
Bu Reisa tersenyum bahagia setelah tanpa sengaja menguping pembicaraan Sandra dan teman-temannya. Ada untungnya tadi dia buru-buru ke mall untuk menghilangkan stres.
" Sekarang waktunya aku beraksi... Siap-siap saja gadis kampung....Akan ku buat suamimu benci kepada mu dan mendepak mu dari hidup nya... Ku harap setelah itu, dia mau membebaskan Rena dari penjara dan kembali kepadanya. Ah, ide yang sempurna... Hahaha."
Bu Reisa tertawa sendiri lalu bergegas meninggalkan mall itu dan menuju kantor Alfian di Hotel Alsan.
Sampai di hotel, Bu Reisa hendak masuk ke dalam, namun baru sampai di pos penjagaan, Pak security yang sudah hafal dengan Bu Reisa segera menghentikan langkah perempuan tengah baya itu.
" Maaf nyonya.. Anda di larang masuk ke hotel ini. Mohon pengertiannya atau jangan salahkan kami jika berbuat kasar kepada anda !" Ancam security itu.
" Hei, aku datang ke sini bukan untuk mencari gara-gara atau keributan. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada bos mu , jadi jangan halangi aku masuk atau kalian yang akan menyesal sendiri !" Bantah Bu Reisa.
" Apapun alasannya, anda tetap tidak di perbolehkan masuk oleh Tuan Alfian. Silahkan nyonya pergi dari sini !" Pak security pun tak mau kalah. Amanat yang di berikan oleh bosnya lebih penting daripada ancaman perempuan itu.
" Dasar security sialan ! Berani sekali kamu mengusirku seperti ini terus. Lihat saja nanti setelah anakku kembali menjadi kekasih bosmu .. Akan ku buat kamu menyesal telah berbuat seperti ini kepadaku !" Umpat Bu Reisa murka.
" Hahaha... Nyonya jangan ngelantur... Bos saya itu sudah punya istri, istrinya baik dan cerdas .. Mana mungkin tuan saya mau kembali dengan anak anda yang murahan itu !" Olok Pak security.
" Kau !!!" Bu Reisa tidak terima anaknya Rena di hina seperti itu oleh pegawai rendahan menurutnya. Tangannya sudah bersiap hendak menampar pak security berwajah garang di depannya. Namun tindakannya urung dia lakukan karena ada seseorang yang menghampiri mereka.
" Ada apa ini ? Kenapa ribut-ribut ?" Tanya Dias yang tadinya hendak ke parkiran namun urung karena mendengar pertengkaran antara pak security dengan ibu mantan pacar sahabatnya.
" Maaf Tuan Dias. Saya hanya menjalankan tugas saja. Nyonya ini selalu memaksa ingin bertemu dengan Tuan Alfian." Ucap Pak security menjelaskan.
" Dias... Satpam belagu ini berani menghina putriku !! Lagi pula aku datang ke sini bukan untuk membuat keributan. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Al. Tolong kali ini saja izinkan aku bertemu dengannya." Tutur Bu Reisa menatap bengis kepada pak security.
" Nyonya, bukankah baru saja anda membuat keributan di sini ? Lagi pula , ku rasa sudah sangat jelas. Tuan Al tidak ingin bertemu dengan anda. Jadi jangan buang-buang waktu anda untuk kemari." Kata Dias sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal. Susah sekali berbicara kepada ibunya Rena.
" Tapi ini masalah serius...Ada rahasia penting yang ingin aku sampaikan kepadanya !" Bu Reisa tetap ngotot ingin bertemu dengan Alfian.
" Maaf nyonya. Apapun itu saya rasa Tuan Al sama sekali tidak tertarik. Apalagi jika itu soal putrimu. Hubungan mereka hanyalah sebuah masa lalu yang sudah di lupakan oleh Tuan Alfian. " Ucap Dias lalu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Meladeni ibunya Rena hanya akan membuatnya terlambat datang ke rapat penting dengan kliennya Alfian.
" Bukan soal Rena , tapi ini soal Sandra istrinya !! Ada rahasia besar yang di sembunyikan oleh perempuan itu ! Aku hanya kasihan kepada Al karena sudah di bohongi oleh gadis kampung itu!" Sela Bu Reisa . Dia tahu jika Dias mungkin buru-buru akan pergi, sehingga tidak ada kesempatan untuknya bisa masuk dan berbicara dengan Alfian.
" Trik macam apa lagi ini ? Oh My God , buang-buang waktu saja !" Batin Dias mulai kesal.
" Baiklah,tunggu sebentar, akan ku telepon Tuan Al, jika dia berkenan maka silahkan anda masuk. Tapi jika beliau tidak mau , ku harap ini terakhir kalinya anda datang kemari." Tanpa basa-basi Dias segera menelpon Alfian yang sedang bekerja di ruangannya.
" Ada apa ? Sudah sampai ?" Tanya Alfian.
" Belum Al... Aku masih di bawah. Emm, ada ibunya Rena di sini. Katanya ada hal penting yang ingin dia sampaikan tentang Sandra !" Ucap Dias cepat.
" Usir saja ..." Pinta Alfian.
" Baiklah, akan aku sampaikan jika ...."
" Aku tahu istrimu menyembunyikan sesuatu di belakang mu. Dan aku punya buktinya ! Jika aku berbohong aku janji tidak akan mengganggu mu lagi. " Kata Bu Reisa yang secara tidak sopan langsung merebut ponsel dari tangan Dias .
Dias menatapnya dengan kesal. Benar-benar ibu dan anak tidak ada yang punya etika baik. Batin Dias.
" Berikan ponselnya kepada Dias !" Perintah Alfian.
Bu Reisa kemudian menyerahkan ponsel itu kembali kepada pemiliknya.
__ADS_1
Setelah berbincang beberapa saat, Dias kemudian menghembuskan nafas dengan kasar.
" Silahkan masuk, Tuan menunggu anda di ruangannya. Tapi jika kali ini anda tidak bisa membuktikan apa yang ingin anda katakan. Maka bersiaplah, Tuan Al akan mengirim mu agar bisa bersama putrimu di dalam penjara !" Ucap Dias lalu berlalu pergi.
Bu Reisa tersenyum penuh kemenangan kali ini. Sebelum masuk ke dalam dia menoleh kepada security tadi dengan tatapan sinis.
" Ku harap kali ini kamu tidak akan masuk ke dalam perangkap perempuan licik itu lagi Al !" Gumam Dias sambil berjalan ke arah mobilnya yang sudah di siapkan oleh anak buahnya.
Bu Reisa masuk ke dalam ruangan Alfian dengan senyum sumringah.
" Senang bertemu dengan mu Al... Akhirnya kamu mau juga bertemu dengan bibi.." Kata Bu Reisa setelah melihat Alfian.
" Apa yang ingin kamu katakan ? Jangan membuang waktuku. Aku tidak suka bertele-tele." Ucap Alfian lalu menutup laptopnya.
" Kenapa terburu-buru ? Aku ingin bernegosiasi dengan mu. Akan ku beri tahu rahasia yang di sembunyikan oleh istri tercintamu itu tapi berjanjilah... kamu harus bebaskan Rena dari penjara hari ini juga !" Ucap Bu Reisa percaya diri.
" Sepertinya anda mau bermain-main dengan ku ! Sayangnya aku tidak ingin mendengar apapun itu , aku percaya sepenuhnya dengan istri saya . Jadi segeralah pergi dari sini dan jangan pernah injakan kaki anda kembali ke sini !" Usir Alfian.
" Kamu akan menyesal jika tidak mau mendengarkan ku Al !" Ancam Bu Reisa.
" Hahahaha... Oya ? Aku tidak perduli. Jadi menyingkir lah !"
" Bukankah kau sedang menginginkan seorang anak ?" Tanya Bu Reisa memulai aksinya.
Alfian sedikit terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa Bu Reisa tahu hal itu ?
" Jangan terkejut, sudah ku bilang... Aku tahu rahasia besar yang di sembunyikan oleh istri kecilmu itu !"Bu Reisa memamerkan senyum liciknya.
" Apakah kalian baru saja bertemu ?! " Tanya Alfian.
" Akan ku beri tahu rahasia istri mu yang diam-diam di sembunyikan darimu. Dengan syarat, bebaskan putriku dari penjara sekarang juga." Pinta Bu Reisa.
" Hahahaha, tidak semudah itu bi ! Aku tidak akan pernah tertipu lagi oleh kalian !" Bentak Alfian yang kini kembali memanggil Bu Reisa dengan sebutan bibi.
" Aku tidak menipumu Al ... Justru bibi sangat perduli kepadamu sehingga bibi nekat ke sini untuk memberi tahu kebusukan istrimu di belakang mu !"
" Cepat katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan. Aku ada rapat sekarang juga." Ucap Alfian berubah dingin. Mendengar jika Sandra ternyata mempunyai rahasia di belakangnya saja sudah membuatnya naik darah.
" Sial , jangan kepancing Al... Perempuan di depan mu ini sangat licik !!" Tegur Alfian dalam hati.
" Sudah bibi bilang, bantu bibi dulu mengeluarkan Rena dari penjara !"
" Baiklah, akan ku urus itu nanti, sekarang cepat katakan dulu apa yang kamu ketahui."
" Bagus... Akhirnya, tertarik juga kamu Al !" Batin Bu Reisa senang.
" Bibi ingin kamu bertindak sekarang !" Ucap Bu Reisa.
"Huft... Percuma berdebat dengan perempuan licik ini. Sebelum aku menuruti kemauannya, dia pasti tidak akan memberi tahunya." Batin Alfian mulai tidak sabar.
" Oke, akan ku telpon pengacara ku sekarang juga untuk segera mengurusnya !"
Bu Reisa mengangguk setuju dan tersenyum puas. Akhirnya sebentar lagi putrinya akan bebas dari penjara. Dengan begitu, rencana selanjutnya akan bisa mereka lakukan.
__ADS_1
Setelah menelpon pengacaranya. Alfian menatap Bu Reisa dengan tajam.
" Sudah ku turuti apa maumu..! Sekarang beri tahu aku apa maksud mu !" Ucap Alfian tegas.
" Baiklah Al... Bibi akan beri tahu jika Sandra istrimu itu, tidak ingin punya anak dari mu !" Kata Bu Reisa mengadu domba.
Alfian mengeratkan genggaman tangannya. Bagaimana bisa Bu Reisa berbicara seperti itu.
" Ck ! Jangan suka mengada-ada bi ! Jaga ucapanmu itu !" Hardik Alfian marah.
" Bibi tidak mengada-ada, bibi mendengarnya sendiri. Bahkan istrimu itu diam-diam meminum pil kontrasepsi agar tidak hamil." Imbuh Bu Reisa yang semakin senang kala melihat kilatan emosi di mata Alfian. Dia yakin setelah ini gadis kampung itu akan di depak dari kehidupan Alfian.
Alfian semakin erat mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras menahan gejolak panas di dalam hatinya.
" Aku tidak akan percaya tanpa adanya bukti !"
" Sudah bibi duga kamu tidak akan percaya begitu saja. Tapi sayangnya bibi ada buktinya. Ini dengarkan sendiri." Kata Bu Reisa mengambil ponsel dari dalam tasnya yang tadi dia gunakan saat merekam obrolan Sandra saat bersama teman-temannya.
Beberapa saat kemudian setelah rekaman audio di nyalakan dan di loud speaker. Alfian di buat menegang saat mendengar sendiri jika Sandra telah membohonginya. Wajah murkanya kini tak bisa lagi dia sembunyikan. Dia tidak menyangka jika Sandra mampu membohonginya. Jadi itulah sebabnya dia meminta maaf semalam ?Ternyata memang benar dia tidak ingin punya anak dan dia sudah mengantisipasinya dengan meminum pil kontrasepsi.
Bu Reisa mengambil kembali ponselnya dari atas meja. Senyum puas dan bahagia kembali tersungging di wajahnya yang mulai keriput.
" Sayang sekali, istrimu itu tidak sepolos yang kamu bayangkan. Jika saja kamu berkenan... Rena pasti sangat senang jika kamu menginginkan seorang anak." Ujar Bu Reisa mulai menghasut Alfian yang tengah kecewa dan emosi.
" Keluar !!" Teriak Alfian kemudian.
" Tapi Al ... Bibi sudah membantumu ,membuatmu sadar jika istri kecilmu itu berbohong di belakang mu !" Kata Bu Reisa tersentak.
" Heh, apa bedanya dengan bibi dan Rena ?" Ucap Alfian sinis.
" Kau sudah tertipu oleh kepolosannya Al. Bibi hanya peduli dan khawatir padamu. Bibi tidak ingin kamu disia-siakan oleh perempuan kampung itu !"
" Perempuan kampung katamu !!! Cih, pergi dari sini !!! Perempuan kampung itu bagiku lebih baik jika di bandingkan dengan putrimu yang murahan !"
Bu Reisa melotot tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alfian.
" Kau !! Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu tentang Rena ?! Kau yang pertama dengannya, kau yang semula menghancurkan hidupnya ! Bagaimana bisa kemu menghinanya seperti itu !"Teriak Bu Reisa tidak terima.
" Hahaha.. Yang pertama ??? Coba tanyakan saja kepada putrimu itu. Siapa sebenarnya laki-laki pertama yang menyentuhnya. Bahkan dia sudah sangat lihai ketika melakukannya denganku ! Sekarang pergilah dari sini !" Usir Alfian.
" Kamu tidak bisa seenaknya mengusirku Al ! Aku sudah memberi tahu dengan niat baik kepada mu !"
" Niat baik ? Dengan imbalan melepaskan Rena dari penjara kau maksud dengan niat baik ?" Cemooh Alfian.
" Urusi saja putrimu itu, jangan suka mengurusi hidup orang lain. Masalah antara aku dan istriku itu adalah urusan ku ! "
" Ah, dan lagi..... Pengacara ku sedang sibuk ... Jadi tidak ada waktu untuk mengurusi masalah putrimu. Biarkan saja dia merenungi semua kesalahannya di dalam penjara. Itu lebih baik baginya dari pada di luaran dan hidup menjadi seorang simpanan !" Imbuh Alfian.
" Apa !!!! Kurang ajar kau Al, kamu berani menipuku !! Aku tidak terima. Akan ku balas kamu dan seluruh keluargamu ! Aku tidak akan tinggal diam kau hina begini !" Teriak Bu Reisa sambil menunjuk-nunjuk Alfian.
Alfian tidak memperdulikan teriakan perempuan itu, lalu menelpon pihak keamanan agar segera membawa Bu Reisa pergi dari ruangannya.
Tak berapa lama kemudian, dua orang security masuk ke dalam ruangan dan menarik Bu Reisa yang tengah memukul lengan dan dada Alfian dari balik meja.
__ADS_1
" Lepaskan aku... Akan ku beri pelajaran kamu Al .. Aku tidak akan tinggal diam ... Akan ku balas semua hinaan mu ini !" Teriak Bu Reisa yang kini di seret oleh kedua security yang di tugaskan oleh Alfian.
Selepas kepergian Bu Reisa, Wajah Alfian kembali menegang. Meski sudah mendengar secara langsung apa yang Sandra ucapkan lewat rekaman di ponsel Bu Reisa, dia harus membuktikannya sendiri. Dan jika semuanya benar, maka..............................................................