
" San, keluar cepet !" Kata Nurul setelah tahu siapa yang datang bertamu.
" Emang siapa yang datang ?" Tanya Sandra enggan. Dia sama sekali belum berniat berhadapan dengan orang.
" Jangan banyak tanya, cepetan keluar...." Pinta Nurul semakin membuatnya penasaran.
" Iya iya.... Gak sabaran banget !" Keluh Sandra.
" Bisa jalan sendiri ?" Tanya Nurul yang masih takut Sandra berjalan sambil sempoyongan.
" Bisalah.... "
" Ya udah hati-hati, pelan-pelan aja !"
" Nurul !!!! Kamu pikir aku habis lahiran apa !" Teriak Sandra kesal.
Nurul terkekeh geli mendengarnya.
" Sandra ?" Sapa Gilang setelah melihat Sandra.
" Mas Gilang kenapa ke sini ?" Tanya Sandra terkejut.
Sandra dan Gilang akhirnya mengobrol berdua. Nurul pamit membuatkan teh karena tidak ingin menguping pembicaraan mereka.
" Aku turut berduka cita atas kepergian ibumu. Maaf baru bisa datang sekarang, pagi tadi aku baru sampai dari luar negeri." Ucap Gilang.
" Tidak apa-apa mas , terimakasih." Balas Sandra kaku.
" Kamu.... baik-baik saja ?" Tanya Gilang yang melihat Sandra terlihat pucat dan tidak bersemangat.
" Tentu saja...." Jawab Sandra lagi.
Keduanya terasa canggung mengobrol. Sudah agak lama mereka tidak bertemu setelah penolakan Sandra di kampus waktu itu. Setelahnya Sandra tidak mendengar kabar dari Gilang lagi. Kini laki-laki yang pernah singgah di hatinya itu tiba-tiba muncul kembali.
" Ku rasa kamu berbohong. Siapapun bisa melihat bagaimana keadaanmu sekarang San.." Ucap pria tampan itu kasihan.
" Yang kuat.... Aku yakin kamu bisa melewati semua ini."
Sandra menghela nafas panjang mendengarnya.
Diam....., keduanya kembali terdiam sejenak.
__ADS_1
" Bagaimana hubunganmu dengan Al ?" Tanya Gilang sesudahnya.
Sandra mengernyitkan keningnya. Untuk apa Gilang bertanya tentang hubungannya dengan Alfian ?
" Jangan salah paham dulu, aku hanya sebatas bertanya..." Kata Gilang yang tidak enak ditatap seperti itu oleh Sandra.
Sandra tidak langsung menjawab. Pandangan matanya kemudian kembali sedih.
" Aku ingin bercerai darinya..." Ucap Sandra lirih.
" Apa ?? Bercerai ?? Kamu yakin ?" Tanya Gilang terkejut sekali.
" Untuk apa aku bertahan dengannya ?" Tanya Sandra kemudian bercerita tentang awal mula kejadian yang menimpa ibunya.
" Mmm.... Ku rasa.... Al tidak sepenuhnya bersalah. Tolong pertimbangkan lagi." Kata Gilang setelah mendengar cerita dari Sandra.
Sandra terkejut mendengar hal itu dari mulut Gilang. Bukankah mereka berdua bermusuhan ? Terakhir bertemu Gilang juga menyampaikan keinginannya agar Sandra menceraikan Alfian. Bukankah harusnya sekarang Gilang bahagia mendengar keinginannya dulu tercapai ? Tapi kenapa Gilang justru seperti membela Alfian ?
" Kamu terkejut ?" Ucap Gilang sambil tersenyum.
" Kamu pasti berfikir kenapa aku berkata begitu. Aku hanya berkata yang sejujurnya Sandra, terlepas dari bagaimana buruknya hubungan kami. Dari yang ku dengar darimu barusan, Alfian tidak bersalah. Niatnya baik, dia mengajak mu berkunjung karena mungkin dia berfikir kamu merindukan ibumu atau dia ingin membuat mu bahagia dengan hal itu. Bisa ku pastikan jika dia tidak tahu menahu tentang Rena yang akan datang menemui ibumu. Sejahat-jahatnya Al, dia tidak akan pernah membuat nyawa seseorang dalam bahaya. Aku lebih yakin jika Rena yang mengada-ada, aku tahu dari dulu dia gadis yang sangat licik. Demi mendapatkan apapun yang dia inginkan dia rela berbuat apa saja meski itu merugikan atau mengorbankan orang lain." Jelas Gilang yang melihat wajah kebingungan Sandra.
" Kamu.... Udah gak benci dia ?" Tanya Sandra mengubah topik.
" Aku justru ingin berterimakasih kepadanya. Karena dengan kejadian kemarin aku jadi sadar tentang apa itu cinta." Kata Gilang.
"Aku ingin sedikit bercerita kepadamu. Setelah dari kampus mu waktu itu, aku begitu hancur dan berbuat hal-hal bodoh yang merugikan diriku sendiri. Untung saja, Dias datang menemui ku..."
" Mas Gilang juga kenal Mas Dias ?" Potong Sandra yang penasaran.
" Tentu saja... Aku dan Dias tumbuh di lingkungan yang sama sejak kecil. Dia yang telah mengenalkan diriku dengan Alfian sehingga akhirnya kita bertiga bersahabat." Gilang tersenyum memberi tahu.
" Mmm" Timpal Sandra yang sedikit terkejut mengetahuinya.
" Aku lanjutin ya..., Hari itu Dias berkata banyak hal... Dari sekian banyak yang dia katakan, hanya satu kata yang membuatku perlahan menyadari sesuatu. Aku tertegun saat Dias mengatakan tentang takdir. Ya Sandra.... Takdir..... Butuh beberapa waktu untukku memahaminya. Namun kemudian aku merangkai kejadian demi kejadian yang pernah terjadi sebelumnya. Barulah aku mengerti mengapa semua upaya dan usaha yang aku lakukan untuk mendapatkan dirimu saat itu tidak pernah berhasil. Aku tidak bisa melawan takdir Sandra.... Sedangkan Alfian yang sama sekali tidak tertarik padamu, yang selalu berbuat tidak baik dan sering memperlakukan dirimu dengan semena-mena justru dengan mudah mendapatkan dirimu sebagai pengantinnya meski tidak menginginkannya. Lalu aku berpikir, haruskah aku tetap mengejar sesuatu yang tidak pernah bisa aku gapai ? Tidak Sandra... Aku tidak akan pernah bisa melawan takdir. Terlepas dari apapun cara Tuhan menjadikan kalian sebuah pasangan, kalian memang di takdirkan bersama. Maka dari itu perlahan aku membenahi diri. Orang tuaku kemudian menyuruh ku mengurus bisnis yang ada di luar negeri. Kebetulan sekali, mungkin Tuhan memberiku sebuah cara agar bisa melupakanmu."
" Singkat cerita aku pergi ke luar negeri. Tapi tak pernah sekalipun aku bisa melupakanmu. Aku selalu terbayang oleh senyummu, canda mu dan juga kepolosan mu. Tapi anehnya, tidak ada debaran atau rasa sakit lagi saat mengenang mu. Di situ aku mulai menyadari jika sebenarnya perasaan yang ku punya untukmu bukanlah cinta, tapi kasih sayang seperti seorang kakak kepada adiknya. Aku hanya ingin melindungi mu, ingin menjagamu... Ingin terus melihatmu tersenyum bahagia .... Tidak perduli siapapun pemilik mu." Ucap Gilang tersenyum bahagia. Kini dia lega bisa menjelaskan semua itu kepada Sandra.
Sandra diam saja menanggapinya. Entah harus sedih ataukah bahagia ? Dulu dia sendiri yang menyuruh Gilang melupakan dirinya. Kini...., saat pria di depannya itu hanya mempunyai perasaan sayang seperti kepada seorang adik hal itu membuat Sandra sedikit kecewa.
" Sandra.... Jangan menangis..... Maaf jika ada salah kata yang ku ucapkan. " Ucap Gilang yang sedikit panik melihat Sandra meneteskan air mata.
__ADS_1
" Tidak mas... Aku tidak sedih, aku menangis karena bahagia untuk kamu. Akhirnya mas bisa melupakan aku." Kata Sandra berbohong.
" Bukan begitu Sandra... Aku tidak pernah bisa melupakanmu, tapi aku hanya menyadari tentang perasaanku kepadamu yang sesungguhnya. Aku masih sama seperti dulu, aku masih menyayangimu. Aku janji tidak akan ku biarkan siapapun menyakitimu. Aku akan selalu ada untukmu seperti seorang kakak yang siap sedia untuk adiknya." Jelas Gilang.
Sandra tersenyum kecut. Ternyata kecewa lebih sakit dari terluka. Namun dia tidak ingin menyesali apa yang sudah dia ucapkan sebelumnya.
" Kamu mau kan jadi adikku ?" Tanya Gilang penuh harap.
Sandra menghapus air matanya. Lalu menatap Gilang yang menatapnya dengan serius.
" Tentu saja aku mau..... Aku bersyukur Mas Gilang mau jadi kakak Sandra." Ucap Sandra.
" Terimakasih.... Aku senang sekali mendengarnya. Kalau begitu kamu harus janji sama kakakmu ini ... "
" Janji apa ?" Tanya Sandra.
" Kamu harus janji jika kamu akan selalu tersenyum dan bahagia. Sertaaaa...., menuruti semua perkataan kakakmu ini." Kata Gilang.
" Mmm.... Gimana ya ?" Ucap Sandra pura-pura berpikir.
" Oke deh.... Aku janji." Lanjut Sandra.
Mereka berdua lalu tersenyum bersama.
" Karena kamu sudah berjanji...., sekarang aku mau kamu menuruti permintaan ku. Sekarang aku mau kamu makan yang banyak." Kata Gilang. Dari tadi dia melihat Nurul yang berdiri tidak jauh di belakang Sandra memberikan kode makan untuk Sandra. Untung Gilang segera tanggap apa yang di maksud oleh Nurul.
" Tapi mas.... Sandra gak berselera." Ujar Sandra malas.
" Sudah janji lho. Harus di tepati.... Nurul...? Tolong ambilin makanan !" Teriak Gilang yang pura-pura tidak melihat Nurul yang cekikikan tanpa suara.
" Siaaap bos. Makanan segera datang." Sahut Nurul bersemangat.
Tidak lama kemudian Nurul datang sambil membawa dua teh manis dan sepiring nasi dan lauk pauk.
" Ayo cepetan makan..." Perintah Gilang.
" Tapi mas...."Sandra terlihat enggan setelah melihat nasi di hadapannya.
" Gak ada tapi-tapian ... Pokonya harus makan yang banyak. Sini aku suapin." Gilang merebut piring yang di pegang oleh Sandra.
Akhirnya Sandra menurut. Gilang menyuapinya dengan senang hati. Beberapa kali terdengar suara tawa bahagia dari keduanya. Nurul pun terlihat lega karena akhirnya Sandra mau makan dengan benar.
__ADS_1
Akan tetapi mereka tidak sadar jika Alfian melihat mereka. Dia mengepalkan kedua tangannya sambil menatap marah. Benar, Alfian baru saja sampai bersama Dias. Karena sibuk tertawa mereka sampai tidak mendengar dan menyadari kedatangan Alfian.