
Dua hari kemudian, Sandra masih sering menyendiri di kamar ibunya. Dia akan kembali menangis saat membaca riwayat catatan medis ibunya yang di sembunyikan di lemari. Sandra terus menerus merasa bersalah karena tidak peka dengan kondisi ibunya selama ini.
Sedangkan Alfian setiap hari pulang pergi ke kantor dari rumah mertuanya. Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, Alfian berangkat lebih awal dari biasanya. Begitupun saat pulang, dia sampai di rumah saat Sandra sudah tidur terlelap. Untung ada Bibi Nani yang menemani dan menginap di rumah Sandra semenjak kepergian ibu mertuanya. Kadang Bibi Nani juga yang menemaninya makan malam atau sekedar mengobrol sebentar sebelum tidur. Karena sampai detik ini Sandra masih marah dan tidak ingin bertemu apalagi berbicara dengannya.
Alfian masuk ke kamar setelah membersihkan dirinya. Awalnya Alfian belum terbiasa bolak-balik dari kamar ke kamar mandi saat hendak membersihkan diri atau buang air, tapi lama kelamaan kini dia mulai terbiasa dengan hal itu.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam ini Sandra masih terjaga.
" Kenapa belum tidur ?" Sapa Alfian sambil tersenyum.
" Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Ucap Sandra.
Alfian mendekatinya dan duduk di sebelah Sandra. Akhirnya Sandra mau berbicara lagi dengannya.
" Ada apa ? Apa yang ingin kamu katakan ?" Alfian mulai bertanya.
" Aku ingin bercerai secepatnya." Kata Sandra langsung.
Alfian terkejut mendengarnya.
" Bercerai ? Jangan bercanda Sandra..."Ucap Alfian tidak percaya.
" Aku tidak bercanda mas. Aku sudah memikirkannya matang-matang."Balas Sandra.
" Apa alasanmu ingin bercerai dariku ?" Tanya Alfian dengan perasaan campur aduk.
" Karena aku tidak ingin hidup denganmu lagi mas. Aku ingin hidup sendiri.... Seperti kata ibuku kemarin, mulai saat ini aku hanya ingin memikirkan kebahagiaan ku sendiri ! Lagi pula aku tidak ingin hidup dengan orang yang menyebabkan kematian ibuku !"
" Sudah berkali-kali aku bilang.... Bukan aku yang menyebabkan ibu meninggal. Tolong berfikir dengan jernih Sandra. Itu semua ulah Rena." Alfian mencoba memberikan pengertian kepada Sandra.
" Ya aku tahu itu ulah Rena... Tapi siapa Rena ? Bukankah dia kekasihmu ? Itu sama saja .... Karena dirimu gadis itu menemui ibuku dan membuat ibuku seperti itu !" Ucap Sandra berderai air mata.
" Rena bukan kekasihku Sandra... Ku mohon percaya padaku."
" Gak mas, sampai kapanpun aku tidak akan percaya kepada laki-laki jahat seperti dirimu ! Lagi pula untuk siapa aku mempertahankan pernikahan ini ? Semua orang yang aku sayangi sudah pergi. Pokoknya aku ingin bercerai !" Sandra berbicara sambil terisak. Membuat Alfian tidak tega melihatnya.
__ADS_1
Diam sejenak. Alfian mencoba berfikir dengan kepala dingin agar tidak terbawa emosi. Dia tidak ingin memperkeruh keadaan.
" Maaf.... Mungkin aku egois, tapi yang jelas aku tidak akan pernah menceraikanmu." Kata Alfian memutuskan, kemudian dia meninggalkan Sandra yang terisak.
" Kalau kamu tidak mau, aku sendiri yang akan mengurusnya !" Teriak Sandra sebelum Alfian keluar dari kamar.
Alfian diam tidak menjawab perkataan Sandra dan tetap melangkah pergi dengan hati yang terluka dan pikiran yang kacau.
Malam itu Alfian memutuskan tidur di ruang tamu untuk menenangkan diri.
Pagi harinya dia berangkat lebih pagi lagi agar tidak membangunkan istrinya. Lebih tepatnya Alfian ingin menghindar dari Sandra karena tidak ingin membahas perceraian lagi dengannya.
" Sandra.... Kata ibu......, kamu minta cerai ?" Tanya Nurul siang harinya. Gadis itu senantiasa menemani Sandra selepas kuliah.
" Pasti bibi mendengar pertengkaran kami semalam." Kata Sandra tidak terkejut dengan pertanyaan sahabatnya itu.
" Kamu yakin ?" Tanya Nurul ragu-ragu.
" Tentu saja aku yakin. Siapa yang ingin bertahan hidup dengan orang yang telah menyebabkan kematian ibunya ?" Ucap Sandra balik bertanya.
sekali lagi sebelum mengambil keputusan itu." Kata Nurul menasehati.
" Aku sudah memikirkannya berhari-hari Rul."
" Sandra..., coba pikirkan dengan perasaan yang lebih tenang. Jangan gegabah mengambil keputusan seperti ini. Alfian bukan penyebab kematian Bibi Lastri. Bibi meninggal karena penyakit yang dideritanya. Jangan lupakan itu." Kata Nurul lagi.
" Ibu memang punya penyakit itu, tapi....., jika tidak ada penyebab seperti kemarin, kalau saja Rena tidak mendatangi ibu, pasti saat ini aku masih bisa bersama ibuku !" Ucap Sandra keras kepala.
" Semua sudah takdir Sandra... Kedatangan Rena mungkin sudah kehendak Allah. Cobalah berpikir positif. Kamu juga dengar sendiri kemarin... Paman dan bibi menginginkan kamu segera menikah karena mereka juga sudah punya firasat itu."
" Kamu gak akan ngerti Rul... Hubungan kami sangat rumit. Aku juga tidak tahu apa jadinya jika terus mempertahankan pernikahan ini. Aku tidak menyukainya, aku tidak mencintainya... Aku juga tidak mau Rena menjadi bayang-bayang buruk di pernikahan kami. Lebih baik aku pergi dari kehidupan mereka sebelum terlambat untukku. Terserah jika mereka mau menikah setelahnya. Akan lebih sakit saat harus pergi setelah aku mempunyai rasa kepadanya." Lanjut Sandra.
" Banyak yang harus kamu pikirkan selain itu San... Aku tau ini menyangkut perasaanmu... Tapi coba bayangkan....., Rena tidak sebanding dengan orang-orang yang menyayangimu. Bagaimana dengan perasaan Pak Wijaya jika kalian bercerai ? Bagaimana dengan Neta yang sangat lengket padamu ? Tegakah kamu meninggalkan gadis yang kesepian itu ? Akankah kamu rela membuat mereka semakin bersedih ? Bagaimana dengan Alfian juga ? Pasti ada alasan kenapa dia menolak bercerai darimu."
" Alasan ? Ya kamu benar, pasti ada alasan kenapa dia tidak mau menceraikan ku. Dan itu adalah karena dia belum puas membuatku menderita !"
__ADS_1
Nurul menggelengkan kepalanya dengan heran. Kenapa sahabatnya itu sekarang tambah keras kepala ?
" Aku juga ingin membalas perbuatan Rena. Aku akan mencarinya.... Gadis itu harus bertanggung jawab atas kepergian ibuku Rul ..." Imbuh Sandra dengan mata merah.
" San.... Please, dengarkan aku, kamu bukan orang seperti ini. Kamu bukan orang yang pendendam San. Istighfar....., ingat yang di ajarkan oleh paman dan bibi. Mereka pasti sedih melihatmu seperti ini. Lagi pula Rena sudah mendapatkan balasan atas perbuatannya." Ucap Nurul memberi tahu.
" Balasan apa ? " Sahut Sandra geram. Dia belum paham apa yang dikatakan oleh Nurul.
Nurul mengambil ponselnya kemudian menunjukkan sesuatu kepada Sandra.
Tak lama kemudian Sandra melotot melihatnya.
" Ini ?? Hahaha... Ternyata nasib baik berpihak pada ku. Syukurin kamu Rena !" Ucap Sandra tertawa sinis.
" Jadi..., kamu sudah tahu kan sekarang ? Alfian tidak ada hubungan dengan Rena. Dia hanya berusaha mendekatinya. Pria yang diberitakan dengannya ini adalah kekasihnya. Ternyata Rena selama ini rela menjadi wanita simpanan demi ketenaran." Jelas Nurul sekali lagi.
Sandra terdiam mendengarkan. " Apakah dirinya salah paham ? Mungkinkah ibu juga salah paham ? Tapi.... Tidak, aku tidak boleh percaya begitu saja dengannya." Batin Sandra.
Mungkin benar Rena bukan kekasihnya, tapi kembali menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis membuatnya masih yakin untuk bercerai dari Alfian. Pikir Sandra lagi.
" Entahlah... Tapi aku sudah yakin dengan keputusan ku Rul..." Ucap Sandra akhirnya.
" Hmmm... ya udah lah, bingung mau ngomong gimana lagi sama kamu. Tapi jangan sampai nyesel ya ... ? Aku harap kamu juga mempertimbangkannya lagi sebelum terjadi." Nurul berkata menyerah. Sahabatnya itu memang benar-benar keras kepala.
" Assalamualaikum....?!" Ucap seseorang.
" Wa'alaikumsalam...." Jawab Sandra dan Nurul dari dalam.
" Siapa ?" Tanya Sandra.
" Entahlah, suamimu paling ?" Tebak Nurul.
" Bukan...., suaranya memang terdengar tidak asing, tapi itu bukan dia." Balas Sandra.
" Hm... Katanya gak ada rasa, tapi suaranya aja sampai hafal di luar kepala !" Goda Nurul.
__ADS_1
" Apaan sih ? Apa hubungannya perasaan dengan suara ? Tolong dong bukain pintunya." Perintah Sandra yang mendadak gugup mendengar guyonan Nurul.