Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Pertemuan Yang Tidak Di Sengaja!


__ADS_3

Sandra mencari Salsa temannya di kampus. Ternyata gadis berambut pirang itu duduk melamun di tangga.


" Hei.... " Sapa Sandra.


" Eh elo San ... dari mana ? Kok ngos-ngosan begitu." Tanya Salsa.


" Dari muter-muter nyariin kamu. " Jawab Sandra terengah-engah.


" Emang ada apa ? " Tanya Salsa keheranan.


Sandra tidak langsung menjawab. Dia melihat ke kanan dan kiri.. Aman, tidak ada orang yang berlalu lalang di sana.


" Ambil ini. " Sandra menyodorkan uang yang dia bungkus dengan amplop putih.


" Ini apa ? " Tanya Salsa mengambil amplop itu lalu memeriksa isinya.


" Ini.... ini uang siapa San ? " Tanya Salsa yang kebingungan.


" Ambil saja. Itu buat kamu." Kata Sandra.


" Elo serius ??" Tanya Salsa yang masih tidak percaya.


" Seribu rius malah... Pakai saja uang itu untuk berobat adikmu." Ucap Sandra menerangkan.


" Tapi San... ini kebanyakan..., elo sendiri gimana ? Ini pasti uang kiriman ibumu." Salsa berusaha menolak bantuan dari Sandra.


Sandra memang bercerita jika dia hanya ngekos di sini. Setahu Salsa dan Intan dia berasal dari pinggiran kota dan hidup hanya berdua dengan ibunya. Sandra juga bercerita jika ibunya hanyalah pedagang sayur keliling. Tidak heran jika Salsa merasa tidak enak untuk menerima uang itu.


" Ini bukan uang dari ibuku, tapi uang pribadiku sendiri. Sudah pakai saja... Saat ini kamu lebih membutuhkannya. Segera bawa adikmu ke rumah sakit." Kata Sandra meyakinkan.


Kemarin Sandra tidak sengaja mendengar jika adik Salsa menjadi korban tabrak lari. Adiknya itu terluka di beberapa bagian tubuh dan badannya mulai menggigil karena demam tinggi. Namun adiknya menolak keras di bawa berobat, karena tahu jika orang tuanya tidak mempunyai cukup uang. Belum lagi dengan kondisi sepeda motor yang rusak, tentu butuh biaya yang lumayan untuk memperbaikinya.


" Terimakasih ya San...." Ucap Salsa berkaca-kaca.


" Gue janji, gue bakal balikin duit ini secepatnya. " Lanjutnya.


" Tidak perlu dibalikin. Uang ini sekarang sudah menjadi milikmu. " Sandra menggenggam kedua tangan Salsa dan tersenyum.


" Pakailah untuk biaya berobat dan memperbaiki sepeda motor adikmu." Kata Sandra.


Salsa tidak bisa membendung air matanya lagi. Kedua gadis itu lalu berpelukan dengan erat.


" Sudah..., berhenti menangis. Tersenyumlah.. Sekarang aku temenin mengurus surat dispensasi ya ?" Tawar Sandra.


Akhirnya hari itu Salsa bisa pulang terlebih dahulu.


" Segera kabari aku bagaimana hasilnya. " Pinta Sandra sesaat sebelum Salsa pulang.


" Pasti. Sekali lagi terimakasih.. Gue gak tahu harus membalas kebaikan lo ini dengan apa."


" Tidak perlu. Sudah ah jangan bilang begitu. Aku jadi salting nih ?? " Gurau Sandra.


Salsa tersenyum mendengar gurauan itu.


" Nah gitu dong senyum...." Ujar Sandra.


" Maaf ya Sal.... gue gak bisa bantuin apa-apa. Lo tau sendiri, untuk makan sehari-hari saja gue harus kerja dulu." Ucap Intan yang merasa tidak enak.


" Iya gue ngerti. Lo support aja gue dah seneng. Pokoknya lo berdua temen terbaik gue." Ucap Salsa lalu memeluk kedua gadis di depannya.


Setelah berpelukan Salsa meninggalkan mereka berdua.


" Kasian ya... kalau aja gue punya duit banyak. Sudah pasti gue bantu juga. Sedih rasanya gak bisa bantu sahabat saat dia lagi butuh bantuan." Kata Intan membuka percakapan.


" Jangan sedih begitu.... Kata siapa kamu tidak membantu ? Support sistem itu penting lho. Justru aku salut sama kamu, kamu bisa mandiri membiayai kuliah dan hidupmu sendiri tanpa membebani kedua orang tuamu."


Intan tersenyum kecil menanggapinya.


" Lo terlalu berlebihan." Ucap Intan.


" Ya emang kenyataan begitu. Oya ... Kamu kerja di mana ?" Tanya Sandra yang baru tahu.


" Gue kerja di cafe gak jauh dari sini. Kapan-kapan kalian bisa mampir... aku yang traktir." Ucap Intan sungguhan.


" Iya deh ... janji ya...?"


Selesai kuliah Sandra dan Intan juga berpisah. Gadis itu pamit ingin segera berangkat kerja. Melihat Intan yang semangat bekerja, mengingatkan dirinya dulu saat bekerja di restoran.

__ADS_1


" Bagaimana kabar mereka sekarang ? " Tanya Sandra dalam hati.


Sandra melanjutkan langkahnya... Dia berjalan santai ke parkiran.


" San ! " Panggil seseorang.


Sandra menoleh lalu kembali memalingkan wajah dengan malas setelah tahu jika Arkha yang memanggilnya.


" Tunggu !" Teriak Arkha. Kini mereka berdua berdiri sejajar.


" Ada apa ! " Tanya Sandra ketus. Bukan karena Sandra membencinya. Tapi rumor yang beredar tentang adanya hubungan di antara keduanya membuat Sandra enggan bertemu dengan Arkha di kampus.


" Pulang bareng aku ! Papa yang menyuruh.... "


" Gak mau, mas eh salah ..., adek ..., ah salah juga ... ! Pokoknya kamu pulang saja duluan ! Aku masih ada urusan penting !" Tolak Sandra.


" Mas dek mas dek... Panggil nama saja !" Ucap Arkha terlihat kesal.


" Ini perintah papa ! " Lanjut Arkha lagi.


" Jangan memaksa !" Balas Sandra tidak mau.


" Dasar gadis keras kepala ! Kamu bisa membuatku dalam masalah !"


" Nanti aku yang ngomong sama papa. Jangan khawatir ! "


Sandra tetap bersikukuh menolak pulang bareng Arkha.


Beberapa mahasiswa mulai melihat ke arah mereka.


" Kamu tidak melihat mereka ? Atau kamu senang melihat aku jadi bahan pembicaraan mereka ? Jangan dekat-dekat aku !" Ucap Sandra kesal.


" Ngapain kamu menghiraukan omongan orang ! Tidak usah di dengar, kalau tidak, ngomong saja yang sebenarnya jika kita saudara ipar !"


" Jangan macam-macam, aku tidak mau semua orang tahu itu !"


" Kenapa ? Kamu tidak mau mengakui jika dirimu sudah menikah ?"


" Ya ... Aku tidak mau mengakuinya, puas ?! Sekarang menjauh dari ku !" Ucap Sandra marah. Dia tidak perlu menjelaskan alasannya kepada Arkha.


Sandra memutar bola matanya malas.


" Lihatlah, mereka mulai berisik ! Kamu urus saja urusanmu sendiri. Masalah papa, nanti aku yang akan bertnggung jawab." Ucap Sandra lalu meninggalkan Arkha sendiri.


" Dasar bocah.... Kurasa dia memang cocok dengan Al.. Sama-sama keras kepala ! " Keluh Arkha dengan kesal.


Sandra melajukan sepeda motornya dengan cepat. Hembusan semilir angin membuat emosinya berangsur mereda. Dia harus bicara dengan Arkha di rumah nanti. Dia tidak ingin semakin ada banyak gosip di antara mereka. Tapi sekarang Sandra ada urusan yang lebih penting.


Sandra berhenti di Hotel Alsan. Di sinilah kantor tempat Alfian bekerja selain di restoran yang kini lebih banyak di urus oleh Bu Henny. Sandra memarkirkan sepeda motornya terlebih dahulu. Setelah itu dia menelepon Dias untuk menjemputnya di lobby.


Sandra menunggu Dias di kursi tunggu dekat resepsionis. Tak lama kemudian yang di tunggu-tunggu muncul juga.


" Nona, ada perlu apa anda mencari saya ?" Tanya Dias.


" Ada yang ingin saya bicarakan."


" Oh.. baiklah mari ikut saya." Ajak Dias.


Dias kemudian mengajak Sandra masuk ke ruang kerjanya.


Setelah sampai Dias menelpon bagian office boy untuk membuatkan minuman.


" Apa yang ingin anda bicarakan nona ?" Tanya Dias ramah.


" Mas Dias aku mau minta tolong. " Kata Sandra menjelaskan maksud kedatangannya.


" Minta tolong ?" Tanya Dias. Tidak biasanya Sandra menemuinya secara pribadi untuk meminta tolong.


" Iya. Aq mau Mas Dias mengurus sesuatu untukku." Kata Sandra.


" Tolong Mas Dias bantu aku menjadi donatur di universitas tempat aku kuliah. Dan aku ingin sumbangan dariku itu di gunakan untuk membantu mahasiswa maupun mahasiswi yang kurang mampu di sana. Semacam beasiswa seperti itu..." Ujar Sandra menerangkan.


Dias menyimaknya dengan serius.


" Nona yakin ? " Tanya Dias.


" Aku sangat yakin, tapi mengingat statusku yang sama-sama mahasiswi di sana pasti akan sulit menjelaskannya. Aku juga ingin ini menjadi rahasia. Untuk itu aku mohon bantuannya, tolong kamu urus semuanya, tapi jangan beritahu tentang identitasku. Bilang saja dari hamba Allah. " Ucap Sandra melanjutkan.

__ADS_1


Dias tersenyum kecil mendengarnya. Tentu ini bukan hal sulit baginya.


" Kalau memang nona sudah yakin, dengan senang hati saya akan membantu. Tapi berapa nominal yang ingin anda sumbangkan perbulannya?" Balas Dias.


" Mmmm... berapa ya....?" Tanya Sandra bergumam.


Alfian tidak memberi tahu berapa batas uang yang harus dia gunakan perbulannya. Jika empat puluh juta kurang banyak mungkin lima puluh juta cukup. Pikir Sandra.


" Lima puluh juta. Setiap bulannya saya akan pakai lima puluh juta dari kartu kredit yang diberikan Alfian untuk sumbangan itu." Ujar Sandra.


" Baiklah.... Nanti aku akan segera mengurus prosedurnya ke kampus. Jika sudah nona bisa transfer saja setiap bulannya, biyar lebih mudah." Ucap Dias.


" Oke aku setuju... Terimakasih ya mas. Tapi tolong rahasiakan ini dari Mas Al juga." Kata Sandra setelah selesai.


" Tidak masalah. Akan saya usahakan. "


Sandra terlihat senang setelah itu.


" Jangan lupa dengan dua siswi yang saya sebutkan tadi. Jangan sampai terlewat. " Ujar Sandra.


" Nona tenang saja dan tunggu kabar baiknya. Oya nona tidak ingin bertemu dengan Tuan Al ?" Tanya Dias.


" Tidak... " Tolak Sandra.


" Sudah sampai di sini. Sayang jika tidak bertemu. Tuan pasti sangat senang. Kebetulan ruang kerja nya tidak jauh dari sini." Bujuk Dias.


" Lain kali saja, aku masih ada urusan... " Sandra tetap menolak tawaran Dias.


" Kalau begitu mari saya antarkan ke bawah. " Akhirnya Dias memilih menyerah.


" Tidak usah repot-repot. Aku bisa sendiri. Mas Dias pasti masih banyak pekerjaan. "


" Baiklah jika nona bersikeras. Pulanglah dengan hati-hati."


Sandra lalu berpamitan kepada Dias. Dia berlalu saja ketika melewati ruang kerja Alfian. Seorang resepsionis yang ada di depan ruangannya mengangguk hormat ketika dia lewat. Sudah pasti dia mengetahui jika Sandra adalah istri pemilik hotel itu.


Saat sampai di depan lift, Sandra di kejutkan dengan apa yang dia lihat. Alfian dan Rena keluar bersamaan dari lift itu. Rena terlihat tengah menggamit lengan Alfian dengan mesra. Alfian juga terlihat menerima saja perlakuan dari Rena.


" Sandra !" Ucap Alfian yang juga terkejut melihat Sandra di sana. Dia buru-buru melepaskan tangan Rena yang menggamit lengannya.


" Eh Sandra...kita berjumpa lagi." Sapa Rena yang tidak merasa bersalah ataupun malu kepergok memeluk suami orang.


Sandra berusaha bersikaptenang dan acuh terhadap keduanya.


" Sandra ngapain kamu di sini ? " Tanya Alfian yang kini menghampirinya.


" Kebetulan mampir saja." Kata Sandra berbohong.


" Apakah ada sesuatu yang penting ?" Tanya Alfian lagi.


" Sudah ku bilang, aku hanya mampir. Kebetulan aku tadi melewati tempat ini dan memutuskan untuk mampir." Kata Sandra menjelaskan.


" Ayo ke ruangan ku. " Ajak Alfian.


" Gak .. aku mau pulang. "


" Kenapa terburu-buru ?" Tanya Alfian gugup. Dia takut Sandra berpikir macam-macam tentang dirinya.


" Aku takut mengganggu kalian. Silahkan di lanjutkan saja !" Kata Sandra tegas, kemudian dia masuk ke dalam lift .


"Sandra.... Tunggu dulu !" Panggil Alfian. Dia ingin mengejarnya, namun Dias yang muncul dari ruang kerja segera memanggilnya.


" Tuan, ada telepon penting dari Mr.George." Kata Dias.


Alfian pun akhirnya mengurungkan niatnya mengejar Sandra.


" Maaf Al... aku tidak....." Ucap Rena yang sengaja menggantung kalimatnya.


" Pergi !! " Bentak Alfian.


" Al ... Kamu membentakku ?" Tanya Rena tidak percaya. Dulu Alfian sangat cinta dan tunduk kepadanya. Jangankan membentak, membantah perkataannya saja Alfian tidak pernah, dia selalu menuruti semua kemauannya.


" Tidak dengar ?? CEPAT PERGI DARI SINI !" Teriak Alfian Emosi. Dia tidak menyangka akan bertemu Sandra di sini.


Rena ketakutan melihat Alfian berteriak seperti itu. Akhirnya dia memilih pergi dari sana.


" Setidaknya hari ini tidak sia-sia. Semoga saja Sandra salah paham." Ucap Rena sambil tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2