
Meski sebenarnya tidak suka, Alfian tetap mengantar Sandra ke rumah sakit. Karena memang sejak pindah, Sandra tidak di perbolehkan membawa kendaraan sendiri supaya Alfian bisa lebih mudah memantau Sandra.
" Nanti jangan lupa kirim kabar." Ucap Alfian sambil menyetir.
" Iya mas..." Jawab Sandra patuh.
" Hati-hati juga di sana. Selalu waspada dengan keadaan sekeliling." Imbuh Alfian.
" Iya mas .. Tapikan Sandra perginya buat beramal mas bukan buat perang ... Ada-ada saja mas ini." Sandra terkekeh mendengar nasehat dari suaminya.
" Emang, tapi di manapun kita berada kita tetap harus berhati-hati dan waspada." Sambung Alfian serius.
" Iya mas..."
" Iya-iya mulu dari tadi.... "
" Aduh salah lagi. Baik mas,, Sandra bakalan selalu ingat sama nasehat mas..!" Ucap Sandra meyakinkan.
" Bagus." Jawab Alfian.
Sampai di rumah sakit Sandra meminta Alfian untuk segera berangkat ke kantor.
" Mas berangkat ke kantor aja sekarang." Pinta Sandra setelah berpamitan kepada suaminya.
Alfian menatap ke sekeliling gedung rumah sakit. Sebenarnya dia masih khawatir tentang Dokter Tian, tapi dia juga tidak bisa membicarakan hal yang sebenarnya dengan Sandra. Dia takut gadis itu menjadi ketakutan.
" Baiklah, tapi ingat .... "
" Kabarin dan tetap berhati-hati...." Sambung Sandra yang sudah mengingatnya dengan baik.
Alfian mengangguk kemudian terpaksa berangkat ke kantor. Tapi sebelumnya dia sudah meminta Dias untuk mengirim seseorang yang biasanya mengawasi Sandra untuk mengikuti kemanapun Sandra pergi. Dia juga berpesan agar orang itu lebih berhati-hati.
Sandra mengirimkan pesan kepada Dokter Tian setelah masuk ke dalam rumah sakit. Ternyata mereka sudah menunggunya di halaman rumah sakit itu.
Satu buah ambulans dan dua buah mobil siap mengantar mereka ke tempat yang di tuju. Sandra satu mobil dengan Dokter Tian karena hanya dia yang Sandra kenal.
" Terimakasih sudah mau membantu kami." Ucap Dokter Tian kepada Sandra.
" Sama-sama dok...." Balas Sandra kemudian. Karena ini saat bekerja, jadi Sandra memanggil Dokter Tian dengan sebutan dokter.
Dokter Tian tersenyum dan mengangguk.
" Oya perkenalkan teman-teman saya. Yang depan itu Dokter Fendi dan Dokter Clara." Ucap Dokter Tian memperkenalkan teman-teman seprofesinya.
" Hai..., saya Sandra." Ucap Sandra mengenalkan diri.
" Hai juga... Saya Clara... Saya Dokter Obgyn di rumah sakit ini." Ucap yang perempuan.
" Kalau aku Fendi... Dokter spesialis bedah." Ucap laki-laki yang tengah menyetir itu ikutan nimbrung.
Sandra mengangguk mendengarkan. Dirinya tidak menyangka bisa berada dalam satu mobil dengan dokter-dokter muda yang hebat.
" Aku dengar kamu masih kuliah ?" Tanya Clara. Dari tadi perempuan itu mengamati Sandra yang terlihat akrab dengan Dokter Tian.
" Iya dok... Baru mau naik ke semester dua." Jawab Sandra jujur.
" Oh... Masih sangat muda ya berarti... " Kata perempuan bernama Clara itu.
" Iya dok. Umur saya sembilan belas tahun." Jawab Sandra lagi.
" Wahhh, daun muda dong....? " Sambung Dokter Fendi yang terlihat manis tapi sedikit genit menurut Sandra.
" Apan sih bro... kok malah bahas begituan." Potong Dokter Tian.
" Kayaknya ada yang gak rela nih..." Imbuh Dokter Fendi lagi.
Sandra mengerutkan keningnya sambil melirik reaksi Dokter Tian yang sedikit terkejut dengan pernyataan temannya.
" Mm.. Kalian kenal di mana ?" Sela Dokter Clara yang sejak tadi mengamatinya dengan intens. Sandra merasa tidak enak dengan tatapan itu.
" Kita kenalnya di depan minimarket dok, waktu itu saya tidak sengaja menyenggol mobil depan Dokter Tian." Jawab Sandra dengan polosnya.
__ADS_1
"Mm." Dokter Clara menanggapinya singkat.
" Kaya cerita di FTV aja bro. Awalnya gak sengaja menabrak atau ketabrak, eh,, nanti ujung-ujungnya jadi jodoh. Hehehe..." Dokter Fendi terkekeh dengan omongannya sendiri.
" Gak lucu bro... " Timpal Dokter Tian sambil senyum-senyum.
Sedangkan Sandra bisa melihat jika Dokter Clara melirik ke Dokter Fendi dengan tatapan tidak suka.
" Iya , jangan begitu dok. Dan sekarang kita hanya berteman saja kok." Ucap Sandra yang merasa tidak enak. Dia takut jika nanti ada yang salah paham kepadanya. Seperti kata suaminya dia harus selalu berhati-hati.
" Lagi pula..... Saya sudah menikah... " Ucap Sandra lirih. Untuk pertama kalinya dia mengakui tentang statusnya.
" Ha.... Jadi kamu sudah nikah ?" Tanya Dokter Clara sampai menoleh ke arahnya.
Sandra menganggukkan kepalanya.
Dokter Tian juga sama terkejutnya seperti yang lain. Dia tidak menyangka ternyata Sandra sudah menjadi istri orang.
" Wah , gagal bro..." Sahut Dokter Fendi melirik ke arah Dokter Tian lewat kaca di dalam mobil. Entah apa maksudnya berbicara seperti itu.
" Kamu sudah menikah San ?" Tanya Dokter Tian untuk memastikannya sekali lagi.
" Iya dok ...." Jawab Sandra yakin. Ada perasaan lega bisa mengakui statusnya di hadapan orang lain.
Dokter Tian terlihat tersenyum kecut mendengarnya. Sedangkan Dokter Clara justru tersenyum senang setelah mendengar jawaban Sandra.
" Gak nyangka ya .. Ternyata kamu adalah salah satu perempuan yang berani menikah muda. Hebat lho... Aku yang tahun ini akan kepala tiga saja belum berani mengambil keputusan untuk menikah." Lanjut Dokter Fendi.
Sandra hanya menanggapinya dengan tersenyum.
" Apakah.... Suamimu itu.... Alfian ?" Tanya Dokter Tian ragu-ragu.
Tapi siapa sangka jika Sandra justru mengangguk mengiyakan.
" Jadi kamu istri dari Alfian Putra Wijaya ?" Tanya Dokter Tian terpengarah. Kedua matanya membulat sempurna saking tidak percayanya.
" Apakah dokter temannya ?" Tanya Sandra penasaran mengapa Dokter Tian mengenal Alfian suaminya.
" Ooh... " Jawab Sandra secukupnya.
Sisa perjalanan Dokter Tian terlihat lebih pendiam dari sebelumnya meski sesekali tetap ikut tertawa dan mengobrol dengan mereka.
Sampai di tempat tujuan mereka segera menyiapkan semuanya. Bersyukur ternyata banyak sekali warga di sana yang tertarik dengan kegiatan itu. Mereka berbondong-bondong dan memenuhi tenda yang sudah di sediakan oleh panitia.
Sandra dan dua orang lainnya terlihat sibuk membagikan bantuan berupa bahan makanan pokok bagi orang-orang yang selesai di vaksin. Sandra terlihat bahagia melakukannya.
Dari meja yang berbeda Dokter Tian terus mengamati Sandra dengan seksama. Entah apa yang dia pikirkan tentang Sandra yang pasti Dokter Tian tersenyum misterius saat menatapnya.
Dokter Clara yang melihat Dokter Tian terus-terusan menatap Sandra menjadi kesal kepada Sandra. Dia meremas kertas yang dia pegang dan melemparkannya dengan emosi.
Setelah acara selesai mereka segera membereskan alat-alat yang telah di gunakan kemudian menaruhnya di bagasi mobil. Selanjutnya mereka berkumpul untuk makan siang bersama yang sudah di siapkan oleh panitia setempat.
Sandra terlihat sangat menikmati makanannya. Bagaimana tidak, karena terburu-buru tadi pagi dirinya tidak sempat untuk sarapan. Perutnya sudah keroncongan dari tadi. Tapi ketika Sandra tengah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tiba-tiba Sandra menjerit karena lengannya tersiram teh panas dari samping.
" Aaaa.... !" Teriak Sandra yang terkejut.
Semua mata kini tertuju kepadanya.
" Aduh, maaf Sandra ... Aku tidak sengaja. Tadinya aku ingin duduk di sebelah mu tapi sepatuku malah tergelincir. " Ucap Dokter Clara pura-pura panik.
" Iya dok, tidak apa-apa." Ucap Sandra sambil mengibaskan lengannya yang kepanasan.
Dokter Tian yang melihatnya segera menghampirinya dan menyiram lengan Sandra menggunakan air dingin.
" Ayo Sandra ikut aku.. Biar aku obati." Ucap Dokter Tian. Kemudian Dokter Tian menuntun Sandra menjauh dari Dokter Clara dan yang lainnya.
Dokter Tian mengajak Sandra duduk di dekat mobil. Dirinya kemudian mengambil kotak obat dari dalam mobil ambulans dan membawanya kepada Sandra.
" Sini berikan lenganmu... Biar aku olesi salep. " Ucap Dokter Tian.
Sandra menurutinya dan memajukan lengannya. Dokter Tian kemudian mengolesinya dengan salep yang terasa dingin ke lengan Sandra sambil meniupnya perlahan.
__ADS_1
" Maaf jika sedikit perih." Kata Dokter Tian.
" Tidak kok dok, terimakasih." Ucap Sandra sambil melihat lengannya yang kini kemerahan.
" Lain kali lebih hati-hati lagi." Ucap Dokter Tian lagi.
" Baik dok. Namanya juga musibah, Dokter Clara tidak sengaja melakukannya." Ucap Sandra dengan kepolosannya.
Dokter Tian menatapnya sambil tersenyum. Kemudian dia mengacak rambut Sandra dengan gemas. Polos sekali gadis ini. Pikirnya.
" Jika saja kamu bukan istri Alfian... " Batin Dokter Tian.
Alfian yang melihatnya dari kejauhan, menatap penuh amarah kepada mereka. Sejak tadi pagi dia merasa tidak tenang dan selalu kepikiran Sandra. Jadi setelah selesai rapat pertama, Alfian segera menyusul Sandra dan menunggunya dari kejauhan. Alfian baru keluar dari mobil saat orang yang dia suruh mengawasi Sandra mengirimkan foto Sandra saat tersiram teh panas. Tapi kini dirinya semakin marah setelah melihat istrinya di sentuh oleh laki-laki lain.
" Ayo pulang. " Setelah sampai Alfian menarik lengan Sandra yang tidak sakit.
Dokter Tian dan Sandra yang tidak menyadari kedatangan Alfian terkejut melihatnya sudah berada di sana.
" Mas kok disini ?" Tanya Sandra terkejut.
" Tidak penting." Jawab Alfian datar.
" Al... Alfian ?" Tanya Dokter Tian tergagap.
" Ya... Kamu mengenalku bukan ? Jangan berbuat macam-macam kepada istri ku jika tidak ingin mencari gara-gara dengan ku !" Ucap Alfian mengancam.
" Dokter Tian tidak macam-macam mas... Dia justru yang menolong ku." Ucap Sandra memberitahu. Dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman dan keributan di sini.
Dokter Tian terdiam tidak bergeming. Kedua tangannya mengepal dengan kuat.
Alfian kemudian menarik lengan Sandra yang tidak sakit dan membawanya menjauh dari laki-laki itu.
" Mas, lepas mas .. Dokter Tian itu baik." Ucap Sandra yang merasa tidak enak dengan Dokter Tian.
Alfian tidak menghiraukannya dan tetap mengajak Sandra masuk ke dalam mobilnya. Dokter Tian menatap kepergian mereka dengan dengan pandangan yang sulit di artikan.
" Alfian....!" Ucap Dokter Tian penuh penekanan.
" Mas kok gitu sih ? Kasian Dokter Tian... Dia kan hanya menolongku mas." Ucap Sandra setelah duduk di dalam mobil.
" Sandra ... Bisakah kamu diam ?"Ucap Alfian menahan emosi.
" Sini lihat lenganmu. " Sambung Alfian lalu melihat luka yang ada di lengan Sandra.
" Bukankah sudah ku bilang ? Kamu harus berhati-hati di manapun." Lanjut Alfian mengomel.
" Ini kan kecelakaan mas, Dokter Clara tidak sengaja menumpahkan teh panas di lengan ku." Kata Sandra membela diri.
" Selalu banyak alasan ! Lihat saja, jika dia ketahuan sengaja melakukannya aku tidak akan diam saja. Tidak perduli meskipun dia perempuan !" Ancam Alfian yang terlihat geram.
" Sudahlah mas, lagi pula ini hanya luka kecil dan sudah di obati pula. Tidak usah di besar-besarkan. Mas juga tidak perlu khawatir, sebentar lagi juga sembuh... " Ucap Sandra menenangkan suaminya.
Dia saja yang terluka tidak marah... Kenapa suaminya justru terlihat sangat marah seperti itu? Pikir Sandra.
" Aku begini karena peduli pada mu Sandra... Dan lagi ... Bisakah kamu menjauh dan tidak dekat-dekat dengan laki-laki itu ?!" Pinta Alfian marah.
" Maksud mas .... Dokter Tian ?"
" Siap lagi kalau bukan dia ? Ngapain juga kamu senyum-senyum kepada laki-laki lain ? Aku gak suka !" Alfian menegaskan penuh emosi.
" Mas kenapa sih datang-datang malah marah. Dokter Tian tidak jahat mas ... Dia baik. Bahkan dia yang menolong ku." Sandra terus membela Dokter Tian.
" Ngebelain dia terus ? Bisa gak menurut saja pada ku ?!" Protes Alfian semakin kesal melihat Sandra justru membela laki-laki lain.
" Iya mas.... Udah lah jangan marah-marah." Ucap Sandra menenangkan.
" Iya-iya saja terus !" Omel Alfian.
" Aduh.. Salah lagi ..." Batin Sandra ikutan kesal.
" Maaf mas...." Ucap Sandra mengakhiri perdebatan mereka. Bisa panjang jika di teruskan.
__ADS_1
Alfian kemudian mengemudikan mobilnya lalu pulang ke apartemen.