Jodoh Pilihan Bapak

Jodoh Pilihan Bapak
Acara Kecil-kecilan di Apartemen


__ADS_3

Keesokan harinya Sandra bangun dengan bersemangat. Dirinya sudah tidak sabar menunggu kedatangan Nurul, Neta, dan juga teman-temannya. Saking senangnya, Sandra beberes rumah lebih awal dan menyiapkan ruangan untuk mereka berkumpul. Tidak lupa Sandra memberikan sedikit hiasan dan dekorasi agar apartemennya tidak terlihat terlalu kosong.


Sandra sendiri sudah menyiapkan sebuah lukisan yang telah selesai dia buat. Sandra membuat sebuah lukisan bergambar keluarga lengkapnya. Dirinya dan Alfian duduk dan di apit oleh ayah dan ibunya, sedangkan di belakangnya berdiri Pak Wijaya, Neta dan Arkha. Gambar itu terlihat begitu hidup. Tanpa Sandra sadari kedua matanya kembali berembun. Dirinya menjadi teringat kembali dengan kedua orangtuanya yang telah almarhum.


" Jika saja bapak dan ibu masih ada... Sandra merindukan kalian.... " Ucap Sandra lirih.


Alfian yang melihatnya kemudian merangkul bahunya dari belakang untuk menguatkannya. Dia tahu apa yang tengah istrinya itu rasakan.


Melihat wajah Sandra yang sendu membuat hati Alfian ikut sedih. Dia tahu kehilangan orang yang sangat disayangi itu sangat sakit. Alfian sendiri pernah merasakannya saat ibunya meninggal karena kecelakaan. Bahkan saat itu dirinya masih remaja dan adik-adiknya masih kecil. Tapi berbeda dengan Sandra... Meski tidak bersamaan, kedua orang tuanya meninggal dengan jarak yang tidak begitu lama. Tentu hal itu membuat kesedihan Sandra yang hampir menghilang kembali dihempaskan oleh kenyataan yang menyakitkan.


" Kuatkan dirimu... Saat ini bapak dan ibu sudah tenang di sana. Jika kamu merindukan mereka, nanti aku antar ke makam mereka kapanpun kamu menginginkannya." Ucap Alfian lembut sambil menghapus air mata di kedua pipi Sandra.


Sandra semakin berlinang mendengarnya. Ada kehangatan yang menyelimuti hatinya. Kini Alfian bukan lagi sosok yang dia takutkan, justru laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu kini lebih peka dan perhatian terhadapnya. Sandra merasa jika memang kini Alfian telah banyak berubah. Bukan lagi Alfian yang galak dan dingin seperti yang dulu dia kenal.


" Ayo aku bantu." Alfian kemudian mengambil lukisan yang telah di bingkai itu kemudian memasangnya di dinding ruang tamu.


Sejenak Alfian ikut menatap lukisan itu. Dalam hati dia berjanji kepada almarhum bapak dan ibu Sandra untuk menjaga dan melindunginya sepenuh hati.


" Sudah kan ? Lukisan ini sangat indah." Puji Alfian kemudian.


Sandra tersenyum mendengarnya.


" Makasih mas." Balas Sandra tersenyum.


" Oya, aku sudah menghubungi kembali Bu Henny. Dia bilang sebentar lagi makanan yang aku pesan siap di antarkan." Ucap Alfian.


" Oke mas, terimakasih sudah mengizinkan mereka datang ke sini." Lanjut Sandra.


" Tidak masalah, asal kamu senang aku juga senang."


Sandra tersipu mendengarnya. Lagi-lagi suaminya itu bisa mengambil hati dari dirinya.


Sandra kemudian menatap meja makan yang akan mereka gunakan. Karena meja itu tidak terlalu besar, Sandra dan Alfian menggabungkannya dengan meja yang ada di ruang kerja Alfian. Setelah selesai Sandra menutupinya dengan taplak meja dan menaruh vas bunga segar di tengahnya.


Tidak lama kemudian suara bel berbunyi. Sandra segera berlari ke depan untuk membukanya.


" Kak Sandraaa...." Ucap Neta yang langsung memeluknya begitu pintu terbuka.


" Hai Neta...." Balas Sandra yang gembira dengan kedatangan adik iparnya itu.


" Oya ada hadiah buat kakak... " Kata Neta setelah melepaskan pelukannya.


Satu buah buket bunga mawar segar dan sebuah kado yang lumayan besar Neta rampas dari Arkha kakaknya.


" Ini... Kenapa kalian berdua repot-repot begini ? Kan kakak jadi enak menerimanya." Gurau Sandra terkekeh.


" Hehehe, kakak suka bergurau juga ya sekarang ?" Kata Neta yang ikutan terkekeh.


" Kalau begitu, nanti harus di pakai hadiah dari kami ." Sambung Arkha yang tersenyum jahil.


" Mm... tapi isinya bukan yang aneh-aneh kan ?" Tanya Sandra tersenyum curiga.


" Ten... tentu saja tidak." Ucap Neta sambil melirik Arkha.


" Siapa sayang ?" Tanya Alfian dari dalam.


" Oya lupa, ayo masuk..." Ajak Sandra kepada kedua adik iparnya.


Neta dan Arkha kemudian masuk ke dalam.


" Kalian sudah datang ?" Tanya Alfian.


" Kalau sudah sampai di sini ya berarti sudah lah !" Ucap Arkha .


" Ck... Namanya juga basa-basi." Balas Alfian sambil melemparkan bantal sofa kepada Arkha.


Dengan sigap Arkha menghindari lemparan dari kakaknya itu.


" Wah.. Apartemen kakak sekarang lebih hidup ya. Gak kaya yang dulu ... Monoton aja begitu. Sekarang sudah banyak dekorasi dan hiasannya." Komentar Neta setelah melihat sekeliling.


" Ya iyalah.. Kan sekarang udah ada kakakmu, dia yang mendekor ulang dan memasang beberapa hiasan rumah." Sahut Alfian bangga.


" Ini lukisan mu ?" Tanya Arkha yang melihat lukisan yang tadi Alfian pasang.


" Iya... Maaf jika tidak mirip." Ucap Sandra malu.


Arkha menggelengkan kepalanya.


" Tidak, ini sangat bagus. Aku tidak menyangka gadis cengeng dan keras kepala seperti dirimu ternyata punya bakat yang luar biasa." Cetus Arkha .

__ADS_1


Alfian melotot tidak suka mendengar adiknya mengejek istrinya.


" Kalau mau cari gara-gara sebaiknya pulang saja." Kata Alfian kesal.


" Udahlah mas. Lagi pula apa yang di katakan Arkha memang benar... Tapi..... Dari mana kamu tahu kalau aku cengeng ?" Tanya Sandra keheranan, karena tidak banyak yang tahu akan hal itu. Sandra tipe orang yang tidak suka memperlihatkan sisi rapuhnya kepada orang lain, kecuali saat bapak dan ibunya meninggal.


" Mm... aku asal tebak saja. Kan waktu kita di rumahmu kamu sering menangis." Ucap Arkha tergagap. Sebenarnya dia tahu hal itu dari Nurul saat mereka mengobrol.


" Ooh..." Jawab Sandra tak menaruh curiga lagi. Karena memang saat di kampung kemarin tiada hari tanpa menangis baginya.


" Kak, masih kurang apa lagi ? Aku bantu menyiapkan ya ?" Sela Neta .


" Sudah tidak ada yang perlu di siapkan. Makanannya sedang di antar ke sini sekarang. Kita bisa mengobrol sesukanya sambil menunggu Nurul dan teman-teman ku." Ucap Sandra memberi tahu.


" Nurul mungkin sedikit terlambat." Sambung Arkha keceplosan.


Semua mata mengarah kepadanya dengan pandangan yang bertanya-tanya. Bagaimana dia bisa tahu jika Nurul akan terlambat ? Pikir mereka.


" Kok kakak tahu ?" Tanya Neta.


" Iya ... Kok kamu tahu ? Bahkan dia sendiri tidak memberi kabar kepadaku jika akan terlambat." Sahut Sandra.


Sedangkan Alfian menatapnya penuh curiga.


" Ehmm... Itu... Itu..., juga asal tebak saja." Jawab Arkha sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena gugup.


Ting tong Ting tong Ting tong


Terdengar suara bel berbunyi lagi. Arkha bernafas lega akhirnya perhatian mereka bisa teralihkan dari dirinya.


" Sial ! Hampir saja mereka semua curiga !" Batin Arkha.


Setelah membuka pintu, Sandra masuk dengan kedua temannya.


" Semuanya... Ini teman-teman ku.... Ini yang tomboi namanya Intan sedangkan yang ini namanya Salsa." Ucap Sandra memperkenalkan teman-temannya kepada keluarganya.


Tidak lupa kedua temannya itu juga membawa kado sebagai ucapan selamat untuk Sandra dan Alfian.


" Kalian seharusnya tidak perlu repot-repot." Ucap Sandra yang menerima kado itu kemudian menaruhnya di atas meja tempat di mana tadi dia juga meletakkan buket bunga dan juga kado dari Arkha dan Neta.


Selanjutnya mereka mengobrol bersama. Ternyata mereka semua bisa langsung akrab meskipun sedikit canggung. Intan dan Salsa tak henti-hentinya mencuri pandang kepada Arkha. Tapi pria yang di lirik itu tidak mengacuhkannya dan pura-pura tidak melihatnya.


" Sandra .. Bagaimana bisa ?" Bisik Syefa sambil menata makanan yang mereka bawa ke atas meja yang telah di sediakan.


" Maaf fa. Ceritanya panjang. Lain kali saja aku ceritakan."Balas Sandra lirih.


" Oke, aku tunggu ya. Kalau tidak aku bisa mati karena penasaran." Bisik Syefa.


Sandra justru cengengesan mendengarnya.


" Iya ...Iya .."


" Oya... Aku sudah mendengarnya dari Bu Henny. Katanya ibu kamu....." Syefa tidak sanggup melanjutkannya.


" Iya..." Jawab Sandra sedih.


" Aku turut berdukacita San... Aku tidak tahu kapan itu pastinya. Bu Henny waktu itu juga terkejut saat mendapat kabar itu. Tapi apa boleh buat, restoran saat ini sangat ramai. Kita tidak punya banyak waktu luang." Ujar Syefa.


" Iya tidak apa-apa. Terimakasih ya.... Lama juga aku tidak ke sana. Lain kali akan aku usahakan ke restoran dan menceritakan semua yang telah terjadi setelah aku berhenti bekerja dari sana. Tapi aku mohon, Rahasiakan hal ini dari teman-teman yang lain." Ucap Sandra.


" Baiklah... Aku tunggu ya." Balas Syefa.


Semuanya kemudian sibuk menyiapkan hidangan pesta kecil-kecilan itu.


Setelah Syefa dan yang lainnya pergi, mereka kembali berkumpul di ruang tamu dan menunggu kedatangan Nurul.


Karena tidak kunjung datang Sandra khawatir dan mencoba menghubunginya. Tepat saat bel kembali berbunyi. Anehnya kali ini justru Arkha yang bersemangat lalu melangkah pergi membukakan pintu.


Arkha menatap Nurul lalu tersenyum memamerkan deretan giginya yang rapi setelah membuka pintu.


" Syukurlah, aku sangat khawatir." Ucap Arkha lirih.


" Maaf membuatmu khawatir." Balas Nurul.


Keduanya lalu masuk dan ikut berkumpul di ruang tamu.


" Nurul... Kenapa baru datang ? Tidak terjadi sesuatu kan ?" Tanya Sandra cemas.


" Tidak kok. Tadi tiba-tiba ada urusan mendadak jadi aku terlambat ke sini."

__ADS_1


" Syukurlah, aku sempat cemas tadinya. Oyaa... perkenalkan. Ini kedua temanku Intan dan Salsa." Ucap Sandra mengenalkan temannya saja karena Nurul sudah kenal dengan yang lainnya.


" Hai... Aku Nurul." Sapa Nurul.


" Hai juga... Aku Intan."


" Aku Salsa. Senang bertemu dengan mu." Kata Salsa yang sedikit lebih lembut dari pada Intan.


" Oke... Karena semua sudah datang kita langsung aja ke acara inti. Kebetulan ini sudah jam makan siang juga." Ucap Sandra.


Semuanya lalu pindah ke ruang makan yang sudah di persiapkan. Intan dan Salsa terbengong melihat makanan yang ada di depan mereka. Semua hidangan yang tersaji di meja itu adalah berbagai menu utama dan terlezat di restoran Alfian.


Sedangkan Nurul sendiri sudah menebak dan tidak terkejut jika makanan yang tersaji pastinya akan istimewa, mengingat Alfian adalah pemilik restoran itu sendiri.


" Ayo semua... Kita makan... Jangan sungkan-sungkan ya...." Ajak Sandra.


Sandra kemudian melayani suaminya terlebih dahulu. Semua mata tertuju kepadanya yang begitu perhatian kepada suaminya.


" Aku mau steak daging sapi yang itu..." Tunjuk Alfian.


" Oke..." Sandra mengambilkan apa yang suaminya inginkan.


" Lhoh kok pada bengong ? Ayo makan..." Ucap Sandra yang heran melihat yang lain justru menatapnya.


" Iya... Ngapain malah lihat yang lagi bucin ! Nurul tolong ambilkan daging yang itu ... Maaf kamu lebih dekat." Ucap Arkha kemudian.


" Hmm....Bisa aja cari alasan ! Bilang aja mau di layani kaya kakaknya ! Dasar ...." Batin Nurul sambil tersenyum.


Setelah mengambilkan sup daging Arkha juga minta tolong kepada Nurul untuk menuangkan jus jeruk untuknya.


Tentu hal ini membuat Sandra menjadi curiga. Bukan sikap Arkha yang suka meminta tolong seperti itu, biasanya dia selalu melakukannya sendiri tanpa bantuan siapapun.


" Manja amat sih kak.... Kan kasian kak Nurul, baru juga sampai." Protes Neta yang sebal melihat ulah kakaknya.


" Biarin aja... Orang Nurul juga mau." Sewot Arkha.


Intan dan Salsa saling melirik satu sama lain. Sepertinya mereka sudah kalah saing.


Mereka kemudian menikmati makanan masing-masing. Sesekali mereka mengobrol untuk menghilangkan kecanggungan.


" Kak Arkha mau aku ambilkan sesuatu ?" Tanya Salsa yang melihat isi di piring Arkha tinggal sedikit.


" Tidak usah, aku sudah kenyang." Jawab Arkha datar.


Sebenarnya Arkha tidak suka Sandra juga mengundang kedua temannya yang genit itu. Tapi apa boleh buat, ini acaranya jadi dia tidak berhak melarangnya mengundang mereka berdua.


" Mas mau nambah ?" Tanya Sandra kepada Alfian.


" Tidak sayang... Aku sudah kenyang." Jawab Alfian.


" Baiklah... Aku mau nambah, jarang-jarang makan enak dan rame-rame begini." Ucap Sandra keceplosan.


" Wahh... Emang Kak Al gak kasih makanan yang enak-enak ?? Awas aja, nanti biar Kak Al aku aduin ke papa !" Potong Neta.


" Eh .. Enggak begitu Neta... Kan di rumah cuma berdua jadi kakak masak sendiri. Taulah gimana masakan kakak... Gak seenak makan di restoran seperti ini." Ucap Sandra yang takut jika Neta salah paham.


" Ooh .. Kirain kak.... Tapi masakan kak Sandra kan juga enak. Aku aja sampai rindu masakan kakak. Masakan Bi Ida di rumah gak seenak masakan buatan kakak." Ucap Neta lagi. Gadis itu sangat jujur dengan apa yang dia ucapkan.


" Emang betul... Masakan istriku yang paling enak." Sambung Alfian pamer.


Sandra berbunga-bunga mendengar pujian dari adik ipar dan suaminya.


" Iya iya .. Yang lagi bucin mah ayam gosong juga enak ." Ejek Arkha.


Neta dan yang lainnya terkekeh mendengarnya sedangkan Alfian dan Sandra saling menatap penuh arti karena mengingat kejadian ayam gosong tempo hari. Keduanya lalu ikut tertawa bersama.


Acara makan siang hari itu berjalan lancar. Semuanya terlihat sangat gembira. Setelah selesai makan, mereka kembali mengobrol santai di ruang tamu.


" Oya ... Ini kan weekend, apakah diantara kalian tidak ada yang punya rencana berkencan dengan pacarnya ?" Tanya Sandra kemudian.


" Uhukkk.... Uhukkk..." Tiba-tiba Nurul terbatuk dan tersedak keripik kentang yang tengah dia makan.


Dengan sigap Arkha kemudian mendekat dan mengambilkan air putih untuk Nurul sambil mengelus-elus punggung Nurul yang masih terbatuk kecil.


Sandra semakin dan semakin curiga dengan keduanya. Sekali lagi Arkha menunjukkan sikap yang berbeda dengan aslinya yang biasanya cuek dan dingin dengan orang disekitarnya.


" Nanti aku harus bertanya langsung kepada Nurul." Batin Sandra penasaran.


" Kau baik-baik saja ?" Tanya Arkha yang terlihat khawatir.Dia tau Nurul pasti kaget dengan ucapan Sandra karena setelah ini mereka berdua berencana untuk pergi berkencan dan menonton film ke bioskop untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Kedua teman Sandra tidak kalah penasaran, keduanya sering saling menatap penuh tanda tanya.


__ADS_2