
Alfian pulang ke rumah Sandra dengan hati yang senang.
" Sudah pulang tuan ?" Sapa Bibi Nani.
" Sudah bi... Hari ini kebetulan tidak ada pekerjaan penting, jadi bisa pulang lebih awal." Jawab Alfian bersemangat.
" Tuan Dias gak usah pulang... Nginep di sini aja."
" Baik bi..." Sahut Dias yang memang berniat menginap.
Alfian dan Dias kemudian bergantian membersihkan diri.
Sandra melirik sekilas. Sandra pikir Alfian akan pulang dan marah seperti biasanya, apalagi jika bertemu dengan Gilang. Tapi anehnya Alfian justru banyak tersenyum-senyum sendiri.
" Apa yang terjadi ? Kenapa dia terlihat begitu senang ? Mereka kembali akurkah ?" Tanya Sandra di hati.
Sandra ingin bertanya apa gerangan yang membuat suaminya sampai senang begitu, tapi Sandra enggan melakukannya.
Sejak Sandra mengutarakan keinginannya untuk bercerai, mereka sama-sama menjaga jarak. Alfian sedikit menjauh dari Sandra. Dia tidak lagi mengekori kemanapun Sandra pergi saat sudah di rumah. Namun sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Sekarang Alfian lebih sering menunjukkan perhatian kepadanya. Seperti menanyakan keadaannya, memintanya makan atau minum vitamin dari dokter. Bahkan dia tidak berhenti melakukannya meski Sandra acuh kepadanya. Selebihnya Alfian lebih sering mengobrol dengan Bibi Nani atau membahas pekerjaan dengan Dias jika sahabat sekaligus sekretarisnya itu belum kembali ke kota.
Sedangkan Sandra, semenjak ibunya meninggal dia tidak menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Alfian selalu menyiapkan segala keperluan kerjanya sendiri. Saat makan pun lebih banyak Bibi Nani yang melayaninya. Saat Alfian pulang dari kantor Sandra juga sering pura-pura tidur agar tidak perlu berkomunikasi dengan suaminya itu. Tapi Sandra tahu, Alfian selalu mencium keningnya terlebih dahulu sebelum ikut tidur di sampingnya.
Bibi Nani yang prihatin dengan hubungan mereka sering menasehati Sandra, Begitupun dengan Nurul yang tidak henti-hentinya menerornya dengan cerita seputar azab seorang istri yang tidak patuh dan durhaka kepada suaminya.
Tanpa mereka ketahui, diam-diam Sandra sering memikirkannya. Dia tahu dia berdosa karena mengabaikan suaminya. Tidak mau berbicara dengannya dan tidak menunaikan tugasnya sebagai istri dengan baik. Terkadang hatinya tergerak untuk memaafkan Alfian, tapi ketika mengingat mendiang ibunya Sandra kembali mengurungkan niatnya. Masih ada kebencian dan amarah yang membuatnya belum bisa memaafkan Alfian meski dia tahu Alfian tidak sepenuhnya salah dan mungkin juga tidak bersalah. Namun kekesalannya terhadap Rena dia lampiaskan semuanya kepada Alfian.
" Astaghfirullahhal'adzim... Maafkan aku Ya Allah. Ampuni dosa-dosa hambamu ini." Ucap Sandra beristighfar.
" Tuan.... Mau saya bikinkan kopi ?" Terdengar suara Dias menawarkan diri dari balik pintu kamar mereka.
Bibi Nani sudah ijin kalau malam ini tidur di rumahnya karena sudah ada Dias yang menemani mereka. Sedangkan Nurul sudah kembali ke kota sore tadi. Lagi pula kamar di rumah itu hanya ada dua. Jadi biar Dias yang tidur di kamar mendiang bapak dan ibu Sandra.
" Tidak usah... Kamu mandilah terlebih dahulu. Nanti biar aku buat sendiri." Tolak Alfian yang merasa tidak enak kepada Dias. Dia tahu pria itu pasti juga sudah lelah.
" Baiklah tuan, kalau begitu saya mandi dulu. Nanti jika perlu sesuatu panggil saya saja." Ucap Dias.
" Oke."
Sandra diam saja pura-pura tidak mendengar dan sibuk belajar di meja. Dalam hati dia merasa kasian juga kepada mereka. Akhirnya dia bangkit dan pergi ke dapur. Sampai di dapur Sandra melihat sudah banyak makanan tersedia di atas meja makan. Sandra menyentuh piring dan wadah tempat makanan itu, ternyata masih hangat. Sandra jadi tidak enak kepada Bibi Nani. Sebelum pulang wanita itu sudah menghangatkan dan menyiapkan makanan untuk suaminya yang seharusnya itu adalah tugasnya.
" Apakah aku sudah keterlaluan ?" Tanya Sandra pada diri sendiri.
Sandra akhirnya membuat dua gelas kopi untuk Alfian dan Dias. Kemudian dia mengambil nampan dan juga setoples cemilan untuk teman ngopi. Sandra lalu membawanya ke ruang tamu dan menaruhnya di atas meja. Alfian yang mengintipnya menyunggingkan sedikit senyumnya dan cepat-cepat berlari kembali ke kamar agar tidak ketahuan oleh Sandra.
Sandra kembali masuk ke kamar setelah itu. Alfian meliriknya, menunggu Sandra berbicara sesuatu kepadanya.
Sandra terlihat ragu-ragu. Sebentar dia hendak berbicara namun kembali menutup mulutnya lagi.
" Kopi..." Kata Sandra yang mengalahkan gengsinya.
Alfian menaikkan sudut bibirnya tipis. Senang akhirnya mau juga menyapanya terlebih dahulu. Alfian sedikit menunduk untuk menyembunyikan senyumnya lalu mendongak menatap wajah Sandra.
" Maksudnya ?" Tanya Alfian pura-pura tidak mengerti.
" Aku sudah bikinin Mas kopi." Sahut Sandra datar kemudian ke kasur dan menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
Alfian gemas melihat tingkah istrinya yang gengsi tapi malu-malu seperti itu.
" Terimakasih." Balas Alfian lalu keluar untuk menikmati kopi buatan istrinya.
__ADS_1
" Kamu yang bikin ini Al ?" Tanya Dias tanpa bahasa formal. Laki-laki itu keluar dari kamar mengenakan celana pendek selutut dan kaos polos berwarna biru hitam.
" Bukan... Sandra yang bikin." Jawab Alfian senang.
" Sandra ? Dia sudah tidak marah ?" Lanjut Dias keheranan.
Alfian mengangkat bahunya sebagai jawaban.
" Bawa keluar, kita ngobrol di teras saja." Ucap Alfian yang melangkah ke teras lalu duduk di kursi santai yang tersedia.
Dias mengikutinya dari belakang sambil membawa nampan.
Alfian tak hentinya tersenyum. Dia berharap sedikit demi sedikit Sandra akan luluh.
" Woy.... Ngelamun aja !" Tegur Dias mengagetkan.
" Ck... apaan sih ?"
" Abis di ajak ngobrol bukannya jawab malah senyum-senyum sendiri." Gerutu Dias.
" Emang kamu ngomong apa ?" Tanya Alfian.
" Besok hari terakhir Sandra ijin kuliah. Dia harus segera masuk jika tidak ingin mengulang semester ini." Kata Dias memberi tahu.
" Baiklah nanti coba aku katakan padanya."
Dias menganggukkan kepalanya kemudian menyeruput kopi di hadapannya.
" Oya Al... Kamu gak ada rencana untuk punya rumah sendiri dan hidup berdua saja dengannya ? Siapa tahu kalian bisa lebih dekat. Secara kalian hanya berdua,pasti saling membutuhkan kerjasama untuk mengurus rumah. Kamu bisa memanfaatkan hal itu untuk mendekati dan mendapatkan hatinya. Atau setidaknya bukankah kalian akan lebih bebas jika tinggal di rumah sendiri ?" Kata Dias memberikan saran.
" Aku sudah merencanakannya sejak awal menikah. Sebetulnya aku ingin mengajak Sandra tinggal di apartemen ku. Tapi tahu sendiri bagaimana papa dan Neta. Mereka sangat antusias dengan kehadiran Sandra di rumah. Jadi selama ini aku masih mengurungkan rencana itu. Besok biar ku coba mengatakannya kepada papa." Timpal Alfian.
" Kamu benar... Setelah menikah aku juga belum pernah pergi honeymoon dengannya. Kemarin-kemarin aku dan Sandra selalu menolaknya. Jika aku mengajaknya sekarang kurasa dia tetap tidak mau."
" Dimana pun honeymoon nya itu tidak terlalu penting yang penting kan kalian sudah melakukannya." Ucap Dias enteng.
Alfian menggeleng pelan.
" Apaan geleng-geleng, jangan bilang kalian belum pernah melakukannya ! Astaga Al....." Dias menepuk jidatnya.
" Sstt...., pelankan suaramu !"
" Lalu yang waktu itu ?? Yang merah-merah di leher Sandra apa ?" Tanya Dias memelankan suaranya. Dia juga takut kalau Sandra tiba-tiba muncul di belakang mereka.
" Hanya sampai di situ." Aku Alfian sambil cemberut.
" Hmmm... Kamu normal gak sih ? Setiap malam kalian tidur satu ranjang, tapi sekalipun kamu belum pernah melakukannya. Aku pikir setelah mengetahui perasaan mu, kamu bakalan gerak cepat. Eeh ternyata belum ada perkembangan sama sekali !" Ucap Dias heboh.
" Sial ! Tentu saja aku normal. Kamu pikir aku gak tersiksa setiap malam ?" Sahut Alfian kesal.
" Terus kamu pasrah gitu aja ?" Dias semakin berani mengejek Alfian.
" Apa boleh buat, aku selalu pergi ke kamar mandi jika sudah tidak tahan lagi !"
" Buahahaha.... " Tawa Dias semakin pecah mendengar pengakuan dari Alfian.
" Berengsek, berhenti ngetawain aku !" Ucap Alfian kesal.
"Aduh..... Sampai sakit perut aku mendengarnya. Pantesan aja Sandra dengan santainya minta cerai."
__ADS_1
" Maksud mu apa ?" Tanya Alfian tidak mengerti.
" Dasar bego ! Maksudku...., tentu saja Sandra tidak pikir panjang lagi ingin bercerai. Dia merasa aman karena masih sama seperti sebelum dia menikah. Jadi biarpun dia bakal jadi janda tapi janda bersegel !" Bisik Dias semakin lirih.
Alfian melamun mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Dias.
" Lalu aku harus gimana ?" Tanya Alfian kemudian.
" Aku sudah bilang sebelumnya, jika kamu ingin memilikinya, mintalah hak mu. Bayangin saja....., jika kalian sudah melakukannya dan untung-untung dia langsung hamil anak kamu., sudah pasti dia bakal berfikir berulang kali untuk minta bercerai. Setahuku perempuan banyak yang bertahan dalam rumah tangga karena ada anak." Jelas Dias.
Alfian mengangguk setuju dengan hal itu.
" Lalu aku harus gimana ? Kalau di tolak ? Kan aku sendiri yang malu."
" Ya setidaknya usaha lah.... Kado hadiah kek, rayu kek..."
" Huh, kaya kamu udah pengalaman aja !" Ucap Alfian balas mengejek Dias.
Dias meringis menahan malu.
" Aku masuk dulu, siapa tahu dia belum tidur." Pamit Alfian.
" Buset ... Baru di obrolin langsung mau tancap gas aja !" Seru Dias.
" Yang mau tancap gas juga siapa ? Katamu Sandra sudah harus masuk kuliah... Aku mau memberi tahunya... Siapa tahu dia belum tidur. Dasar piktor !" Ejek Alfian.
" Oooh... Kirain ...."
" Makanya jangan ngeres mulu yang di pikirin !" Omel Alfian lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Dias yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena malu.
Alfian mengunci pintu setelah masuk ke dalam kamar. Kemudian dia mendekati Sandra dan tidur di sebelahnya. Alfian ikut masuk ke dalam selimut lalu membenarkan posisi tidurnya. Karena ranjang yang berukuran kecil jarak antara Alfian dan Sandra begitu dekat dan hampir bersentuhan.
" Kamu sudah tidur ? " Tanya Alfian.
Sandra yang pura-pura tidur dan tidak menjawabnya.
" Jangan berbohong, aku tahu kamu belum tidur. " Ucap Alfian lagi.
" Gawat ! Apakah selama ini dia juga tahu kalau aku pura-pura tidur ?" Batin Sandra.
" Sandra ?" Tanya Alfian karena tidak ada jawaban.
Sandra lalu membuka matanya namun tetap diam seribu bahasa.
"Dias bilang lusa kamu sudah harus berangkat kuliah jika tidak ingin mengulang semester ini." Ucap Alfian memberi tahu.
" Kamu sudah siap berangkat belum ?" Lanjut Alfian.
Sandra tidak bergeming. Dia masih enggan meninggalkan rumah kedua orangtuanya. Tapi kuliahnya juga tidak bisa dia tinggal, dia tidak ingin berhenti di tengah jalan. Biar bagaimanapun hidup akan terus berjalan.
" Gimana ? Besok pulang yuk ke kota. " Ajak Alfian lembut.
" Entahlah, aku jawab besok saja. Sekarang aku ngantuk." Balas Sandra datar.
" Baiklah, pikirkanlah lagi. Oya, nanti setelah pulang ke rumah papa aku juga berencana mengajak mu tinggal di apartemen. Kamu maukan ?" Tanya Alfian lagi.
" Sudah ku bilang mas, aku mau kita berpisah..." Ucap Sandra.
" Dan aku juga sudah bilang, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau berpisah !" Jawab Alfian tegas. Dia kembali kecewa dengan jawaban Sandra.
__ADS_1
Keduanya saling menatap dengan pikiran masing-masing, kemudian Sandra berpaling dan tidur membelakangi Alfian.