Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Saling Meminta Maaf


__ADS_3

Pak Wijaya terlihat manggut-manggut dan tampak murung mendengarkan cerita Alfian. Selesai Alfian bercerita, beliau menghembuskan nafas secara kasar.


" Al, sudah berapa kali papa bilang,, belajarlah mengendalikan emosi mu. Amarahmu yang mudah meledak-ledak seperti itu hanya akan membuatmu rugi sendiri." Kata Pak Wijaya menatap lurus kepada putra sulungnya.


" Masalah itu, papa sebenarnya tidak memaksakan kalian untuk harus segera punya anak. Papa tidak bisa mendahului kehendak Tuhan Al. Biar Tuhan yang mengaturnya." Imbuh beliau.


" Tapi Al merasa sudah cukup matang untuk mempunyai keturunan pa." Jawab Alfian.


" Ya, papa mengerti... Tapi bagi Sandra, dia mungkin belum siap. Usianya masih muda, pikirannya masih labil...Tidak bisa di samakan dengan diri mu yang jauh sudah lebih dewasa darinya. Apa kamu tahu ? Punya anak bukan hanya sekedar soal kesiapan materi dan usia, tapi juga kesiapan hati. Banyak kasus ibu-ibu muda yang mengalami baby blues karena belum siap secara mental mempunyai seorang anak, bahkan ada yang sampai depresi. Jika sudah begitu siapa yang rugi ? Tentu anak yang akan menjadi korban utamanya. Untuk itu, masalah anak harus benar-benar kamu diskusikan matang-matang dengan istrimu. Karena yang berperan penting saat punya anak bukanlah diri mu, tapi istrimu. Dialah yang akan mengandung selama sembilan bulan. Membawa perut buncitnya ke manapun dan bagaimana pun keadaannya. Dia yang akan bertaruh nyawa saat melahirkan buah hatinya. Dan dia juga yang akan menyusuinya selama dua tahun. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Banyak yang harus dia siapkan dan korbankan ketika memutuskan untuk mempunyai anak. Untuk itu, jangan terlalu memaksanya. Biarkan semua mengalir begitu saja." Ucap Pak Wijaya lagi.


Alfian tertegun mendengar penuturan papanya. Dari sekian banyak alasan yang di berikan oleh Sandra , pernyataan papanya lah yang berhasil menyentil kalbunya. Ya, sesulit itu mengandung dan melahirkan. Namun selama ini dia tidak pernah memikirkan hal itu. Dia pikir Sandra belum siap hanya karena masih ingin menikmati masa mudanya dan meraih mimpinya.


Melihat Alfian yang diam saja menyimaknya. Pak Wijaya melanjutkan nasehatnya.


" Namanya berumah tangga pasti ada-ada saja masalahnya. Maksud papa kemarin, meski kalian sibuk dengan urusan masing-masing, jangan sampai lupa menjaga komunikasi baik di antara kalian berdua. Sering-seringlah mengajak Sandra keluar untuk sekedar lunch atau makan malam bersama. Luangkan waktu untuk quality time bersamanya. Jangan biarkan kesibukan membuat celah di antara kalian sehingga sering berselisih paham. Kau sebagai imam di keluarga mu, tunjukkan kasih sayang dan bentuk perhatian mu untuk istrimu. Jangan malah menekannya dengan keangkuhan dan egomu. Bangun kepercayaan di antara kalian berdua. Jika kamu memang mencintai istri mu, harusnya kamu percaya sepenuhnya dengannya. Papa tahu kamu masih punya rasa takut yang besar terhadap kedekatan Gilang dan Sandra. Tapi Al, cemburu yang tidak berdasarkan atas logika membuat mu bertindak bodoh dan membabi buta seperti yang kamu lakukan kemarin. Kalau saja kamu bisa berpikir dengan jernih sebelum bertindak, mungkin semua ini tidak akan terjadi."Ujar Pak Wijaya.


" Maaf pa.. " Ucap Alfian lirih. Setelah mendengar penjelasan dari papanya. Alfian menjadi semakin sadar dengan kesalahan yang telah dia lakukan.


" Jangan minta maaf kepada papa, minta maaf lah kepada istri mu." Ucap Pak Wijaya kemudian bangkit dari duduknya.


" Papa sebenarnya ingin menemani Sandra hingga sadar. Tapi papa ada jadwal penerbangan ke Surabaya malam ini, jika saja bisa papa undur pasti papa undur. Tapi klien papa yang ada di sana tidak bisa jika di undur karena jadwal mereka juga padat. Sekarang papa ingin ke makam orang tua Sandra terlebih dahulu, papa juga merindukan mereka. Bahkan rasanya papa harus meminta maaf kepada mereka karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik." Ucap Pak Wijaya sedih.


" Di luar hujan deras pa.."


Pak Wijaya tersenyum kecil.


" Orang papa sudah menyediakan payung. Jaga menantu papa dengan baik. Kabari papa begitu dia sadar." Ucap beliau sebelum pergi.


Cairan bening keluar dari kedua sudut mata Sandra. Sulit sekali menahan tangisnya. Sama halnya dengan Alfian, Sandra juga merasa bersalah. Dia bahkan sudah membuat papa mertuanya khawatir. Sandra tidak menyangka jika papa mertuanya tidak akan memojokkan dirinya ketika mendengar cerita dari Alfian. Justru mertuanya lebih bijak menanggapinya dan merasa bersalah atas apa yang menimpanya.


" Maafin Sandra pa...." Batin Sandra.


" Sayang, kamu sudah sadar ?" Tanya Alfian yang melihat Sandra menangis.


Sandra tidak tahu harus berucap apa. Untung saja dokter yang di hubungi oleh Alfian sudah sampai dan masuk ke dalam kamar bersama Bibi Nani.


" Maaf menunggu sedikit lama, di luar hujan deras. Sedikit susah melewati jalanan yang licin." Kata ibu dokter berkacamata itu.


" Tidak apa-apa dok, kebetulan baru saja istri saya siuman. Tolong segera periksa." Pinta Alfian.


Setelah beberapa saat di periksa, Bu dokter memberikan arahan kepada Sandra agar tidak melewatkan jam makan. Banyak istirahat serta mengkonsumsi vitamin. Sebenarnya dokter itu penasaran dengan lengan Sandra yang lebam. Namun Sandra berbohong jika dirinya terjatuh saat berlari dan tidak kenapa-kenapa.


Alfian yang mendengarnya merasa tak enak hati dan malu. Malu pada dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik tapi justru tanpa sadar telah melukainya.


" Bagaimana kondisi Sandra dok ?" Tanya Bibi Nani.


" Begini bu, pak... Ibu Sandra mengalami dehidrasi, sehingga kondisinya sangat lemas saat ini, hal itu yang menyebabkan Ibu Sandra pingsan. Untung kita belum terlambat menolongnya. Jadi untuk saat ini saya akan memasangkan infus. Suhu badannya juga tinggi. Saya sarankan Ibu Sandra beristirahat total untuk beberapa hari ke depan. Ini saya kasih obat dan juga vitamin,mohon di berikan setelah makan. Nanti jika infusnya sudah habis. Saya akan pulang. Untuk sementara,saya akan memantau perkembangannya terlebih dahulu." Ucap Dokter Ratih.


" Baik dok, saya pastikan istri saya akan meminum obat ini dengan baik." Sahut Alfian setelah mendengar penuturan dokter setengah baya itu.


" Terimakasih banyak dok, semoga Sandra segera membaik dan sehat kembali." Ucap Bibi Nani.


" Sama-sama Bu."


" Kalau begitu bisa kita tunggu di luar dok ? Kebetulan tadi saya membuat kue bolu. Di makan sambil menikmati teh hangat di cuaca yang dingin begini pasti enak." Ajak Bibi Nani yang ingin memberikan kesempatan kepada Alfian dan Sandra berdua. Dokter Ratih yang sudah paham dan berpengalaman mengangguk setuju dengan ajakan Bibi Nani.


Hening, hanya terdengar suara hujan di luar. Udara semakin dingin. Alfian kemudian mengambil selimut tebal di dalam almari lalu memakainya untuk menutupi tubuh Sandra yang masih terasa dingin.


Keduanya terlihat begitu canggung.

__ADS_1


" Maaf sudah bikin mas khawatir." Kata Sandra memulai pembicaraan.


Alfian menggelengkan kepalanya.


" Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf, aku yang banyak salah kepadamu. Maafkan aku." Ucap Alfian sambil menggenggam tangan Sandra dengan erat.


" Gak mas, aku yang belum bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Maafkan aku." Ucap Sandra berlinang air mata.


"Sttt, jangan berbicara seperti itu. Aku juga masih banyak kekurangan sebagai seorang suami. Maafkan aku. Mari kita mulai dari awal dan belajar bersama-sama. Mulai sekarang ku mohon, jangan sakit seperti ini." Ucap Alfian lalu mengecup telapak tangan Sandra dengan sayang.


" Aku cemas saat tahu kamu tidak di apartemen. Lain kali kabari aku jika kamu ingin pergi." Imbuh Alfian lembut.


" Aku tidak tahu jika baterai ponselku habis. Maaf.." Balas Sandra lemah.


" Dan, aaa..aku... tubuhmu...aku, aku minta maaf karena telah melukaimu. Maafkan aku... Aku suami yang berengsek. Kamu pantas menghukum ku !" Ucap Alfian terbata.


" Sudahlah, aku tahu kamu tidak sadar saat melakukannya. Tapi kalau soal hukuman, memang aku boleh memberikan mu hukuman ?" Tanya Sandra.


" Boleh .. Katakan saja kamu ingin menghukum ku seperti apa, pasti aku lakukan asal itu bisa menebus kesalahan yang ku perbuat." Ucap Alfian sungguh-sungguh.


" Kalau begitu.... Bolehkah aku tinggal di sini untuk sementara ?" Tanya Sandra.


" Apa ? Tentu saja boleh, ini kan rumah kamu sayang." Tanya Alfian keheranan.


" Iya mas, aku ingin menenangkan diri di sini. Sendiri.." Lanjut Sandra.


" Maksudnya ? Jadi, aku ... Kamu gak ingin aku ada di sini ?" Ucap Alfian sedih.


" Apa kamu marah padaku ?"


" Kamu benci sama aku ?" Alfian bertanya bertubi-tubi.


" Bukan begitu mas, aku hanya ingin menenangkan diri dan merenungi kesalahan yang telah aku perbuat. Aku juga merindukan almarhum bapak dan ibu di sini. Dengan tinggal di sini siapa tau bisa mengobati rasa rinduku. Lagian, bukan maksud ku aku mengusir mas dari sini. Tapi mas kan harus bekerja. Mana mungkin mas ninggalin pekerjaan ? Jika di tempuh dari sini. Aku khawatir mas jatuh sakit seperti yang dulu pernah terjadi."


" Mas, anggap saja itu hukuman untuk mas. Mas sendiri yang tadi minta di hukum."


" Ya ,tapi yang lain saja hukumannya .. Aku mau tetap di sini nemenin kamu sampai sembuh."


" Hm..." Sandra menggelengkan kepalanya, sampai kapanpun sifat keras kepala suaminya tidak akan pernah berubah.


Alfian kemudian memeluk Sandra dengan erat. Bisa Alfian rasakan jika saat ini tubuh Sandra masih panas.


" Jangan usir aku, bagaimana bisa aku meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini ? Ku mohon, ganti saja hukumannya. Aku tidak mau menanggung beratnya rindu berpisah darimu meski itu hanya beberapa hari." Kata Alfian sedikit lebay.


Sandra tersenyum mendengar kata-kata Alfian yang sok romantis.


" Kok malah senyum ? Kamu seneng ya pisah sama aku, jauh dari aku ?" Tanya Alfian saat mendongak menatap wajah Sandra.


" Enggak mas. Lucu aja denger kata-kata mas yang tadi.."


" Yang mana ? Tanya Alfian tidak mengerti.


" Ya adalah ,,,, yang tadi.."


" Iya, tadi yang mana ?"


" Pokoknya ada tadi .."


" Tukan..." Protes Alfian.

__ADS_1


" Ehm...Ehm ..Bibi Nani masuk ke dalam kamar mengagetkan keduanya.


Mendapati dirinya yang tengah memeluk Sandra dengan erat membuat Alfian menjadi malu dan salah tingkah.


" Ini Bibi bawakan makanan dan juga bolu untuk kalian. Sandra jangan lupa di makan lalu minum obatnya." Kata Bibi Nani yang kini ikut senyum-senyum melihat tingkah muda mudi didepannya menjadi salah tingkah.


" Terimakasih banyak bi. Maaf lagi-lagi Sandra merepotkan bibi."


" Iya sama-sama. Jangan sungkan begitu. Ini juga ada wedang jahe untuk Nak Alfian, biar tidak ikut tumbang setelah hujan-hujanan." Imbuh Bibi Nani.


" Makasih banyak bi." Ucap Alfian.


" Bisa makan sendiri ? Atau bibi suapin saja ya ?" Pinta bibi Nani setelah meletakkan makanan di atas meja.


" Gak usah bi, biar aku yang nyuapin." Potong Alfian.


" Baiklah kalau begitu. Yang akur ya ?" Goda Bibi Nani kemudian cekikikan meninggalkan kamar.


" Sudah jangan di hiraukan. Sini mas suapin. " Ucap Alfian yang melihat wajah Sandra merona merah karena malu.


Sandra kemudian menurut saja. Apalagi seluruh badannya memang terasa lemas dan tidak bertenaga. Alfian menyuapinya dengan telaten. Terlihat jelas penyesalan di mata laki-laki itu.


" Mas juga makan." Ucap Sandra.


" Iya, nanti setelah selesai nyuapin kamu mas makan."


" Mas kok tahu aku ada di makam ?" Tanya Sandra.


" Insting saja. Aku sudah bertanya kepada semua orang yang dekat denganmu dan mereka semua tidak ada yang tahu. Jadi menurut ku, mungkin saja kamu merindukan bapak sama ibu dan mengunjungi mereka."


" Maaf ya mas , sudah bikin kamu khawatir."


" Ya .. Lain kali jangan di ulang lagi. Aku takut jika tidak bisa menemukan mu."


" Kenapa ?" Tanya Sandra.


" Karena mas gak mau kehilangan kamu." Ucap Alfian lalu menatap lekat manik mata Sandra.


Sandra mengalihkan pandangan matanya, rasanya menjadi gugup di tatap seperti itu oleh suaminya sendiri.


" Kenapa menghindar ?" Tanya Alfian.


" Gak kenapa-napa mas. Mau minum." Ucap Sandra grogi.


Setelah menunggu beberapa waktu, Dokter Ratih kemudian memeriksa kondisi Sandra lagi. Setelah infus di lepas, Dokter Ratih undur diri dan meminta Sandra agar tetap banyak beristirahat terlebih dahulu.


" Jangan lupa obat dan vitaminnya di minum tepat waktu, agar lebih cepat kembali sehat." Ucap Dokter Ratih saat berpamitan.


" Baik dok, terimakasih. Maaf merepotkan malam-malam." Kata Sandra.


"Sama-sama ibu .."


" Makasih dok." Ucap Alfian lalu di balas anggukan oleh Dokter Ratih


" Mari dok, saya antar ke depan." Imbuh Bibi Nani.


Malam itu akhirnya Sandra tertidur dengan pulas setelah meminum obat. Alfian bahkan tidak ingin beranjak dari tempatnya dan akhirnya tertidur di samping Sandra.


Bibi Nani tersenyum melihat mereka yang tertidur bersamaan.

__ADS_1


" Masa-masa muda yang menyenangkan. Semoga kedepannya kalian bisa menjadi sepasang suami istri yang lebih baik lagi." Ucap beliau lalu mematikan lampu kamar dan menutup pintu.


Setelah memastikan semuanya beres. Bibi Nani kemudian pulang ke rumahnya.


__ADS_2