selama ini dia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak memperdulikan apa kata dan pendapat orang lain karena menurutnya itu tidaklah penting. Tapi bagi Nurul ? Gadis berambut ikal itu pasti banyak memendam rasa sakit di dalam hubungan mereka.. Hanya saja Nurul tidak pernah menunjukkannya di hadapan dirinya. Kalau saja waktu di pesta pertunangan Gilang dia tidak mendengarnya sendiri, sampai sekarang dia pasti tidak akan tahu jika wanitanya selama ini tertekan karena menjadi kekasihnya.


" Sudah siang, bukankah kita harus ke kampus ?" Tanya Sandra menyadarkan lamunan Arkha.


" Oh... Ya, kamu duluan saja." Jawab Arkha tanpa tenaga.


Sandra sendiri ikut prihatin melihat kesedihan di mata adik iparnya. Dia yakin jika Arkha sangat tulus mencintai sahabatnya, tapi dia lebih prihatin dan tidak tega lagi membayangkan apa yang saat ini tengah dirasakan oleh sahabatnya. Sandra baru sadar jika setelah acara malam itu, Sandra belum menghubungi Nurul lagi. " Ck, sahabat macam apa aku ini ?!" Keluh Sandra memukul jidatnya sendiri.

__ADS_1


" Sudah ngobrolnya ? Kenapa lama sekali ?" Tanya Alfian setelah melihat Sandra muncul dari ruang tengah.


" Ah sudah.. Ayo mas anterin aku ke kampus." Ucap Sandra.


Alfian merasa kesal kepada istrinya. Tapi sepertinya istrinya masih tidak menyadari hal itu, sedangkan Pak Wijaya hanya senyum-senyum sambil menggelengkan kepalanya melihat putra sulungnya cemburu kepada adik kandungnya sendiri.


" Ngobrolin apa sih ? Lama banget .. " Tanya Alfian membuka suara setelah masuk ke dalam mobil.


" Ada deh .. Rahasia...." Ucap Sandra sengaja menambah rasa kesal di hati suaminya.


" Oh gitu.... ! Jadi sekarang kalian main rahasia-rahasia an ?"


" Hehehe..,, jangan kesal begitu sayang... Aku cuma ngobrol biasa dengan Arkha. Jangan bilang kamu cemburu dengan adik kandung mu sendiri !"


" Kalau memang cemburu memangnya kenapa ? Lagian ngobrol biasa kenapa harus berduaan ? Di balkon pula..!"


" Ah... Ribet ya kamu mas... Kita nggak ngobrol macem-macem kok. Arkha hanya bertanya saja tentang Nurul." Jawab Sandra pada akhirnya.


" Huh, mau tanya begitu saja bilangnya penting." Sahut Alfian masih tidak terima.


" Ya ampun mas... " Balas Sandra geleng-geleng kepala. Dia tidak habis pikir kenapa suaminya pencemburu seperti itu.


" Hari ini kuliah sampai pukul berapa ?" Tanya Alfian mencoba menetralkan suasana kembali.


" Entahlah, aku lupa jadwal." Jawab Sandra.


" Aku bertanya serius sayang... Kamu kesal ?"


" Enggak mas, nggak tahu deh, sebel aja sama sikap mas yang cemburuan begitu... !"


" Aku begini karena sangat mencintai sayang.."


" Ya mas, aku tahu itu. Mmm...,, sepertinya pukul dua siang. Nanti aku periksa lagi jadwalnya." Ucap Sandra akhirnya.


" Langsung mau ke butik ?" Tanya Alfian lagi.


" Enggak, kalau Nurul bisa, aku mau ngajak dia ketemuan."


" Baiklah, tapi jangan lama-lama ... Nanti jangan sampai lupa juga kabarin aku kalian mau ke mana."


" Siap sayang... " Jawab Sandra patuh.

__ADS_1


__ADS_2