
" Gak usah ... Biar aku saja,, aku bisa sendiri..." Gilang berkata kesal saat Moza memaksa menyuapinya makan siang.
" Gak apa-apa honey, biar aku saja ...Aaakk..." Sahut Moza yang sudah siap menyuapkan nasi ke mulut Gilang.
" Aku bukan bayi Moza..." Tegur Gilang.
" Aku tahu, ayo cepetan,keburu dingin." Ucap Moza tak menyerah.
" Ck, yang sakit itu hidung ku ,bukan tanganku." Kata Gilang lagi.
" Iya, aku juga tahu itu...."
" Kalau sudah tahu, biarkan aku makan sendiri." Lanjut Gilang bersungut-sungut.
Moza menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gemas.
" No, no , no, selama ada aku di sini, aku yang akan mengurus dirimu. Termasuk menyuapi mu ..." Kata Moza memaksa.
" Aak... Ayo , sekarang buka mulutmu pelan-pelan... " Pinta Moza.
Dengan terpaksa Gilang menerima dan menuruti kemauan Moza dengan perasaan kesal karena di perlakukan seperti anak kecil.
Ehem
Alfian berdeham mengagetkan Gilang dan Moza.
" Kau ....!" Ucap Gilang terperanjat. Dia terkejut melihat Alfian sudah ada di kamarnya.
" Ck, tak ku sangka....Kamu begitu manja dan olokan." Ejek Alfian sambil melangkah mendekat.
" Ini tidak seperti yang kau lihat." Balas Gilang mati gaya.
" Dasar bayi besar..." Ejek Alfian lagi.
" Aku bukan bayi ! " Sanggah Gilang .
" Ya kau bukan bayi,tapi seperti bayi... "
Moza yang melihat perdebatan konyol antara calon tunangannya dengan Alfian, memilih untuk meninggalkan mereka. Dia tahu pasti ada yang perlu mereka bicarakan setelah kejadian buruk beberapa hari yang lalu.
" Lemah, baru segitu saja sudah masuk ke rumah sakit!" Lanjut Alfian setelah Moza tidak terlihat di kamar itu.
" Berengsek ! Lihat gara-gara ulah mu, aku kehilangan hidung ku yang mancung alami." Umpat Gilang setengah kesal.
" Ck... Oke ,, aku mengaku salah....Aku yang keterlaluan. Kedatangan ku ke sini untuk mengakui kesalahan ku itu dan meminta maaf secara langsung. Maaf ... " Kata Alfian tulus.
Gilang menatapnya tak percaya. Seorang Alfian berani menurunkan egonya dan meminta maaf secara langsung. Seperti bukan Alfian yang dia kenal.
__ADS_1
" Gimana ? Apakah maafku di terima ?" Imbuh Alfian yang tak kunjung di tanggapi oleh Gilang.
" Engg .. Kau hanya ingin meminta maaf ? " Tanya Gilang menanggapi.
Alfian mengerutkan keningnya tidak mengerti.
" Ya sudahlah... Kau mana bisa peka dengan kondisi orang lain !" Kata Gilang.
" Jangan berbelit-belit seperti seorang gadis. Katakan dengan jelas apa maksudmu, karena aku bukan cenayang yang bisa menebak isi hati mu !" Sahut Alfian.
" Ya..ya..ya... Aku sudah memaafkan mu. Puas ??" Balas Gilang lagi.
" Terimakasih. Hal itu yang sejak tadi aku tunggu-tunggu." Ucap Alfian yang merasa Gilang berbelit-belit.
" Dasar ,pelit !! Lain kali jika ingin menjenguk orang sakit , setidaknya bawalah buah tangan ... " Sindir Gilang.
" **** ! Aku terlalu sibuk . Aku bisa berdiri di sini seperti sekarang saja seharusnya kau bersyukur. Dari pada kau harus bersusah payah mencari ku." Balas Alfian tidak terima.
" Alasan... " Gilang melemparkan guling kepada Alfian.
" Bagaimana dengannya ?" Tanya Gilang kemudian.
" Maaf jika aku membuat masalah kalian semakin melebar." Imbuhnya.
" Dia baik. Dan kami sudah menyelesaikan semuanya. Kuharap untuk ke depannya kau hanya perlu menjaga sikap !" Ucap Alfian mulai serius saat membahas Sandra.
" Minggu depan aku akan bertunangan dengan Moza , Ku harap kalian berdua bisa hadir." Kata Gilang kemudian.
" Kau yakin dengan keputusan mu itu ?" Tanya Alfian.
" Kenapa ? Kau masih berpikir jika Moza hanya tempat pelampiasan ?" Gilang balik bertanya.
Alfian mencibir dan mengangkat kedua bahunya mengejek.
" Awalnya, aku sendiri yang mengulur-ulur waktu untuk meyakinkan diri sendiri, agar kelak tidak ada kekecewaan dan penyesalan dalam hubungan kami. Tapi semakin hari aku semakin yakin.. Jika memang aku tertarik dengan Moza." Ucap Gilang jujur dan sedikit gengsi mengakuinya fi depan Alfian.
" Jika memang seperti itu yang kau rasakan, aku akan mendukungmu sepenuhnya. Baiklah, kurasa sudah cukup. Aku harus pergi sekarang." Ucap Alfian kemudian berbalik.
" Tapi ingatlah, Jika kelak dirimu sampai menyakiti Sandra, aku tidak akan pernah memaafkan mu lagi. Aku memang sudah tidak mencintainya, tapi aku peduli padanya seperti aku peduli dengan nyawaku sendiri." Tutur Gilang.
Langkah Alfian terhenti, kemudian dirinya menoleh ke belakang sambil tersenyum miring.
" Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah menyakitinya. Tapi terimakasih banyak sudah peduli dengan istriku, dengan begitu...,, aku tidak perlu repot-repot menambah dan membayar mahal orang untuk menjaganya." Kata Alfian menarik sudut bibirnya kemudian berlalu pergi.
" Sial !!!" Umpat Gilang setengah berteriak.
Kini tidak ada beban lagi yang mengganjal di antara keduanya. Alfian sadar jika Gilang hanya peduli dengan Sandra, tidak lebih. Mungkin karena Sandra pernah menyelamatkan hidupnya sehingga Gilang bersikap seperti itu. Sementara Gilang terlihat lega karena kesalahpahaman antara dirinya dengan Alfian sudah selesai.
__ADS_1
Tanpa Gilang sadari, Moza sejak tadi menguping pembicaraan mereka dari balik pintu. Senyumnya terus mengembang saat mendengar pengakuan dari Gilang jika ternyata pria yang dia cintai itu mulai tertarik kepadanya. Itu tandanya, pertunangan mereka bukanlah pertunangan keinginan sepihak. Meski belum cinta, Moza berharap seiring berjalannya waktu, Gilang bisa menerima dan mencintainya seutuhnya.
*****
Di lain tempat,, Bu Reisa sedang sibuk menyiapkan semua berkas dan sertifikat tanah beserta rumah yang dia tinggali sekarang. Dengan berat hati, dia harus menjual rumah peninggalan orang tuanya itu. Mau bagaimana lagi ? Uang tabungan sudah sangat menipis, papa Rena juga masih tidak ada kabar hingga saat ini. Sedangkan Bu Reisa sudah memutuskan jika putrinya harus segera keluar dari penjara. Dia tidak ingin putrinya di aniaya oleh teman-teman satu selnya lagi. Hasil penjualan dari rumah, akan dia gunakan untuk menebus Rena, sisanya akan dia belikan rumah biasa, yang penting ada tempat tinggal untuk dirinya dan Rena tanpa harus pusing memikirkan uang sewa. Jika masih ada sisa lagi, akan dia gunakan untuk modal usaha kecil-kecilan, seperti buka warung atau berjualan kue, karena hanya keahlian itulah yang Bu Reisa miliki. Karena selama ini, suaminya lah yang menjalankan bisnis turun temurun dari keluarganya. Untuk biaya operasi plastik Rena, dia berharap putrinya bisa bersabar dan menerima terlebih dahulu keadaannya.
Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya. Bu Reisa menyuruh bibi ART nya ke ruangannya. Dengan berat hati, Bu Reisa harus memberhentikan Bibi Susi, ART yang sudah puluhan tahun ikut bersamanya. Bahkan ikut membantunya membesarkan Rena.
" Maaf ya bik... Saya tidak bisa mempertahankan bibi lagi. Rumah ini harus saya jual untuk mengeluarkan Rena dari penjara. Sudah tidak ada cara lagi, Alfian sudah benar-benar tidak perduli dengan putri saya. Tidak ada tempat lagi untuk mencari bantuan. Bibi tahu sendiri, semua kerabat dan teman-teman saya menjauh dan seolah-olah tidak mengenal saya setelah kejadian itu." Kata Bu Reisa menatap sendu.
Bibi Susi terisak mendengar penuturan majikannya. Dia juga turut prihatin dan sedih atas apa yang menimpa keluarga majikannya itu. Bukan karena takut kehilangan pekerjaannya yang membuatnya kehilangan pendapatan, tapi karena selama bekerja dengan Bu Reisa , dia tidak pernah diperlakukan dengan buruk meskipun temperamen majikannya sangat buruk. Bibi Susi di perlakukan layaknya keluarga sendiri karena memang sudah sejak Rena kecil dia ikut membantu mengasuhnya. Selama bekerja, tidak ada tekanan maupun masalah yang menyangkut gaji maupun hari libur.
" Ini gaji terakhir bibi, dan juga ada sedikit pesangon dari saya bi. Semoga cukup membantu bibi dan untuk ongkos pulang kampung." Lanjut Bu Reisa yang tak kuasa menahan air matanya. Baginya Bibi Susi bukanlah orang lain, dan hanya bibi Susi lah yang bisa sabar dan telaten melayaninya yang terbilang bawel dan gampang marah.
" Tidak perlu repot-repot nyonya. Bibi masih punya sedikit tabungan." Tolak Susi yang tahu bagaimana kondisi keuangan Bu Reisa.
" Gak bi, ini sudah jadi hak kamu." Kata Bu Reisa kemudian memasukkan amplop itu ke dalam tas jinjing berisi pakaian milik Bibi Susi.
" Makasih banyak nyonya. Maafkan bibi tidak bisa bantu apa-apa. Bibi cuma bisa berdoa semoga nyonya di beri kekuatan dalam menghadapi cobaan sekarang ini. Di beri kesehatan dan kelancaran, sehingga semua yang menimpa nyonya dan keluarga segera bisa teratasi." Ucap Bibi Susi di sela-sela Isak tangisnya.
" Aamiin. Makasih banyak bi doanya. Hati-hati di jalan saat nanti pulang." Kata Bu Reisa yang tak kalah sedihnya harus kehilangan Bibi Susi.
" Baik nyonya. Kalau begitu, saya pamit nyonya.. Jangan lupa jaga kesehatan nyonya. Semoga nanti kita bisa berjumpa lagi." Ucap Bibi Susi kemudian meninggalkan Bu Reisa yang menangis tanpa suara.
Beberapa saat setelah kepergian ART nya , Bu Reisa menghapus air mata dan ingusnya. Bu Reisa sebisa mungkin menata hatinya kembali dan memantapkan keputusan yang akan dia ambil. Dengan yakin, Bu Reisa kemudian pergi menemui seorang notaris untuk membantu menjualkan rumahnya. Untung saja rumah itu atas nama dirinya dan tidak ikut di jadikan sebagai bahan jaminan perusahaan sehingga kepemilikan rumah itu masih sah dan aman.
Setelah mengobrol, bernegosiasi dan deal dengan harga yang sudah di sepakati bersama. Bu Reisa tinggal menunggu kabar dari notaris itu. Bu Reisa kemudian kembali ke klinik tempat dimana Rena masih di rawat. Dia tidak bisa meninggalkan Rena berlama-lama karena Rena masih sangat perlu dukungan darinya. Setiap hari gadis itu masih uring-uringan dan berteriak menyesali wajahnya yang rusak gara-gara ulah teman-teman satu selnya. Jika tidak segera mengeluarkan Rena dari penjara, Bu Reisa takut lama-kelamaan mental Rena juga akan terganggu.
Selama dalam perjalanan menuju rutan , Bu Reisa terus berpikir. Dia ingin menjalani hidup baru dengan putrinya seorang. Bu Reisa ingin mulai dari nol lagi, serta ingin meminta maaf kepada Alfian dan juga Sandra lalu memulai lembaran baru. Tapi bagaimana caranya ? Rena pasti tidak akan setuju dan menentangnya dengan keras. Putrinya itu masih sangat berambisi ingin memiliki Alfian kembali bagaimanapun caranya.
Sedangkan yang ada di benak Bu Reisa, semua yang terjadi di hidupnya sekarang ini,, mungkin merupakan teguran dari Tuhan agar berhenti berbuat jahat kepada orang lain dan juga balasan dari apa yang telah mereka perbuat di masa lalu.
Bu Reisa masih ingat betul, dulu dengan sengaja dia dan Rena selalu menjadikan Alfian sebagai sapi perah untuk memenuhi semua keinginannya dan juga keinginan putrinya. Tidak perduli jika Alfian dan Tuan Wijaya akan bertengkar hebat karena ulah mereka. Baginya, Alfian yang sedang di butakan oleh cinta membuatnya mempunyai ladang harta karun yang tidak ada habisnya. Sayangnya, setelah Tuan Wijaya berhasil mengirim Alfian ke luar negeri, Rena juga memutuskan untuk ikut keluar negeri,, bukannya untuk menyusul Alfian,, tapi malah memilih sebagai simpanan dari seorang produser. Rena yang saat itu terlalu ambisius dengan karir dan cita-citanya , mau begitu saja di bodohi dan mengikuti keinginan pria hidung belang itu meski Bu Reisa sudah berulang kali menasehatinya.
Dan penyesalan pun terjadi. Setelah sama-sama kembali dari luar negeri, semuanya berbeda, semuanya berubah.. Rena memang sukses meniti karirnya di dunia hiburan sebagai artis pendatang baru yang paling ngetop dan sedang naik daun. Banyak tawaran shooting dari sana sini. Tapi kebusukannya mulai tercium oleh istri sah produser itu, sehingga Rena memutuskan untuk kembali mengejar Alfian sebagai pengalihan. Sayangnya, Alfian ternyata sudah menikah dengan Sandra. Hal itu membuat Rena terkejut, bagaimana tidak ?? Alfian begitu mencintainya, bahkan sampai terdengar kabar jika hubungan Tuan Wijaya dan Alfian merenggang dan tak pernah berkomunikasi selama bertahun-tahun karena Alfian masih belum bisa melupakan dirinya.
Rena yang merasa tersaingi karena ada orang lain yang bisa merebut perhatian dan cinta Alfian darinya merasa sangat marah. Sehingga dia nekat melakukan berbagai rencana untuk memisahkan mereka berdua. Mulai dari mendatangkan Tian untuk mengganggu rumah tangga mereka, sampai akhirnya dia datang ke kampung dan mengancam serta melabrak ibu Sandra yang menyebabkan Ibu Lastri shock dan penyakitnya kambuh sehingga meninggal dunia.
Dari situlah awal mula kehancuran Rena. Dia tidak menyangka jika Alfian akan membuat perhitungan dengannya dan menyuruh orang untuk membongkar aibnya di media sosial sehingga masalah demi masalah hadir di dalam keluarganya dan menghancurkan mereka semua.
Bu Reisa kembali terisak mengingat hal buruk yang telah dia lakukan. Bukannya menghentikan ulah Rena yang nyata berbuat salah, Bu Reisa justru ikut-ikutan mengusik kedamaian rumah tangga Alfian dengan Sandra. Sungguh, Bu Reisa kini sangat menyesal. Tidak ada yang tersisa lagi di hidupnya akibat ulahnya dan juga putrinya. Dia sudah kehilangan suaminya yang hilang kabar, kehilangan perusahaan turun temurun dari keluarganya,dan sebentar lagi akan kehilangan rumah mewah warisan dari keluarganya.
Di tambah masalah yang menimpa Rena membuatnya semakin terpuruk dan menyesal. Dia tidak menyangka, putri yang sangat dia sayangi dan dia banggakan akan bernasib buruk seperti itu. Sudah di penjara, masih diberi cobaan dengan wajahnya yang rusak.
"Ya, mungkin beginilah cara Tuhan menegurku.." Batin Bu Reisa sedih.
" Sekarang aku harus bisa meyakinkan dan membuat Rena menerima semuanya dan mau membuka lembaran baru. Aku tidak ingin nantinya semakin menyesal." Imbuh Bu Reisa penuh harap.
__ADS_1