
Sore itu Sandra dan Alfian sudah bersiap menunggu sopir yang akan menjemput mereka.
Setelah berpamitan dan mendengarkan banyak wejangan dari Bu Lastri Sandra memeluk dan mencium ibunya dengan sedih.
" Jaga diri ibu , jangan capek-capek. Makan yang teratur. Sandra usahain Sandra bakal sering pulang nengokin ibu. " Kata Sandra sambil menahan tangis.
" Iya, jangan khawatirkan ibu, kamu ingat-ingat tadi apa nasehat ibu. " Balas Bu Lastri tersenyum.
" Nak Al, ibu titip anak ibu ya, tolong jagain Sandra. Ibu senang karena sekarang anak ibu sudah ada yang jagain ketika jauh dari ibu. " Lanjut Bu Lastri.
Seperti biasa, Alfian hanya mengangguk untuk mengiyakan permintaan Bu Lastri.
Bu Lastri tersenyum melihatnya. Meskipun calon menantunya itu sedikit bicara dan terkesan acuh . Namun dalam hati seorang ibu, Bu Lastri yakin Alfian anak yang baik,dan beliau bisa percayakan putrinya kepadanya. Karena setahu Bu Lastri, selama ini Alfian selalu menuruti keinginan Pak Wijaya meskipun itu bertolak belakang dengan keinginannya.
Itu artinya Alfian lebih mementingkan orang yang dia sayangi daripada keinginan hatinya sendiri.
Tak berselang lama sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Sandra.
Seorang sopir keluar dari pintu mobil dan menghampiri mereka.
" Sudah siap Tuan , nona. Silahkan. " Kata sopir tersebut.
Tanpa bicara Alfian segera berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Sedangkan pak sopir membawakan kedua tas ransel Sandra dan menaruhnya di dalam bagasi mobil.
Sandra memeluk ibunya sekali lagi. Ada rasa berat di dalam hatinya karena harus meninggalkan ibunya seorang diri.
" Sandra pamit buk . " Ucap Sandra dengan buliran air mata yang mengalir begitu saja.
" Iya, hati-hati. Sudah jangan menangis. Sudah sana, nanti nak Al kelamaan menunggu. " Ujar Ibu Sandra.
Sandra pun mengangguk dan berjalan masuk ke dalam mobil mengikuti Alfian.
Sandra tak hentinya melambaikan tangan saat mobil mulai melaju. Sempat dia melihat ibunya mengusap kedua matanya sebelum mobil berbelok keluar dari pekarangan rumahnya.
Sedih, itu yang Sandra rasakan saat ini.
" Sandra janji Bu, Sandra akan bekerja keras dan kembali untuk bawa ibu ikut Sandra. Doain Sandra bisa sukses, agar Sandra bisa bahagiain ibu. " Batin Sandra sesak.
" Ehemm ... " Deham Alfian. Dia tau saat ini Sandra sedang sedih berpisah dengan ibunya.
" Begitu saja cengeng, kau ini pergi untuk bekerja bukan pergi untuk selamanya. Dasar cewek ! " Kata Alfian sengaja mengolok Sandra.
Namun Sandra tetap diam saja. Apa yang dikatakan Alfian memang benar. Namun berpisah dengan ibunya kali ini membuatnya sangat sedih apalagi setelah kepergian Pak Imam. Ada kesedihan yang tidak bisa dijelaskan kepada siapa pun.
Sandra menunduk dan terisak.
Tidak ada , tidak ada yang bisa memahaminya. Tidak ada yang tau bagaimana perasaannya saat ini.
Bayangan-bayangan masa lalu saat hidup bersama bapak dan ibunya meski pahit tapi sangat ia rindukan.
Saat ayahnya mengantarkan ke sekolah dengan becak, Sandra tidak malu sama sekali, justru dia sangat senang karena bisa berlama-lama menikmati suasana pagi bersama ayahnya, dan tak jarang Sandra di beri uang atau makanan secara cuma-cuma oleh pelanggan ayahnya untuk bekal sekolah.
Saat makan bertiga adalah hal yang paling Sandra ingat, lauk seadanya bahkan sering mereka makan hanya dengan satu telur dadar yang dibagi menjadi tiga. Agar ibunya bisa memutar uang untuk belanja sayur yang ia jajakan dan untuk membayar hutang kepada tetangga karena untuk pengobatan ayahnya.
Sandra semakin tersedu mengingat hal itu, kenangan pahit tapi sangat ingin dia ulang lagi. Saat-saat dia bisa berkumpul dengan keluarga, saat suka duka yang dulu mereka lewati bersama. Ingin Sandra kembali ke masa itu. Tapi kenyataannya sekarang, ayahnya telah tiada , dia bekerja di kota dan ibunya tinggal di rumah sendiri. Terasa ada beban berat yang menyakiti hatinya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Al yang melihat Sandra justru menangis semakin kencang . Sedikit banyak ikut prihatin. Dia sendiri pernah mengalami hal itu. Disaat ibunya sudah tiada, adik-adiknya masih kecil ,Alfian di kirim ke luar negeri meninggalkan ayah dan kedua adiknya dan berjuang sendiri di negeri orang. Bedanya , mereka yang dia tinggalkan tidak seorang diri. Dan justru kebersamaan mereka malah membuat Alfian cemburu dan semakin marah kepada ayahnya karena merasa ayahnya tidak adil memperlakukan dirinya.
" Hapus dengan ini dan buang . " Kata Alfian sambil menyodorkan sebuah sapu tangan.
Sandra menoleh dan tersadar jika dia tidak sendirian di dalam mobil. Antara malu dan canggung Sandra mengambil sapu tangan itu dan membersihkan hidungnya.
__ADS_1
" Terima kasih. " Ucap Sandra.
" Tidak masalah, aku hanya tidak ingin mobilku ini kotor karena ingusmu itu ! "
" Apa ?! " Kata Sandra sedikit keras. Dia tidak percaya karena itu Alfian memberikan sapu tangan kepadanya.
Al tersenyum dan melihat ke depan.
" Hishh , aku pikir kau sedikit punya hati nurani Tuan, ternyata aku salah besar. Kau tetap manusia yang menyebalkan dan tidak punya perasaan. " Omel Sandra dalam hati.
Mobil melaju semakin kencang karena hari sudah mulai malam. Setiba di kost , Sandra turun dari mobil. Pak sopir membantu membawakan tas ransel Sandra.
" Tidak usah Pak, biar saya yang bawa sendiri, terima kasih bantuannya." Ucap Sandra .
" Tapi nona ,tas ini sangat berat. "
" Tidak masalah, saya lebih sering membawa beban yang lebih berat dari itu. " Seloroh Sandra sambil tersenyum.
" Non ini bisa saja ."
" Ya sudah, saya taruh di sini ya non . " Ucap Pak sopir lagi.
Sandra mengangguk dan menoleh ke dalam mobil.
" Tuan , terimakasih sudah mengantarkan saya terlebih dahulu. " Ucap Sandra tulus.
" Terpaksa ! " Jawab Alfian.
Sandra tersenyum dan tidak mengambil hati ucapan Alfian.
Ada banyak beban yang sedang dia pikirkan saat ini daripada meladeni sikap Alfian yang tidak mengenakan.
" Saya masuk dulu . Sekali lagi terima kasih. " Kata Sandra lagi.
Kaca mobil tertutup. Pak sopir segera melajukan mobil itu kembali.
Setelah itu dia mengambil kedua tas ransel miliknya dan dua tas belanja untuk sahabatnya.
Dengan pelan Sandra memasuki gerbang pintu kost dan berjalan menuju kamarnya.
Belum juga sampai sudah ada Nurul yang berteriak menghampirinya.
" Sandra .... ! " Teriaknya
" Kangennnn .... " Lanjut Nurul sambil memeluk erat Sandra.
Sandra tersenyum mendengar suara cempreng sahabatnya lagi.
" Sini aku bantuin bawa . " Nurul menawarkan diri membantu Sandra.
" Sandra dengan senang hati menyerahkan satu tas ransel dan kedua tas belanjanya.
" Kenapa gak ngabarin kalau sudah mau kembali kesini ? " Tanya Nurul antusias.
" Kejutan ... " Ucap Sandra.
" Kau masih sedih. " Kata Nurul tiba-tiba.
" Tidak. " Timpal Sandra.
" Kamu tidak bisa berbohong padaku. "
" Kamu itu ... " Senyum Sandra.
__ADS_1
" Ya sudah ayo masuk . Buka dulu pintunya. Setelah itu kita bisa ngobrol sepuasnya." Ajak Nurul.
Sandra pun membuka pintu kost kamarnya dan masuk terlebih dahulu.
Masih tetap sama. Tidak ada yang berubah selama dia tinggal pulang. Hanya saja sudah banyak debu di ruangan itu.
" Sepertinya aku harus membersihkan semua ini terlebih dahulu. " Ucap Sandra.
" Tenang saja,aku akan membantumu. " Timpal Nurul.
Mereka berdua sama-sama membersihkan kamar kost Sandra.
Setelah selesai Sandra dan Nurul berbaring di tempat tidur.
" Kau kenapa San ... Aku perhatikan kamu lebih pendiam dari biasanya. " Tanya Nurul kemudian.
" Tidak kenapa-kenapa. Hanya saja aku kepikiran ibu. Berat sekali rasanya ninggalin ibu sendiri. " Kata Sandra terus terang.
" Ohhh Bi Lastri. Jangan sedih dan berpikir terlalu cemas. Serahkan saja kepada ku, aku pastikan bibi tidak akan kesepian atau pun sedih di rumah. "
" Caranya ? "
" Kau ini San, kamu melupakan aku dan keluargaku. Tentu saja.. Ibu dan ayah ku tidak akan membiarkan bibi sedih dan kesepian di sana. Jangan merasa kau dan ibumu sendirian di dunia ini. Kita ini keluarga. Ingat itu ! " Kata Nurul .
Mata Sandra berkaca-kaca mendengar tutur kata Nurul . Hatinya terharu, ternyata masih ada yang peduli dan sayang melebihi saudara sendiri kepadanya dan juga ibunya. Tanpa berucap lagi. Sandra memeluk Nurul dan menangis sepuasnya.
" Sudah... jangan menangis lagi, kalau tunangan mu itu melihatmu sekarang pasti dia akan senang mengejek wajah jelekmu saat ini . " Seloroh Nurul.
" Nurullll...... ! " Rengek Sandra sambil mencubit gemas lengan sahabatnya.
" Auuh sakit ! Aku balas ni ... ! " Ancam Nurul.
" Habisnya, kamu sama nyebelin kaya Tuan Al ! "
" Hehehe, ya maaf ... " Kata Nurul cengengesan.
" Oya , aku melupakan sesuatu . " Kata Sandra beranjak dari tempat tidur.
" Ini , ini untuk mu .. " Lanjut Sandra menyerahkan satu tas belanja kepada Nurul.
" Untuk ku ?? "
" He eh , bukalah. " Perintah Sandra.
" What ?! Wow ..... Sandra ! Ini beneran, ini kan baju dari brand Gucci . Keren sekali. Dan ini ,, tas ini .. Astaga Sandra , aku ngeri melihat harganya. Serius ini buat aku ? " Kata Nurul heboh.
" Dua rius ! " Timpal Sandra .
" Tunggu, kamu dapat dari mana baju ini .. Inikan mahal sekali. " Tanya Nurul.
" Lihat semua isi tas ransel ku, di rumah masih ada satu lemari penuh. Tuan Al yang membelikannya. " Ucap Sandra.
" What ?? Jadi semua ini laki-laki itu yang beliin kamu. Ternyata dia baik juga, tak seburuk yang aku pikirkan. "
Sandra memutar kedua bola matanya dengan malas.
" Baik dari mananya. Kau belum tau gimana aslinya." kata Sandra.
Nurul hanya diam. Tidak berani menanggapi Sandra. Karena dia sendiri memang tidak tahu bagaimana sifat asli seorang Alfian.
" Hms semoga ada keajaiban untuk hubungan kalian. " Ujar Nurul akhirnya.
" Oya, terimakasih ya .... " Kata Nurul lagi sambil tersenyum bahagia menenteng tas pemberian Sandra .
__ADS_1
" Sama-sama. " Balas Sandra yang juga tersenyum.
Hari semakin malam, Sandra dan Nurul saling mengobrol dan bercengkrama bersama. Nurul juga tidur bersama Sandra setelah perdebatan panjang dengan Sandra yang tidak mau tidur dengannya karena Nurul yang tidur tidak bisa diam putar kanan putar kiri seperti gangsing. Dan jangan lupa, Nurul suka ngiler kalau tidur .