
Selesai mencuci piring bekas makan malam, Sandra menyusul Alfian yang tengah asik dengan laptopnya di ruang kerja.
" Mas kok sibuk terus sih ? Ini kan di rumah bukan di kantor lagi." Ucap Sandra menggerutu.
" Bentar sayangku, mas cuma memeriksa email yang di kirim Dias barusan. Kenapa ?? Kangen ??" Tanya Alfian mengalihkan pandangannya kepada sang istri.
Sandra mengangguk dengan lesu kemudian bergelayut manja di pangkuan suaminya.
Alfian kemudian menutup laptopnya lalu memeluk Sandra dengan sayang.
Alfian paling suka saat Sandra bersikap manja seperti itu. Alfian merasa seperti seorang suami yang di inginkan dan di butuhkan, karena memang Sandra tipe perempuan yang mandiri sehingga jarang sekali bersikap manja meski terhadap suaminya sendiri.
" Kenapa ? Mau mas ajak jalan-jalan ?? Ke bioskop yuk, kata Dias,, lagi ada film bagus yang sedang viral." Ajak Alfian.
Sandra menggelengkan kepalanya.
" Enggak mas, lagi nggak pingin keluar rumah."Jawab Sandra.
" Sayang sekali,, kamu kenapa ?? Tumben lemes begini... Kamu sakit ?" Tanya Alfian sambil meraba kening Sandra.
" Nggak panas... Tapi kok tumben lesu nggak bersemangat gini, capek ya ?" Imbuh Alfian.
" Kayaknya iya nih mas.. Lemes banget bawaannya." Jawab Sandra kemudian merebahkan kepalanya di bahu sang suami.
" Tuh kan ? Pasti karena kamu kebanyakan kegiatan. Lagian kan mas sudah bilang, fokus saja dulu ke kuliah kamu. Setelah lulus baru fokus ke butik kamu lagi. Di tambah,, kadang kamu masih suka diem-diem lembur bikin desain kalau mas sudah tidur. Ya kan ??" Tanya Alfian.
" Hehe, mas kok tahu... Padahal aku nungguin mas sampai bener-bener tidur pules dulu baru bikin desain lho... Cuma sedikit lelah aja kok mas... Lagian aku sangat menikmati semua ini. Alhamdulillah kuliah juga tetep lancar, mas nggak usah khawatir ya ?" Timpal Sandra.
" Gimana nggak khawatir sayang... Di rumah kamu dah banyak pekerjaan rumah dan ngurusin aku, di kampus sibuk belajar, setelah itu langsung bekerja. Malemnya masih begadang juga.." Gemas Alfian sambil mencubit kedua pipi Sandra yang terlihat semakin chubby.
" Kan mas juga yang sering ngajakin begadang..."
" Itukan sudah kewajiban sayang... Kalau soal yang satu itu , gak bisa di skip..."
" Hm, Alesan !" Cibir Sandra.
" Pijitin dong mas ?" Lanjut Sandra dengan manjanya.
" Ya sudah, sini mas pijitin... Tapi di kamar ya ? " Kata Alfian lembut.
" Tapi gendong..." Rengek Sandra.
" Siap cintaku ..." Alfian kemudian membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar. Setelah merebahkan tubuh lencir istrinya ke ranjang, Alfian kemudian mengambil minyak aromaterapi untuk memijat kaki istrinya.
Setelah mendapatkan apa yang di cari, Alfian kembali ke ranjang kemudian menyingkap piyama yang di kenakan istrinya agar lebih leluasa memijatnya.
" Mana yang capek ?" Tanya Alfian penuh perhatian. Dia kasihan melihat sang istri yang terlihat sangat kelelahan.
__ADS_1
" Semua mas... Badan rasanya gak ada yang bener...." Sahut Sandra.
" Mas kan gak pinter mijitin yank... Mas pijat sebisanya ya ? Kalau terlalu keras bilang saja." Ucap Alfian sambil mulai memijat kaki Sandra.
" Kayaknya perlu panggil tukang urut deh mas...Pegel-pegel semua soalnya.."Kata Sandra menatap wajah suaminya yang kini sibuk memijat kakinya dengan pelan-pelan.
" Nggak , nggak usah panggil tukang urut segala ! Mas nggak suka tubuh kamu di pegang-pegang sama orang lain !" Tolak Alfian langsung.
" Kita cari tukang urut yang perempuan aja mas...?? " Bujuk Sandra.
" Meskipun perempuan sekalipun. Mending mas saja yang pijitin." Tegas Alfian.
" Tapi.... Mas kan juga sudah capek kerja.."
" Secapek apapun, kalau untuk kamu mas nggak akan capek sayang...Dah nurut ya ? Mas aja yang pijitin." Ulang Alfian.
Karena merasa sangat capek dan tidak ingin berdebat, Sandra menyerah dan pasrah saja ketika Alfian memijat tubuhnya.
Lama-kelamaan, kantuk pun menghampiri Sandra karena ternyata pijatan Alfian sangat enak dan memberikan rasa nyaman. Alfian tersenyum ketika melihat Sandra memaksakan diri untuk tetap membuka matanya.
" Tidur saja kalau ngantuk." Ucap Alfian.
" Tapi..."
" Jangan bandel .. Nurut sama mas, kalau nggak mau tidur, mas pijit yang lain ya ?" Ancam Alfian sambil menaik turunkan alisnya sambil tersenyum penuh arti.
" Baiklah, aku tidur ya mas ?" Sahut Sandra yang mengerti dengan jelas apa tujuan dari suaminya.
Setelah terdengar dengkuran halus, Alfian yakin jika Sandra sudah benar-benar tertidur. Pelan-pelan dia menyingkirkan tangannya kemudian membetulkan posisi tidur Sandra. Tidak lupa Alfian juga memakaikan selimut di tubuh Sandra agar tidak kedinginan. Setelah mengecup bibir dan kening istrinya, Alfian kemudian bangkit, mengecilkan suhu AC di dalam kamar itu, lalu ikut merangkak ke tempat tidur kemudian menyusul Sandra yang sudah pulas.
Pagi harinya, setelah Sandra selesai bersih-bersih dan memasak untuk sarapan. Sandra berniat untuk membuang kantung sampah yang sudah menumpuk ke penampungan sampah yang ada di luar apartemen.
" Apa ini ?" Tanya Sandra tertegun ketika kakinya tanpa sengaja menendang box kecil yang ada di depan pintu apartemennya.
Karena penasaran, Sandra mengambil box tersebut.
" To Sandra ... Jadi box ini untuk aku ? Nama dan alamatnya sih bener , tapi kok gak ada nama pengirimnya ya ?" Tanya Sandra sambil celingukan ke kanan dan kiri setelah membaca kertas kecil yang menempel di box tersebut. Sandra kemudian meletakkan sebentar kantung sampah yang tadi dia bawa terlebih dahulu.
" Aku taruh di meja dulu saja deh, keburu siang .. " Ujar Sandra kemudian masuk dan meletakkan box berwarna coklat itu di atas meja tamu. Setelah itu Sandra kemudian melanjutkan tugasnya membuang kantung sampah yang tadi sempat tertunda.
Setelah kembali masuk ke dalam apartemen. Sandra duduk di meja. Masih terlalu pagi untuk membangunkan suaminya. Yang penting,semua pekerjaannya sudah beres. Selesai mandi nanti, barulah Sandra berniat akan membangunkan suaminya.
Sandra kembali menatap box coklat itu. Masih mengira-ngira siapa yang mengirimkan padanya. Seingatnya dia tidak pesan apapun lewat aplikasi online. Dia juga tidak sedang berulang tahun. Karena penasaran, Sandra kemudian membuka box itu dengan hati-hati. Toh sudah jelas dari nama dan alamat yang dikirim, box itu di tujukan untuknya.
" Aaaaaa !!!!" Teriak Sandra sangat keras setelah berhasil membuka box itu. Sandra segera melemparkan box itu sejauh mungkin dari hadapannya kemudian berjongkok di atas sofa sambil menunduk dan menutup mata karena ketakutan.
" Sayang... Ada apa ?" Teriak Alfian tak kalah panik. Alfian yang baru saja membuka matanya langsung berlari ketika mendengar suara istrinya menjerit dengan keras.
__ADS_1
" Ii...itu mas..." Ucap Sandra ketakutan sambil menunjuk box yang tadi dia lempar.
Alfian mengikuti arah telunjuk Sandra. Alfian kemudian mendekat dan berjengit sebentar karena kaget melihat box berwarna coklat itu yang ternyata berisi sebuah boneka karet berbentuk potongan telapak tangan yang berlumuran banyak darah.
" Kurang ajar !! Siapa yang berani main-main dengan ku ?!!" Teriak Alfian penuh amarah. Dengan kesal Alfian kemudian menendang box itu agar semakin menjauh.
Alfian kemudian melangkah mendekati Sandra dan memeluk istrinya untuk menenangkannya.
" Tenanglah, jangan takut sayang.. Itu hanya sebuah boneka karet.. " Ucap Alfian sambil mengelus pucuk kepala Sandra.
" Tapi mas ... aku takut... " Rengek Sandra yang ketakutan.
" Ayo aku bantu ke kamar." Ajak Alfian kemudian membopong tubuh Sandra masuk ke dalam kamar.
" Mas, aku ... Aku nggak tahu dari siapa itu. Aku rasa aku juga nggak punya masalah dengan siapapun." Ucap Sandra.
"Jangan kamu risaukan.. Itu mungkin kerjaan lawan bisnis aku ! Akan aku cari siapa orang yang berani melakukannya !" Kata Alfian dengan tatapan membunuh.
" Tapi... Itu untuk aku mas.... Nama yang tertera di kotak itu adalah namaku. Tapi tidak tertera siapa nama pengirimnya." Kata Sandra kemudian.
" Baik untuk mu ataupun untuk ku, itu sama saja ... Yang pasti, orang itu sedang cari gara-gara dengan ku ! Siapapun yang berani mengusik keluarga ku , berati dia cari mati !" Ucap Alfian menakutkan.
Sandra yang melihatnya tahu pasti jika suaminya saat ini sedang sangat murka.
" Sekarang, kamu mandilah, atau mau mandi bareng ?" Lanjut Alfian berubah lembut dan mencoba mencairkan suasana saat menatap wajah Sandra.
" Aku mandi sendiri saja mas." Tolak Sandra yang masih sedikit shock.
" Baiklah, aku keluar dulu beresin yang tadi." Sahut Alfian.
Setelah Sandra masuk ke dalam kamar mandi, Alfian segera keluar dan membereskan serta membuang box yang membuat istrinya ketakutan. Setelah itu, Alfian menghubungi Dias untuk mencari tahu siapa orang yang akhir-akhir ini bermasalah atau bersitegang dengan dirinya atau dengan istrinya. Setelah memberikan perintah itu, Alfian masuk ke ruang kerjanya. Alfian kemudian membuka laptopnya dan memeriksa rekaman cctv yang terpasang di depan apartemennya. Setelah beberapa saat, Alfian akhirnya menemukan sosok seseorang yang berpakaian serba hitam dan memakai masker beserta topi berwarna senada yang diam-diam mendekati pintu apartemennya kemudian merusak cctv dengan tongkat golf yang dia bawa.
" Sial !!! Siapa orang itu ? Berani-beraninya dia melakukannya ! Sudah pasti orang itu merencanakannya sehingga dia merusak cctv terlebih dahulu sebelum melakukan aksinya ! Kurang ajar ! Siapapun kamu, jangan harap bisa lolos dari ku dengan mudah !" Teriak Alfian sendirian.
Pagi itu , Alfian dan Sandra melewati sarapan pagi dengan pikirannya masing-masing. Meski tidak setakut tadi, tapi Sandra masih kepikiran siapa orang yang jahil kepadanya.
" Sayang, habiskan sarapannya. Jangan melamun terus.." Bujuk Alfian yang sudah terlebih dahulu menghabiskan sarapannya.
" Aku sudah kenyang yank. Kita berangkat saja ya ? Aku mau bareng." Balas Sandra kemudian bangkit dari kursinya dan membereskan makanan yang ada di atas meja dengan tergesa-gesa.
Alfian yang melihatnya menyadari jika Sandra masih ketakutan karena hal tadi. Karena seingatnya, hari ini kuliah Sandra di mulai pukul setengah sepuluh.
" Are you okey ?" Tanya Alfian.
" Aku baik-baik saja mas..Tapi, aku mau datang lebih awal saja ke kampus. Lagi pula aku ada janji dengan Intan dan Salsa." Ucap Sandra yang tidak berbohong. Semalam mereka memang sudah janjian datang lebih awal ke kampus untuk membahas tugas kelompok yang dosen mereka berikan.
" Baiklah, ayo..." Alfian ikut bangkit kemudian keduanya meninggalkan apartemen mereka. Tanpa mereka sadari, lagi dan lagi, Rena masih membuntuti mereka dari kejauhan.
__ADS_1
" Bagus... Langkah awal berhasil. Lihat saja wajah gadis kampung itu yang terlihat pucat. Dia pasti sangat shock melihat kejutan dari ku . Hahaha.." Tawa Rena yang sangat senang.
" Itu belum seberapa sayang... Masih ada kejutan lainnya dari ku.. Selanjutnya, aku harus datang ke kantor Alfian agar dia tidak curiga kepadaku. Tentu saja, aku juga harus merayunya lagi. Dengan wajahku yang sekarang, aku tidak yakin dia mau kembali kepada ku dengan mudah, tapi...,, aku bisa mencari simpati dan rasa kasihan darinya terlebih dahulu." Lanjut Rena kemudian mengendap-endap keluar dari apartemen itu.