
Sandra sampai di rumah hampir tengah malam. Bukan karena sengaja, tapi dia tertidur sangat lama karena kepalanya terasa pusing.
Sandra celingukan ke dalam kamar. Dirinya sudah menyiapkan diri jika Alfian marah besar. Ada dua alasan suaminya itu bisa marah kepadanya. Pertama karena Gilang tadi menemuinya dan yang kedua karena dia pulang selarut ini. Sandra memberanikan diri. Dia melangkah pelan-pelan berharap Alfian sudah tidur.
Namun sayangnya, terdengar suara gemericik air dari kamar mandi, berarti Alfian ada di sana. Sandra merasa gugup dan ketakutan.
Tak lama kemudian Alfian keluar dari kamar mandi. Pandangan mata mereka saling bertemu. Alfian menatapnya dengan tajam. Kedua tangannya terkepal, namun anehnya dia tidak marah seperti yang Sandra bayangkan.
" Dari mana saja. " Tanya Alfian datar. Karena sebenarnya dia sudah tahu jika Sandra berada di tempat Nurul.
" Ha ....?" Tanya Sandra tidak percaya. " Dia tidak marah ?" Batinnya.
" Dari mana saja jam segini baru pulang ?" Tanya Alfian mengulangi.
" Ehm... Aku ketiduran di tempat Nurul. Maaf... " Jawab Sandra.
" Lain kali, jangan lupa mengabari .. Papa dan Neta sangat mencemaskan mu ." Kata Alfian memberi tahu.
" Aa... iya... maaf. Mereka pasti khawatir... tadi ponselku mati, baterainya habis." Jelas Sandra.
" Kalau begitu aku ke kamar papa dulu,aku ingin minta maaf....." Kata Sandra.
" Tidak perlu, papa baru saja pergi. Ada perjalanan bisnis ke luar kota." Alfian menjelaskan dengan tenang.
" Aaa ?? Aku gak lagi ngimpi kan ? " Batin Sandra.
Lalu gadis itu menepuk-nepuk kedua pipinya saking tidak percayanya Alfian bisa berbicara sesantai itu kepadanya.
" Aduh sakit...." Rintihannya.
" Kamu kenapa menepuk pipimu seperti itu ? " Tanya Alfian keheranan.
" Emm... aku ... mmm.... mas gak marah ?" Sandra balik bertanya.
" Ditanya malah balik bertanya ? " Alfian mengangkat kedua alisnya menuntut penjelasan.
" Mmmaaf... Aku hanya tidak percaya saja....tum.....ben..... mas gak marah-marah....?" Jawab Sandra hati-hati.
" Siapa bilang ? Aku sangat kesal kepada mu ! Sangat-sangat kesal hingga ingin sekali diriku memukul kepalamu yang bodoh itu !" Batin Alfian.
" Ingin aku marah ? " Lanjut Alfian. Kini mereka berdiri saling berhadapan.
" Tidak, jangan marah...." Lirih Sandra.
Alfian mengangguk kecil sambil memikirkan sesuatu.
" Baik, akan tetapi, aku tidak marah bukan berarti kamu tidak akan di hukum atas kesalahanmu." Ucap Alfian menaikkan sudut bibirnya.
" Di hukum lagi ? " Tanya Sandra kecewa.
" Iya, tapi kali ini hukumannya berbeda.. " Ucap Alfian menjelaskan.
__ADS_1
" Mau berbeda mau tidak tetap saja sama-sama hukuman ! Ya, tentu saja, mana mungkin dia bisa sebaik itu ? Ayolah Sandra.... kamu sudah cukup mengenal pria di depanmu ini " Lanjut Sandra dalam hati. Wajahnya terlihat cemberut.
" Appp....apa itu maas ? Jangan bilang mijitin lagi. Hari ini aku sangat lelah. " Ucap Sandra memohon.
" Kan sudah ku bilang hukumannya berbeda." Alfian lalu mendekati Sandra. Sandra refleks berjalan mundur. Alfian mencondongkan tubuhnya kedepan agar wajahnya sejajar dengan wajah Sandra.
" Mas mau ngapain ?" Tanya Sandra takut.
" Mau cium istri ku. " Bisik Alfian yang tengah mengamatinya dengan intens.
Hembusan nafas mereka saling beradu. Alfian semakin mendekatkan wajahnya. Ingin Sandra menolak, tapi nasehat dari Nurul untuk membuka hati untuk suaminya itu terngiang kembali. Akhirnya Sandra pasrah. Dia memejamkan kedua matanya saat bibir lembut itu menyentuh bibirnya. Alfian melepaskan sejenak ciumannya, memberikan kesempatan untuk Sandra bernafas lalu mengulanginya lagi.
" Ini hukuman untuk mu .." Kata Alfian setelah melepaskan ciuman panas mereka.
Sandra pura-pura tidak mendengarnya. Kini wajahnya bersemu merah karena malu.
" Jangan lakukan lagi." Kata Sandra.
" Kenapa ? Kamu kan istriku.." Tanya Alfian senang.
" Tapikan.... mas sudah berjanji...."
" Kapan aku pernah mengatakannya ? Kamu memang memintanya tapi aku belum pernah menyetujuinya. Lagi pula apapun itu, kita sudah sah sebagai suami istri."
Sandra tidak bisa menjawabnya. Lagi-lagi Alfian membuatnya tidak bisa berkutik.
" Aku mau ke kamar mandi. " Ucap Sandra yang berusaha lepas dari Alfian.
Alfian terkekeh setelah Sandra masuk ke dalam kamar mandi.
" Benar apa kata Dias. Marah-marah tidak ada gunanya. Begini aku justru bisa menikmatinya. Melihatnya yang malu-malu lebih menyenangkan daripada membuatnya menangis." Batin Alfian senang.
Alfian menunggu Sandra di tempat tidur. Dirinya sibuk memikirkan bagaimana caranya agar bisa dekat dengan Sandra tanpa harus bertengkar. Baginya yang sudah terbiasa bersikap dingin dan acuh kepada siapapun harus bersikap lembut dan perhatian sangat sulit dia lakukan.
Alfian memiringkan tubuhnya ke kanan, tak lama kemudian berbalik ke kiri. Dirinya sangat bingung.
" Ah,, dulu aku tidak pernah segelisah ini saat bersama Rena. Haruskah aku mengungkapkan perasaan ku ? Tidak saat ini belum waktunya dia tahu... lalu harus gimana ? Atau aku harus membuatnya nyaman dan menyukaiku terlebih dahulu ? Tapi bagaimana caranya ? Haruskah aku bertanya kepada Dias ? Huh ...dia pasti akan menertawakan ku habis-habisan jika bertanya padanya." Batin Alfian gelisah.
" Mas kenapa ?" Tanya Sandra yang ternyata sudah selesai.
" Aku ? Emangnya aku kenapa ? " Tanya Alfian yang tidak menyadari sikapnya.
" Mm... tidak biasanya mas seperti ini. Mas tahu aku berbuat kesalahan, tetapi... tidak marah ? Ini bukan seperti mas yang aku kenal. Mas juga tidak bisa tidur sepertinya, mas kenapa ?" Tanya Sandra terheran-heran dengan tingkah Alfian.
" Aku tidak kenapa-kenapa. Aku ya begini.. Kamu saja yang tidak peka selama ini. Atau kamu lebih suka jika aku seperti yang kemarin ?!" Alfian menyangkalnya dengan ketus dan terdengar kesal.
" Tentu saja tidak !" Sandra menanggapinya dengan cepat.
" Kalau begitu jangan bahas ini lagi ! " Perintah Alfian.
" Ba...baik .." Balas Sandra.
__ADS_1
" Sini ... cepat ke sini !" Perintah Alfian menyuruh Sandra tidur di sampingnya.
Sandra tidak bergeming. " Apa yang akan Alfian lakukan ? Dia tidak ingin yang aneh-aneh kan ?" Tanya Sandra dalam hati.
" Cepat !" Alfian kelepasan dan membentak Sandra lagi.
" Cepat ke sini. " Ulangnya dengan lebih lembut versi dirinya.
Sandra pun akhirnya melangkah mendekat. Dia menaiki ranjang, menyelimuti dirinya dengan selimut lalu beringsut mendekati Alfian.
Tanpa banyak bicara, Alfian lalu menarik tubuh Sandra dan memeluknya dengan erat.
" Aa... apa yang kamu lakukan ?! " Ucap Sandra otomatis.
" Menurut saja .." Kata Alfian.
" Mas .... jangan...akuu ...aku belum siap." Tolak Sandra.
" Emang aku mau ngapain kamu ? Jangan berfikir macam-macam. Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu. Diam dan tidurlah. Aku ingin tidur seperti ini." Kata Alfian yang mulai merasakan jika jantungnya berdetak kencang.
Sandra pun begitu. Dia merasa sangat gugup. Dia merasakan apa yang dirasakan oleh Alfian juga.
Alfian berusaha keras menyingkirkan pikirannya yang lain. Berdekatan dengan Sandra seintens itu membuat nalurinya sebagai laki-laki bekerja dengan normal.
Alfian memejamkan mata untuk mengalihkan perhatian. Namun aroma rambut Sandra yang wangi dan segar membuat pikirannya semakin kacau.
"Kamu masih menyukainya ?" Tanya Alfian. Mengobrol mungkin bisa mengalihkan keinginannya terhadap Sandra.
" Maksudnya ?" Balas Sandra.
" Sssh... kamu suka sekali membalikkan pertanyaan !" Alfian menyentil kening Sandra lirih.
" Aa... sakit mas. Kepalaku masih sedikit pusing."
" Kamu pusing ?" Alfian terlihat cemas.
" Sedikit..." Jawab Sandra.
" Biar ku panggilkan dokter."
" Apa ? Tidak perlu mas ! Aku hanya perlu istirahat." Sandra mencegah Alfian yang hendak bangun.
" Kamu yakin ? "
" Iya... lagi pula tadi aku sudah minum obat sakit kepala saat di tempat Nurul."
" Ya sudah... istirahatlah.... " Alfian kemudian memeluk Sandra kembali.
" Entahlah,aku tidak tahu ini perasaan suka atau apa. Yang pasti aku ingin selalu dekat denganmu seperti sekarang ini." Batin Alfian.
Tiga puluh menit kemudian Sandra berusaha melepaskan pelukan Alfian, namun semakin dia mencoba semakin erat pria itu memeluknya. Akhirnya Sandra menyerah. Dia mendongak keatas, menatap wajah Alfian yang terpejam, entah tidur sungguhan atau hanya pura-pura tidur saja. Sandra mengamatinya dengan seksama. Ada rasa nyaman saat berada di pelukan pria itu. Namun Sandra tetap saja meragukan pria itu.
__ADS_1
" Aku tidak mengerti dengan sikap mu saat ini, hanya pura-pura baik atau sungguhan ? Aku tetap harus menjaga diri." Ungkap Sandra dalam hati.