
" Siapa Dokter Tian ? Kenapa aku merasa tidak asing dengan namanya ?" Tanya Alfian setelah kembali dari kantor.
" Tuan baca saja berkas ini. Semua informasi tentangnya sudah lengkap ada di map ini." Jawab Dias.
Alfian kemudian meraih map itu lalu mengambil beberapa lembar kertas dari sana. Alfian membaca lembaran-lembaran kertas itu dengan seksama.
" Jadi dia anak dari Astaguna ? " Kata Alfian melanjutkan.
" Benar tuan. Dia adalah satu-satunya anak dari Tuan Astaguna yang tidak mengikuti jejak ayahnya sebagai pebisnis. Dia lebih memilih menjadi seorang dokter kandungan. Alasannya saya juga belum tahu. Tapi dari yang saya dengar dulu ibunya juga seorang dokter kandungan tapi meninggal saat melahirkan dirinya." Dias menjelaskan.
Alfian berfikir sejenak. Sepertinya dokter itu bukanlah tandingannya. Lagi pula dari yang dia dengar dari Sandra mereka bertemu karena ketidaksengajaan saja. Tapi kenapa tadi dia mengikuti Sandra ?
" Ah, mungkin dia hanya penasaran saja." Ucap Alfian meyakinkan dirinya sendiri.
" Sudah kamu siapkan belum semua keperluan rapat sore ini ? Ingat. Aku cuti dua hari besok." Lanjut Alfian.
" Semua sudah siap tuan. Berhubung tuan besok tidak bisa datang ke kantor saya sudah menjadwalkan ulang agenda anda untuk Minggu depan." Jelas Dias.
" Bagus. Aku akan mengajak Sandra mengunjungi ibunya. Pasti dia sangat senang."
" Ide yang bagus tuan." Jawab Dias.
Sore itu Alfian lembur hingga hampir larut malam. Semua pekerjaan dua hari ke depan dia selesaikan hari itu juga. Alfian ingin membuat kejutan untuk Sandra, dia akan mengajak istrinya berkunjung ke rumah ibunya di kampung. Alfian sudah tidak sadar ingin segera pulang dan memberi tahunya.
" Kerja yang bagus Dias. Thanks." Ucap Alfian saat di perjalanan pulang.
Dias tersenyum kecil, jarang sekali sahabatnya itu memuji atau mengucapkan terimakasih kepadanya. Jatuh cinta memang bisa mengubah segalanya. Bahkan kepribadian seseorang. Kini Alfian bisa lebih menghargai orang lain.
" Gimana rencana mu besok ? " Tanya Dias.
" Sudah siap, tinggal memberi tahu Sandra."
" Sejak kapan kamu jadi licik ? Tahu saja cara mengambil hati perempuan." Ejek Dias.
" Bukan licik tapi smart. " Ralat Alfian.
" Dia bukan gadis yang hobi berbelanja atau berfoya-foya. Dia juga tidak suka barang-barang mewah. Tadinya aku bingung mau memberi kejutan atau hadiah apa untuknya, lalu aku teringat..., sejak menikah aku belum pernah mengajaknya mengunjungi ibunya. Kau tahu sendiri hanya ibunya yang dia punya sekarang. Jadi sudah bisa ku pastikan dia pasti sangat senang ku ajak kesana." Ucap Alfian menjelaskan rencananya.
" Al ..Al.. semoga sukses deh. Kuharap setelah dari sana ada kemajuan dengan hubungan kalian."
" Kuharap juga begitu."
Mobil pun semakin cepat melaju, menerjang jalanan yang sudah terlihat sepi.
" Tidur di sini saja, hari sudah larut. Biar Bik Ida siapkan kamarnya." Perintah Alfian setelah mereka sampai di rumah.
" Oke... Aku memang lelah sekali." Balas Dias sambil meregangkan tubuhnya.
Keduanya lalu masuk ke dalam rumah. Dias menuju ke kamar tamu yang memang sudah sering dia tempati jika menginap di rumah itu. Sedangkan Alfian bergegas menuju kamarnya.
Alfian membuka pintu kamar. Cahaya kamar terlihat remang-remang, ternyata Sandra hanya menyalakan lampu belajar saja. Hening, tidak ada suara apapun. Sandra terlihat tertidur di meja belajar.
Alfian mendekatinya, dia membereskan buku-buku yang berserakan kemudian ikut duduk dan mengamati wajah istri kecilnya yang juga mudah marah tapi cengeng itu. Alfian tersenyum kecil. Dia tidak menyangka bakal jatuh hati pada gadis yang sering dia hina dahulunya.
" Maafkan aku." Bisik Alfian sambil menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Sandra.
Alfian kemudian membopong tubuh Sandra dan menurunkannya pelan-pelan ke ranjang. Sandra menggeliat, dia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya lalu terbangun.
Sandra melihat ke sekeliling, gelap... hari sudah malam.
" Kebangun ?" Sapa Alfian.
" Mm...mas baru pulang ?" Tanya Sandra yang belum sadar sepenuhnya.
" Iya... kamu ketiduran di kursi itu. Lalu aku pindah ke sini biar lebih nyaman."
" Maaf merepotkan... Pukul berapa sekarang ?"Tanya Sandra kebingungan.
__ADS_1
" Sudah tengah malam. Kembalilah tidur, aku mau mandi dulu." Kata Alfian memberi tahu.
Sandra mengangguk. Alfian kemudian ke kamar mandi membersihkan diri.
Setelah Alfian tidak terlihat, Sandra bangun dan menyalakan lampu kamar. Kemudian dia turun ke dapur membuatkan teh dan makan malam untuk suaminya.
" Non , kok belum tidur ? " Sapa Bik Ida.
" Kebangun bik. " Jawab Sandra.
" Itu teh buat buat siapa bik ?" Tanya Sandra yang melihat dua buah gelas berisi teh hangat.
" Ini teh buat Tuan Al dan Tuan Dias non."
" Mas Dias nginep sini ?"
" Iya non, sudah biasa kalau lembur terlalu larut, Tuan Al selalu menyuruhnya menginap dan tidak mengijinkan Tuan Dias pulang sendirian." Kata Bik Ida memberi tahu.
" Oohh ... Oya , yang buat Mas Al nanti aku aja bik yang bawa. Sekarang aku mau bikin nasi goreng dulu. Bibik tunggu ya ? Aku buatkan untuk Mas Dias sekalian."
" Baik non, bibi bantu ya non ?" Bik Ida menawarkan diri.
" Gak usah bik, nasi goreng mah gampang banget." Tolak Sandra.
Lima belas menit kemudian dua piring nasi goreng dan telur ceplok sudah tersedia di atas meja makan. Sandra mengambil nampan lalu mengisinya dengan sepiring nasi goreng telur ceplok dan satu gelas teh manis hangat.
" Bik, aku bawa yang buat Mas Al... Bibik anterin yang punya Mas Dias ya ?" Perintah Sandra.
" Siap non. Hmm... Wangi bener nasi gorengnya non. Pasti enak pisan. " Puji Bik Ida.
" Bibik mau ? Itu di wajan masih ada sedikit bik. Bibik makan saja. Aku bawa ini dulu ya bik." Pamit Sandra kemudian membawa nampan itu ke kamar.
Alfian sudah selesai mandi saat Sandra membuka pintu kamarnya.
" Dari mana ?" Tanya Alfian.
Sandra menaruh nampan bawaannya di atas meja bundar di kamar itu.
Alfian mendekat lalu duduk berhadapan dengan Sandra.
" Kamu bikinin aku nasi goreng ?" Tanya Alfian senang.
" Mas makan saja dulu. "
Alfian kemudian mencoba nasi goreng buatan Sandra. Sesuap, Alfian mulai mengunyahnya. Alfian terkejut merasakannya. Nasi goreng buatan Sandra ternyata sangat enak. Dengan lahap Alfian melanjutkan makannya hingga tandas.
" Enak ?" Tanya Sandra penasaran. Jika di lihat dari reaksi Alfian harusnya nasi goreng itu enak. Pikir Sandra.
" Enak sekali, makasih ya ?" Jawab Alfian.
" Syukurlah kalau mas suka. Minum dulu mas." Perintah Sandra, dia ikut senang melihat Alfian menyukai masakannya.
Alfian menurut kemudian minum. Dalam hati, Alfian senang sekali di perhatikan oleh Sandra. Hal yang jarang sekali mereka lakukan saat berdua.
" Besok-besok masakin lagi ya ?" Pinta Alfian.
" Kalau mas mau..." Balas Sandra.
" Tentu saja mau.... "
Sandra tersenyum kecil. Ternyata membuat Alfian senang tidak sesulit yang dia bayangkan.
" Mas kenapa lembur sampai selarut ini ?" Tanya Sandra.
" Ohh... tadi ada pekerjaan penting yang harus segera selesai hari ini juga."
" Oh. " Ucap Sandra canggung. Tidak biasanya mereka bisa mengobrol tanpa berdebat seperti itu.
__ADS_1
" Besok pagi siap-siap ya.... Kita akan pergi mengunjungi ibu." Kata Alfian.
" Benarkah ?" Tanya Sandra gembira.
" Tentu saja benar. Kita akan menginap di sana dua malam. Mumpung mau akhir pekan juga." Kata Alfian yang tersenyum puas telah berhasil membuat Sandra senang.
" Mas gak bohong ?" Tanya Sandra lagi memastikan.
" Suer."
" Asyiiik.... makasih ya mas. Aku siap-siap sekarang aja ya, biar besok pagi tinggal berangkat." Kata Sandra sangat antusias.
" Jangan dong. Sekarang waktunya istirahat. Kita tidur sekarang." Perintah Alfian.
" Yahhh...." Ucap Sandra cemberut.
" Ya udah kalau begitu, gak jadi aja ya ?" Ancam Alfian.
" Iy..iya deh... sekarang kita tidur." Ucap Sandra kemudian lari ke ranjang.
" Dari pada tidak jadi mengunjungi ibuk. Aah, kejutan....... ibuk pasti senang sekali besok." Batin Sandra sudah tidak sabar.
Alfian tersenyum kemudian mematikan lampu kamar dan menyusul berbaring di samping Sandra. Keduanya menatap langit-langit kamar dengan pikiran masing-masing.
" Kenapa belum tidur ?" Tanya Alfian.
" Jadi gak ngantuk mas. Sudah gak sabar pulang ke rumah." Kata Sandra jujur.
" Kan rumah kamu di sini ?"
" Maksud aku, pulang ke rumah ibu mas. "
" Iya...iya.... Kamu senang ?" Tanya Alfian kemudian berbalik menghadap Sandra.
" Senang sekali..." Sandra menjawab dengan pasti.
Mereka saling menatap satu sama lain. Kemudian Alfian bergeser lebih dekat lagi dengan Sandra.
Alfian masih tetap menatap Sandra dengan lekat. Sandra jadi salah tingkah di buatnya. Ada rasa gugup dan malu di tatap seperti itu.
" Kenapa ?" Tanya Alfian lirih. Sandra menggeleng dan hendak berpaling dari Alfian. Namun Alfian mencegahnya, dia menyentuh pipi Sandra agar tidak berpaling darinya.
Keduanya saling menatap dalam diam. Alfian kemudian mendekatkan kepalanya,semakin dekat.... Alfian mencium tengkuk Sandra, turun ke leher, memberinya sedikit tanda kepemilikan lalu mengecup bibir tipis Sandra. Tak ada penolakan. Alfian semakin memberanikan diri.
Jantung Sandra berdetak cepat. Ada rasa gugup dalam dirinya. Ingin dia menghindar tapi tubuhnya menolak bekerja sama. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Satu hal yang pasti, dia tidak akan pernah bisa menolak Alfian terus menerus karena memang dia adalah suaminya. Sudah kewajibannya untuk melayani keinginan suaminya. Apa yang pernah dikatakan Nurul benar adanya, cepat atau lambat dia harus melakukannya. Namun bayang-bayang Rena selalu muncul saat Sandra berusaha menerima Alfian. Masihkah mereka menjalin hubungan spesial ? Dia tidak ingin menjadi perusak dalam hubungan mereka meskipun di sini dialah istri sah Alfian. Sandra harus memastikan hal itu dulu agar tidak ada yang dirugikan. Jika memang kenyataannya mereka masih berhubungan Sandra harus siap melepaskan Alfian namun jika hubungan mereka benar-benar sudah berakhir Sandra akan mempertimbangkannya membuka hati untuk Alfian. Sampai saat itu tiba,dia harus bisa menjaga dirinya.
" Jangan mas....! Aku takut...." Ucap Sandra mendorong Alfian menjauh.
Alfian berhenti dari kegiatannya. Dia mendongak dan menatap Sandra yang kini terlihat ketakutan.
" Kamu belum siap ?" Tanya Alfian parau.
Sandra mengangguk kecil. Alfian menghela nafas panjang. Ada sedikit kecewa yang terlihat dari raut wajahnya.
" Oke, tidak apa-apa kalau memang kamu belum siap. Aku bisa menunggu sampai kamu siap. " Kata Alfian kemudian mengecup pucuk kepala Sandra dengan lembut.
" Maaf mas ... Aku takut." Kata Sandra mengulang.
Alfian kini kembali berbaring di samping Sandra.
" Sudah kubilang tidak apa-apa, ayo tidur." Kata Alfian menenangkan Sandra yang merasa bersalah.
Sebenarnya dia sangat kecewa, namun dia bisa mengerti posisi Sandra. Pasti ada banyak hal yang gadis itu pertimbangkan. Alfian memutuskan untuk bersabar hingga akhirnya Sandra siap dengan sendirinya.
" Mas marah ?" Tanya Sandra lagi.
" Aku tidak marah... Sttt, sekarang tidurlah. Besok jangan sampai kesiangan ke rumah ibu." Kata Alfian.
__ADS_1
Sandra akhirnya menurut dan mengabaikan rasa bersalahnya. Perlahan dia mendengar dengkuran kecil dari bibir Alfian di sampingnya. Sandra tersenyum dan membenarkan selimut yang Al pakai.
" Maafkan aku, aku benar-benar belum bisa melakukannya." Ucap Sandra lirih kemudian berusaha memejamkan kedua matanya.