
Hari berikutnya, seperti kata Alfian... Paman dan Bibi Nani datang ke rumah sakit lagi di antar oleh sopir. Sedangkan Neta menyusul sepulang sekolah. Pak Wijaya sendiri, datang ketika beliau sudah tidak ada pekerjaan lagi di kantornya.
Sandra merasa sangat beruntung..,, banyak sekali yang perduli dan menyayanginya dengan sepenuh hati. Rasanya seperti mempunyai dua keluarga yang lengkap dan saling menyayangi. Hal itu sedikit membuat hatinya ngilu karena teringat dengan kedua almarhum orang tuanya, namun satu hal .. Sandra yakin jika kedua orangtuanya pasti ikut bahagia jika bisa menyaksikan sendiri bagaimana dia disayangi dan di perlakukan dengan baik oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan semenjak tahu jika Sandra sedang mengandung, Pak Wijaya nampak memperlakukan menantunya itu lebih spesial lagi. Pak Wijaya sampai memanggil dokter ahli gizi secara langsung untuk memberi tahu apa saja yang baik di konsumsi untuk Sandra selama kehamilan dan untuk menjaga agar ibu dan bayinya tetap sehat. Terlihat sekali pria paruh baya itu sangat antusias dan bersemangat untuk menyambut kehadiran calon cucunya.
Tak jauh berbeda dengan Pak Wijaya.. Bibi Nani tak hentinya bersyukur dan berjanji akan sering menengok Sandra nantinya.
" Nanti kalau kamu sudah di rumah... Bibi akan sering-sering berkunjung... Nanti bibi bisa bantu jagain kamu, masakin makanan kesukaan kamu,, Ya... meskipun di rumah kamu sudah banyak asisten rumah tangganya.." Ucap Bibi Nani.
"Hm... Boleh Bu.. Kalian semua boleh sering-sering datang atau menginap kapanpun yang kalian mau... Tapi tidak di rumah Sandra dan Alfian !" Potong Pak Wijaya.
Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut bukan main.
" Ke..Kenapa pa ? " Tanya Sandra terperanjat.
" Iya pa... Kenapa paman dan bibi tidak boleh berkunjung ke rumah kami ?" Tanya Alfian. Dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba papanya berucap seperti itu, sedangkan sejak tadi mereka mengobrol baik-baik saja dan tidak ada masalah sedikit pun.
" Stt... Dengarkan penjelasan papa dulu makanya .. Mereka tidak boleh berkunjung atau pun menginap di rumah kalian karena setelah dokter mengizinkan Sandra pulang, mulai detik itu juga kalian akan pulang ke rumah papa. Mengingat Sandra yang suka ceroboh dan kamu yang sering teledor menjaga istrimu, papa sendiri yang akan memastikan menjaga keselamatan menantu dan calon cucu papa.. Jadi , jika ingin berkunjung tentu mereka harus ke rumah papa,, bukan ke rumah kamu !" Ucap Pak Wijaya.
Bibi Nani dan paman Joni tersenyum lega mendengar penjelasan dari Pak Wijaya yang begitu mengkhawatirkan keselamatan Sandra dan calon cucunya. Rasa kaget ,cemas, dan khawatir yang tadi sempat mendera di hati mereka berubah menjadi rasa bahagia. Berbeda dengan kedua wajah anak dan menantunya.
" Tapi pa... Al kan baru saja pindah..."
" Kalian bisa pindah lagi setelah anak kalian lahir dan cukup umur. Aku tidak akan membiarkan kalian merawat anak kalian sendiri.. Dia adalah cucu pertamaku,, Setiap hari,aku ingin ikut merawat dan menggendongnya." Lanjut Pak Wijaya. Suaranya sedikit bergetar mengingat sebentar lagi akan ada malaikat kecil yang hadir ditengah-tengah keluarga Wijaya.
" Ta...tapi pa..." Kata Alfian lagi.
" Tidak ada tapi-tapian !" Potong Pak Wijaya cepat kemudian mendekat kepada Sandra.
"Kamu mau kan nak tinggal di rumah papa lagi ?" Tanya beliau.
" Mmm... Mau pa.. Tapi terserah Mas Al saja." Jawab Sandra tidak tega. Apalagi sejujurnya Sandra sangat suka tinggal di rumah mertuanya karena semuanya bersikap baik kepadanya dan juga dia merasa tidak kesepian karena ada Arkha dan Neta. Namun dia hanyalah seorang istri,, keputusan terakhir dia serahkan kepada suaminya sepenuhnya.
" Alhamdulillah. Tenang saja , Al tidak punya pilihan lain.. Keputusan papa sudah bulat ! Terimakasih ya nak.. Terimakasih... " Ucap beliau.
" Jangan berkata begitu pa... Sandra jadi tidak enak... Papa tidak perlu berterima kasih sampai begitu.." Ucap Sandra.
Pak Wijaya menggelengkan kepalanya.
" Papa tetap ingin berterima kasih kepada mu nak. Terimakasih karena kamu sudah hadir di kehidupan papa. Terimakasih karena dulu kamu telah menolong papa.. Berkat kamu...hari itu, sampai saat ini papa masih bisa bernafas, masih bisa berkumpul dengan anak-anak papa, bisa mengenal orang jujur dan baik seperti Pak Imam,bahkan sebentar lagi papa akan melihat cucu papa lahir dari perempuan yang tangguh seperti kamu. Terimakasih juga sudah mau menikah dengan putra papa.. Jika saja waktu itu kamu tetap menolak, pasti saat ini Alfian masih terbelenggu dengan cinta di masa lalunya.." Kata Pak Wijaya sambil menyeka kedua matanya.
Semua orang yang ada di sana larut dalam suasana haru. Sandra, bibi Nani dan juga Neta bahkan sampai menitikkan air mata masing-masing.
" Pa .. " Ucap Alfian.
" Terimakasih.." Ucap Alfian lirih. Kini Alfian menyadari, jika apa yang papanya lakukan sejak dulu adalah demi kebaikannya. Termasuk tentang mengirimkannya ke luar negeri dan perjodohannya dengan Sandra yang dulu sempat membuatnya murka kepada sang papa. Alfian menyesal jika mengingat masa itu.
Sekali lagi pak Wijaya menggelengkan kepalanya.
" Sudah seharusnya orang tua menginginkan serta melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya. Berjanjilah satu hal kepada papa.. Jagalah keluarga kecilmu dengan baik. Jangan biarkan siapapun menghancurkan rumah tangga kalian,, apapun yang terjadi. Saling lah menghargai dan melengkapi satu sama lain. Bantu papa mewujudkan janji papa kepada almarhum ayah Sandra untuk menjaganya dengan baik." Pinta Pak Wijaya sambil menepuk bahu putranya.
Sandra terisak kecil mendengarnya. Rasa rindu kepada kedua orang tuanya yang tadi sempat mendera, kini kembali lagi.
Alfian dengan penuh kesabaran kembali memeluk istrinya,, berharap istrinya bisa sedikit lebih tenang. Dia takut jika hal itu bisa mengganggu kondisi kehamilannya.
" Papa tenang saja..Akan selalu ku jaga keluarga kecilku dengan baik. Dan akan ku pastikan hal seperti ini tidak akan pernah terjadi lagi. Cukup ini yang terakhir kali. Mulai sekarang, hanya akan ada kebahagiaan di keluarga kita. Aku janji.." Ucap Alfian.
Semua yang ada ikut menyaksikan janji yang di ucapkan sepenuh hati oleh Alfian.
" Mb Lastri... Mas Imam... Kalian bisa beristirahat dengan tenang di alam sana. Lihatlah, kini Sandra sudah hidup bahagia dengan suami dan keluarganya. Tak ada yang perlu kalian khawatirkan lagi. Bahkan sebentar lagi, cucu kalian akan hadir. Aku yakin, kebahagiaan mereka akan semakin bertambah." Batin Bibi Nani sambil mengusap air matanya.
...****************...
__ADS_1
Kini , tinggal Bibi Nani dan Alfian yang menunggui Sandra. Bibi Nani tidak ikut Paman Joni pulang ke rumah Sandra karena Nurul sudah mengabari jika dia akan datang sore itu.
Sandra nampak terlihat lebih segar setelah Alfian dan Bibi Nani membantunya membersihkan diri. Keadaan tangannya yang belum boleh terlalu banyak digerakkan serta kepalanya yang terkadang masih terasa pusing membuatnya kesulitan untuk mandi sendiri.
" Maaf ya bi, Sandra merepotkan terus." Ucap Sandra setelah di bantu duduk di ranjang pasien kembali.
" Ck.. Iya Sandra .. Jangan pikirkan hal itu, sekarang yang terpenting adalah kesembuhan kamu." Ujar Bibi Nani. Tepat saat itu, terdengar pintu di ketuk dari luar.
" Assalamualaikum..." Ucap sebuah suara yang tidak asing bagi Sandra.
" Wa'alaikumsalam..." Balas Alfian,Sandra dan Bibi Nani serentak.
Setelah mendengar jawaban dari dalam. Pintu pun terbuka.
" Kak Gilang...Kak Moza " Ucap Sandra senang.
" Hai gadis bandel... Bagaimana keadaan mu ?" Tanya Gilang sambil berjalan mendekat membawa sebuah buket bunga. Tampak Moza mengikuti di belakangnya sambil membawa parsel buah-buahan. Kemudian mereka menaruhnya di nakas di samping ranjang Sandra.
" Hehehe... Aku baik kak. Sudah sembuh.... Terimakasih banyak, maaf jadi merepotkan kalian." Jawab Sandra kegirangan.
" Bagaimana bisa kamu bilang baik Sandra..? Lihatlah, tangan dan tubuh mu banyak luka lebam begini.." Ucap Moza setelah berdiri di samping kiri ranjang Sandra.
" Dokter sudah mengobatinya kak. Jadi tidak perlu cemas." Balas Sandra lagi.
" Al ! Kamu bagaimana sih ? Bukan kah kamu sudah janji kepada ku ? " Kini giliran Gilang yang menatap tajam kearah Alfian yang sejak tadi diam saja.
" Ck... Semua di luar kendali." Balas Alfian malas.
" Di luar kendali ? Masa keamanan seorang istri sendiri bisa di luar kendali." Cemooh Gilang.
" Sudah kak... Jangan marahin suamiku. Aku yang salah..." Ucap Sandra melerai sebelum terjadi pernah lagi di antara dua lelaki tersebut.
" Oh iya... Aku dengar... Kamu hamil ya ? Selamat ya San... " Sela Moza membantu Sandra mengalihkan pembicaraan. Dia tahu jika calon suaminya masih begitu posesif jika menyangkut Sandra. Bukan posesif sebagai laki-laki kepada kekasihnya, tapi posesif seperti seorang kakak kepada adiknya. Hal itu sudah sering terjadi sehingga tidak membuat Moza cemburu sedikitpun. Karena Gilang sendiri sudah pernah menjelaskan bagaimana hubungan di antara mereka jauh hari sebelumnya.
" Wahh... Sekali lagi selamat ya ? Ikut seneng dengernya... "
" Makasih banyak kak.. Oya.. Kak Moza kenalin. Ini Bibi aku, yang sudah aku anggap seperti ibu aku sendiri. Namanya Bibi Nani. " Kata Sandra mengenalkan.
" Bibi , dia ini Kak Moza... Calon istrinya Kak Gilang." Lanjut Sandra.
" Ohh, cantik banget ... Kenalin non.. Saya Bibi Nani.. Panggil saja bibi seperti Sandra."
" Hehe , terimakasih bik. Saya Moza .." Balas Moza sambil mengulurkan tangannya.
Setelah mengobrol beberapa saat, akhirnya pasangan itu pamit pulang.
" Kakak harap, kamu cepat sembuh.. Jangan Badung atau bandel lagi. Ingatlah, sekarang sudah ada nyawa lain yang harus kamu perhatikan betul-betul. Jaga keponakan kakak dengan baik." Ucap Gilang sambil mengelus pucuk kepala Sandra. Tentu saja hal itu mendapat respon buruk dari Alfian.
" Sudah sana pergi... Nggak usah pegang-pegang istri orang..!" Ucap Alfian yang masih sensi kepada Gilang meski sudah tidak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
" Dasar !! Kau juga , jaga istri dan anak kamu baik-baik ! Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi !" Sahut Gilang.
" Udah honey... Kita pergi sekarang ya ? Kita sudah hampir terlambat lho..." Ucap Moza mengingatkan sambil menarik lengan Gilang. Sambil mengerling ke arah Sandra.
" Bi..kita pamit duluan ya ?" Lanjut Moza .
" Iya non.... hati-hati di jalan." Pesan Bibi Nani.
" Iya bi..."
Setelah itu, keduanya keluar dari pintu. Baru hendak mengomeli istrinya yang membiarkan Gilang menyentuh kepalanya, pintu terbuka lagi.
__ADS_1
" Apa lagi ?" Sentak Alfian.
" Eh ??" Ucap Nurul yang baru saja datang kebingungan.
"Oh... Sorry, aku pikir Gilang.." Ucap Alfian setelah tahu siapa yang masuk.
" Makanya mas, jangan langsung marah-marah. Di lihat dulu..." Kata Sandra.
" Nggak apa-apa tuan."Balas Nurul yang masih bingung.
" Nak ke sini ..." Ucap Bibi Nani.
" Buk..." Nurul menghampiri ibunya. Mencium tangan ibunya dengan takzim kemudian memeluknya sebentar lalu pindah mendekati Sandra.
" Bagaimana ? Sudah membaik ?" Tanya Nurul.
" Kaya yang kamu lihat.. Sudah baik kok..."
" Gila ya San .. Ni kuping jangan di pakai buat pajangan aja ... Lain kali kalau ada orang ngomong di dengerin, jangan cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri aja !" Protes Nurul sambil menyentil pelan telinga Sandra.
" Iya maafffff ...."
Bibi Nani yang sudah hafal betul dengan tingkah kedua anak itu hanya tersenyum kemudian beralih pergi.
" Ibu buatkan minum dulu.. Kebetulan tadi ibu bawa perlengkapan untuk membuat teh." Pamit sang ibu.
Alfian pun juga begitu, dia tidak ingin mengganggu Sandra dan juga Nurul. Kedatangan Nurul sudah pasti dinanti-nanti oleh Sandra. Alfian kemudian mengikuti bibi Nani yang tengah sibuk membuat teh hangat.
" Gimana ? " Bisik Sandra.
" Apanya ?"
" Arkha !" Bisik Sandra lagi.
" Oh... Gimana yg gimana maksudnya ?"
" Kelanjutannya lah... semalam apa yang terjadi ?" Tanya Sandra mulai kepo.
" Ya nggak gimana-gimana... Tadi pagi dia nganter aku ke kostan." Jawab Nurul tak kalah lirih. Dia takut kalau ibunya mendengar.
" Yah, nggak asik ... Masih aja suka nutup-nutupin."
" Nggak ada yang aku tutup-tutupi kok. Emang nggak ada apa-apa semalam."
" Emang dia nggak bilang gitu tentang perasaan nya ?" Lanjut Sandra menginterogasi.
" Mm... Jangan bahas hal itu deh. Sekarang aku mau fokus kuliah dulu. Bentar lagi mau skripsi nih..." Elak Nurul.
" Ck... Sekarang jujur sama aku... Kamu masih suka nggak sih sama Arkha ?" Tanya Sandra sambil menatap wajah Nurul dengan serius.
" Nggak penting Sandra. Aku mau suka atau tidak, tidak ada gunanya. Sekarang aku mau fokus kuliah dulu. Nggak mikirin yang begituan." Jawab Nurul.
" Tentu saja penting,kamu gimana sih.. Emang kamu rela jika Arkha jadian sama orang lain ? Kamu yakin nggak akan kenapa-kenapa ? Kamu kan tahu sendiri kalau Arkha banyak yang ngejar-ngejar."
Nurul terdiam sesaat kemudian menjawab dengan ragu-ragu.
" Jika dia berjodoh dengan orang lain, ya silakan saja." Jawab Nurul.
" OMG Nurul... Ternyata kalau masalah cinta kamu lebih keras kepala dari aku ! " Sungut Sandra.
" Kalian bisik-bisik apa ? Sini Rul... Kita ngeteh dulu. Ada yang ingin ibu tanyakan juga. Biarkan Sandra istirahat, sejak tadi banyak yang menjenguk sehingga dia belum istirahat."
__ADS_1
" Iya Bu. " Akhirnya kesempatan itu Nurul gunakan untuk lepas dari interogasi Sandra. Nurul mengerti, sahabatnya itu pasti ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dengan Arkha. Tapi Nurul rasa kali ini waktunya belum tepat untuk Sandra mengetahui yang sebenarnya. Apalagi Sandra masih posisi di rawat di rumah sakit. Dia tidak ingin sahabatnya itu ikut terbebani dengan memikirkan hubungan percintaannya yang sedikit rumit.