
Sore harinya Sandra mendatangi makam ayahnya yang masih baru. Sandra duduk bersimpuh didepan makam tak kuasa menahan tangisnya. Dengan berlinang air mata Sandra berdoa untuk ayahnya. Selesai berdoa Sandra memeluk nisan ayahnya .
" Bapak, kenapa bapak ninggalin Sandra. Sandra belum sempat bahagiain bapak .. maafin Sandra ya pak, maafin Sandra ." Rintih Sandra.
" Bapak, Sandra tidak bermaksud menyalahkan bapak, tapi kenapa pak, kenapa harus ada perjodohan ini huhuhu ... , bapak tau , Sandra takut pak , Tuan Alfian selalu jahat sama Sandra, Tuan Al selalu marah sama Sandra. Tapi bapak yang tenang ya disana, Sandra akan kabulkan permintaan bapak , sesakit apapun itu, demi bapak dan ibu Sandra akan lakukan. Sandra sayang sama bapak ibu.. huhuhu " Sandra menangis sedih di makam ayahnya.
Tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan kepadanya.
Sandra mendongak, ada Gilang di sampingnya. Entah sejak kapan dia berada disitu , Sandra tidak menyadari kedatangannya.
Gilang berjongkok, menyodorkan sapu tangannya kembali dan mengelus rambut Sandra.
" Tenanglah, jangan menangis lagi . " Kata Gilang .
Sandra menerima sapu tangan itu dan menghapus sisa air matanya. Gilang membantu Sandra membenarkan posisi duduknya dan membiarkan Sandra menenangkan diri, setelah merasa lebih tenang Sandra tersenyum.
" Terima kasih ." Ucap Sandra.
" Tidak masalah ." Balas Gilang.
" Mas kenapa ada di sini ? " Tanya Sandra lagi setelah berdiam cukup lama
" Mas ? " Gilang bertanya kepada Sandra, dia bingung kenapa tiba-tiba Sandra memanggilnya begitu. Memang saat awal-awal kenal Sandra memanggilnya mas, seiring berjalannya waktu, karena keisengan dan tingkah Gilang yang mudah bergaul dan lucu. Sandra lebih akrab memanggilnya dengan namanya saja.
" Iya, mas ... Mas kan emang lebih tua dari aku,kalau mas temenan sama Tuan Al berarti kalian seumuran, itu artinya aku jauh lebih muda. Bapak ibu bilang, kita harus menghormati orang yang lebih tua juga. Maafkan Sandra kemarin-kemarin. " Ucap Sandra tidak enak.
" Kamu ini, jadi aku tua dong ...." Ucap Gilang.
" Hehe ya tidak juga sih, siapa bilang mas tua, kan tadi aku bilang lebih tua " Goda Sandra.
__ADS_1
" Hm , ya udah deh, panggil aku senyaman kamu saja .. mas juga lebih berkesan , kalau dulu karena baru kenal ,sekarang lebih mendalam saja kayaknya. " Balas Gilang yang justru tersenyum. Tapi jujur, dalam hati Gilang senang sekali mendengar Sandra memanggilnya begitu .
" Sandra , " Ucap Gilang tiba-tiba.
" Kehilangan orang yang kita sayang memang menyakitkan, tapi kita harus segera bangkit dan tidak boleh terpuruk terlalu dalam. Bukan berarti kita tidak menyayanginya atau melupakannya, mereka yang telah pergi untuk selamanya akan terus selamanya ada di hati kita. " Lanjut Gilang lebih serius.
Sandra mendongak menatap Gilang. Selalu , selalu rasa nyaman yang terasa saat ada Gilang, Gilang selalu bisa memposisikan dirinya di manapun dia berada, dan bisa menentukan sikap yang harus dilakukan. Sandra menatap kagum sosok laki-laki tampan yang ada di depannya itu. Tanpa sadar Sandra memeluk Gilang dengan erat . Meluapkan semua emosi yang dia pendam sendiri . Rasa sedih, marah , takut dan bimbang ia luapkan dengan tangis di pelukan Gilang.
Gilang tersenyum mendapatkan perlakuan seperti itu dan membalas pelukan Sandra.
Untuk beberapa saat mereka saling berpelukan.
" Sudah jangan menangis." Pinta Gilang.
Sandra mengangguk dan melepaskan pelukannya.
" Terima kasih, terimakasih sekali. " Hanya kata itu yang terus terucap dari bibir Sandra.
Mereka tersenyum bersama. Ada rasa lega di hati Sandra setelah menuangkan semua isi hatinya di makam ayahnya. Terlebih ada Gilang yang menemani dan menghiburnya. Kedatangan Gilang yang tidak dia sangka bisa membuatnya lebih tenang dan nyaman.
" Mas Gilang kenapa ada di sini ? " Kata Sandra mengulang pertanyaannya lagi.
" Sebenarnya mas tadi kebetulan lewat saja , ada tinjauan pekerjaan di daerah sini, " Ucap Gilang ragu-ragu. Dia takut Sandra akan marah lagi kalau tahu dia mengikutinya sedari tadi.
" Hms, jangan bilang mas ngikutin aku lagi ! " Ucap Sandra.
" Ya maaf, abis mas khawatir, mas tidak percaya Al menerima perjodohan kalian begitu saja. Pasti dia ada rencana. Mas tau Al juga terpaksa menerima perjodohan kalian." Tegas Gilang.
" Mas tahu ? Kalau begitu mas tau kenapa tuan Al menerima perjodohan ini ? " Tanya Sandra penasaran. Apa benar jika tuan Al menerima perjodohan ini hanya untuk membuatnya menderita.
__ADS_1
" Alasan pastinya mas gak tau, tapi Al sendiri yang bilang ." Kata Gilang .Tidak mungkin Gilang berkata sejujurnya jika dia dan Al bertengkar malam itu. Dan tahu jika Al juga tidak menyukai Sandra dan membenci perjodohan ini karena Sandra bukan tipenya.
" Sudah jangan di pikirin, sekarang kamu pikir lagi saja, kamu beneran yakin mau menerima perjodohan ini ? " Tanya Gilang.
" Demi bapak ... " Ucap Sandra lirih.
Gilang terlihat kecewa mendengar jawaban dari Sandra. Dan berusaha menutupinya. Dalam hati dia bertekad tetap akan merebut Sandra dari Alfian. Dia tidak ingin melihat Sandra menderita disakiti oleh temannya. Disini Sandra hanyalah korban. Dia tidak menginginkan semua ini terjadi.
" Ya sudah." Balas Gilang berusaha tenang.
Namun Sandra bisa menangkap nada kecewa dari Gilang. Sebenarnya Sandra juga tidak ingin dan tidak enak . Namun keputusannya sudah bulat . Dia harus menjalankan wasiat terakhir dari ayahnya yang selama ini telah merawat dan membesarkan dirinya. Apapun yang terjadi.
" Ayo mas antar pulang , hari sudah mulai gelap ." Ajak Gilang.
" Ayo, " Sandra mengangguk dan melangkah bersama meninggalkan area pemakaman.
Di perjalanan pulang, Sandra dan Gilang saling mengobrol tentang banyak hal, karena memang Gilang orang yang mudah mengajak ngobrol . Sandra masih tidak percaya Gilang keluar dari restoran. Padahal setelah bertunangan nanti Sandra tetap berencana bekerja di sana meski statusnya nanti sudah berbeda dihadapan Alfian.
Sandra tetap ingin melanjutkan hidup dan membahagiakan ibunya tanpa menggantungkan hidup kepada orang lain.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di rumah Sandra.
Pak Wijaya yang masih berada di sana terheran-heran melihat Sandra pulang di antar oleh Gilang. Sebenarnya Pak Wijaya sudah curiga pasti ada sesuatu semenjak kepergian Gilang dari rumah Sandra saat mendengar rencana pertunangan Alfian dan Sandra. Namun sampai saat ini Pak Wijaya masih belum menyelidikinya, dan berharap apa yang ada di pikirannya ternyata salah.
" Mas Gilang ayo masuk. " Ajak Sandra.
" Tidak San, mas terusan saja. Masih ada urusan yang tadi mas tinggal ." Tolak Gilang yang tidak enak dengan orang seisi rumah Sandra. Terlebih tatapan tidak suka dari Pak Wijaya.
" Ya sudah, hati-hati di jalan. " Ucap Sandra.
__ADS_1
Setelah berbasa-basi menolak ajakan Bu Lastri dan Bibi Nani . Gilang pamit undur diri dan meninggalkan rumah Sandra.
Seisi rumah saling bertanya-tanya dalam hati. Sebenarnya ada hubungan apa antara Sandra dan Gilang. Terlebih Bu Lastri yang sangat cemas memikirkan hal itu. Karena biar bagaimanapun Sandra putrinya, saat ini sudah mempunyai calon tunangan. Tidak baik terlalu dekat dengan laki-laki lain. Terlebih beliau juga merasa tidak enak kepada Pak Wijaya yang akan menjadi calon mertua Sandra.