
Pukul delapan malam Sandra terbangun. Perlahan dia membuka kedua matanya. Betapa terkejutnya Sandra melihat wajah Alfian begitu dekat dengan wajahnya. Sandra menjerit tertahan agar tidak membangunkannya.
" Astaghfirullah..... " Ucap Sandra dalam hati saking kagetnya.
" Aaaaa .... kenapa aku bisa tidur di sini ?" Jerit Sandra dalam hati. Jantung Sandra berdetak kencang. Perlahan dia mencoba memindahkan tangan Alfian yang memeluk pinggulnya. Sandra menyentuh tangan itu pelan-pelan. Namun saat hendak mengangkatnya Alfian justru semakin mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajah Sandra dalam dekapannya. Sandra tak bisa berkutik.
" Aaa... bagaimana ini... seseorang tolong aku ! " Sandra terus memohon dalam hatinya.
" Tidak bisa di biarkan. Aku harus membangunkannya. Tapi jika dia marah bagaimana ? Aduhh .... !" Batin Sandra takut.
Sandra menarik nafas dalam-dalam. Hidungnya mencium aroma mint yang menyegarkan dari tubuh Alfian. Untuk sesaat Sandra merasakan kenyamanan. Dengan hati-hati dia mendongak menatap wajah laki-laki itu.
Jika di lihat dengan seksama, wajah Alfian tidak semenakutkan seperti ketika terbangun. Wajah itu terlihat tampan dan tenang.Wajahnya yang putih bersih dengan hidung mancung serta alis yang sedikit lebih tebal, membuatnya terlihat sempurna.
" Bagaimana bisa laki-laki memiliki wajah semulus ini tanpa ada jerawat satupun ? Ck... sayang sekali dia sangat arogan." Batin Sandra.
" Ah Sandra... Jangan berfikir yang aneh-aneh ! Fokus saja bagaimana caranya agar kamu bisa lepas dari pelukannya tanpa membangunkannya. " Lanjut Sandra mengingatkan diri.
Pelan-pelan Sandra mencoba melepaskan pelukan itu lagi, sayangnya Alfian justru terbangun. Kedua matanya terbuka lebar.
" Kamu !" Kata Alfian melotot. Dia juga sama terkejutnya saat melihat Sandra dalam dekapannya. Refleks Alfian langsung melepaskan pelukannya sehingga Sandra dengan mudah beringsut menjauh darinya.
" Ngapain kamu tidur di sini ?!" Bentak Alfian pura-pura. Mana mungkin dia tidak tahu, sedangkan dia sendiri yang telah memindahkan Sandra ke ranjang. Namun egonya yang tinggi membuatnya tidak ingin Sandra mengetahui kebenarannya. Apalagi Sandra memergokinya tengah memeluknya erat.
" Aku juga tidak tahu ! " Ucap Sandra gugup.
" Kamu gila ya ! "
Sandra menggelengkan kepalanya.
" Aku gak tahu mas, seingatku tadi aku tidur di sofa." Bela Sandra.
" Apa kamu punya gangguan tidur ? Mungkin kamu tidur sambil berjalan. " Kata Alfian mencoba membodohi Sandra.
" Ti... tidur sambil berjalan ? Mana mungkin mas, aku tidak pernah mengalaminya selama ini." Bantah Sandra.
" Mungkin saja. Orang yang lagi banyak pikiran biasanya bisa tidur sambil berjalan karena terlalu stres." Ucap Alfian meyakinkan Sandra.
" Aku ... benarkah ? " Tanya Sandra akhirnya. Namun dia sendiri belum yakin sepenuhnya.
" Kalau tidak bagaimana mungkin dari sofa kamu bisa pindah ke ranjang !"
Sandra terdiam. Benarkah apa yang di katakan oleh Alfian ? Memang benar dia terlalu banyak pikiran saat ini. Namun apakah separah itu ? Sandra mencoba mengingat-ingat kembali tetapi tetap tidak bisa.
" Atau jangan-jangan kamu sengaja karena ingin aku menyentuhmu ? " Tuduh Alfian tanpa rasa bersalah sedikitpun.
" Tidak mas .. Aku tidak menginginkannya. Aku berani bersumpah !" Bantah Sandra sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.
" Lalu apa tujuanmu di sini !?" Alfian tak mau kalah.
" Entahlah,aku tidak bisa mengingatnya. Maafkan aku. " Ucap Sandra menahan malu. Bagaimana bisa dia menyusul Alfian ke ranjang ? Apa yang ada di pikiran laki-laki ini sekarang ? Aah Sandra ! Kurasa semakin hari aku semakin bodoh ! Sandra terus berfikir dan mengumpat dalam hati.
Tanpa di sadari oleh Sandra, Alfian menyunggingkan senyum liciknya.
" Dasar gadis bodoh !" Ejek Alfian dalam hati.
" Jangan di ulangi lagi ! " Ucapnya.
Sandra mengangguk malu kemudian lari ke kamar mandi.
Lima belas menit kemudian. Sandra selesai mandi,dia keluar mengenakan handuk kimono yang ada. Dia berjalan sambil menunduk malu-malu ke ruang ganti. Sampai saat ini Sandra belum terbiasa satu ruangan dengan laki-laki. Hal itu membuatnya sering gugup dan malu.
" Harusnya kamu segera membiasakan diri. Mulai saat ini kamu akan lebih sering berdua dengan ku dalam satu ruangan." Ucap Alfian santai lalu berganti masuk ke dalam kamar mandi.
Sandra tak menghiraukannya. Dalam hati dia mencebik kesal kepada Alfian.
" Dasar laki-laki ! " Umpat Sandra lirih kemudian melanjutkan berganti pakaian.
Lima belas menit kemudian Alfian selesai mandi.
__ADS_1
Sama halnya dengan Sandra tadi ,dia juga mengenakan handuk kimono. Dia juga membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya yang basah setelah keramas.
" Keringkan rambutku ! " Alfian melempar handuk kecil itu kepada Sandra yang duduk di sofa sambil melihat handphone.
Sandra bangkit dari duduknya. Kemudian melakukan apa yang baru saja Alfian perintahkan.
Sandra menggosok pelan-pelan rambut Alfian dengan handuk itu. Alfian mengamati wajah Sandra yang tampak muram dari pantulan kaca di depannya.
" Kamu keberatan ? " Tanya Alfian tidak suka.
Sandra menggeleng dan tetap melanjutkan mengeringkan rambut Alfian.
Alfian terheran. Tidak biasanya gadis itu tidak membantahnya.
" Lebih keras lagi. Pijit kepala ku yang sebelah kiri ! " Pinta Alfian.
Lagi-lagi Sandra hanya mengangguk dan menurutinya dengan wajah sedih.
" Kamu kenapa ha ! " Tanya Alfian tak tahan lagi.
Sandra menggeleng pelan.
" Jawab kalau aku bertanya ! "
" Aku gak kenapa-kenapa. Hanya kepikiran ibu mas. Tadi aku ketiduran,jadi lupa tidak menghampiri dan mengantarkan ibu saat ibu pulang tadi." Ucap Sandra sedih.
Alfian memutar bola matanya malas.
" Tadi aku memberi alasan ke ibumu kalau kamu masih tidur kecapean. Dia bilang tidak apa-apa dan melarang ku membangunkanmu. Kamu harus berterima kasih padaku. Karena hal itu lagi-lagi aku disalahkan papa karena di kira membuatmu kelelahan ! "
Sandra tersenyum lega. Kini dia juga sudah mengerti apa yang di maksud Alfian. Dia tidak ingin kejadian tadi pagi terulang lagi.
"Kamu senang aku di marahin papa !" Seru Alfian yang melihat Sandra tersenyum.
" Tidak mas . Aku hanya ingin berterimakasih sudah mewakiliku menemui ibuku." Ucap Sandra tulus.
" Tadinya aku sangat sedih, aku juga belum sempat mengucapkan terimakasih kepada Nurul dan keluarganya. Mungkin lain kali aku akan pulang dan mengucapkannya langsung. Tidak enak jika lewat handphone." Lanjutnya.
Tak lama kemudian terdengar suara perut berbunyi
" Ops... maaf mas .. Aku sangat lapar. " Aku Sandra malu-malu. Dirinya memang sudah menahan lapar sejak tadi. Bagaimana tidak, dia melewatkan makan siang dan makan malam.
Alfian berdecak. Kemudian mengambil handphonenya dan mengirim pesan kepada seseorang. Tak lama kemudian pintu kamar di ketuk. Sandra bergegas lari membukanya.
Sandra terlihat senang saat melihat beberapa pelayan hotel membawakan berbagai makanan. Setelah menyajikan semuanya,para pelayan hotel itu pergi. Tanpa menunggu lama Sandra langsung memakan makanan itu. Mulutnya penuh dengan makanan yang dia lahap tanpa henti.
Alfian melongo melihatnya.
" Kamu menghilangkan selera makan ku !" Katanya.
" Maaop mas,aa bis la fer anget." Jawab Sandra tidak jelas karena mulutnya penuh dengan makanan.
Alfian bergidik melihatnya. Namun tetap ikut bergabung dan makan dengan Sandra.
" Aaaahhh ...kenyangnya....." Ucap Sandra selesai makan.
Dia tersenyum senang akhirnya perutnya terisi penuh dengan makanan enak.
" Makanannya enak-enak mas, terimakasih." Ucapnya kepada Alfian lalu berbaring di tempat tidur.
" Selesai makan jangan rebahan. Perutmu bisa sakit !" Tumben Alfian menasehati.
Sandra lalu duduk menyilangkan kedua kakinya.
" Aku tahu, ibu juga suka mengomel tentang hal itu ." Balas Sandra menanggapi.
"Mas... berapa lama kita akan menginap di sini ? " Tanya Sandra penasaran.
" Mungkin sampai besok."
__ADS_1
" Hsssh. Bosan sekali di kamar terus. Lalu kita mau ngapain sampai besok ?" Tanya Sandra lagi.
" Maumu ?" Alfian balik bertanya.
" Bolehkah besok aku ke kost ? Aku ingin berbicara dengan Nurul. Sejak kemarin susah sekali ingin mengobrol dengannya." Tanya Sandra memohon.
" Tidak boleh. Di sini banyak orang-orang papa yang mengawasi kita sekarang. " Alfian menanggapinya dengan datar.
Sandra menghela nafas panjang. Tidak menyangka hidupnya akan serumit sekarang. Dia merindukan hari-harinya yang bebas ke sana kemari.
" Aku bosan mas di dalam kamar terus." Rengek Sandra mode manja seperti biasa.
" Aku bukan ibumu, jadi percuma kamu merengek seperti itu kepadaku."
Sandra cemberut mendengarnya.
Alfian berdiri kemudian merebahkan tubuhnya di samping Sandra.
" Pijit badan ku ! Jangan pura-pura lupa dengan hukumanmu ! " Ucap Alfian mengingatkan.
Alfian membuka kancing piamanya dengan santai.
" Jangan di buka ! Mas mau ngapain ? " Teriak Sandra refleks.
" Kalau tidak di buka bagaimana kamu bisa memijat punggungku !?" Ucap Alfian kesal.
" Tanpa di buka juga bisa." Ucap Sandra ketakutan. Pikirannya sudah traveling ke hal yang tidak-tidak.
Alfian tak menghiraukan ketakutan di wajah Sandra.Kini dia melempar bajunya asal. Sandra menelan ludah melihatnya. Antara gugup dan takut. Sandra mencoba kabur, namun Alfian lebih cepat bergerak,dia menarik tangan Sandra hingga mereka terjatuh bersama di atas ranjang. Jantung Sandra berdetak kencang lagi di atas tubuh Alfian.
Untuk beberapa saat mereka saling beradu pandang. Mereka sama-sama menikmati debaran jantung masing-masing. Perasaan yang aneh . Pikir Sandra.
Sedangkan Alfian, dia terdiam mengamati Sandra dengan seksama. Entah apa yang di miliki gadis kecil ini . Namun melihat wajahnya dari dekat bisa membuatnya merasa nyaman.
" Turun ! " Bentak Alfian setelah sadar.
Sandra terlonjak kemudian turun dari atas tubuh Alfian. Wajahnya terasa panas dan tersipu malu.
" Maaf." Ucapnya lirih.
Tak ada jawaban. Alfian kemudian menelungkupkan tubuhnya untuk menyembunyikan kegugupan yang dia rasakan dan meminta Sandra segera memijatnya.
Sandra melakukannya dengan perasaan tak karuan. Malu, kesal dan takut bercampur menjadi satu.
" Sandra.... kamu ceroboh sekali !" Umpat Sandra pada dirinya sendiri.
" Lebih kuat sedikit ! Ke kanan. Kanan ! Ya Betul, ke atas sedikit. Ya di situ. Turun lagi ... Lebih kuat sedikit.. Aau ... Kamu mau membunuhku !" Seru Alfian. Sandra pun menggeleng kesal.
" Mana mungkin hanya dengan memijat bisa membunuhnya.., Huh ! Sangat berlebihan. " Geram Sandra dalam hati. Dua jam penuh Alfian mengerjainya.
" Pijatan mu tidak enak, jadi perempuan itu yang lembut jangan kasar begitu." Alfian mengomel sambil mengenakan kembali piamanya.
Sandra melengos agar tidak melihat tubuh Alfian lagi.
" Aku kan sudah bilang tidak bisa memijat mas !" Ucap Sandra yang sengaja melakukan agar Alfian tak memintanya memijat lagi.
" Ikut kursus memijat saja ! "
" Hah ? Emang ada ? " Tanya Sandra polos.
" Tentu saja."
" Tidak perlu mas. Aku bisa memijat lebih baik dari tadi. Tidak perlu buang-buang duit untuk kursus seperti itu ." Tolak Sandra cepat.
" Jadi, tadi kamu sengaja ?!"
" Tidak, tidak mas. Aku hanya ingin berusaha lebih baik saja."
Alfian mencebik tidak percaya.
__ADS_1
" Awas jika kamu mengulanginya ! Sana pergi, aku mau tidur ! "
" Baik mas ." Sandra menurut kemudian turun dari ranjang dan kembali ke sofa. Kali ini Alfian tidak setega kemarin. Dia memberikan selimutnya untuk Sandra.