
Dua Minggu berlalu.. Akhirnya Sandra di izinkan pulang ke rumah oleh dokter. Sandra dan keluarga pun menyambut kabar itu penuh dengan suka cita.
Sesuai keputusan Pak Wijaya yang tidak bisa di ganggu gugat lagi. Sandra dan Alfian akhirnya kembali tinggal di rumah beliau. Tentu saja orang yang paling terlihat bahagia adalah Neta. Neta bersorak kegirangan karena akhirnya dia tidak akan kesepian lagi di rumah. Akan ada kakak iparnya yang bisa menjadi teman mengobrol sekaligus bercerita seperti dahulu. Apalagi kakak iparnya itu akan mempunyai baby sebentar lagi. Tentu rumah akan semakin ramai dengan suara tangis keponakannya.
Hari itu, diam-diam Neta dan seluruh keluarga menyiapkan pesta kecil-kecilan untuk menyambut kepulangan Sandra dari rumah sakit. Untuk itu, semua orang tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk Pak Wijaya sendiri.
Neta yang di bantu oleh Arkha dan juga para asisten rumah tangga, menghias dan mempercantik ruang tamu dengan ala kadarnya. Ada banyak balon warna-warni dan juga bunga-bunga cantik yang menghiasi ruangan tersebut. Pak Wijaya juga sudah menyiapkan makan malam spesial dan makanan lezat yang mencangkup semua asupan gizi dan nutrisi yang di butuhkan oleh menantunya. Bahkan Pak Wijaya mulai menugaskan seorang koki khusus untuk menyiapkan semua hidangan Sandra.
Pukul tiga sore, Alfian dan Sandra sudah sampai di depan kediaman keluarga Wijaya bersama Bibi Nani dan Nurul.
Paman Joni kebetulan tidak bisa ikut mengantar Sandra ke rumah mertuanya. Karena tanggung jawab mengajar dan tidak boleh terlalu lama izin, Paman Joni sudah pulang ke kampung terlebih dahulu sejak minggu lalu.
Sandra melangkah di bantu oleh Bibi Nani dan juga Nurul, sedangkan Alfian ada di belakang mereka sambil menenteng tas keperluan Sandra selama di rumah sakit.
" Pelan-pelan saja." Ucap Bibi Nani mengingatkan.
" Iya bi..." Balas Sandra yang sudah tidak sabar.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan pintu. Belum sempat mereka memencet bel rumah, tiba-tiba pintu terbuka di iringi sorak bersamaan dari dalam.
" Welcome to home Kak Sandra ....!! " Teriak Neta dan Arkha kompak.
" Selamat datang kembali di rumah papa nak .." Sambut Pak Wijaya kemudian memeluk menantunya dengan sayang.
Sandra tak bisa berkata-kata. Hanya kedua matanya yang mampu berucap menyiratkan betapa terharu dan bahagianya dirinya di sambut begitu tulus oleh keluarga suaminya.
" Terimakasih pa... Terimakasih semuanya... Kalian benar-benar paling bisa membuatku menangis. "Kata Sandra berkaca-kaca.
" Selamat datang kembali kakak ipar ku yang cantik ... " Seruduk Neta kemudian memeluk serta mencium kedua pipi Sandra.
Semua yang ada nampak bahagia melihat kehangatan dan kedekatan di antara mereka.
Hanya satu orang saja yang sejak tadi justru terlihat mencuri-curi pandang ke arah lain. Tentu saja orang itu adalah Arkha. Sejak pintu terbuka tadi , Arkha melirik penuh harap ke arah Nurul meski tidak begitu kentara.
Entah apa yang terjadi di antara mereka, sampai sekarang Sandra masih tidak bisa mengetahuinya karena baik Arkha maupun Nurul sama-sama bungkam jika di tanya soal kelanjutan hubungan keduanya. Bahkan terlihat beberapa kali Nurul dengan sengaja berusaha menghindar dari Arkha saat menjenguk Sandra di rumah sakit. Hingga Sandra berpikir jika hubungan diantara keduanya pasti benar-benar sudah berakhir.
" Ayo semuanya... Kita masuk. Hari ini kita semua akan merayakan kepulangan menantu tersayang papa." Lanjut Pak Wijaya sumringah.
__ADS_1
Semua orang terlihat begitu bahagia dan menikmati acara penyambutan Sandra. Nampak sekali kasih sayang dan kehangatan yang di curahkan untuk Sandra. Apalagi Alfian,, semenjak di rawat di rumah sakit, suaminya itu selalu siaga dua puluh empat jam di sampingnya. Bahkan Alfian mengerjakan semua pekerjaan kantor dari rumah sakit. Meski hal itu tentu saja membuat Dias kerepotan karena harus bolak-balik antara rumah sakit dan kantor. Untung saja Dias memaklumi hal itu serta bisa menghandle kekurangan pekerjaan Alfian dengan baik.
Semenjak kepulangan Sandra dari rumah sakit, perlakuan semua orang berubah drastis. Mereka semua berubah menjadi orang yang siaga, protektif dan juga lebih berhati-hati. Banyak aturan baru yang diterapkan oleh Pak Wijaya demi keamanan dan kenyamanan menantunya yang sedang hamil. Untung saja semua tidak keberatan dan justru mendukungnya.
Ada banyak hal yang menurut Sandra sedikit berlebihan. Apapun yang Sandra inginkan akan segera terpenuhi tanpa menunggu lama. Hal itu justru kadang membuat Sandra menjadi sungkan saat menginginkan sesuatu, padahal dirinya hanya sebatas berkata dan tidak benar-benar menginginkannya. Di perlakukan begitu istimewa tidak membuat Sandra begitu senang, pasalnya Sandra sering merasa tidak enak hati dan merasa menjadi orang yang pemalas karena ruang geraknya di batasi. Meski begitu dia tidak bisa membantah sedikitpun karena mertuanya selalu memantaunya, dan apalagi itu demi kebaikan calon buah hatinya yang memang kondisinya lemah. Sehingga Sandra hanya bisa pasrah dan menurut.
Tanpa terasa, waktu berjalan begitu cepat. Usia kandungan Sandra kini memasuki bulan ke lima. Banyak kejadian unik dan lucu selama kehamilannya. Semakin bertambahnya usia kandungannya, semakin bertambah pula cinta dan kasih sayang yang dia terima dari suami dan orang-orang di sekitarnya.
Banyak perubahan besar pula yang terjadi selama kehamilan Sandra. Misalnya masalah kuliah dan pekerjaannya. Setelah melihat dari segala kondisi dan situasi, Sandra memutuskan untuk cuti sementara dari kampusnya. Kandungannya yang lemah dan mengharuskannya banyak beristirahat,, tentu berpengaruh terhadap kegiatan-kegiatan sebelum dia hamil. Selain cuti kuliah, Sandra juga harus rela menyerahkan urusan butik untuk sementara kepada suaminya. Mertua dan suaminya melarang keras ketika dirinya ingin masuk bekerja. Jadi mau tidak mau Sandra hanya berdiam diri di rumah sambil menikmati semua perlakuan istimewa dari keluarganya. Untung saja bibi Nani menepati janjinya, Bibi Nani sering datang mengunjunginya meskipun hanya sebulan sekali. Di tambah Nurul yang sering mampir dan juga Neta yang selalu ceria menemaninya,, membuat hari Sandra tetap berwarna.
Selain senam kehamilan dan menjaga pola makan dan istirahat yang cukup, Sandra sering memanfaatkan waktunya yang luang untuk berjemur, berjalan-jalan di taman belakang atau sekedar membuat desain baru dan melukis agar tidak jenuh di saat semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Seperti pagi itu, Sandra tengah berjalan-jalan di taman belakang rumah bersama Alfian sambil menikmati cahaya matahari yang menghangatkan sekujur tubuhnya.
Sandra terlihat termenung sambil menatap bunga-bunga kamboja yang sedang bermekaran. Sebenarnya ada sebuah keinginan yang mengganjal di hatinya beberapa hari ini.
" Kenapa melamun ? Apakah kau lelah ?" Tanya Alfian.
Sandra menggeleng sambil mengelus perutnya yang semakin terlihat membuncit.
" Lalu ? Apakah ada sesuatu yang menggangu pikirkan mu ?"Tanya Alfian yang merasa jika Sandra pasti tengah memikirkan sesuatu.
" Hanya itu ?" Balas Alfian menanggapinya.
" Iya.." Ucap Sandra lagi.
" Kalau begitu, mumpung hari ini aku libur... Kita ke sana.. Tapi kita konsul ke dokter kandungan dulu ya?." Balas Alfian lembut.
Kedua mata Sandra berbinar bahagia mendengarnya.
" Benarkah ? Mas nggak bohong kan ?" Tanya Sandra yang belum percaya sepenuhnya.
" Tentu saja benar... Apakah hal itu yang membuatmu murung beberapa hari ini ?" Tanya Alfian lagi. Melihat wajah Sandra tampak berseri membuatnya semakin tidak tega dan ingin selalu membuat istrinya itu tersenyum bahagia.
Sandra mengangguk pelan.
" Ck.. Sayang .. Harusnya kamu langsung memberi tahuku jika kamu sangat merindukan bapak dan ibu." Ucap Alfian lalu membawa Sandra ke dalam pelukannya.
__ADS_1
" Aku takut yank.. Papa dan kamu begitu ketat menjaga ku.. Setiap pergi untuk kontrol kandungan saja kalian begitu khawatir.. Apalagi jika aku ingin mengunjungi makam bapak dan ibuk yang jauh. Aku takut kalian tidak mengizinkannya." Kata Sandra jujur.
" Sayang.. Maaf ya jika menurut mu papa dan aku begitu protex kepada mu. Maaf jadi membuat mu takut seperti ini. Tapi jika untuk mengunjungi bapak dan ibu, tentu kami akan mengizinkan asalkan dokter juga memperbolehkannya. Sekarang kita ke dokter kandungan terlebih dahulu, jika memang anak kita kuat dan tidak membahayakan kalian berdua. Hari ini juga kita ke makam bapak dan ibu." Tutur Alfian.
Sandra mengangguk dan menggeleng sekaligus.
" Jangan minta maaf yank. Aku tahu kok papa dan kamu berbuat begitu demi kebaikan ku dan anak kita. Makasih ya yank udah ngertiin aku juga."Ucap Sandra senang.
" Iya.. Sekarang kita ke dokter yuk .." Alfian kemudian mengecup bibir Sandra dengan kilat.
Setelah berkonsultasi dengan dokter kandungan yang biasanya menangani Sandra. Akhirnya Sandra di izinkan untuk melakukan perjalanan yang lumayan jauh itu. Dengan syarat, Sandra harus tetap berhati-hati dan tidak boleh sampai kelelahan selama di perjalanan.
Selesai dari dokter kandungan, Alfian dan Sandra segera melakukan perjalanan setelah meminta izin sekaligus pamit terlebih dahulu kepada Pak Wijaya. Meski cemas dan khawatir, namun Pak Wijaya mencoba berpikir dengan bijak. Mungkin menantunya sangat merindukan almarhum dan almarhumah orang tuanya. Sehingga dengan berat hati, Pak Wijaya melepaskan kepergian anak dan menantunya itu.
Setelah menempuh dua jam perjalanan. Akhirnya mereka sampai di rumah Sandra di kampung. Rasa rindu yang berbulan-bulan ini Sandra pendam, akhirnya terbayar lunas saat Sandra menginjakkan kakinya di rumah di mana dia tumbuh dan dibesarkan bersama kedua orang tuanya.
Tak menunggu lama, setelah istirahat sejenak dan makan siang yang sudah di siapkan oleh Bibi Nani. Sandra dan Alfian kemudian pergi ke makam orang tua Sandra.
Sandra tersenyum ketika memasuki area pemakaman kedua orang tuanya.
" Assalamualaikum bapak ibu..." Ucap Sandra ketika sudah di depan makam Pak Imam dan Bu Lastri yang saling berdampingan.
Sandra dan Alfian kemudian memanjatkan doa untuk kedua almarhum dan almarhumah Pak Imam dan Bu Lastri.
" Bapak... Ibu... Bagaimana kabar kalian ? Maaf ya, Sandra baru bisa tengok hari ini." Lanjut Sandra selesai berdoa. Alfian kemudian membiarkan istrinya menumpahkan rasa rindunya kepada ayah dan ibunya.
" Bapak.... Ibu... Ada yang ingin Sandra sampaikan kepada kalian. Pak .. Bu... Sebentar lagi Sandra bakal jadi seorang ibu.... Iya pak , Bu... Saat ini Sandra sedang hamil lima bulan... Alhamdulillah meski kondisi kandungan Sandra sempat drop, sekarang,, anak ini sudah sehat dan kuat seperti Sandra.. Kalian pasti senang kan mendengarnya ?" Lanjut Sandra bermonolog.
" Oya pak... Ada yang ingin Sandra sampaikan lagi.. Pak... Sebenarnya, sudah lama Sandra ingin mengatakannya di depan bapak.. Tapi maaf ya ? Sandra baru bisa mengatakannya sekarang. Pak... Terimakasih karena sudah memilihkan jodoh untuk Sandra. Bapak benar pak... Mas Alfian adalah orang yang tepat untuk Sandra. Meski awalnya sulit bagi kami, tapi sekarang kami sangat bahagia pak. Apalagi akan ada cucu bapak yang akan segera hadir melengkapi kebahagiaan kami. Maaf ya pak, karena dulu Sandra sempat kesal kepada bapak. Maaf karena Sandra sempat menyalahkan bapak yang seenaknya menjodohkan Sandra secara tiba-tiba. Sekali lagi Sandra sangat berterima kasih.." Ucap Sandra mulai bergetar karena menahan tangisnya.
" Ibu... Terimakasih banyak. Karena nasehat dan kesabaran yang ibu ajarkan kepada Sandra. Sekarang Sandra menuai semua hasilnya. Hidup Sandra sudah bahagia sekarang buk... Ibu tenang saja.. Sandra akan selalu menepati janji Sandra untuk selalu menghormati dan mentaati suami Sandra seperti nasehat ibu. Bapak dan ibu yang tenang ya di sana... ? Sandra sayang kepada kalian...." Sandra tak mampu menahan bendung air matanya lagi. Tentu saja kesedihan masih di rasakan oleh Sandra. Untung saja Alfian segera sigap menenangkan dan menghibur Sandra sehingga kesedihan itu berangsur-angsur berkurang.
" Bapak... Ibu... Terimakasih karena telah mendidik dan membesarkan Sandra. Terimakasih karena semasa kalian masih hidup, kalian telah mempercayakan putri kalian kepada saya. Saya berjanji, akan meneruskan perjuangan kalian untuk menjaga dan menyayangi Sandra sepenuh hati. Semoga Tuhan memberikan tempat yang terbaik untuk kalian. Aamiin." Ucap Alfian kemudian kembali memeluk Sandra yang masih terisak kecil.
Lama keduanya berada di depan makam Pak Imam dan Bu Lastri. Hingga udara sore hari yang sejuk berhembus menusuk ke tubuh mereka. Dengan pelan, Alfian merengkuh dan menuntun Sandra keluar dari pemakaman.
...TAMAT...
__ADS_1
...****************...