
Hari-hari selanjutnya Sandra di sibukkan dengan rutinitas kuliah seperti biasanya. Hubungannya dengan Alfian juga semakin dekat meski pertikaian kecil masih sering terjadi. Namun sayangnya hingga saat ini Alfian belum juga menyatakan sayang atau cinta kepada Sandra sehingga membuat Sandra masih bertanya-tanya tentang perasaan Alfian yang sesungguhnya. Karena Sandra sendiri juga mulai menyadari jika dirinya mulai menyukai suaminya yang galak dan cuek itu.
Sekarang Sandra pulang dan pergi ke kampus juga sudah menggunakan sepeda motor miliknya yang dulu. Meskipun dirinya harus memohon dan membujuk Alfian dengan keras, namun akhirnya usahanya itu membuahkan hasil. Alfian mengizinkan dirinya memakai sepeda motornya kembali dengan syarat harus segera mengabari Alfian jika terjadi sesuatu dan tidak boleh terlalu lama saat berada di luar rumah. Entah kenapa akhir-akhir ini Alfian selalu menasehati Sandra untuk selalu berhati-hati.
Hari ini Sandra selesai kuliah sekitar pukul sebelas siang, karena hari ini dia hanya ada dua mata kuliah saja. Sandra yang bosan jika pulang hanya akan berdiam diri di apartemen, memilih untuk mengunjungi Nurul yang kebetulan hari itu juga sudah selesai kuliah. Dirinya masih penasaran dengan Arkha dan Nurul yang kemarin bersikap aneh saat di apartemennya, karena setelah hari itu mereka sama-sama di sibukkan dengan tugas kuliah sehingga belum sempat dan belum ada waktu untuk mengobrol lagi. Setelah berkabar lewat ponsel pintar, Sandra segera mengendarai sepeda motornya ke tempat kost Nurul. Tidak lupa Sandra membeli beberapa makanan dan cemilan untuk teman mengobrol di sana.
Sandra memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah minimarket kemudian masuk ke dalam untuk membeli minuman dan cemilan kesukaan Nurul. Karena tadi dirinya sudah membeli makanan berat berupa nasi padang kesukaannya.
Saat tengah memilih cemilan dirinya di kaget kan oleh Dokter Tian yang tiba-tiba menyapanya.
" Sedang belanja ? " Tanya Dokter Tian ramah dengan senyum manis khas dirinya.
" Eh, iya dok..." Jawab Sandra terkejut. Dirinya tidak menyangka akan bertemu dengan Dokter Tian di sana.
" Maaf untuk waktu itu... Apa Alfian marah kepadamu ??" Tanya Dokter Tian lagi.
" Oh... Tidak kok dok, dia hanya khawatir saja kepadaku. Maafkan sikapnya yang tidak begitu baik waktu itu." Jawab Sandra.
" Tidak apa-apa, justru aku melihatnya sebagai bentuk seorang suami yang sangat perhatian dan perduli dengan istrinya.."
" Ya...Hehe.. Terimakasih dok." Jawab Sandra seperlunya. Dirinya tiba-tiba ingat dengan Alfian yang melarangnya dekat-dekat dengan pria lain. Apalagi Dokter Tian. Meski sampai sekarang dirinya masih tidak tahu apa alasan Alfian melarangnya tidak boleh dekat dengan Dokter Tian yang menurutnya sangat baik dan sopan itu.
" Kenapa bicaranya formal sekali ? Ini bukan di rumah sakit. Jadi panggil saja seperti biasanya." Kata Dokter Tian.
" Mmm... Aku rasa kurang sopan jika saya memanggil seperti itu. Biar saja." Balas Sandra canggung.
" Baiklah... Mau aku bantu ?" Tanya Dokter Tian menyembunyikan kekecewaannya.
" Tidak... Tidak perlu dok. Saya hanya membeli beberapa cemilan untuk sahabat saya. Saya sudah selesai... Mari dok." Ucap Sandra menolak.
Dokter Tian memandang Sandra keheranan. Dia merasa jika Sandra sedang menghindarinya.
" Apa karena Suamimu ? Apakah dia telah mengatakan yang sebenarnya ? " Tanya Dokter Tian lirih. Lagi-lagi dia kembali menatap Sandra yang sudah selesai membayar tagihannya dan keluar dari minimarket dengan tatapan kosong.
" Huh... Tidak enak sebenarnya mengacuhkan Dokter Tian. Dia pria yang baik. Tapi..., aku memang harus menjauhinya. Aku perempuan yang sudah bersuami, jika ada orang yang mengenalku dan melihat diriku akrab dengannya, bisa-bisa jadi timbul fitnah." Kata Sandra sambil menata belanjaannya. Dengan tergesa-gesa Sandra segera pergi dari sana.
Sandra sampai di tempat kos Nurul dengan ceria. Sudah lama sejak terakhir kali dia mengunjungi sahabatnya itu.
__ADS_1
Begitu pula dengan Nurul, dia sudah menunggu kedatangan Sandra sejak tadi.
" Kena macet ya ?" Tanya Nurul sedikit khawatir.
" Tidak, aku mampir beli ini dulu." Jawab Sandra sambil menunjukkan dua kantong plastik penuh makanan.
" Oh.. Syukurlah, aku pikir kejebak macet. Ayo masuk." Ajak Nurul.
Tanpa menunggu lama Sandra langsung masuk dan merebahkan dirinya ke atas kasur.
" Hmm... Nyaman sekali... Lama aku tidak kesini. " Ucap Sandra tersenyum senang.
" Emang iya....." Balas Nurul mengiyakan perkataan Sandra.
" Lhoh ... Itu boneka siapa ? Sejak kapan kamu suka boneka Rul ?" Tanya Sandra yang kemudian melihat boneka beruang besar di pojokan kasur.
" Mm...Itu... itu bonekaku. Belum lama ini tiba-tiba aku ingin sekali punya boneka." Kata Nurul malu-malu.
Sandra mengernyitkan keningnya karena tidak puas dengan jawaban sahabatnya itu.
" Ini kamu yang beli sendiri ?" Tanya Sandra penuh selidik. Menurutnya sangat aneh baginya, karena sejak kecil Nurul tidak suka dengan boneka yang banyak di sukai oleh anak-anak dan perempuan itu.
" Teman ? Kau yakin ?" Tanya Sandra yang tidak mudah percaya begitu saja. Jarang sekali ada teman yang membelikan boneka sebesar itu jika tidak ada hubungan yang lebih dekat dan akrab.
" Huh... Oke-oke, aku mengaku... Itu boneka dari Arkha." Kata Nurul. Percuma berbohong kepada Sandra kare memang mereka sudah sangat dekat sehingga tidak mudah untuk berbohong satu sama lain.
" Arkha ?? Arkha adik Alfian ?" Tanya Sandra melotot saking tidak percayanya.
" I... Iya..." Balas Nurul takut.
" Hm .. Sepertinya sudah mulai jelas sekarang. Apa kamu tidak ingin menceritakan sesuatu kepada ku ?" Tanya Sandra sambil melipat kedua tangannya ke perut sambil duduk.
" Baiklah... Aku... Aku sudah jadian dengan Arkha..."Kata Nurul.
" Apa ?!!" Jawab Sandra terkejut. Dia memang sudah curiga jika Nurul dan Arkha pasti ada sesuatu, tapi Sandra tidak menyangka jika hubungan mereka sudah sampai di tahap itu.
Akhirnya Nurul menceritakan awal mula mereka dekat sampai mereka jadian. Sandra mendengarkannya dengan seksama.
__ADS_1
" Ya... Begitulah ceritanya. Aku sendiri masih tidak percaya jika kini aku sudah menjadi pacarnya." Ucap Nurul mengakhiri ceritanya.
" Ckckck... Aku tidak menyangka jika Arkha ternyata bisa jatuh cinta juga. Aku pikir dia sama dengan kakaknya. Hmmm ... Harusnya kamu bercerita padaku sejak awal. Tentu saja aku akan selalu mendukungmu." Jawab Sandra.
" Kamu tidak marah ?" Tanya Nurul keheranan.
" Marah.... ? Kenapa aku harus marah ? Aku justru bahagia mendengarnya. Setidaknya aku sudah mengenal Arkha. Meski kadang dia sama menyebalkan seperti kakaknya, tapi dia laki-laki yang baik dan tidak mudah tergoda oleh perempuan lain." Balas Sandra menanggapi.
Nurul tersenyum lega mendengarnya.
" Aku justru iri padamu... Arkha jauh lebih berani dan tegas dari yang aku bayangkan. Dia bisa dengan cepat menyatakan perasaannya kepada mu. Berbeda dengan kakaknya, sampai sekarang dia masih belum menyatakan apapun pada ku. Kadang hal itu membuatku pusing sendiri.. Dia baik, perhatian..., dan sangat peduli pada ku. Bahkan dia sering menggombal dan merayu.. Tapi ,, sampai detik ini belum ada kepastian tentang perasaannya kepadaku." Imbuh Sandra sedih.
Nurul yang kemudian duduk di sampingnya menepuk pundak Sandra untuk memberikan ketenangan.
" Setiap orang mempunyai cara yang berbeda untuk menunjukkan perasaannya. Mungkin Alfian tipe laki-laki yang langsung membuktikan perasaannya dengan tindakan tanpa harus mengatakan." Kata Nurul.
" Entahlah.... Lupakan masalah ku. Lagi pula kini hubungan kami jauh dan jaa....uh lebih baik dari pada dulu. Dan aku sangat bersyukur karena itu. Dan untuk mu... Selamat.. Aku bahagia mendengarnya, tapi ingat...., lain kali jangan berbohong atau menyembunyikan sesuatu lagi pada ku !" Ucap Sandra pura-pura kesal.
." Hehehe... Iya... Maafkan aku... Lain kali apapun yang terjadi aku akan langsung cerita kepadamu."
" Nah gitu dong." Keduanya lalu saling berpelukan. Bahagia rasanya bisa berbagi cerita dengan sahabat.
" Semoga saja kamu segera menyusul ku menikah. Aku sudah tidak sabar memanggil mu adik ipar..." Ucap Sandra setelah melepaskan pelukannya.
" Be... Belum... Aku rasa tidak akan secepat itu. Aku sudah bilang padanya jika aku ingin menyelesaikan kuliah dulu." Balas Nurul tergagap.
" Ohh, baiklah... Aku mendukung apapun keputusan mu. Yang penting kalian bahagia. Jika dia menyakitimu katakan saja padaku. Biar ku remek jadi rempeyek dirinya !" Sambung Sandra.
" Jangan lah... Kalau dia jadi rempeyek aku gak bisa hidup...." Balas Nurul.
" Hahaha... Nurul... Gak nyangka aku, ternyata kamu udah sebucin itu sama Arkha." Ledek Sandra.
" Aaa.... Sandra !!! " Balas Nurul yang tersipu malu mendengarnya.
" Makan aja yuk. Kamu bawa apa ?!" Lanjut Nurul mengalihkan perhatian, wajahnya masih merona merah karena malu ditertawakan sahabatnya.
" Aku bawa nasi padang. Tapi makannya sambil lihat drakor ya ? Kemarin aku dapat rekomendasi drakor yang keren abis ceritanya." Kata Sandra.
__ADS_1
" Siapp !" Balas Nurul setuju.
Keduanya kemudian menikmati makan siang sambil melihat drakor dan bercengkrama bersama.