Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Rencana Pindah ke Apartemen


__ADS_3

Sandra dan Alfian terbangun saat Bi Ida memanggil mereka untuk makan siang.


Sandra membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dia lihat adalah wajah Alfian. Alfian tersenyum menatapnya.


" Lepas mas..." Pinta Sandra yang salah tingkah di tatap seperti itu oleh Alfian.


" Sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu..." Alfian mengeratkan pelukannya.


" Hmmh... Lepas mas... Siang-siang pelukan begini, gerah." Tolak Sandra sambil mendorong tubuh atletis suaminya.


" Berarti kalau malam boleh ?" Tanya Alfian menggoda.


Sandra mendelik kepada Alfian.


" Aku mau makan...!" Potong Sandra cepat.


" Baiklah.... Tapi nanti malam peluk lagi ya ?" Bujuk Alfian tak mau rugi.


" Ihh , kok mas sekarang jadi sering mesum sih ? Dikit-dikit peluk, dikit-dikit cium. " Sandra pura-pura bergidik.


" Ya gak apa dong, kan mesumnya sama istri sendiri..." Timpal Alfian sambil mengerjapkan kedua matanya penuh harap.


" Ogah... Mas mesum aja sama tu Rena ! " Jawab Sandra.


" Kok bawa-bawa dia ? Lagi pula aku tidak mau sama dia, maunya sama kamu..." Rayu Alfian.


" Alah lagaknya gak mau sama Rena.... Tapi dulu kalian sering kan melakukannya ?" Tanya Sandra memojokkannya.


" Hmm itukan dulu, sebelum aku mengenalmu... Lagi pulaaa.... Kamu lebih montok dan aduhai...." Ucap Alfian genit tanpa basa-basi.


Wajah Sandra bersemu merah karena malu. Bisa-bisanya Alfian menyebutnya begitu.


" Mas !!! " Teriak Sandra sambil memukul dada bidang Alfian yang masih polos tanpa baju.


" Auch ! Sakit sayang... Jangan pukul...., tapi di sentuh saja....." Alfian meringis pura-pura kesakitan sambil memegang telapak tangan Sandra dan menggerakkannya di dadanya.


" Lepas mas... ! Udah ah, aku mau makan.... Lama-lama deketan sama kamu bisa-bisa ikutan konslet !" Ucap Sandra.


Alfian terbahak mendengarnya lalu membiarkan Sandra pergi dan berlari keluar dari kamar.


" Huh.... Dasar .... Ajaran sesat !" Omel Sandra setelah keluar dari kamar.


Sandra lalu turun ke bawah menuju ruang makan. Di sana sudah ada Pak Wijaya yang menunggu.


" Kok papa makan di sini ? Papa sudah mendingan ?" Tanya Sandra.


" Papa mau makan bersama kalian... Papa bosan makan sendirian di dalam kamar. Kata Ida, suamimu juga tidak pergi ke kantor ?" Timpal Pak Wijaya.


" Iya pa, Mas Al sedikit pusing.... tapi sudah membaik sekarang... " Kata Sandra memberi tahu.


" Siang pa..." Sapa Alfian dari belakang Sandra. Laki-laki itu kini mengenakan pakaian santai.


" Siang juga.... Kamu pusing Al ?" Tanya beliau.


" Tadinya iya, tapi Sandra sudah merawatku dengan baik. Jadi sembuh deh...." Jawab Alfian.


" Baguslah, papa senang mendengarnya."


Mereka bertiga kemudian menikmati makan siang dengan lahap. Sesekali Sandra melayani mertua dan suaminya.


" Jangan sampai kekenyangan lagi mas !" Kata Sandra mengingatkan.


" Iya..." Alfian mengangguk-angguk malu mengingat kejadian pagi tadi.


" Pa.... Sandra ambilkan obat papa sebentar ya ?" Kata Sandra lalu bergegas ke kamar mertuanya mengambil obat.


" Sudah ada kemajuan Al ? " Tanya beliau setelah kepergian Sandra.

__ADS_1


" Sudah pa, hari ini dia sudah mau berbicara dengan ku. Dia bahkan merawatku tadi." Ucap Alfian memberi tahu.


" Papa ikut senang... Semoga Sandra bisa melupakan yang terjadi sehingga perpisahan itu tidak akan pernah terjadi." Harap Pak Wijaya.


" Tidak akan pa, Aku akan berusaha keras agar Sandra tetap di sisiku. Untuk itu aku berencana mengajak Sandra tinggal di apartemen. Aku harap setelah tinggal berdua saja...., hubungan ku denganya bisa semakin dekat dan saling membutuhkan. Al juga ingin belajar hidup berumah tangga yang sebenarnya pa..." Kata Alfian.


" Jika itu sudah keputusan mu, papa tidak bisa ikut campur... Sebenarnya papa senang kalian tinggal di sini... Tapi kamu juga benar... Yang papa harapkan, semoga kalian bisa hidup rukun dan saling menghargai mulai sekarang. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaikinya." Ucap Pak Wijaya memberi masukan.


" Iya pa. Alfian akan berusaha semampunya."


" Kapan rencananya kamu akan pindah ?" Tanya beliau.


" Secepatnya pa, jika dia mau.... Hari ini pun tidak masalah. Papa bantu Al bujuk Sandra ya ?" Pinta Alfian.


" Hmmm !" Pak Wijaya berpikir sebentar.


" Papa... Obatnya yang ini ? " Tanya Sandra setelah sampai ke ruang makan.


" Iya bener yang itu. " Jawab Pak Wijaya.


" Minum obatnya pa..." Sandra memberikan obat itu.


Setelah minum obat Pak Wijaya mengajak mereka mengobrol di ruang keluarga.


" Sandra.... Alfian baru saja meminta izin kepada papa... Dia bilang dia ingin mengajak mu pindah ke apartemennya. Setelah papa pikirkan ternyata memang ada baiknya kalian tinggal berdua. Itung-itung sebagai latihan hidup mandiri setelah menikah. Lagi pula jarak apartemen ke kantor dan ke kampus menjadi jauh lebih dekat. Ini akan menghemat waktu untuk kalian." Tutur Pak Wijaya membuka percakapan.


" Tapi Sandra sudah betah di sini pa...." Tolak Sandra. Dia tidak ingin hidup berdua saja dengan Alfian.


" Papa tau itu nak.....Papa pun juga begitu, papa juga senang kalian tinggal di sini... Tapi itu sudah menjadi keputusan suamimu... Kamu harus mematuhinya dan ikut ke manapun Alfian tinggal. Papa tidak bisa ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian." Ucap Pak Wijaya menjelaskan.


" Baik pa..." Ucap Sandra sedih.


" Jangan sedih.... Nanti setiap weekend kita bisa menginap di sini. "Sahut Alfian yang melihat kekecewaan di wajah Sandra.


" Baiklah..." Jawab Sandra. Lagi pula tidak mungkin dia membantah suaminya sekarang, apalagi di hadapan mertuanya.


Alfian senang mendengarnya. Akhirnya rencananya berjalan dengan lancar. Mereka bertiga kemudian melanjutkan mengobrol tentang kuliah Sandra dan pekerjaan Alfian.


" Hms... Rujak bikinan kakak emang enak.... " Puji Neta.


" Iya.... Tapi jangan banyak-banyak makan sambelnya nanti perutmu sakit. " Ucap Sandra menasehati.


" Perutku sudah kebal kak sekarang. Gara-gara kakak yang suka makan pedes ,Neta jadi ikutan ketagihan sekarang. Kalau gak makan pakai yang pedes-pedes jadi kurang gimana gitu ..." Ucap Neta.


" Waduh... Berarti kakak bawa pengaruh buruk dong ?!"Kata Sandra bergurau.


" Hahaha..... Enggak lah..."


" Tapi jika tidak tahan pedas jangan di paksakan ya ?"


" Siaap kak ..."


" Mmmm...Neta, kemungkinan kakak besok sudah tidak tinggal di sini lagi." Kata Sandra memberi tahu.


" Emangnya kakak mau ke mana ? Kakak gak serius kan mau pisah sama kak Al ?" Tanya Neta khawatir.


" Enggak kok, kakak masih mikirin itu ... Cuma, kakakmu ngajak kakak tinggal di apartemen."


" Alhamdulillah..... Jangan pisah ya kak dari Kak Al ? Neta gak mau kehilangan Kak Sandra...."


" Mmm.... "


" Ayolah kak..... please..." Neta memohon dengan memelas.


" Neta gak mau punya kakak ipar selain kak Sandra. Jika kalian pisah , Neta bakal kutuk Kak Al jadi duda selamanya !" Lanjut Neta.


" Hahaha... Kasian dong Ta !"

__ADS_1


" Makanya jangan pisah dari kakak...." Neta memohon dengan penuh harap.


" Iyaa... Kakak pertimbangkan lagi. Sudah jangan sedih begitu."


" Yeee.... Janji ya kak. Tapi...., kalau kakak pindah, kita gak akan sering ketemu dong ?" Lanjut gadis itu memanyunkan bibirnya.


" Kamu tenang saja, kita tetap bakal sering ketemu kok, Dia bilang setiap weekend kita bakal nginep di sini. Jika kamu kangen, kamu juga boleh main ke tempat kakak. Lagian..... Kakak pasti kesepian di apartemen sendiri, kan kakakmu sibuk bekerja." Ucap Sandra setengah merenung.


" Kakak jangan khawatir, nanti aku bakal sering mengunjungi kakak sampai kakak bosan melihat ku .. "


" Haha... Kamu bisa aja .... "


Keduanya mengobrol begitu asik sambil menikmati rujak, sampai tidak menyadari kehadiran Arkha di belakang mereka.


" San ... sudah pulang ? Kapan masuk kuliah ?" Tanya Arkha yang tiba-tiba muncul.


" Emang kenapa kak ? Datang-datang langsung nerocos aja !" Sahut Neta tidak suka.


" Diam anak kecil !"


" Neta udah gedhe kak !"


" Bodo amat.....! Sekali anak kecil ya tetap anak kecil." Ucap Arkha tak mau kalah.


" Sudah-sudah jangan bertengkar..." Lerai Sandra. Dia heran kenapa kakak beradik satu ini selalu saja bertengkar jika bertemu.


" Aku pulang tadi pagi. Ada apa ?" Tanya Sandra.


" Berarti besok sudah masuk kuliah ?"


" Iya ."


" Baguslah... Akhirnya aku bebas dari kedua temanmu itu. Setiap hari mereka mendatangiku hanya untuk menanyakan kabarmu. Huh, sungguh merepotkan !" Keluh Arkha.


" Orang nanya doang merepotkan di mana nya .... ?!" Potong Neta.


" Merepotkan lah.... Mereka berdua tu berisik banget, banyak tanya, sok caper, dan genit, aku gak suka ! Bayangin aja lagi enak-enak makan di kantin malah di recokin, lagi ngerjain tugas di perpus di intilin, emangnya Sandra aku umpetin di bawah ketek apa !" Arkha berkata dengan kesal.


" Hahaha.... Bukankah kakak sudah terbiasa dengan hal seperti itu ?"


" Ya, tapi yang lainnya gak sebar-bar kaya teman Sandra !" Gerutu Arkha.


" Udah... Maafin mereka ya ? Salsa dan Intan seperti itu pasti karena khawatir saja sama aku." Ucap Sandra menengahi.


" Kalau bukan karena mereka itu temanmu, sudah aku bikin malu mereka berdua..! Ya udah deh, yang penting kamu besok sudah masuk." Ucap Arkha lalu ikut mencicipi rujak buatan Sandra.


" Kak Arkha ! Itu punyaku !!! " Teriak Neta tidak terima rujaknya di makan.


" Pelit amat jadi orang ! Minta dikit doang ... !"


" Gak boleh, kakak bikin aja sendiri...."


" Dasar nenek lampir !" Ledek Arkha lalu meninggalkan Sandra dan Neta yang masih berteriak kesal.


" Aduuuh kalian ini.... Selalu aja bertengkar. Apa kalian gak capek ?" Tanya Sandra setelah tidak Arkha tidak terlihat.


" Abis, kak Arkha suka bikin kesel ...." Ucap Neta cemberut.


" Hmmm... Terus sampai kapan kalian akan bertengkar terus ?"


" Entahlah... Tapi terkadang aku juga berpikir..... Jika nanti kak Arkha juga menikah dan tinggal dengan istrinya... Maka di rumah tinggal aku sendiri, gak ada yang jailin atau berebut hal-hal kecil denganku lagi. Jujur itu membuatku sedih karena rumah pasti akan semakin sepi. Apa lagi sekarang kakak dan Kak Al akan pindah dari rumah ini." Ucap Neta, kedua mata gadis itu berembun.


" Cuuupp jangan sedih dong, kamu ingat kata kakak baik-baik. Selamanya kakak-kakak mu ini tidak akan pernah ninggalin kamu sendirian. Kan kakak udah bilang setiap weekend kakak nginep di sini. Dan nanti jika Arkha sudah menikah, biarlah dia membawa istrinya ke rumah ini. Kalaupun Arkha tidak tinggal di sini maka kita semua berjanji untuk datang kesini sesering mungkin. Kelak setelah menikah kamu juga akan menemukan hidupmu sendiri...., kamu anak perempuan maka nanti kamu juga akan ikut ke manapun suamimu pergi dan tinggal." Kata Sandra menenangkan.


Sandra mengerti bagaimana perasaan Neta sekarang, dia pasti sedih, takut dan khawatir saat memikirkan semua kakaknya mulai pergi meninggalkan rumah besar ini. Neta pasti semakin kesepian...


" Makasih ya kak ..." Balas Neta lalu memeluk Sandra dengan sayang.

__ADS_1


" Iya sama-sama... Kau tahu kan...., bahkan sekarang kakak sudah tidak punya orang tua. Tapi semua yang telah terjadi membuat kakak mengerti bahwa seperti inilah kehidupan..., selalu ada yang datang dan pergi di hidup kita. Dan tugas kita adalah mengikhlaskan yang pergi dan mensyukuri yang datang. Karena baik yang datang maupun yang pergi, mereka semua berperan penting dalam hidup kita. Kakak beruntung masih mempunyai kalian, jika tidak ada kalian mungkin kakak sudah enggan melanjutkan hidup ini." Ucap Sandra sambil menahan air matanya... Dia jadi teringat dengan almarhum kedua orang tuanya.


" Bapak... ibu.... Sandra rindu pada kalian." Batin Sandra.


__ADS_2